Antara Aku Dan Maduku

Antara Aku Dan Maduku
Part 46. Sidang Keputusan


__ADS_3

Kini Nia dan Alan duduk di teras, mereka duduk dengan jaga jarak.


"apa yang ingin kau bicarakan Mas?" tanya Nia datar.


"aku minta maaf atas semua kesalahanku selama ini. Atas kejadian yang sangat bodoh yang sudah aku lakukan waktu itu padamu. Aku benar benar minta maaf padamu Nia," ucapnya memohon.


"aku sudah memaafkanmu jauh sebelum kamu minta maaf padaku Mas," jawab Nia tanpa menoleh pada Alan.


"terima kasih Nia...," ucapnya dengan tersenyum.


"sama sama, aku permisi dulu Mas..," pamit Nia. Namun tangan Alan menahannya, dan dia bersimpuh di kaki Nia.


"apa apaan kamu Mas, lepaskan..." pekik Nia yang berusaha melepas tangan Alan dari kakinya.


"Nia, aku mohon. Cabut gugatan cerai kita, aku mencintaimu Nia, aku janji aku akan berbuat adil pada kalian!" ucap Alan dengan meneteskan air matanya.


"maaf Mas, keputusanku sudah bulat. Mungkin memang kita tidaklah berjodoh Mas, ini suatu pelajaran buat kita. Jika pernikahan itu bukanlah sebuah permainan, dan sebuah perasaan itu tidak patut kau buat permainan Mas. Sekarang kamu bisa bersama dengan Lala selamanya tanpa aku...," ucap Nia. Air matanya pun keluar dan tak bisa terbendung lagi.


"kamu bilang sudah memaafkanku Nia..," lirih Alan yang masih memeluk kaki Nia dari belakang.

__ADS_1


"memaafkan bukan berarti aku mencabut gugatanku Mas, tolong mengerti aku sedikit saja Mas. Dan tolong lepaskan aku," ucap Nia.


"apa tidak ada kesempatan untuk aku memperbaiki semua Nia?" tanya Alan yang kini bangun dan menatap wajah Nia dengan intens.


"Mas jika saja kemarin kemarin kamu bisa membuktikan cintamu, mungkin aku bisa saja mengurungkan niatku. Tapi setelah kejadian kamu mempermalukan aku di depan umum dan kejadian yang kemarin kamu lakukan terhadapku. Itu semakin membuatku sakit dan semakin membuatku yakin jika memang kita haruslah berpisah!" tutur Nia.


"semua itu aku lakukan karena aku tidak suka kamu dekat dengan Ello. Walau Ello pernah berkata jika kamu dan dia adalah sahabat semasa kuliah. Tapi aku yakin jika dia menyukaimu, dan aku cemburu Nia. Semua aku lakukan karena aku mencintaimu," ucap Alan. Dan kini dia memeluk Nia dengan erat.


"lepaskan Mas, membuktikan cinta itu tidak seperti itu caranya Mas. Apa kamu senang jika aku malu di depan banyak orang dan apa kamu senang merenggut kesucianku dengan cara memaksaku. Aku rasa itu bukan cinta Mas..." ucap Nia dan melepas pelukan Alan.


"maafkan aku Nia, aku sungguh kehilangan akal untuk bisa mempertahankan pernikahan kita," ucap Alan putus asa.


Mereka pun mengakhiri pembicaraan mereka dan Nia kembali ke dalam rumah. Sedang Alan masih duduk di teras, dengan di penuhi rasa penyesalannya. Lala melihat dan mendengar semua percakapan antara Nia dan Alan, saat Alan memeluk Nia. Dia juga merasakan sesak di dadanya.


Di tengah malam, Nia menjalankan sholat malam. Selesai sholat dia pun berdoa memohon kepada Allah, agar sidang keputusan esok hari berjalan lancar. Dia sudah ikhlas jika memang harus berpisah dengan Alan, dan dia sudah siap menyandang status janda di usia mudanya.


Dia berharap setelah berpisah dengan Alan, dia bisa menemukan kebahagiaan untuk dirinya. Dan dia berjanji akan menjadi wanita yang kuat dan tidak mudah di injak injak oleh orang lain.


*

__ADS_1


Keesokan hari, mereka sudah berada di pengadilan untuk menghadiri sidang keputusan. Dan sebentar lagi mereka akan mendengar hasil keputusan dari Hakim.


"Nia boleh aku memelukmu sebelum kita resmi berpisah?" tanya Alan.


"tapi Mas...," Alan langsung memeluk erat tubuh mungil Nia tanpa menunggu jawaban Nia.


Pak Ilham yang melihat mereka berpelukan, langsung meneteskan air mata. Beliau begitu terharu melihat Alan memeluk Nia, beliau menyadari jika kini Alan sudah mencintai Nia. Tapi semua sudahlah terlambat, nasi sudah menjadi bubur, mereka akan berpisah.


Beberapa jam kemudian, setelah majelis Hakim Pengadilan membacakan sidang keputusan. Nia dan Alan akhirnya resmi berpisah, ada rasa bahagia dan juga sedih di benak Nia. Dia meneteskan air matanya, impian menikah sekali seumur hidup tinggallah impian.


Johan merasa lega, karena kerja kerasnya untuk mengurus perceraian Nia segera di kabulkan sudah berhasil. Bukan maksud dia untuk memisahkan Nia dan Alan, namun pernikahan mereka memanglah tidak bisa di pertahankan. Dan proses tidak membutuhkan waktu lama dan tidak berbelit belit.


"aku akan membuat dirimu bisa kembali bersamaku Nia. Aku tidak akan tinggal diam, aku yakin jika kamu akan kembali menjadi istriku," ikrar Alan pada dirinya sendiri.


"Ayah, maafkan Nia. Maaf sudah membuat Ayah sedih dan kecewa pada Nia!" ucap Nia sambil memeluk Pak Ilham dengan air mata yang terus mengalir.


"Ayah memang sedih tapi Ayah tidak kecewa, keputusanmu sudahlah benar Nak." kini Pak Ilham melihat Alan yang sedang duduk termenung di kursi sidang.


"tidak ada yang perlu kamu sesali, karena semua masalah ini kamu yang ciptakan. Dan sudah terlambat untuk kamu sesali, semua bisa kamu jadikan pelajaran untuk kamu bisa menghargai perasaan seorang wanita yang baik!" tutur Pak Ilham dengan menepuk pelan bahu Alan.

__ADS_1


Kini Pak Ilham dan Nia sudah keluar dan menuju mobil untuk pulang, Johan dan Sinta masih di dalam karena ada yang ingin mereka bicara pada Alan dan Lala. Dan mereka memutuskan untuk berbicara di sebuah kafe terdekat, entah apa yang ingin Sinta dan Johan bicarakan pada kedua pasutri tersebut.


__ADS_2