Antara Cinta Dan Pengorbanan

Antara Cinta Dan Pengorbanan
Rasa Takut


__ADS_3

Seorang pria begitu gontai melangkah dengan hati yang kian gundah gulana, tujuannya kali ini begitu menyedihkan ,perlahan dia menatap ingkubator melalui kaca yang tembus pandang kedalam ruangan NICU dimana seorang bayi perempuan terbaring dengan berbagai alat bantu yang menempel di tubuh kecilnya.


Air mata lolos dari pelupuk matanya setetes demi setetes, hatinya bagai terkoyak . Memikirkan bagaimana caranya ia menjelaskan pada ibu sang bayi jika kondisi putrinya tersebut begitu memprihatinkan, Pria tersebut adalah Farel .


Beberapa hari yang lalu Mayra terus menantikan hadirnya sang bayi dengan hati yang penuh kegembiraan untuk segera melihat putri kecilnya. Namun takdir berkata lain ternyata bayi Mayra yang malang lahir dengan keadaan tak sempurna, bukan cacat fisiknya ,melainkan ada sesuatu yang kurang dalam organ tubuhnya.


Dokter telah menjelaskan jika kondisi tubuh Mayra sebenarnya tidak bisa mengandung karena dapat mengakibatkan kelainan pada bayi,tapi Mayra terus memaksa bayinya selamat sampai lahir kedunia.


Tidak ada yang lebih bahagia bagi Mayra saat itu, melainkan mengandung ,melahirkan serta merawat bayinya dengan tangannya sendiri. Tapi sayang kondisi bayi Mayra tidak akan bertahan lama jika tidak ada pendonor yang akan membantunya untuk sembuh. Bahkan setelah mendengarkan penjelasan dokter secara mendetail , sangat tidak mungkin melibatkan orang tersebut untuk sang bayi yang sedang di ambang kematian.


Namun pilihan hanya satu, karena bayi Mayra adalah keturunan asli dari keluarga Julian. Tentu saja hanya dari merekalah yang bisa mendonorkan tulang sumsum untuk bayi Mayra tentunya.


'' Maafkan uncle sayang, tidak dapat menolong mu dari penderitaan ini. Bertahanlah sampai ayah biologis mu datang untuk menyelamatkan mu sayang. Semoga bunda mu menerima kenyataan ini dengan lapang dada . '' Lirih Farel disertai air mata sedihnya.


Monitor terus berbunyi mengikuti detak jantung putrinya Mayra. Perlahan Farel menjauh dari tempat itu, dia memutuskan untuk duduk guna menenangkan dirinya. Kepala Farel terasa hampir pecah. Ia terus memaksakan pikirannya untuk mencari cara agar dapat menjelaskan kondisi bayinya pada Mayra dengan sepengertian mungkin.


Yang Farel takutkan adalah kondisi Mayra yang masih terlihat lemah setelah proses persalinan normalnya yang dipaksa, hingga tubuh Mayra sedikit drop setelah melahirkan putri cantiknya.


Sudah dua hari Mayra belum sadarkan diri setelah proses persalinannya terjadi . Menurut penuturan dokter, hari ini Mayra akan sadar kembali setelah proses penyembuhan pasca persalinan.


Dengan nafas beratnya Farel memaksakan dirinya melangkah menuju kamar rawat Mayra , karena barusaja suster yang ditugaskan merawat Mayra selama dia belum sadarkan diri, memberitahukan padanya jika sekarang Mayra sudah sadar dan kondisinya sudah mulai membaik.


Dengan hati yang masih bimbang, Farel masih berdiri di depan pintu, sama sekali belum berani menemui sang adik yang telah sadar di dalam sana.


''Permisi tuan Farel, apa ada yang bisa saya bantu, '' Sapa dokter Felisha ,dokter yang menangani Mayra dari awal persalinan.


Farel tersentak kaget. Ia langsung salah tingkah karena tercyduk sedang merasa gugup berdiri diambang pintu.


" Oh ? maafkan saya Dokter Felisha, telah menghalangi pintu. Tadinya saya ingin masuk namun handphone saya sedari tadi bergetar . Maaf sekali lagi. " Bohong Farel menutupi kegelisahannya.

__ADS_1


Dokter Felisha hanya menanggapi Farel dengan seulas senyuman manisnya. Setelahnya Ia langsung masuk keruangan Mayra . Setelah pintu tersebut tertutup kembali, Farel tersentak dengan sesuatu yang sangat menakutkan jika tidak langsung di cegah.


Tanpa berpikir panjang, Farel langsung nyelonong masuk kedalam ruangan Mayra.


Di dalam sana , Mayra menangkap kegelisahan Farel yang sedari tadi terus diam menyimak pembicaraan Dokter Felisha sambil terus memeriksa nya.


Setelah selesai, Dokter tersebut pamit untuk melakukan observasi pasien selanjutnya.


Tinggallah Farel dan Mayra yang masih saling menatap penuh teka-teki yang membingungkan bagi Farel yang melihat gelagat tak baik dari wajah murung sang adik.


'Kak Farel, kemarilah. Apa tidak ada yang ingin kakak bicarakan denganku '' Tanya Mayra sengaja memancing Farel agar mau jujur padanya tentang kondisi bayinya yang diketahui langsung dari dokter Felisha.


