Antara Cinta Dan Pengorbanan

Antara Cinta Dan Pengorbanan
Kemarahan Raisa


__ADS_3

Keheningan antara dua insan yang berada dalam satu mobil senyap tak bersuara sedikitpun. Mereka adalah Ansel dan Mayra sepasang suami-istri yang baru saja saling menuntaskan rasa rindu yang begitu menggebu perasaan keduanya.


Sejak awal perjalanan , Mayra terus menatap keluar jendela, guna bersembunyi dari suaminya . Wajahnya yang semakin bersemu mengingat betapa agresifnya balasan ciumannya pada sang suami tadi, bahkan Ansel kalah telak mengimbangi serangan Mayra pada saat itu.


Ansel terus melirik istrinya sembari tersenyum puas, kala mendapati istrinya malu-malu tapi mau. Kini ia sudah merasa lega, beban rindu serta rasa bersalahnya selama dua Minggu ini lepas tanpa kendala, apalagi ia mendapatkan bonus sekaligus. Bermesraan dengan sang istri di tempat yang fantastis menurut nya. Ya, baru kali ini Mayra dan Ansel berciuman di dalam gudang yang remang dengan sedikitnya pencahayaan, semakin melengkapi keromantisan dua insan yang telah halal. Di tambah lagi , Ansel mendapatkan sebuah kepuasan dari istrinya, meskipun hanya sekedar pemanasan .


" Sayang ? " Panggil Ansel.


Mendengar panggilan dari suaminya, Mayra langsung menoleh . Masih menyisakan pipi merah meronanya, sangat menggemaskan wajah face baby milik istrinya , Mayra.


" Hemm !! " Sahut Mayra.


" Kenapa diam saja dari tadi, kamu lagi ngebayangin adegan tadi ya ? "


Blushhh...


Wajah Mayra seketika merona, raganyabterlihat gugup di sertai rasa malu yang begitu kentara. Seakan ia sedang ketangkap basah karena mencuri .


" Jangan sok tahu, aku tidak sedang membayangkan apapun kok " Kilah Mayra cetus, menutup rasa groginya.


" Lha, kalau gak ngelakuin ! kenapa kamu jutek ? "


" Ishhh...kamu kenapa sih mas ? gak usah ngebahas pasal tadi bisa gak ! " Raut wajah Mayra semakin bersemu, entah kenapa ucapan suaminya itu bikin geli, padahal udah tahu gimana rasanya.


" Tapi kayaknya kalau sudah bahas pemanasan yang tadi, kira-kira nanti malam kamu siap gak ? " Goda Ansel , melemparkan senyuman nakal pada istrinya.


Mayra yang tahu arah ucapan Ansel, langsung gugup saat membahas hal yang sensitif menurutnya.


" Kok diam ? kamu masih belum siap ya ? aku udah gak tahu loh, cara nahannya gimana lagi ciba ! istriku tidak berencana menolak hak suaminya lagi ' kan ? " Tanya Ansel berharap penuh.


Terlihat jelas, raut wajah mengibanya sang suami saat meminta haknya sendiri. Sungguh sangat berdosa sekali jika Mayra menolaknya kembali .


Mayra menatap Ansel penuh kebimbangan. Namun sikap dewasanya begitu mendominasi kepribadian nya sebagai seorang yang mengerti akan dosa seorang istri terhadap suaminya.


" Sayang " Ansel terus membujuk istrinya, berharap mengiyakan permintaannya.


Dengan helaan nafas berat, Mayra akhirnya mengangguk . Ansel begitu bahagia, akhirnya sang Naga akan segera masuk ke sarangnya.


" Terimakasih, istriku. Aku mencintaimu " di raihnya tangan Mayra , Ansel mengecupnya tetap matanya masih fokus mengemudi. Mayra membalasnya hanya dengan senyuman, tepatnya terpaksa menutupi rasa gugup yang sedang menyerangnya.

__ADS_1


Rona wajah bahagia Ansel begitu jelas terpancar. Sepanjang perjalanan Ansel terus mengemudi dengan tangan terus menggenggam tangan wanitanya.


" Ya ampun, bagaimana nanti saat suamiku mengambil haknya. Apa rasa sakitnya akan sama seperti dulu ? Tuhan Mayra serba salah ! jikapun menolak engkau pasti akan melaknat hamba karena telah lalai dalam kewajiban pada sang suami. Tapi bagaimana jika trauma itu kembali ? hamba mohon bantulah hamba nanti saat Mayra menyerahkan diri untuk pria yang telah halal di hadapanmu, Aminnn..."


***


" Kalian sudah pulang ? " tanya Raisa, saat mendapati putra dan menantunya masuk mansion sambil bergandengan.


" Sudah Mom, Mommy bagaimana kabarnya ? apa obatnya rutin diminum ? " sahut Ansel, kemudian menyalami Raisa penuh takzim diikuti oleh Mayra selanjutnya.


Raisa tersenyum, meskipun putra semata wayangnya begitu sibuk, namun ia begitu perhatian pada dirinya, bahkan perhatiannya sama sekali tak berkurang sedikitpun, meski ia telah menikah dan memiliki seorang putri.


