
Dengan sisa tenaga yang ada, Nayla menahan sakitnya agar segera sampai ke kamarnya di lantai atas.
Ting...
Lift terbuka, Nayla keluar menyusuri lorong hotel tersebut dengan sempoyongan, bukan mabuk tapi menahan rasa sakit tak tertahan.
sampai di pintu kamarnya, Nayla segera membuka pintu tersebut masuk dan menutup nya kembali.
Diedarkannya pandangan yang sedikit buram kesekeliling ruangan tersebut namun nihil keberadaan adiknya.
''Mungkin Mayra sudah tidur, tidak mungkin dia sanggup menungguku sampai larut begini. Maafkan Kakak dek! , harusnya kakak tidak meninggalkanmu tadi. mungkin kakak juga tidak akan terjebak seperti ini di jika saja mau mendengar naluri Kakak tadi. '' Gumam Nayla merasa bersalah pada adiknya.
Kemudian dengan berjalan berpegangan di dinding, Nayla melangkah kekamar yang terlihat sedikit terbuka meskipun agak samar Nayla masih bisa melihatnya sedikit.
Setelah sampai di kamar, Nayla melihat kamar itu sangat berantakan, tapi kepalanya yang semakin gencar menusuk-nusuk kepalanya membuat Nayla hampir tumbang.
''Ternyata benar, Mayra sudah tidur. Tapi tunggu !! tumbenan gadis itu tidur tidak memakai pakaian dengan bertelungkup lagi . Bisa-bisanya gadis itu tomboi dalam tidur,mungkin kepanasan kali . Ya ampun kenapa aku kedinginan ya, aku merasa ingin langsung masuk kedalam mimpi, tapi bajuku berkeringat begini, ya sudah aku buka dulu saja bajunya. ''Gumam Nayla setengah sadar.
Gadis itu membuka seluruh pakaiannya hingga tandas tak tersisa apapun.
Kemudian ia melangkah ingin mengambil baju tidurnya tapi karena tidak seimbang, Nayla tersandung selimut yang sebagian jatuh menjuntai kebawah. Sehingga tubuh Mayra terhempas kesamping tubuh sampingnya.
Nayla yang jatuh bukannya bangun, malah dia menarik selimut,apalagi tubuhnya yang semakin dingin menyesuaikan kehangatan dalam selimut tersebut. Ia langsung terlelap akibat tekanan di kepalanya.
***
Di kamar lain, Mayra masih menangis di bawah guyuran shower kamar mandi.
Wajah pucat yang kebiru-biruan menandakan gadis itu sudah sangat kedinginan, karena sudah berjam-jam ia mengguyurkan air serta dengan kasarnya Mayra membasuh setiap inci dari tubuhnya .
''Aku benci pada mu Ansel. Aku benci...hiks...hiks...Kamu pria bejat. Tuhan aku sudah kotor. Mahkota yang kujaga selama ini sudah di renggut paksa olehnya. Di renggut oleh pria yang sangat penting dalam hidupku,tapi pria itu juga yang sudah menghancurkan hidupku...'' Ratap Mayra memilukan sembari terus nenggosok- gosok tubuhnya dengan keras hingga terlihat lecet dimana-mana.
__ADS_1
Di tambah lagi bibirnya yang terlihat bengkak juga terdapat luka di sana akibat ciuman kasar Ansel saat memperkosa Mayra dengan sangat brutal.
Hampir saja Mayra putus asa, sempat tadi dia berfikir untuk bunuh diri agar aib yang sedang di tanggung nya hilang dari muka bumi ini.
Namun takdir Tuhan lebih kuat, Mayra tidak boleh lemah seperti ini. pria itu harus mempertanggungjawabkan perbuatan laknatnya ini sebelum keluarganya tau termasuk menjaga psikis kakaknya Nayla.
Dengan sekuat tenaga Mayra bangkit dari keterpurukannya. Langkahnya tertatih-tatih bergerak untuk keluar dari kamar mandi tersebut.
Sesak mengganti pakaiannya,Mayra duduk di depan kaca rias dengan keadaan berantakan. Matanya bengkak, bibirnya yang merah ranum kini membiru dengan banyak luka di sana akibat gigitan kasar Ansel.
Mayra terus menatap dirinya yang telah hancur lebur di hadapan pantulan cermin. Terbayang bagaimana berang nya seoarang Ansel demi dirinya tega berbuat seperti itu, dan naasnya perlakuan dendam yang di tuju untuk Nayla sasarannya pada Mayra sendiri.
Kembali mata bengkak itu mengeluarkan air matanya lagi. Hatinya hancur seiringan perlakuan Ansel saat kesuciannya terenggut.
