
"Permisi nona Mayra, anda sedang di tunggu tuan di ruang rawat anda ,nona. "
" Tolong katakan sebentar lagi kami akan menyusul, saya tidak akan merebutnya dari tuan mu itu, jelas sekali saya akan kalah karena Mayra adalah adik saya sendiri, " Ketus Farel, dengan raut wajah tak suka.
" Mohon pengertiannya tuan, nona. Saya hanya menjalankan perintah. Tolong jangan mempersulit tugas kami . Tuan muda tidak suka menunggu, waktu kalian pun tidak begitu banyak nona, bukankah nanti malam tuan muda akan menjalani transplansi tulang sumsum belakang untuk putrinya, jadi mohon jangan membuang-buang waktu nona . " ucap orang suruhan Ansel menjelaskan.
Mayra sedikit terkejut, dia baru menyadari bahwa waktu untuk berbicara dengan Farel sudah lewat, tidak tepat sesuai janji pada calon suaminya itu .
Beberapa jam yang lalu. Mayra pamit pada Ansel untuk berbincang sebentar dengan Farel. Meskipun Ansel mengizinkan, nampak sekali lewat raut wajah Ansel yang datar, ingin ia menolak permintaan Mayra . Tapi bertemu dengan Farel adalah hal yang sangat penting bagi ibu dari anaknya .Mayra yang nekat akhirnya pergi di antar suster menuju taman menemui kakak sepupunya.
" Yasudah, mari kita masuk...semua demi putrimu, bukan karena calon suamimu yang prosesif itu. " Cibir Farel seraya membenarkan letak Mayra di kursi rodanya .Mayra hanya bisa nyengir menatap wajah datar orang tersebut.
Farel terus mendorong kursi roda Mayra,langkah mereka tidak sesuai arah ,memutuskan mengikuti utusan Ansel tersebut . Karena orang suruhan Ansel menyuruh mereka mengikutinya ,menuju ke sebuah tempat .
" Ini dimana kak ? '' Tanya Mayra, saat mereka sedang berdiri di balik pintu besar.
" Ini , aula rumah sakit. " jawab Farel sebenarnya.
" Tuan, kenapa tadinya anda mengatakan tuan muda Julian menungguiku di dalam kamar rawat saya, ? lalu kenapa kita belok nya ke aula tuan ? " tanya Mayra , membingungkan.
" Saya tidak memiliki kuasa untuk menjawabnya nona, lebih baik anda melihatnya sendiri. masuklah karena jawaban semuanya ada di dalam sana. " ucap orang suruhan Ansel masih dengan kesopanannya.
Mayra senang dengan tingkah laku orang tersebut penuh dengan kesopanan, Mayra terus menatap punggung orang suruhan Mayra sejak tadi.
" Ehmm... kondisikan matamu dek !!, masih ada yang lebih tampan di rumah sakit ini. Jangan lakukan hal itu di depan calon suamimu kelak, jika tidak ingin rumah sakit ini di ratakannya. "
" Ah , masak...itu hanya ilusi " sanggah Mayra .
" Dasar menyebalkan !! " rengek Mayra sebal.
Farel menanggapi nya hanya dengan sebuah senyuman.
__ADS_1
" Ayo kita masuk, waktu kalian tidak lama lagi Mayra. Calon suamimu harus segera di operasi, karena keadaan bayimu semakin kritis dek . " Peringat Farel.
" Ya kak, ayo kita masuk. "
Farel segera mendorong kursi roda Mayra, sementara Mayra bertugas membuka engsel pintu, namun baru saja pintu itu sedikit terbuka,Mayra langsung merasa terperangah dengan keadaan di dalam sana.
Saat pintu terbuka lebar, Mayra langsung mematung menatap seluruh isi dari ruangan tersebut dengan rasa kagum yang luar biasa. Terlihat Ansel telah berdiri dengan tampannya menyambut kedatangannya yang sudah di tunggu-tunggu oleh beberapa orang di ruang aula tersebut, termasuk semua keluarga Mayra di sana sedang duduk dengan khidmat di kursi yang telah terhias rapi.
Seorang wanita cantik, berparas bule juga menggunakan hijabnya mendekati tubuh Mayra yang sedang kaku menatap lurus kedepan. Mayra menerka jika wanita ini beragama muslim sepertinya, jelas dia menduganya dengan busana yang tertutup.
Wanita itu mengucapkan sesuatu dengan bahasa Indonesia sedikit kaku, mungkin baru-baru ini wanita tersebut belajar berbahasa Indonesia.
" Tuan, biar saya saja yang mendorong kursi nona muda, silahkan anda bergabung dengan para tamu yang lain. " ucap wanita itu sopan.
Farel sejenak menunduk menatap Mayra seakan meminta kepastian pada dirinya, apakah Mayra mau, atau tidak.
Namun Ansel lebih dulu melangkah sembari menghampiri empat orang yang masih berdiri di ambang gerbang pintu masuk aula.
