Antara Cinta Dan Pengorbanan

Antara Cinta Dan Pengorbanan
Secercah Harapan


__ADS_3

'' Bagaimana ? '' Tanya Ansel dingin, menatap lekat kearah jalanan langsung dari ruangannya.


''Nona Mayra telah sampai dengan selamat, dan sekarang sudah berada di kediaman Bramantyo tuan, ''. Jawab Max sesuai laporan dari anak buahnya.


'' Kosongkan jadwalku hari ini, aku ingin istirahat penuh. Jangan menggangguku, meskipun itu sangat genting sekali,setelah memikirkan beban berkepanjangan,ingin rasanya aku tidur seharian penuh. '' Gerutu Ansel kesal tidak menyangka dengan kejadian di pagi hari tersebut, kemudian dia bangkit dan berlalu keluar dari ruangannya menuju Mansion pribadinya.


Mayra, Nayla dan rombongan Ansel bersamaan tiba di Jakarta kembali. Meskipun beda jadwal penerbangannya tapi mereka tiba di hari yang sama setelah menghadapi berbagai masalah.


***


Tok...tok...tok...


Lamunan seusai tangis Mayra buyar dengan bunyi ketukan seseorang di pintu kamarnya.


Dengan cepat Mayra menyeka air mata perihnya, supaya sakit bathin dan tubuhnya tidak di ketahui yang lainnya.


Mayra melangkah membukakan pintu .


Ceklek...


Mayra terhenyak mendapati si pengetuk tersebut sedang berdiri dengan wajah yang sendu.


'' Kak Nayla? kapan kakak balik ?, '' Tanya Mayra sedikit kaget.


''Satu jam setelah kepergian mu May, '' jawab Nayla .


''Mayra, kakak ingin membicarakan sesuatu padamu. Jika mengganggu kegiatan mu, nanti saja setelah selesai semuanya, '' lanjut Nayla kembali.


Mata Mayra awas mengedar ke kanan dan ke kiri . Memeriksa setiap sudut lantai dua, takut ada yang mendengar percakapan mereka nantinya.

__ADS_1


'' Yasudah masuk ke dalam aja kak ! '' Ajak Mayra segera menarik Nayla ke kamarnya. Kemudian dengan cepat Mayra mengunci pintu kamarnya.


Mayra membawa kakaknya ke sofa agar leluasa berbicara.


''Kakak mau ngomong apa ?, '' Tanya Mayra tersenyum paksa.


''Ehmmm...emm...'' Nayla masih ragu untuk membuka pembicaraannya.


Adiknya tahu jika sang kakak masih begitu tidak nyaman untuk memulainya. Kemudian dengan penuh kasih, Mayra mengusap punggung tangan Nayla yang sedang menggenggam baju kaos rumahan Nayla, agar sedikit lebih tenang.


''Bicaralah kak! ,tidak perlu sungkan seperti itu. Apa ini masalah Ansel ? '' Ucap Mayra kemudian bertanya mengenai masalah terbesar yang dialami tiga manusia itu.


Dengan cepat Nayla mengangguk membenarkan.


''Yasudah, katakan kakak mau ngomong apa mengenai masalah itu, ''. Ujar Mayra menyiapkan hatinya agar tidak terluka lagi melihat guratan sedih sang kakak.


''Dek, kamu tahu bukan, jika mas Eric--


Namun Mayra yang memiliki sifat dewasa langsung mengangguk agar sang kakak melanjutkan ucapannya.


'' Lanjutkan ! '' Titah Mayra lembut.


Nayla menarik nafasnya kemudian melepasnya di iringi sesak di dada, takut sang adik terluka dengan ucapannya.


''Mas Eric sudah melakukan hal yang tidak wajar untuk kami lakukan, tapi menelisik dari pertemuan kami di Bali beberapa jam yang lalu, mas Eric masih belum yakin dia telah merenggut mahkota kakak. Padahal malam itu setelah kita berbaikan, kakak sudah pasrah akan takdir yang sudah di gariskan, untuk merelakan rasa yang sudah bersemayam Namun tidak kusangka malam laknat itu terjadi secara tidak sadar. ''


Tangis Nayla pecah di sela ungkapannya.


''Kakak bingung, satu sisi kalian saling mencintai...satu sisi lagi mas Eric sudah melakukannya dengan kakak. Apa yang harus kakak lakukan dek? andai itu bukan kekasihmu kakak tidak akan terbeban seperti ini, May...'' Tangis Nayla tak terbendung. Masih terngiang di kepalanya bagaimana pria yang dicintainya sekaligus kekasih sang adik menuduhnya sekejam itu.

__ADS_1


Rasa sedih Mayra akhirnya meruah tumpah saat melihat kakaknya kembali hancur untuk kesekian kalinya. Sengit dalam perkara cinta mereka semakin bergelombang saja.


Iapun merengkuh tubuh lemah kakaknya membawa kedalam pelukan .