Farel membuang nafas beratnya. Terpaksa melangkah mendekati Mayra agar wanita itu tidak terus mengintrogasi dirinya dengan berbagai pertanyaan yang tidak tau balasannya.


" Bagaimana keadaanmu Mayra ?, ada yang sakit ? '' Sengaja Farel mengalihkan pembicaraan.


'' Kenapa ? ''Lirih Mayra menatap sendu kearah Farel yang masih bingung , mungkin saja otaknya sedang berpacu mencari alasan yang logis pada Mayra.


Tatapan sendu Mayra terus menyelami netra Farel yang sedang mencari titik kelemahan Mayra dari sana .


" Semuanya, Termasuk kondisi putri ku " Lirih Mayra memutuskan tatapannya dengan Farel.


" Kamu sudah tahu ? " Mayra mengangguk mengiyakan.


Helaan nafas Farel begitu jelas terdengar dari hidung Farel.


" Baiklah, akan ku ceritakan secara mendetail kondisi bayimu dan di mana dia sekarang ini, "


Mendengar ucapan Farel,Mayra yang sedari tadi menekuk kini nyata terlihat jika Mayra sedang bersiap-siap dengan kenyataan nya.

__ADS_1


Farel mulai bercerita tentang kondisi bayinya ,dan apa penyebab putrinya sampai kritis seperti itu, ternyata Mayra sangat terpukul dengan kondisi sang bayi yang seharusnya tidak pantas menerima rasa tersebut. Mayra terus merintih dalam hatinya , berdoa pada sang khalik agar rasa sakit itu biarlah dirinya yang merasakan. Mayra benar-benar tidak sanggup menerima kenyataan yang diluar dugaannya.


Tangisan Mayra begitu menyakitkan. Air matanya tidak dapat di hentikan . Yang paling membuatnya Perih adalah kondisi sang bayi murni bergantungan pada ayah kandungnya Ansel, Mayra semakin bingung.


Satu sisi Mayra begitu berat nya bertemu kembali dengan sosok pria yang masih tersimpan rapi dalam hatinya, namun disisi lain Mayra sebagai ibu dari putrinya tidak boleh egois pada putrinya , karena apapun itu kehadiran dan tulang sumsum Ansel akan memberikan kehidupan kedua pada putrinya. Tentunya semua itu adalah campur tangan Tuhan melalui Ansel sendiri.


Haruskah Ansel ?, Kenapa sangat sulit sekali pergi dari hidupnya. Padahal sudah hampir setahun Mayra menahan rindu nya pada pria yang telah memberinya seorang putri padanya .


" Mayra ? Apakah kamu ingin bayimu sembuh?"


" Tentu saja, aku tidak sanggup jika putriku menderita seberat itu kak Farel, dan bagaimana jika Ansel mengambil putriku dan di bawa menjauh dariku,bagaimana kak...hiks...hiks...Mayra tidak akan sanggup jika hal itu terjadi. " tangis Mayra di sela ucapannya.


" Dia tidak akan melakukannya, Jika dia mencintaimu mustahil pria itu melakukan hal yang akan membuatmu menderita Mayra " Ucap Farel meyakinkan.


Mayra terus menggeleng, berusaha percaya namun tidak bisa .


'' Ansel bukan milikku lagi kak !!, semuanya sudah berubah . Begitu juga dengan perasaannya padaku, Bagaimana bisa kakak mengatakan jika dia tidak akan membuatku menderita. Jelas akulah yang menolaknya dulu, oleh karena itu kesempatan tersebut akan dipergunakannya untuk menjauhkan ku dengan putriku kak ...hiks...hiks ...,Mayra takut kak. Mayra belum siap dan pastinya tidak akan siap...hiks..." tangis Mayra akhirnya pecah seiring perasaan takutnya akan kehilangan sang buah hati.


" Percayalah, Cintamu tidak akan mengkhianati mu. Jikapun itu terjadi ,akulah orang yang terlebih dulu melawannya. Walaupun aku tidak sehebat tuan muda Julian yang menang dalam segala hal dariku. '' Bujuk Farel terus menenangkan Mayra yang langsung di peluk olehnya, guna menyalurkan sedikit ketenangan.


'' Kak Farel, bawa Mayra menemuinya. Sebelum kita menghubungi Ansel, aku ingin terlebih dulu menyapanya serta ingin memberi nama yang terbaik untuk putriku '' Ucap Mayra kembali tersenyum meski air matanya masih menempel di wajah ayunya.


'' Tentu saja, kamu akan melihat betapa cantiknya putri yang telah kamu pertahankan agar hadir dalam kehidupan mu '' Balas Farel tersenyum , sembari menghapus air mata Mayra di pipi.


" Ayo kak '' Ajak Mayra .


'' Tunggu, biar aku ambilkan kursi roda dulu.


Mayra mengangguk, Sementara Farel keluar dari ruangan Mayra berlalu menuju tempat khusus kursi roda menurut arahan perawat di sana .

__ADS_1


Setelah itu, mereka langsung keluar dengan Mayra yang sudah di dudukkan di kursi dan di dorong oleh Farel sendiri.


😘 Happy Reading.....


__ADS_2