Antara Aku Dan Maduku

Antara Aku Dan Maduku
Part 49. Biarkan Aku Bahagia


__ADS_3

Dua minggu sudah berlalu, dan Alan selalu mengikuti Nia dari jauh, dia mengikuti kemana pun Nia pergi. Dan dia merasa kesal saat Nia dan Lena selalu bersama Ello saat di luar kantornya.


Hingga saat Nia pulang kerja mengendarai motornya, dan berhenti di pinggir jalan. Alan pun menghentikan laju mobilnya, dan memperhatikan Nia dari dalam mobilnya.


"adik sudah makan?" tanya Nia pada gadis kecil yang sedang berjualan di pinggir jalan.


"belum kak, jualanku belum laku!" jawab gadis kecil itu.


"ayo ikut kakak, kita makan bareng." ajak Nia. Gadis kecil itu pun mau ikut bersama Nia menaiki motornya.


"namamu siapa?" tanya Nia. Kini mereka tengah duduk di sebuah Restaurant.


"namaku Rere kak," jawabnya.


"Rere, nama yang bagus. Kamu umur berapa terus kelas berapa?"


"umurku 12 tahun Kak, dan aku tidak sekolah Kak," tutur Rere.


Nia merasa iba dengan cerita kehidupan Rere, yatim piatu di usianya yang masih kecil dan harus tinggal di sembarang tempat. Bahkan dia tidak putus asa dan berusaha bekerja mencari uang untuk makannya sehari hari.


Nia sadar di dunia ini masih ada yang lebih menderita dari dirinya, seperti Rere. Dia merasa malu pada Rere, yang tak pernah mengeluh tentang kehidupannya. Dia merasa begitu beruntung masih mempunyai Pak Ilham yang begitu menyayanginya di dunia ini.


Saat mereka menikmati makanan, tiba tiba ada Alan yang kini menghampirinya. Nia yang awalnya merasa takut, dia pun berusaha memberanikan dirinya.


"boleh gabung...," ucap Alan.


"boleh Kak," ucap Rere. Menyela Nia yang hendak melarang Alan bergabung, Nia pun menghela nafasnya dengan panjang.

__ADS_1


Alan menatap Nia yang begitu menikmati makannya, tanpa menoleh pada dirinya. Dia kesal karena Nia mengacuhkan kehadirannya, dia bertanya pun Nia hanya menjawab datar dan tidak menatapnya.


Nia pun memberi beberapa lembar uang untuk Rere, dan membungkuskan makanan untuk Rere makan malam nanti. Lalu pamit pada gadis itu, karena dia merasa tidak nyaman duduk berhadapan dengan Alan.


"Nia, boleh aku antar pulang?" tanya Alan yang melihat Nia yang hendak menaiki motornya.


"tidak perlu," tolak Nia halus.


"Nia, beri aku satu kesempatan lagi. Aku janji tidak akan menyakitimu lagi Nia...." ucap Alan memohon. Dia hendak menyentuh Nia, namun Nia segera menghindar.


"maaf Mas, aku tidak bisa. Permisi...," pamit Nia. Lalu menyalakan motornya, dan segera pergi meninggalkan Alan.


Alan tidak tinggal diam dia kembali melajukan mobilnya dan mengikuti Nia. Nia yang merasa dirinya di ikuti oleh Alan, langsung melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.


Alan menghadang motor Nia, membuat Nia menghentikan laju motornya dengan mendadak.


"kamu apa apan Mas...." teriak Nia kesal saat Alan turun dan menghampirinya.


"kamu itu kenapa Mas? Kita tidak mungkin bisa bersama lagi Mas, jangan seperti ini! Aku dan Ello dekat karena kami memang berteman, dan jangan melarangku dekat dengan siapa pun Mas," ucap Nia. Dia melangkah mundur karena Alan melangkah maju menghampirinya.