" Mommy, baby Anzela rewel gak ? " Tanya Mayra.


" Tidak sayang, cucu Mommy itu baik sekali. Setelah di beri ASI tadinya, ia kembali terlelap. "


Mayra lega mendengarnya. Kemudian ia langsung menatap Ansel mengisyaratkan sesuatu hal yang harus segera di bicarakan , Ansel langsung mengangguk sudah mengerti dengan maksud dari isyarat sang istri.


" Mommy, Mayra mau lihat baby Anzela dulu. Permisi semua. " Pamit Mayra dengan segera melangkah naik menuju kamarnya. Sengaja Mayra tidak ikut nimbrung karena masalah yang akan di bicarakan oleh suaminya tidak ada sangkut-pautnya dengan Mayra .


Padahal, Ansel begitu malas membicarakan semua itu pada Mommy-nya. Mengingat riwayat penyakit ibunya yang tidak boleh terkejut Ansel harus mencari kata-kata yang mudah untuk di cerna tanpa adanya keterkejutan jantungnya Raisa.


" Mommy?! " Panggil Ansel.


" Ya, Nak ? "


Raisa yang sedang membaca majalah di ruang keluarga langsung menoleh saat namanya di panggil oleh putranya.


" Eric ingin membicarakan sesuatu dengan Mommy , jika tidak keberatan kita ngomongnya di ruang kerja Eric saja " pinta Ansel , setelah duduk di samping Raisa.


" Mau bahas masalah apa , Nak . Sepertinya penting ! "


" Eric mau bahas tentang Cindy, Mom " ujar Ansel pelan.


Raisa terperanjat dengan nama yang di ucapkan Ansel, tubuhnya langsung bereaksi dengan hidung kembang kempis menahan emosi yang hampir meledak. Nama tersebut begitu anti dalam kehidupan Raisa sendiri.


" Kenapa dengan wanita itu ? Eric kamu sudah memiliki kehidupan yang baik ! kenapa masih saja mengungkit masalah perempuan itu ! lagi pula, Mommy tidak Sudi membahas jika menyangkut tentang wanita tersebut. '' Bentak Raisa , marah seketika.


" Justru itulah, Eric tidak membahasnya disini. Ayo kita keruang kerja saja. Banyak telinga disini, takutnya akan menjadi Boomerang untuk keluarga kita. " Ajak Ansel.

__ADS_1


Masih dengan aura sangarnya, Raisa tanpa basa-basi langsung melenggang pergi keruang kerja Ansel, mendahului putranya.


Dalam pikirannya, putranya itu telah berhubungan kembali dengan wanita masa lalu yang susah payah ia jauhkan.


Ansel langsung mengikuti Raisa masuk keruang kerjanya.


" Langsung saja ke intinya, Mommy gerah membicarakan perempuan itu. " Cetus Raisa , duduk angkuh di sofa .


Ansel mendekati Raisa , kemudian ia meraih tangan ibunya dengan lembut.


" Jangan berprasangka buruk pada putramu, Mommy . Eric tidak akan mengkhianati wanita sebaik Mayra , apalagi Eric sangat mencintainya. " Jelas Ansel , meyakinkan Raisa .


" Terus, kenapa kamu ingin membahas tentang perempuan itu !! " Cetus Raisa tak suka.


" Cindy , Mom . "


" Tahu , tapi malas nyebutinnya ! "


Ansel terus bersabar menghadapi Raisa , yang terlanjur membenci Cindy.


" Aku bertemu dengannya kembali, Mom ! "


" APA !!! " pekik Raisa kaget.


Ansel langsung mengusap punggung wanita yang telah melahirkan nya dengan sangat lembut , guna memenangkan kemarahan ibunya yang kian membuncah.


" Mommy --


" Apa kau menemuinya di belakang istrimu ? apa kalian telah menjalin hubungan masa lalu itu kembali ? ingat Eric Mommy akan sangat marah jika kau berani mengkhianati Mayra demi batu kali itu . " Bentak Raisa dengan rentetan dugaan yang menyimpang.


" Mommy , Eric tidak akan mengkhianati Mayra, bukankah aku sudah mengatakan tadi, Eric tidak memiliki hubungan apapun dengannya. Kami di pertemukan karena sebuah peristiwa, Mayra juga mengetahuinya . " Jelas Ansel.


" Peristiwa ? apa maksudmu , cepat jelaskan ! " paksa Raisa.


Akhirnya Ansel menceritakan peristiwa di balik kepergiannya selama dua Minggu ini. Ansel menceritakan semuanya persis seperti ia bercerita pada Mayra tadinya. Sekaligus Ansel bertanya tentang ucapan Cindy saat di kantornya tadi , yang bahwasanya Raisa lah dalang dari kematian ibunya Cindy .


" Astaghfirullah !!! "


_________

__ADS_1


Selamat Menikmati , Jangan lupa tinggalkan jejak 👍 ya teman-teman.


__ADS_2