Antara Cinta Dan Pengorbanan

Antara Cinta Dan Pengorbanan
Kecewa Dengan Bungkamnya.


__ADS_3

'' Kenapa ?, '' Ansel menangkap keraguan di raut wajah istrinya.


Pria itu langsung mengusap pipi istrinya agar perasaan takut serta khawatirnya sirna . Dengan seulas senyuman tampannya Ansel meraih baby Anzela dari gendongan Mayra ,dipindahkan ke pangkuannya ,bayi mungil itu tidak terusik sama sekali tidurnya pulas sekali, Mayra memberikan ASI nya sampai bayi gembul berusia belum genap sebulan begitu menggemaskan.


'' Jangan ragu, Mommy sudah berubah. ''


'' Aku hanya sedikit nervous saja, mas. Bukan takut, '' Sanggah Mayra ,meskipun rasa itu ada.


'' Kamu yakin ? ''


'' Ya, ''


'' Baiklah ,aku percaya padamu. Kalau begitu mari kita turun !, mereka semua sudah menunggu di teras mansion. ''


Mayra mengikuti arah telunjuk suaminya yang menunjuk kearah teras.


Memang benar seperti kata Ansel jika banyak orang yang sedang berdiri menunggu kedatangannya, termasuk Raisa Mommy Ansel dengan wajah harapnya.


Dari dalam mobil, Mayra bisa menduganya jika ibu mertuanya berekspressi bahagia. Berbeda sekali dengan wajahnya setahun silam, dengan karakter angkuh dan penolakan keras tentunya, sangat berbanding balik dengan raut wajah sekarang ini.


'' Apa kita akan membiarkan Mommy dan yang lainnya menunggu ? ''


Mayra tidak menjawab ,ia hanya menoleh sedetik kemudian Mayra langsung menggeleng .


'' Yasudah, kita masuk kedalam ya !. Kasian baby kita tidurnya tidak nyaman kalau terus digendong '' Ujar Ansel seraya membuka pintu mobil.


Ansel keluar dari mobil dengan tangan kiri menahan tubuh baby Anzela yang tertidur. Sedangkan tangan kanannya menggenggam erat tangan istrinya.


Ansel menuntun Mayra turun dari mobil. Dapat dirasakan oleh Ansel jika tangan Mayra berkeringat, seulas senyuman terbit dari wajah Ansel.


'' Istriku ternyata memiliki ego tinggi rupanya. Tadi katanya baik-baik saja, tapi tubuhnya berkata berbeda. Istriku sangat menggemaskan rupanya ''


Sambil melangkah Ansel yang masih menggenggam tangan Mayra , sesekali menoleh kebelakang menatap sang istri dengan raut wajah sedikit geregetan, entah apa yang dipikirkannya. Langkah Mayra terasa berat saat di gandeng oleh Ansel.


Sampai di depan Mommy Raisa, Ansel berdiri dengan seorang bayi di gendongannya. Air mata Raisa tak tertahankan. Rasa bahagia nya telah tersampaikan, Raisa begitu ingin meraih cucu kecilnya itu namun masih belum berani karena kesalahannya yang lampau menghentikan keinginannya.

__ADS_1


Mayra masih betah menunduk di samping Ansel. Dengan penuh penyesalan Raisa melangkah mendekati Mayra dari arah depan.


'' Selamat datang menantuku '' Ucapan Raisa langsung mendapatkan respon sedikit terkejut dari menantunya.


Kepala Mayra langsung terangkat memaksa menatap wanita paruh baya yang masih terlihat cantik alami itu sedang menatapnya sendu.


'' Apa kesalahan Mommy masih bisa termaafkan ,nak !. Jujur Mommy tersiksa setelah menhardikmu dulu, bagaimana pun bentuk dan caranya Mommy akan melakukannya jika sebuah maaf kudapatkan dari mu ,nak !. " Keluh Raisa dengan air mata telah mengenang, hingga Raisa bersimpuh di kaki Mayra .


Mayra terkejut bukan main , Ansel tidak percaya sang Mommy sampai bersimpuh segala demi sebuah maaf, sepenyesal itukah wanita yang telah melahirkan nya.


Sebenarnya mata dan hati Ansel sakit melihat sang ibu sangat merasa bersalah dengan penyesalan besar, hingga rela berlutut di depan menantunya.


Sungguh Ansel tidak percaya, wanita seqngkuh Mommy mampu membuang egonya demi kata maaf.


Dengan cepat Mayra ikut jongkok di depan sang mertua , dengan gelengan Mayra menyeka air mata mertuanya tersebut. Dalam pikirannya ia sungguh sangat berdosa membuat yang tua menginginkan maaf sampai segitunya.


" Mama jangan seperti ini. Sungguh celaka diriku jika yang lebih tua berlutut pada yang lebih muda. ''


Ia tahu, dari pancaran mata mertuanya terlihat penyesalan mendalam terlukis di sana.


