Antara Aku Dan Maduku

Antara Aku Dan Maduku
Part 97. Gudeg dan sate kere


__ADS_3

Hotel Martha Jaya, tepatnya di hotel Ello yang baru beberapa waktu lalu di resmikan.


Kini di ruangan Ello sudah ada Lena dan juga Zacky, yang akan membahas perkembangan Hotel Mars Jaya yang berada di Ibu Kota. Mereka tampak serius membahas tentang Hotel, namun di antara mereka bertiga hanya Lena yang tampak berwajah masam walau dia mendengar dan juga berbicara untuk menjelaskan visi misi yang dia usulkan. Agar pengunjung bisa menikmati fasilitas dan merasakan kenyamanan yang berbeda dari Hotel lainnya.


"Oke..semua bagus, dan visi misi yang kau usulkan akan aku pertimbangkan dulu. Dan aku membutuhkan Zacky untuk menetap di sini, karena kinerjamu sudah bagus. Aku rasa kau sudah tidak perlu bantuan Zacky, dan akan ada asisten baru yang menggantikan Zacky untukmu." Ucap Ello.


"Yes.." Seru Zacky saat Ello menarik dirinya kembali menjadi asisten pribadinya.


"Senang sekali kau ini," ucap Lena sinis. Wajahnya semakin merah padam menahan kesal.


"Ya jelas aku senang, aku sudah terbebas dari atasan bar bar sepertimu." Sahut Zacky.


"Sialan kamu, jadi kamu selama ini selalu mengumpatku!" Ucap Lena dengan memukul lengan Zac dengan sangat keras.


"Aw..aw..bagaimana aku tidak mengumpatmu, jika kau selalu menyuruhku ini itu. Bahkan yang lebih memalukan lagi Pak, saya di minta untuk membelikannya pembalut plus ****** ********!" Ucap Zacky dengan menepuk jidatnya dan membayangkan betapa malu dirinya saat di lihat banyak wanita cantik. Ello tertawa lepas mendengar penuturan Zacky.


"Itu tugas seorang asisten Bambang," celetuk Lena.


"Aku tak bisa membayangkan betapa malunya dirimu," ucap Ello dan tertawa dengan tangan menepuk nepuk mejanya.


"Sangat sangat malu, di tertawakan semua pengunjung minimarket." Sahut Zac geleng geleng.


"Tugas asisten adalah menuruti semua perintah atasannya, bukan mengumpatnya." Protes Lena.


"Memang tugas asisten mengerjakan perintah atasannya, tapi bukan menyuruhku membelikan keperluan yang sangat dan sangat memalukan itu." Tegas Zacky.


"Kamu bodoh Zac, ngapain kamu menuruti perintah memalukan itu." Ucap Ello dengan tawa yang tiada henti.


"Saya di ancam akan dia pecat Pak," ucap Zac lemas.


"Ha..ha..kamu itu asisten yang pintar dalam pekerjaanmu. Tapi kenapa kamu bisa di bodohi Lena," ucap Ello yang semakin tertawa lebih keras.


"Nah..itulah yang saya bingungkan, saya baru sadar saat sudah memberikan barang itu pada Lena. Kenapa aku harus takut ancamannya, sedangkan yang berhak memecatku itu Pak Ello." Ucap Zack dengan tertawa, dia mentertawai dirinya sendiri.


"Ha..ha..baru sadar sudah aku kerjai. Dan kamu itu asisten menyebalkan gak ada akhlaknya, kau bohong pada atasanmu ini. Kau bilang tidak di suruh Ello ke sini, tapi sekarang kau tiba tiba di sini. Dasar pria idiot, gak da akhlak," teriak Lena setelah dari tadi menahan kesal karena pekerjaannya tadi.


"Aku memang sengaja membohongimu, karena aku tidak mau kau kerjai dan kau suruh membawa barang barangmu yang satu kontainer kamu bawa semua." Cetus Zacky dengan menyunggingkan bibirnya.


"Stop..jangan bertengkar di ruanganku. Aku lapar dan mau makan siang, kalian keluarlah jangan mengganggu makan siangku!" Perintah Ello.

__ADS_1


"Kau tidak keluar makan siang?" Tanya Lena.


"Tidak, aku sudah di bawakan bekal makan siang oleh bidadariku." Jawab Ello dan meletakkan kotak nasi di atas meja kerjanya.


"Aish..kenapa Nia tidak membawakanku juga." Gerutu Lena.


"Aku tahu yang ada di otakmu, ini untuk makan siangmu," ucap Ello saat memberikan lembaran uang dua puluh ribu pada Lena.


