
''Putra ku , sepertinya Daddy tidak akan bertahan lagi nak ,dengarkan ucapan Daddy jangan menyahutnya ,cukup dengarkan saja '' Ucap Julian dengan sisa nafasnya yang masih terengah.
Ansel mengangguk berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.
''Putra ku ,hari ini kamu telah lulus sekolah ,artinya masa depanmu dengan penuh tanggungjawab juga sedang menunggumu nak ,mulai saat ini kau akan menggantikan Daddy sebagai pewaris satu-satunya ,lanjutkan bisnis Daddy nak banyak karyawan yang masih meraup rezekinya dari perusahaan kita ,dan ingatlah untuk terus berprilaku jujur dan baik ,hukumlah siapapun itu yang menghianati kebaikan .''Ucap Julian menghentikan sejenak nafasnya tertahan-tahan .
Raisa menyusul Ansel setelah cukup menangis dan langsung mendekati suaminya lalu mengusap dahi suaminya .
''Kamu menangis istriku ''Tanya Julian pelan melihat mata Raisa yang bengkak.
''Bagaimana aku tidak menangis ,jika setengah jiwaku terbaring lemah disini ''Sahut Raisa pilu.
''Jangan menangisi ku sayang ,lihatlah putra kita dia kuat seperti ku Raisa ''Ucap Julian dengan senyum lepasnya.
Raisa tidak tahan lagi tangisnya langsung pecah ,wanita ini benar-benar sangat mencintai suaminya Julian .
Ansel mengisyaratkan pada mommy-nya dengan gelengan agar berhenti menangis ,tangisan Raisa pun berhenti hanya tersisa sesegukan saja itupun dipaksakan.
''Jagalah wanita ini nak,jangan pernah membantahnya sayang,Daddy sangat mencintainya ,anggaplah wanita yang telah melahirkan mu itu dua raga yang menyatu ,meski Daddy tidak lagi bersama kalian namun tidak dengan keberadaan hati Daddy dalam diri mommy mu nak, Daddy akan selalu bersama kalian ,dan satu lagi menikahlah dengan putri dari sahabat Daddy ,kami telah berjanji carilah dia dan putrinya lalu nikahi putrinya,persatukan cinta kalian dengan ikatan yang halal,dan jagalah mommy mu nak,jangan pernah menyakiti hatinya sayang,Raisa aku selalu mencintaimu dan putra kita jagalah hartaku satu-satunya ,didiklah dia dengan benar dan selamat tinggal ,tolong jangan menangis... ''Lanjut Julian dengan nafas yang kian tersendat dan terputus-putus menatap keduanya dengan penuh kasih sayang .
Raisa dan Ansel langsung bangkit mendekati Julian yang semakin berat bernafas .
''Sayang bertahanlah ,Eric cepat tekan tombol agar dokter segera datang '' Ansel yang melihat Daddy-nya semakin susah bernafas mematung di tempat ,jiwanya terhantam dengan tatapan Julian yang begitu damai meskipun nafasnya sudah di penghujung ,bahkan teriakan Raisa seakan tuli di telinganya ,jiwanya semakin berguncang keras saat mata Julian yang menatapnya perlahan tertutup seiring hembusan nafasnya dengan mulut yang terucap kalimat tauhid .
Julian dinyatakan meninggal dunia dengan membawa seluruh cinta dari keduanya ,hingga Ansel menyadari jika tubuh Julian telah ditutupi kain putih keseluruh tubuh dan wajahnya.
Disitulah tangis Ansel pecah ,dia terus menangis menyanggah amanah Daddy-nya yang melarang di depannya ada yang menangis meskipun raga itu sudah tak bernyawa .
''Sayang ikhlaskan kepergiannya ,jika kamu ingin Daddy tenang di sana jalanilah amanahnya '' Ansel mengangguk dan langsung memeluk Raisa.
__ADS_1
Hari itu dua rasa beriringan menghampiri Ansel Eric Julian ,di satu sisi Ansel bahagia jika dirinya lulus dengan nilai tertinggi dan sisi lainnya Ansel harus kehilangan sosok ayah yang menjadi panutan hidupnya ,tinggallah amanah yang menyertai Julian seakan dia hidup dalam raganya,dan seorang ibu yang begitu pandai membuat Ansel merasa tenang hingga dia telah mampu menjalankan amanah sang Daddy ,Ansel telah memilah perusahaan mendiang Daddy-nya menjadi lebih besar bahkan Ansel berhasil membuat perusahaan tersebut menjadi perusahaan terbesar di bagian negara tertentu ,semuanya berkat kecerdasan yang di wariskan Julian Freddy dan kasih sayang Raisa mommy-nya.
✨ Flashback off ✨
Tubuh tegap itu begitu lelahnya menghadapi berbagai masalah yang begitu banyak menguras tenaganya.