'' Mayra sudah lama memaafkan Mommy sebelumnya. Mayra mohon jangan bersimpuh seperti tadi, Mayra merasa tidak memiliki akhlak membiarkan itu terjadi. ''


Tangan Mayra terus mengisap bahu Raisa dengan lembut, setelahnya ia membantu Raisa bangkit dari lantai.


'' Apa kesalahan Mommy masih dapat di tolerir dan di maafkan ? '' tanya Raisa berharap.


'' Sungguh keji manusia tersebut ,jikalau ada yang meminta maaf dengan tulus seperti tadi. Apalagi yang melakukannya itu adalah orang yang lebih tua dari Mayra.''


'' Lalu ? ''


'' Mayra sudah memaafkan Mommy. Tapi sebelumnya juga, Mayra juga minta maaf karena waktu itu meninggikan suara dengan lancang . '' Ujar Mayra menyesal.


'' Tidak, nak! . Kamu pantas melawan karena ucapan Mommy sudah tidak wajar untuk berucap , '' ucap Mayra lembut.


''Terimakasih ,nak ! , ''

__ADS_1


'' Sama-sama Mommy ''


Mereka langsung berpelukan , membuat Ansel berdecak kesal seraya berucap, '' Aduh nanti saja acara sayang-sayangannya. Lupa apa jika disini dan di belakang Mommy kakinya sudah pada pegal. Nanti drama sedih-sedih dilanjutkan dikamar '' Timpal Ansel menghangatkan suasana sedih .


'' Yasudah ayo kita masuk , Eric berikan bayimu pada Mommy. ''


Ansel langsung memindahkan baby Anzela yang masih terlelap ke gendongan Mommy nya.


Sekarang baby Anzela sudah berpindah tangan para Raisa , dengan gembiranya Raisa menerima sang bayi. Dia terus mencium cucunya yang masih betah tertidur meskipun tubuhnya berpindah-pindah.


Diruang tamu Raisa datang kembali tanpa sang bayi di tangan.


" Mommy sudah menidurkannya di kamar yang sudah tersedia. Kamu tidak masalah kan nak! , jika bayi kalian tidur bersama Mommy ? "


Mayra agak sedikit terkejut mendengarnya. Pasalnya sang bayi masih sangat kecil dan sepenuhnya ia masih bergantungan dengan ASI ibunya.


Bukannya menjawab , Mayra bungkam dengan berbagai asumsi menatap sang suami di sampingnya . Berharap penjelasan yang sebenarnya ,tentang apa yang sudah mereka terapkan.


" Mayra ? "


Mayra menoleh, kecewa pada Ansel yang tidak memberinya penjelasan.


Dengan sekuat tenaga Mayra memberanikan dirinya untuk berusul. Ia tidak ingin asupan sang bayi kurang hanya karena berpisah kamar. Baginya baby Anzela adalah miliknya, hanya dirinyalah yang pantas menentukan dimana sang bayi akan tidur.


" Maaf Mommy, bukannya Mayra bersikap egois pada Mommy. Bayi ku masih sangat kecil sekali, begitu rawan membiarkan nya sendiri. Apa lagi bayiku baru saja di operasi dan bekas lukanya masih belum sepenuhnya kering. Setiap malam juga bayiku selalu merengek haus , sementara ia harus tinggal di kamar terpisah . Aku tidak ingin bayiku kenapa-kenapa. " Tolak Mayra lembut dan lugas.


Timbullah raut kecewa dari wajah sang Raisa. Namun cepat-cepat ia kembali tersenyum.


" Begini menantuku. Kalian baru saja menikah, nanti tangisan bayimu akan mengganggu kegiatan kalian, biarkan baby Anzela Mommy saja yang mengurus. Nanti kalau dia merengek minta disusui Mommy akan mengantarkan cucu Mommy ke kamar kalian. "


Berharap sang suami membuka mulutnya, namun nihil Ansel hanya memperhatikan perdebatan antara Mommy dan istrinya. Bukan tidak membela, hanya Ansel bingung ucapan apa yang tepat untuk menengahi.


" Maaf Mommy, bukan lancang melawan keinginan Mommy. Aku tidak mau tidur terpisah dengan bayiku. Untuk urusan kebersamaan dan kegiatan menurut ucapan Mommy tadi, suamiku cukup mengerti batas jika istrinya belum bisa di sentuh " Tegas Mayra masih bernada lembut, seiringan ditatapnya sang suami dengan tajam kecewa karena tidak membelanya sama sekali.


Tujuan utama mengunjingi Raisa bukan untuk memperdebatkan sang bayi. Niatnya mereka akan menjalin hubungan antara mertua dan menantu, tapi yang di inginkan tidak sesuai harapan. Sang mertua ingin memisahkan sang bayi dengan ibunya , padahal itu sangat bertentangan dengan keadaan dan umur bayinya yang masih terlalu kecil ditiduri sendiri.

__ADS_1


😁 Happy Reading....


__ADS_2