
Tak terasa waktu begitu cepat berjalan dengan Poros kehidupan yang semestinya. Kehidupan Mayra serta sang suami begitu damai serta sempurna dari sisi hati serta perasaan tanpa kehadiran tetesan air mata yang menjadikan cambuk di setiap perjalanan hidup mereka.
Harapan yang terlukis di setiap doa , Kala Nantinya mereka bersatu, telah terwujud seiring berjalannya waktu dengan cinta dan kesetiaan sebagai nahkoda keharmonisan dua insan yang saling mencintai.
Seiring berjalannya waktu, Mayra dan Ansel saling berbagi dalam kisah pahit dan manisnya kehidupan bersama. Meskipun pernikahan mereka baru menginjak usia tiga bulan, cukup membuktikan jika doa dalam setiap takdir tidak selalu gagal untuk diraih. Walaupun kisah cinta mereka harus tenggelam dalam lautan air mata duluan.
Kesungguhan dan kesabaran Ansel untuk perjuangan serta mempertahankan cinta sucinya kepada Mayra berakhir dengan kebahagiaan yang sempurna.
Mayra terus menatap bahagia kearah putrinya yang sudah berumur tiga bulanan, tapi bobot badannya sudah seperti bayi diatas tujuh bulanan. Tubuhnya yang berisi berkulit putih, serta tinggi badannya melebihi bayi tiga bulanan, bayi Anzelanya sungguh duplikat Ansel 180%, Apalagi bayinya itu sangat kuat menyusu pada ibunya. Sehingga segala sesuatunya yang berkaitan dengan sang bayi , Raisa sendiri langsung turun tangan mengurus cucu serta menantunya. Seperti mengingatkan waktu makannya Busui, menjaga asupan gizinya Busui, sampai mengurus sang bayi Raisa ikut serta sekalipun, Mayra melarangnya agar tidak capek. Tapi demi sang cucu Raisa lupa jika tubuhnya tidak sekuat dulu.
Keharmonisan rumah tangga Mayra terpampang jelas keseluruhan masyarakat sekitarnya. Ansel sang suami begitu perhatian serta tidak malu-malu dalam hal untuk mengurus sang bayi bersama istri tercintanya. Terkadang Ansel yang sedang sibuk dikantor mendapat laporan dari maidnya, mengabarkan jika Mayra tidak menjaga makannya meskipun Raisa sang mertua selalu memantau, terkadang kebiasaan Mayra yang susah diatur akan kesehatannya sungguh membuat suami dan mertuanya kesal.
Jika sudah di wejangin, hanya kata maaf saja keluar dari bibir manisnya itu. Bagi Ansel Mayra dan putrinya adalah semangatnya dalam menjalankan kehidupannya.
Saat dulu , kehidupan Ansel begitu hambar. Pergi kerja sendiri tanpa ada yang mengantarkan, makan dirumah yang masakin pembantunya, jika tidur selalu memeluk guling. Namun Sekarang ini Kehidupan Ansel berubah drastis. Saat pagi ada yang menyiapkan pakaian serta sarapan, Jika hendak berangkat ada dahi istri serta pipi sang baby yang akan menghiasi bibirnya setiap pagi, jika malam pulang kerja tidak perlu lagi singgah di restoran untuk makan karena Mayra sendiri yang dengan setianya memasak sendiri untuk sang suami apalagi Mayra seorang mahasiswi lulusan terbaik tataboga jelas sangat pintar dalam mengolah setiap menu kesukaan suaminya. Begitu juga dengan ranjang, Ansel kini tidak perlu lagi tidur di temani oleh guling-guling nya karena guling hasratnya yang tercinta kini telah hadir di setiap malamnya, meskipun tengah malam Ansel harus bersolo ria di kamar mandi. Di karenakan sang istri belum bisa di jenguk oleh si junior, nasib satu itu tidak dapat di ubah oleh pria perkasa tersebut .
Sementara baby Anzela tertidur setelah di susunya sampai ketiduran karena kekenyangan. Mayra bersegera langsung melakukan kewajibannya setelah bersih dari hadas nifasnya.
Sholat lima waktu yang telah melekat di hidupnya Mayra, segera dilaksanakan dengan khusyuk . Tidak lupa juga Mayra melengkapi ibadah sehari-hari nya dengan rutin membaca kitab suci Al-Qur'an, pengobat hati Mayra selama ia dilanda kesedihan yang mendalam.
Lantunan merdu begitu damai jika di dengar, suara Mayra sukses menitikkan air mata pria yang sedari tadi masuk kedalam kamar tidur mereka. Ansel terduduk diam di atas sofa sembari menyimak setiap ayat Alquran terlantun dengan merdu dari mulut istrinya.
__ADS_1
Hati Ansel kian damai, sela mendengar Ansel terus mengucap syukur berhasil memiliki wanita berpaket lengkap seperti istrinya. Sudah cantik ,pintar ,baik juga Sholeha.