''Aku kecewa mas padamu!!. Kamu ingin menghukum kak Nayla dengan cara picik seperti itu demi diriku!!, dan lihatlah siapa yang ternodai !!. Aku mas Mayra-mu !!. Sekejam itukah sifat aslimu saat marah!! ,apa harus dengan memperkosa seorang wanita kau membalas sebuah dendam yang tidak berarti itu !! ,hingga dengan tega kau menghukum nya dengan cara yang hina seperti itu !!. Apa yang harus aku Banggakan lagi dari cintamu mas!!, semuanya kandas!!, semuanya lenyap !!,saat kau datang memanggilku Nayla dan dengan kejamnya kau memperkosaku !!. Jika seandainya kamu bertemu langsung dengan kak Nayla pasti kesakitan ini kak Nayla lah yang merasakannya!!, sungguh kejam dendammu mas !! ,Mulai saat ini aku membencimu sangat membencimu Ansel Eric Julian !!. Teriak Mayra dengan histerisnya dia menangis.
Pranggg....
Mayra langsung terjatuh bertumpu pada kedua lututnya. Ia terus memukul dadanya menahan rasa sakit dan sesak bersamaan menyerang batinnya.
''Papa...maafkan Aku tidak bisa menjaga kesucian tubuhku dari pria bejat itu, maafkan aku kak Nayla menyakiti hatimu dengan dendam bodoh Ansel itu...Tuhan hamba tidak sanggup...hiks...hiks...''. Mayra terus meratap sampai tengah malam hingga tubuhnya langsung tergeletak tak sadarkan diri akibat terlalu lama dalam air bercampur dengan rasa lelah tak berkesudahan.
Mayra pingsan dengan luka luar dalam, terlihat dari air matanya yang masih mengalir menandakan petaka yang dialaminya begitu berat ditanggung badan dan perasaan.
***
Subuh menjelang. Raga yang tergeletak di lantai itu , sedikit demi sedikit bergerak. Mata itu mengerjap berusaha terbuka.
Mayra yang semalam pingsan di lantai, kini berangsur sadar setelah melewati banyaknya penderitaan. Akhirnya mata Mayra terbuka lebar dengan kepalanya sedikit berat merasa pusing akibat semalaman mengguyur dirinya dengan air dan sepanjang malam ia menangis meratapi nasib malangnya.
Berharap apa yang dialaminya adalah sebuah mimpi. Dan saat kesadaran Mayra sudah kembali sepenuhnya , ia pun kembali menangis dengan kenyataan yang ada bahwasanya potongan kejadian itu nyata adanya.
__ADS_1
Tidak ingin berlarut-larut dalam masalahnya, Mayra berusaha bangkit guna mengerjakan kewajibannya sekalian ia ingin mengadu pada Robb-nya akan kondisi harinya dan kelemahannya saat ini.
Hanya DIA-lah tempat paling ampuh untuk kita mengadu,tempat dimana para manusia dengan bebasnya mengeluhkan setiap perasaan dengan bebas.
Setelah sholat subuh, Mayra tidak beranjak sama sekali. Ia terus menunduk seakan malu pada Tuhannya dengan segala kesalahan yang terjadi pada dirinya.
Mayra kembali menangis, meratapi segala kegundahannya,berharap waktu akan diputarkan kembali. Walau nyatanya itu tidak mungkin. Apa salahnya Mayra mengharap ? Tuhan maha benar.
''Tuhan aku tidak sanggup,sungguh...aib ini membebaniku. Aku tidak menyalahkan pria itu, tapi aku membenci dirinya karena hal itu akan dilakukan pada kak Nayla,dia ingin menghancurkan kakak tercintaku...hiks...hiks... Bagaimana aku memulainya kembali Tuhan,aku takut jika dunia tahu bahwa aku bukan lagi seorang gadis...hamba sudah berubah menjadi seorang wanita yang dengan paksa direnggut mahkota yang selama ini hamba jaga ...'' Ratapan itu terus saja memilukan, tidak ada yang berubah . Rasa sakit itu kembali lagi hingga menciptakan rasa trauma yang menyakitkan.
Hanya saat meratapi nasibnya pada sang Khaliq Mayra sedikitnya mulai tenang, meskipun masih ada tangisan disana.
***
Matahari kembali bersinar menembus tirai setiap kamar hotel tersebut.
Hingga cahaya tersebut terpancar di wajah cantiknya Nayla yang masih nyaman bergelut dalam selimut tepatnya dalam pelukan seseorang.
''Ya ampun, Mayra sejak kapan kamu berotot begini sih...? '' gumam Nayla terus meraba-raba tangan kokoh pria sedang memeluk dirinya dari belakang,pria yang semalaman tidur di kamarnya setelah merenggut paksa mahkota wanita tercintanya.
''Tunggu ? '' Nayla membuka matanya dengan cepat, merasakan ada yang berbeda dengan tangan yang sedang di rabanya.
Nayla menunduk memastikan tangan adiknya lah, yang sedang memeluknya.
Mata itu langsung terbelalak mendapati tangan itu sangat besar dan berotot persis dengan otot laki-laki.
Spontan Nayla menoleh kebelakang...
''Aaaaaaaa.....'' Nayla berteriak keras dengan kekuatannya ia menghempaskan tangan tersebut dengan kasar.
__ADS_1
🥺 Happy Reading...