"Kok cuma dua puluh ribu, dapet apa coba!" protes Lena.


"Kalau tidak mau, sini kembalikan." Ucap Ello dengan mengulurkan tangannya pada Lena.


"Jangan dong Kangbul, terima kasih. Ini bisa makan di Aw," ucap Lena dan memasukan uangnya di dalam tasnya.


"Dasar Sultan pelit, dari sekian banyak uang di dompetnya. Yang dia keluarkan hanya duit warna hijau saja, kenapa bukan yang merah." Umpat Lena dalam hati.


"Aw?" Tanya Ello dan Zacky bersamaan dan saling menatap.


"Asli Warteg," seru Lena dengan tertawa lepas.


"Bar bar sableng," teriak Ello dan Zacky bersamaan.


"Saya permisi Pak," pamit Zacky yang merasa sudah jengah satu ruangan dengan Lena.


"Aku tidak lapar, dan aku tidak mau kemana mana." Sahut Zacky yang duduk di bangku empuk di Loby hotel.


"Kau menunggu siapa?"


"Itu bukan urusanmu, pergilah jangan menggangguku!" Ketus Zacky.


"Huftt..dasar cowok idiot," umpat Lena yang langsung meninggalkan Zacky sendirian di Loby.


"Padahal aku mau makan gratis darinya," gumamnya dan berjalan keluar hotel.


"Ha..ha..lebih baik aku makan siang ke tempat yang jauh dari Hotel, supaya tidak bertemu orang itu lagi." Zacky pun pergi dari area Hotel dan melajukan mobilnya menuju Restaurant yang sedikit jauh.


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Malam hari di rumah Ello, kini keluarga besar Oma Carolien tengah berkumpul di ruang keluarga.

__ADS_1


"Oh..jadi ini yang ingin kau kenalkan dengan putraku Kak?" Tanya Sepupunya Papa yang kini memberikan senyuman pada Lena.


"Betul, cantikkan. Walaupun lebih cantik diriku," seloroh Mama dengan tertawa.


"Kau itu cantik dari mana Ne, gak ada cantik cantiknya kau ini. Jangan terlalu PeDe," sinis Oma dengan menyunggingkan bibirnya.


"Mama itu kenapa selalu menjelek jelekkan Anne," protes Mama dengan memanyunkan bibirnya.


"Buat apa menjelekkan orang yang sudah jelek, Mama ini berbicara kenyataan." Ejek Oma yang di sambut tawa seluruh penghuni rumah, kecuali Papa dan Nia yang terlihat kesal.


"Igh..Mama menyebalkan," rengek Mama.


"Namamu siapa?" Tanya Tante lembut.


"Lena tante," jawab Lena malu malu. Membuat Ello bergidik, karena itu tidak seperti Lena yang dia kenal arogant.


"Sudah tahu," sahut Ello sinis.


"Aku jawab pertanyaan Tante bukan kamu Pak Ello." Ucap Lena berusaha anggun.


"Salah minum obat nih orang, tumben sekali dia panggil aku Pak. Biasanya hanya memanggilku Ello," gumam Ello dalam hati.


"Tante dengar kamu ini sahabat Nia dan Ello?" Tanya Tante.


"Iya Tante, kami dulu teman kuliah. Walau beda jurusan, dan kita semua bersahabat hingga saat ini." Jawab Lena anggun bahkan posisi duduknya pun sangat anggun.


"Wah..senangnya punya sahabat yang bisa awet sampai sekarang. Jika kamu menjadi menantu Tante, pasti persahabat kalian semakin awet sampai tua." Seru Tante senang.


"Tante.." Ucap Lena malu malu.


"Dih..geli banget lihatnya," gumam Ello dalam hati dan bergidik geli.


"Mana putramu, kenapa belum datang juga?" Tanya Papa yang melihat keponakannya tidak ada di ruang tersebut.


"Tanyakan saja sama putamu Kak," jawab Tante. Papa pun menatap tajam pada Ello.


"Aku hanya memintanya membelikan makanan yang di minta Nia." Jawab Ello, dan semua orang menatap ke arah Nia yang terlihat sedih.


"Kau minta apa Nak, kenapa kau muram seperti itu?" Tanya Papa penuh perhatian.

__ADS_1


"Nia minta gudeg sama sate kere, tapi Nia pinginnya Babang Ello yang beliin bukan orang lain!" Rengek Nia yang berdiri dan menjauhi Ello.


"Kau ini Mars, jika istri lagi pingin sesuatu itu harus kamu belikan. Bukan menyuruh asistenmu terus terusan," Bentak Oma.


__ADS_2