''Jangan bersedih, aku mengenal Ansel lebih dari apapun. Dia pria bertanggung jawab meskipun awalnya dia menolak dan tidak terima dengan masalah yang menimpa kalian . Kenapa kakak harus memikirkan perasaanku. Bukankah kakak yang dirugikan disini, aku hanya kekasihnya dan itu belum terikat sama sekali. Dia sudah merenggut harta berharga kak Nayla, justru dia harus segera bertanggung jawab, Walaupun aku juga merasakan sakit kehilangan mahkota ku. Akan tetapi kita berbeda. Aku lebih kuat dari kak Nayla dan akulah yang akan mengalah demi kesehatan kakak , '' Ucap Mayra di ujung kalimat dia hanya bisa membatin, merahasiakan seluruh rasa pedihnya pada orang lain kecuali hanya pada sang pemberi Takdir.


''Tapi, melanjutkan penuntutan itu tidak mudah, Bagaimana bisa secepat itu dia bisa melupakan mu. ''Protes Nayla sambil terisak.


''Lupa itu memang sulit kak,namun seiring waktunya berjalan semua akan terbiasa. Ansel mungkin masih belum bisa melepas ku karena aku masih bersamanya. Namun jika kami sudah saling mengerti apa itu takdir pertemuan,takdir percintaan juga takdir perpisahan maka semua akan mudah, walau ada tempatku di sana yang mungkin susah untuk di hapus. Saat itulah kakak daur ulang kembali hati Ansel, lalu masuklah secara perlahan kesana dengan kepribadian kakak yang sesuai dengan kesejatian Ansel sesungguhnya. '' Terang Mayra dengan iringan air mata pasrah.


''Aku masih takut di tolak, '' Lirih Nayla menangkupkan kedua telapak tangannya menekan dahinya untuk menahan Isak nya, sesudah pelukan mereka mengurai.


''Yakinlah, jika Ansel tidak akan melakukannya lagi. Dia sudah menghancurkan hidup kakak,dengar ! kak Nayla masih punya solusi lainnya. Ibunya Ansel pasti akan menjadi perantara agar Ansel tidak mengabaikan tanggung jawabnya,'' Ucap Mayra meyakinkan,Mayra mulai tidak karuan melihat keadaan Nayla yang semakin memucat karena menangis .


''Mayra apa kata mama, papa jika tau kakak sudah tidak bisa dibanggakan lagi,kakak wanita kotor seakan melemparkan kotoran binatang ke wajah mereka. Sungguh sangat memalukan....'' Ucap Nayla masih bersedih.


''Mereka orang tua yang baik dan bijaksana, mereka tidak akan menyalahkan kak Nayla dengan perbuatan yang dilakukan dengan cara tidak sadar,Mayra yakin itu. Sudah ,gak usah memikirkannya lagi. Lihatlah terlalu banyak hal yang terus menyakiti hati kakak takutnya kakak drop lagi nanti. Mayra akan membantu kakak untuk mempermudah segalanya. Sekarang istirahatlah,bagaimana bisa kakak menuntut Ansel jika kondisi kakak lemah seperti ini, '' Bujuk Mayra .


'' Aku takut menyakitimu,Mayra ? '' Lanjut Nayla yang terlihat semakin lemah.


''Tidak ada yang membuatku sakit, saat masalah yang membebani kakak hilang berganti dengan kebahagiaan. '' Ucap Mayra sepenuh hati, meski hatinya rapuh namun masih sanggup menguatkan hati yang lainnya,itulah Mayra sesungguhnya...Tenggelam dalam lautan luas demi menyelamatkan orang yang di sayanginya.


''Bagaimana jika yang kakak takuti terjadi ''.


''Yakinlah, Mayra akan terus berusaha...berdoalah hingga setitik keajaiban mempermudah segalanya. ''


Nayla mengangguk hingga seperkian detik kemudian diapun tenang seketika.


Mayra menuntun Nayla menuju kamarnya untuk mengistirahatkan tubuh Nayla yang terlihat lemah. Bagi Nayla ucapan terakhir Mayra barusan bagai secercah harapan untuk hidup kedepannya.

__ADS_1


''Meski hatiku serapuh kaca, aku masih bisa tegar dalam kepedihan ku. Luka dalam tidak akan mudah sembuh dalam waktu singkat,perasaan tersembunyi di dalamnya tidak akan goyah jika orang yang ku sayangi tidak semenderita ini, aku hanya ingin kak Nayla tersenyum kembali. Doakan Mayra agar dapat menggantikan air mata kesakitan dengan air mata yang membahagiakan . Biarlah aku yang jatuh karena hatiku masih kuat untuk bangkit meraih masa depanku kembali,meskipun bukan bersamanya namun entahlah, aku akan menjalani hidupku sesuai takdir yang tersisa, '' Lirih Mayra mengusap kepala Nayla yang sudah terlelap ke alam mimpi, walau disela tidurnya sesekali segukan itu muncul, seketika meremas hati Mayra yang menyaksikannya.


__ADS_2