Ansel menggeram seketika dengan nasibnya kedepan , entah kenapa hatinya semakin menuaikan amarah yang bertubi-tubi mengingat penolakan Mayra atas dirinya , padahal dengan jelas jika Mayra begitu berat melepaskan nya.
Andaikan saja Mayra lah anak kandung dari Bramantyo sahabat baik Daddy-nya sungguh keresahan dan kemarahannya tidak hadir dalam hidupnya Saat ini.
Dan Raisa tidak terus menerus maksanya menikahi Nayla yang notabennya adalah darah daging sebenarnya Bramantyo.
Dering handphone Ansel terus bergema dari sakunya segera Ansel merogohnya , raut wajah Ansel seketika bertambah kesal melihat nomor tak di kenal menghubungi nya.
Sudah terbiasa jika yang menelfon tidak tertera nama Ansel selalu mengacuhkannya termasuk panggilan yang sekarang,dengan cepat ia menekan tombol menolak ,dan akhirnya bunyi itu diam dan tergantikan dengan suara notif pesan.
(anggap saja suara motif pesan 😅)
💌
''Calon imanku kenapa telfonku ditolak ? ''
Nayla 💗.
Isi pesan Nayla seketika membuat Ansel mendengus kesal dan muak dengan panggilan yang tertuju padanya,harusnya Mayra lah yang mengucapkan kata-kata romantis tersebut,ah kenapa nama Mayra selalu menjadi jalan keluar dari setiap permasalahannya,itulah kebenarannya meskipun Ansel terus menyangkalnya terbukti nama Mayra sudah terbiasa hadir dalam pikirannya.
Setelah membaca pesan tersebut Ansel langsung membuang handphonenya ke kursi belakang tanpa membalasnya.Lalu disandarkan tubuhnya di kursi kemudi seraya memijit pelipisnya ,hari ini benar-benar hari terburuknya .
Suara dering handphone Ansel yang tergeletak di kursi belakang kembali berdering namun bukannya mengangkat sambungan itu Ansel malah keluar dari mobilnya hingga dia menendang mobilnya meluapkan segala amarah yang terus membuncah mengganggu pikiran sehatnya.
__ADS_1
Dirasa rasa kesalnya sudah mulai berkurang Ansel kembali masuk ke mobil ,lalu menoleh ke belakang ternyata dering ponselnya sudah berhenti .
''Pasti mommy yang sudah memberi nomorku padanya , benar-benar membuatku kesal saja ,andai itu kekasihku pasti rasanya berbeda '' Gumam Ansel sedikit emosi.
Bergegas Ansel mengendarai mobil mewahnya menuju Mansion pribadinya dimana tempat itu dia dan Mayra pernah bersama meskipun di paksa dulu dan ruang kerjanya itu saat ini menjadi tempatnya menenangkan diri.
Selama masalah percintaannya berlarut-larut Ansel sudah jarang pulang kerumah orang tuanya ,meskipun jauh letak mansion nya, Ansel tetap memilih pulang kesana ,ada kenyamanan tersendiri berada dan tinggal di sana,tentunya bayang-bayang Mayra lah menjadi penenang tidur malamnya.
.................
Di tempat lain Mayra masih terduduk dilantai menangis sendiri di bawah jendela yang terbuka agar bisa melihat bintang-bintang yang gemerlap bercahaya.
Walau air mata terus setia mengalir tanpa suara Mayra masih belum bisa menghentikannya.Wajah kesakitan Ansel selalu terngiang-ngiang di ingatannya bahkan saat penolakan itu Mayra bisa melihat jika Ansel ingin sekali menangis di depannya tapi Mayra tahu bagaimana sosok dewasa Ansel itu,sungguh Mayra terlalu kejam demi kesembuhan Nayla dia tega menyakiti orang lain ,namun apa daya Mayra yang berasal dari jalanan juga tidak pantas untuk seorang pembisnis ternama dan di segani oleh para pembisnis lainnya.
Dingin yang menerpanya begitu menusuk langsung ke tulang belulang nya ,namun Mayra masih dengan posisinya memeluk lutut dan terus menenggelamkan wajahnya menahan suara tangisan pilunya.
Terasa sebuah tangan mengusap kepalanya lembut, dengan pelan Mayra mengangkat kepalanya melihat siapakah gerangan .
''Kenapa ? '' Tanya Keysha lembut .
Bukannya menjawab Mayra langsung menubruk memeluk tubuh Keysha dengan tiba-tiba,bahkan Keysha terkejut dengan perubahan Mayra ,bukankah tadinya dia meninggalkan Mayra dalam keadaan baik-baik saja ? tapi kenapa saat kembali Mayra malah menjadi kacau balau begini terlihat dari wajah sembabnya ditaksir sudah lama mayra menangis.
.
.
.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1