
Serangan Ansel semakin menjadi-jadi. Raut wajah Mayra seketika gelisah, dengan tiba-tiba tubuhnya bergetar, trauma masa lalu kini membangunkan ketakutannya kembali. Apalagi perlakuan Ansel yang condong menggebu karena hasratnya tak terelakkan lagi membuat Mayra menahan takut amat sangat.
Awalnya Mayra sedikit membalas sekedar cecapan bibir saja. Namun kala Ansel beralih kebagian sensitif nya Mayra, seketika ingatan kejadian lampau merobohkan pertahanannya, tapi sayang nya Ansel masih belum menyadari perubahan istrinya yang sedang dilanda ketakutan.
'' Sayang, aku sudah tak tahan lagi '' ucap Ansel dengan suara beratnya.
Satu persatu baju mereka terlepas begitu saja oleh tangan Ansel yang begitu lihai. Hingga sampailah Ansel menyentuh dan ingin membuka penutup segitiganya Mayra, dengan gerak cepat Mayra mendorong suaminya sekuat tenaga dengan tubuh yang bergetar, sungguh kejadian terdahulu mengganggu fisik serta mental Mayra yang kalut dengan kejadian mengerikan tersebut.
Ansel tersentak, tubuh setengah polosnya terpelanting hingga terjungkal jatuh kelantai. Sementara Mayra langsung lari kearah tempat tidur meloncat segera diraihnya selimut lalu ditutup seluruh tubuhnya dengan isakan kecil.
Ansel bingung dengan tingkah laku sang istri yang mendadak ketakutan saat di sentuh olehnya. Bahkan dirinya lupa , jika perbuatannya di masa lalu meninggalkan luka dan trauma terdalam untuk istrinya.
Ansel bangkit , lalu segera mendekati Mayra di tempat tidur dibawah selimut. Isakan kecil serta getaran tubuhnya terlihat dan terdengar jelas olehnya.
'' Sayang,kenapa tiba-tiba kamu begitu takut padaku. Tolong jelaskan , apa aku menyakitimu barusan ? ''
'' Pergilah, aku mohon '' Ucap Mayra dibalik selimut, terdengar begitu lirih dalam isakannya.
'' Tapi, kenapa aku harus pergi. Aku bingung kenapa kamu begitu ketakutan sayang. ''
" Ku mohon, Mas. Aku tidak bisa melanjutkan kegiatan tersebut... hiks...hiks...''
Rasa penasaran Ansel semakin menjadi-jadi, hingga Ansel tidak sabaran,dengan hentakan keras Ansel menarik selimut yang menutupi Mayra, hingga membuat Mayra kaget bukan main. Tubuh Mayra yang hampir nyaris polos begitu bergetar, bibirnya langsung pucat pasi saat menatap Ansel yang bertelanjang dada, mencoba mendekatinya.
" Sayang, coba jelaskan apa yang terjadi padamu ? .Mengapa tiba-tiba kamu ketakutan seperti ini. ''
Ansel tak menggubris penolakan Mayra sama sekali, ia masih khawatir dengan keadaan istrinya yang tiba-tiba ketakutan saat mereka hendak bercinta untuk pertama kali setelah status hubungan mereka halal.
__ADS_1
'' Sayang !? ''
Ansel terus berusaha menenangkan sang istri dengan cara nya. Namun Mayra semakin ketakutan belum sampai tangannya menyentuh kulit istrinya, tangannya langsung di tampik kuat sampai kulit putih Ansel memerah.
Tubuh Mayra semakin bergetar dengan mata terpejam, mulutnya terus berucap lirih '' Jangan sentuh aku, aku mohon '' Diiringi air mata di wajah pucat sang istri.
Lama dengan diamnya , akhirnya ia menyadari sesuatu yang menjurus sebuah fakta menyakitkan yang membuat istrinya seketika berubah drastis. Ansel merasa tersentak hatinya saat kesalahan masa lalunya masuk ke isi kepala. Mendadak Ansel mundur lalu terduduk di sofa dengan wajah rasa bersalahnya.
Ansel pikir , kejadian masa lalunya sudah hilang begitu saja seiring berjalannya waktu untuk Mayra, tapi ia salah menduga ternyata kejadian tersebut meninggalkan trauma terdalam pada diri Mayra sendiri.
Ansel meraup kasar wajahnya,ia terus menjambak rambutnya frustasi saat wajah memohon yang diperlihatkan Mayra kian bergetar , gelagat sang istri menjelaskan jika wanitanya tersebut begitu kesakitan saat penderitaan itu terjadi,terasa sakit pada tubuh, hati serta jiwanya. Apalagi di paginya saat itu perasaan Mayra kembali hancur kala ia di pergoki Mayra berada seranjang dengan kakaknya Nayla dalam keadaan tidak mengenakan sehelai benangpun.
Beberapa saat kemudian, Ansel bangkit dari sofa . Dengan pelan ia berjalan mendekati Mayra yang sudah terlelap dalam ketakutannya tadi. Sungguh dirinya tidak tau harus bersikap seperti apa, ialah dalang kehancuran Mayra sesungguhnya. Jika bukan karena kebaikan hati istrinya dan juga cinta yang sama-sama terbalas, mungkin saat ini ia akan terus di tolak dengan lebih histerisnya.