Terkadang ,Ansel malu pada dirinya yang sering bolong dalam ibadah, tapi Mayra yang imannya lebih tebal dari Ansel selalu menjaga ibadah sang suami , meski dirinya masih belum bisa ikut serta.
Kini setelah menikah, Ansel sudah jarang meninggalkan kewajiban kepada Allah berkat sang istri yang selalu mengingatkan kewajiban tersebut.
Lamunan Ansel seketika buyar, bersamaan bacaan talqin Mayra menutup bacaan. Mayra langsung mencium mushafnya sebelum meletakkannya kembali.
Tiba-tiba , tangan kokoh langsung mengapit pinggang Mayra dari belakang secara sempurna. Tengkuk Mayra yang masih berbalut mukena langsung merinding saat nafas tersebut berhembus berat di belakangnya, sangat terasa jika nafas itu tembus mengenai kulit leher belakang Mayra.
Mayra mematung, terdiam merasakan gelanyar aneh saat tubuhnya tersentuh.
" Sayang, kamu sudah suci ? " Bisik Ansel , membuat Mayra bergidik.
Apalagi, di bawah sana Mayra merasa jika suaminya sudah On , Mau tidak mau Mayra harus menyelesaikan hasrat sang suami yang telah Berbulan-bulan di tahannya.
Meskipun Mayra masih sedikit trauma dengan kejadian terdahulu hingga menghasilkan baby Anzela, Ia juga tidak boleh egois jika suaminya juga butuh bantuannya. Bukan hanya Ansel saja membutuhkan hal yang tidak lazim di kerjakan dibawah umur itu , wajib untuk Mayra menyegerakannya.
Sungguh sangat berdosa, jika sang istri mengabaikan kewajibannya untuk sang suami. Semenjak menikah Ansel belum pernah sama sekali menjalankan malam pertamanya bersama sang istri. Namun hari ini Mayra bersusah payah memantapkan diri untuk memberikan hak suaminya sebelum dimintai.
'' Sayang, aku sudah lama sekali menahannya. Bolehkah sekarang aku menyentuhmu, Aku sudah bosan bersolo ria. Mari kita berduet, siapa tahu akan ada Anzela lainnya di dalam sini. '' Ucap Ansel , dengan suara berat serta mengusap perut rata Mayra .
__ADS_1
Kelakuan Ansel membuat Mayra terus menahan geli, apalagi tubuhnya depan belakang tersentuh. Wajah Mayra semakin memerah menahan sesuatu yang juga harus segera di tuntaskan, Ansel berhasil memancing hasrat Mayra yang entah darimana munculnya. Tentu saja itu akan Mayra rasakan jika tangan Ansel tidak pernah diam , karena Mayra wanita normal sama seperti Ansel suaminya.
'' Mas, ada Anzela. Nanti bayi kita nangis. '' Melas Mayra , berusaha lepas dari hasratnya. Hari masih sore tidak mungkin mereka akan melakukan hal intim tersebut.
Takutnya nanti, pas lagi nanggung ada yang ganggu lagi.
'' Sayang, kamu jangan khawatir. Putri kita sudah bersama Mommy, tadi aku membawanya saat tidur ketika kamu sedang sholat. ''
'' Mas, kok gitu sih. Kasian Mommy Jika putri kita rewel. Minggir aku mau mengambilnya. ''
Mayra terus berusaha menarik tangan kekar suaminya yang semakin erat memeluk pinggangnya. Dengan sekali hentakan Ansel sukses melepaskan mukenah Mayra dari tubuhnya. Mayra tersentak hingga ia dikagetkan kembali saat tubuhnya di putar dengan cepat oleh Ansel menghadap kearahnya.
''Mas... '' pekik Mayra pelan, saat tubuhnya sudah berhadapan dengan suami.
'' Aku ingin memasukimu , sayang. Izinkan aku menyempurnakanmu menjadi istri ku . Sayang aku sangat mencintaimu. ''
Mayra terus menatap Ansel yang tengah menahan hasratnya menatap lapar kearah Mayra . Apalagi Mayra hanya menggunakan baju daster tipis tanpa adanya dalaman, tujuannya agar ia mudah memberinya ASI.
Sungguh kasihan sekali Mayra melihat suaminya. Akhirnya ia pun mengangguk menyetujui permintaan Ansel yang telah lama di tahannya.
Dengan gerak cepat Ansel meraup bibir merah Mayra yang sudah menjadi candu Ansel. Sambil berciuman Ansel melepaskan baju kerjanya dengan tangan satunya, sedangkan tangan satu lagi masih merengkuh pinggang ramping Mayra.
__ADS_1
Sementara Mayra hanya pasrah menerima serangan suaminya yang sudah dipuncak Has**t. Sesekali Mayra yang masih amatiran mencoba membalas serangan Ansel, namun ia tetap kalah dengan si ahli tercintanya.
🤗 Happy Reading....