"aku tidak akan memaksamu dengan kasar, jika kamu mau ikut bersamaku Nia...." ucap Alan.


"kamu gila Mas, jika kamu memang mencintaiku. Seharusnya kamu tidak berbuat macam macam terhadapku, cinta itu melindungi Mas. Jika kamu berkata cinta tapi kamu memaksaku, itu namanya bukan cinta Mas....," ujar Nia tegas.


Alan tidak mendengar kata kata Nia, dia masih melangkah maju dan hendak memeluk Nia. Nia tidak tinggal diam, Alan sungguh sungguh kehilangan akal sehatnya.


"plaakkkk...." Nia pun menampar wajah Alan dengan sangat keras.

__ADS_1


"kamu berani Nia....," geram Alan. Dia terus berusaha manarik tangan Nia agar mau ikut bersamanya.


"lepaskan aku...," pekik Nia. Dia berusaha melepas cengkraman Alan, namun gagal. Nia pun menginjak kaki Alan dengan sangat keras, Alan pun melepaskannya dan memekik.


"kau itu keterlaluan Mas, apa kamu benar benar kehilangan akal sehatmu? Tolong Biarkan aku bahagia Mas," ucap Nia.


Alan hendak mengejar Nia, namun dia di hadang oleh seseorang yang selalu mengikuti Nia selama dua minggu ini.


"minggir, kalian jangan ikut campur..." ucap Alan. Lalu dia melangkah cepat mengejar Nia, namun dua pria bertubuh kekar menahan kedua tangan Alan.


"lepaskan, kalian siapa berani beraninya mencampuri urusanku...," teriak Alan. Dia berusaha melepaskan tangan kedua pria itu.


"maaf Tuan, saya lihat sikap anda sudah keterlaluan pada seorang wanita..." ucap pria bertubuh kekar itu.


"Nona, pergilah cepat..." pinta pria yang satunya.


"terima kasih banyak Mas, tapi tolong jangan sakiti dia..." pinta Nia yang di jawab anggukan oleh dua pria bertubuh kekar itu. Dia sangat kecewa dengan sikap Alan, namun di sisi lain dia juga tidak ingin terjadi sesuatu pada Alan.


"mana mungkin kami melukainya Non," gumam salah satu pria itu dengan tersenyum.


Hari hari Nia diwarnai ketakutan, karena Alan selalu mengikutinya. Nia tidak berani keluar kontrakan, dia meminta ijin pada Pak Hendri agar pekerjaannya bisa dia kerjakan di rumah. Pak Hendri awalnya tidak setuju, namun karena Lena memberi tahu tentang alasan Nia. Akhirnya dia mengijinkan Nia bekerja di rumah.


Lala yang merasa curiga pada Alan, akhirnya dia mengikuti Alan. Awal dia minta cerai pada Alan waktu itu, karena dia ingin Pak Ilham bersimpati padanya, namun Pak Ilham tidak pernah merespon kebaikannya pada Nia. Bahkan Pak Ilham selalu mengacuhkannya, tak pernah memandang usaha Lala yang ingin mengambil hati beliau.


Dia merasa Nia sangat beruntung karena Nia di kelilingi orang orang yang begitu menyayanginya. Hingga teman satu satunya pun kini menjauhinya karena Nia.


Bahkan orang yang begitu dia cintai kini juga mencintai Nia, hingga kini dirinya merasa sedikit di abaikan oleh Alan. Dia merasa sakit saat melihat Alan yang rela mengawasi Nia dari jauh, hingga Alan lupa makan dan lupa pada dirinya.

__ADS_1


Ponsel Nia pun berdering, panggilan dari Pak Ilham. Nia tahu kenapa Pak Ilham menghubunginya, pasti beliau menanyakan kabar Nia dan mencemaskan Nia.


Sebelum dia mengangkat panggilan Pak Ilham, Nia berusaha tenang agar Pak Ilham tidak menghawatirkannya.


__ADS_2