'' Harusnya aku lebih peka terhadap kesakitan mu ,sayang . Jika saja aku mendengarkan Max saat itu sudah pasti kejadian menyakitkan itu tidak akan terjadi. Meskipun sekarang takdir baik berpihak padaku dengan kehadiran putri kita ,aku juga harus memikirkan konsekuensi trauma yang menyerangmu istriku. Maafkan kekhilafan ku, aku berjanji akan menghapus segala kelebatan kejadian tersebut, aku berjanji, '' Lirih Ansel mengusap pipi Mayra yang masih terlihat sembab.
Ansel beranjak dari tempat tidur setelah mencium dahi sang istri ,ia melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri nya. Karena sepulang kerjanya tadi, ia langsung menyerang Mayra tanpa berniat membersihkan diri terlebih dahulu, karena telah di kuasai n***** yang menggelora.
Malam menyapa, mata yang sejak sore terpejam dalam tangisan ketakutan, kini telah terbuka kembali . Mayra langsung bangun dari tidurnya, saat mengingat kejadian beberapa saat yang lalu, Mayra langsung meraup wajahnya dengan kedua telapak tangan nya. Ternyata traumanya masih menguasai pikiran dan perasaannya.
Harusnya ia tidak bertindak seperti tadi, menolak sang suami sahnya . Seolah reaksinya tadi seperti Ansel ingin memperkosanya, padahal itu telah menjadi kewajiban yang harus ia lakukan sejak lama. Namun ia kalah dengan trauma masa lalunya.
Ada yang lain dari dirinya, setahunya sebelum mata nya terpejam tubuhnya hanya tinggal kain segitiga nya saja. Tapi kala ia bangun Mayra mendapati tubuhnya sudah berpakaian kembali. Kerjaan siapa ini ? pikir Mayra bingung.
'' Ya Allah, kenapa trauma itu harus hadir saat aku dan suamiku sudah bahagia. Bagaimana perasaannya tadi pasti suamiku begitu kecewanya, saat aku ketakutan melihatnya. Bagaimana aku melawan rasa takut itu Robbi, aku begitu mencintainya. Aku takut kehilangannya, bagaimana jika suamiku melampiaskan hasrat yang halal untuk kami tapi diserahkan untuk wanita lain di luar sana. '' Ucapku sendu , aku terduduk menenggelamkan wajahku ke paha sembari memelukku lututnya sendiri.
Sebuah usapan lembut mendarat di kepala Mayra yang belum memakai kerudung. Mayra langsung mengangkat kepalanya, di tatap nya pemilik tangan yang menyentuh rambutnya.
__ADS_1
Mayra tak tahan lagi, ia tahu jika wanita paruh baya di sampingnya itu tahu apa yang telah terjadi, sekian rasa bersalah Mayra juga tertuju pada ibunda dari suaminya.
Ya, wanita tersebut adalah Raisa ibunya Ansel. Mayra langsung tertunduk malu, air matanya tak dapat ditahan lagi. Butiran kristal tersebut mengalir dengan derasnya, Hingga tangan mertuanya mengusap air mata Mayra yang semakin deras mengalir.
'' Jangan menangis, Mommy tahu jika kamu masih mengingat kejadian tersebut ''
Mayra mengangkat wajahnya ,menatap sendu kearah mertuanya yang sedari tadi tersenyum manis kearah Mayra.
'' Mommy tahu ? ''
Raisa mengangguk.
'' Apakah suamiku yang memberitahukan Mommy ? ''
'' Benar, tapi bukan memberitahukan ataupun mengadu, lebih tepatnya ia merasa bersalah atas apa yang menimpamu karena ulahnya, nak . ''
'' Tidak Mommy, aku tidak seharusnya menolak hak suami padanya . Tidak seharusnya Mayra egois seperti itu, tanpa sengaja aku telah membuatnya kecewa, aku tahu kalau suamiku tidak sadar saat itu. Tapi entah kenapa aku telah bersikap tak sopan padanya, sungguh aku sudah melakukan dosa besar dengan sikapku pada suamiku '' lirih mayra.
'' Kalian itu sama, terus menyalahkan diri kalian sendiri. Sebaiknya temui suamimu, bicaralah dengan baik dan terbuka. Maafkan sikapnya terdahulu , jika kamu sudah memaafkannya maka hilangkan ketakutan-ketakutan tersebut dengan terus mengingat kisah indah kalian di masa lalu. Berusahalah menjadikan diri kalian itu sesuatu yang amat saling menggantungkan. Mommy percaya kamu pasti bisa melawannya meskipun trauma tersebut semakin menghalangi. Ingatlah kalian saling mencintai, disisi lain kalian juga sudah memiliki putri cantik , ada dia di antara kalian yang masih sangat membutuhkan kasih sayang penuh dari orang tuanya. Kasihan ia jika orang tuanya terus berseteru belenggu masa lalu mereka.'' Nasehat Raisa lembut memperjelas arti dari sebuah hubungan.
'' Bantu aku Mommy '' Lirih Mayra menatap Raisa penuh harap.
'' Tentu saja, kamu bukan saja menantuku saat ini, tapi tepatnya kamu adalah putri ku juga. Bram telah menyerahkan mu sepenuhnya untuk keluarga Julian, apapun yang terjadi Mommy akan terus menjaga keharmonisan hubungan kalian. ''
Mayra langsung memeluk mertuanya erat, Raisa bagai jelmaan ibunya saat ini. Harusnya ia berpikir jika kebahagiannya kini telah sempurna, harusnya masa lalu itu tidak perlu lagi muncul menganggu hubungan mereka yang sedang hangat-hangatnya.
'' Terimakasih, Mommy ''
__ADS_1
'' Sama-sama , putriku. ''
🤗 To be Continue.