" Sayang ! Hari ini adalah hari di mana dua cinta kita akan sah secara hukum dan agama. Momentum ini akan ku gantikan semua kesakitanmu ,saat dulunya pernah menyakitimu tanpa ku sadari. Aku ingin moment pernikahan kita sempurna dalam berbagai bentuk. Aku ingin kamu terlihat cantik , ikutlah bersamanya . Nona itu akan merubahmu menjadi bidadari cantik untukku, meskipun acara kita sangat sederhana "
" Mas...kamu berlebihan , ini bukan sederhana, kalau di negara kita. Ini adalah pesta termahal seantero bumi. "
Mayra terharu dengan ucapan Ansel , penuh perasaan . Air mata pun luruh tanpa terkomando terlebih dulu, tepatnya air mata seakan mewakili perasaan bahagianya.
"Jangan menangis . Ini hati bahagia kita, aku harap kamu juga merasakannya sama halnya seperti ku. "
" Tepatnya aku sedang bahagia Mas, aku bahagia sangat bahagia...hilang semua kata-kata hanya ada rasa bahagia yang terus menyeruak dalam diriku...terimakasih, atas perjuanganmu sampai titik ini ..." Ucap Mayra tulus di sertai air mata yang masih mengalir dari pelupuk matanya.
Ansel menyeka air mata kekasihnya dengan penuh kelembutan.
" Sudah cukup air mata ini menganggu kulit cantikmu. Saatnya wajah cintaku berubah bagaikan bidadari yang dikirimkan Tuhan padaku. "
__ADS_1
Saking bahagianya refleks Mayra hendak memeluk Ansel, namun gerakan Farel kalah cepat dengan spontanitas nya Mayra.
" STOOOPPP " pekik Ansel ,menarik kursi roda Mayra kebelakang hingga Mayra dan Ansel berjauhan.
Mayra yang diperlakukan seperti itu langsung memerah wajahnya, malu tak ketulungan. Setan mesum dari pikirannya yang alot...sukses membuat harga dirinya hampir saja banting harga.
Sementara Ansel tidak terlalu peduli dengan sikap Farel yang menjurus kebaikan, apalagi di depan banyak orang. Tapi tidak setelahnya, ia berjanji akan membalas perlakuan manis Mayra dengan caranya sendiri. Tentunya saat mereka sah menjadi pasutri.
" Nona , segera make over calon mempelai wanitanya, berlamaan disini membuatku sakit mata saja. Hampir saja aku menggantikan nama mu dengan nama mesum. " cerocos Farel , Mayra semakin menunduk malu. Untung saja para tamu di ruangan tersebut sibuk sendiri.
" Kakak...." Lirih Mayra menahan rasa malunya.
" Cepat , lakukan tugasmu dengan baik. " Titah Ansel kemudian. Wanita itupun segera meraih kursi roda Mayra, dan membawanya kedalam ruang makeup yang telah di sediakan oleh orang-orang Ansel.
Setelah Mayra di bawa , Ansel bangkit dan berdiri tegap di hadapan Farel yang sedikit lebih pendek dari Ansel. Jika Farel memiliki tinggi tubuh 185 cm , Ansel lebih tinggi 3 centi dari Farel yaitu 188 cm.
Kali ini tatapan Ansel sedikit berbeda, ada pancaran lembut di sana, yaitu pancaran aura persahabatan yang di perlihatkan Ansel pada calon iparnya .
Farel adalah pria yang penuh sopan santun serta tebal dengan tata Krama. Langsung bisa menafsirkan maksud dari tatapan Ansel.
Demi adiknya , Farel menekan sifat egonya yang telah bersarang sejak dari kecil . Ia pun mengulur tangannya mengajak Ansel bersalaman, namun Ansel yang sedikit terkejut masih belum menggapai tangan Farel yang disodorkan di hadapannya untuk menerima balasan.
Beberapa detik setelah menatap tangan Farel, Ansel langsung menerima uluran tangan Farel . Mereka bersalaman dengan hari yang mulai menghangat, tidak seperti tadi dingin dan datar.
" Selamat, akhirnya kalian bersatu kembali. Saya saya berharap banyak pada anda tuan muda Julian. Tolong bahagiakan lah dia, jangan sesekali Anda menyakitinya, bagi kami Nayla dan Mayra adalah berlian yang paling penting dalam hidup kami. Saya rasa anda paling mengerti sifat baiknya itu bukan ? saya harap jagalah dia ,dan jangan ada pengorbanan-pengorbanan selanjutnya. Cukup berikan saja dia kebahagiaan selebihnya dia sudah pernah merasakan. Mayra meyakini hanya andalah yang mampu memberinya kebahagiaan yang sempurna, anda beruntung tuan. " Ucap Farel sedikit tegas perihal kebahagiaan adiknya.
" Itu sudah kewajiban saya tuan Farel, Mayra lebih berharga dari nyawa saya. Dan bahagia? Atas pertolongan-NYA , insyaallah Mayra akan bahagia bersama ku. Saya tidak berjanji akan membahagiakan nya, tepatnya saya akan terus berusaha serta berdoa jika Mayra adalah wanitaku di dunia dan di akhirat kelak. Cukup itu saja buktiku padanya tuan " Balas Ansel tak kalah tegas ,tidak suka dengan persepsi Farel yang terlalu prosesif pada miliknya.
" Baiklah , saya lega mendengarnya. Kalau begitu mari kita masuk. " Ajak Farel sembari merangkul Ansel sopan. Ansel tidak melarang rangkulan tersebut, demi hubungan yang akan segera terbentuk.
Mereka pun masuk, sembari menunggu calon mempelai wanita di sulap bak bidadari.
__ADS_1
😎 Happy Reading....📓🙏👍