Antara Cinta Dan Pengorbanan

Antara Cinta Dan Pengorbanan
Musibah


__ADS_3

Ketika malam tiba, Mayra merasa begitu gelisah . Menunggu Ansel tak kunjung pulang, padahal biasanya suaminya itu selalu pulang kerja tepat waktu, malahan tidak meleset barang semenitpun.


Tapi , Mayra bingung sudah hampir jam makan malam suaminya itu masih belum tiba di rumah. Sehingga Mayra melewatkan makan malamnya yang terbiasa makan bersama sang suami. Namun hari ini Mayra begitu malas menatap menyentuh makanan tanpa kehadiran Ansel menemaninya.


'' Permisi Nona, Bayi Anzela sedang menangis. Mungkin ia haus. '' Lapor Bisa Lasmi .


Mayra tersentak, ia merasa bersalah pada putrinya hanya karena rasa khawatirnya pada suaminya hingga lupa jika bayinya juga sedang membutuhkan nya.


'' Terimakasih, Bisa Lasmi. Aku akan melihatnya.


'' Baik Nona, kalau begitu saya masuk ke dapur dulu. ''


'' Silahkan, Bi ''


'' Ya Allah, Putriku maafkan Bunda sayang. Karena terlalu memikirkan ayahmu yang belum pulang, hingga lupa mengurus mu. Maafkan Bunda sayang . ''


Dengan langkah tergesa-gesa, Mayra langsung pergi menyusul bayinya di kamar lantai atas.


Oekkkk


Oekkkk


Tangisan baby Anzela menyayat hati Mayra saat sampai dikamar. Segera diraih tubuh mungil putrinya, Mayra mengeluarkan sumber asupan bayinya. Segera ia memposisikan tubuhnya duduk di sofa sambil memasukkan pucuk makanan Anzela, seketika putrinya diam saat berhasil melahap sumber tersebut.


Sambil mengusap kepala putrinya, Mayra terus memacu pikirannya pada sang suami yang belum tampak batang hidungnya sejak dari pagi.


'' Sekecewa itu kamu Mas terhadapku. Apa sikapku semalam membuatmu sakit hati...Sungguh aku tidak menginginkan kehadiran trauma tersebut, Tuhan apakah ada kesempatan bagiku untuk menjelaskan. Apalagi sampai sekarang suamiku tidak pulang-pulang, apakah Mas Ansel membenciku ? aku menyesali perihal masa laluku yang seharusnya sudah lenyap sejak dulu, bahkan aku tahu jika suamiku tidak sengaja melakukannya. Kenapa semua ini terjadi, aku belum sanggup berpisah dengannya. ''


Batin Mayra terus menjerit, pemikirannya sudah berkelana kemana-mana. ****** susu Mayra terlepas dari mulut Anzela yang terlihat terbuka. Bayinya telah tertidur kekenyangan.


Sebelum meletakkan sang bayi dalam box bayi, Mayra mengelus pipi putrinya yang tampak gembul , dengan rona merah kontras dengan kulitnya yang putih. Wajah sang bayi persis seperti Ansel, sesekali ia tersenyum sembari mengelus pipi sang putri.

__ADS_1


Menatap wajah sang putri , mampu meredakan rasa sesak di dadanya. Membayangkan kesalahan Mayra yang begitu fatal, Mayra yakin suaminya akan bersikap dewasa menanggapi perihal tersebut. Dirasa cukup dengan elusan dipilih sang bayi, dengan lembut Mayra meletakkan bayinya kembali yang yltelah tertidur pulas.


Setelah menunaikan sholat isya , Mayra semakin gelisah rasanya . Ansel masih belum juga pulang , ia khawatir terjadi sesuatu pada suaminya . Apalagi pagi tadi Ansel pergi ke kantor dengan rasa kecewa yang mendalam.


Tak sabaran, segera di raihnya ponsel di nakas , Mayra langsung menghubungi nomor suaminya, tetapi sayangnya sambungannya tidak aktif.


'' Kamu di mana sih , Mas. Kenapa belum juga pulang. Pun Mommy tidak di rumah lagi haruskah aku mencarimu ? Tapi ini hampir tengah malam, tidak mungkin aku pergi tanpa membawa Anzela bersamaku. Kumohon pulanglah '' Lirih Mayra , hingga meneteskan air matanya.


Mayra mencoba menghubungi kembali suaminya, tapi hasilnya tetap sama. Nomornya tidak dapat di hubungi.


Diletakkan kembali, ponselnya di tempat semula. Segera di rebahkan tubuh lelahnya berharap esok pagi ia bangun mendapati Ansel di sampingnya tertidur sambil memeluknya.


Bersamaan dengan dentingan jam yang menunjukan tengah malam, Mayra akhirnya terlelap juga dengan buah hatinya begitu anteng tidak rewel di dalam box bayi sana.


****


'' Bagaimana, Max. Apa ponselku sudah kamu beli ? ''


'' Sedang dalam perjalanan , Tuan. ''


Keterkejutan Ansel serta asistennya Max, telah membuat nya lupa jika ia pergi tanpa memberi kabar pada siapapun. Apalagi saat mendengar kabar jika pekerja proyek konstruksi perhotelannya di salah satu cabang terjadi kesalahan besar. Naasnya kali ini saat pembangunan tersebut berlangsung, terjadilah musibah yang menimpa beberapa pekerjanya yang meninggal di tempat akibat tertindas alat berat .


Sudah tengah malam, Ansel dan Max masih berada di kantor polisi, guna menunggu klarifikasi untuk penjelasan lebih lanjut. Sebenarnya Ansel bisa melalui perkara di kantor polisi dengan mudah, namun sebagian warga Negara yang baik ia lebih memilih jalur aman dan tertib sesuai prosedur yang berlaku. Meskipun ia adalah pembisnis ternama dan terkenal. Sangat mudah ketika uang bekerja, tapi Ansel bukanlah manusia picik yang duduk menghalalkan segala cara , apalagi melanggar hukum yang ada.


'' Selamat malam, DenganTuan Eric Julian, selaku penanggung jawab proyek kontruksi bangunan perhotelan Julian.'' ucap inspektur Hadi. Mengulurkan tangan bersalaman kepada kedua pria tampan tersebut secara bergantian.


'' Benar pak. '' Jawab Ansel ramah.


'' Begini , Tuan Kami para petugas telah berusaha untuk mendapatkan bukti penyebab kecelakaan maut tersebut. Menurut para saksi yang melihat langsung kejadian tersebut memang adanya unsur kesengajaan disana . Apalagi setelah kami periksa seluruh alat berat yang adanya sangkut paut saat kecelakaan itu , ternyata alat tersebut seperti sengaja di longgarkan hingga alat-alat yang telah longgar itu jatuh menimpa para korban yang sedang bekerja di bawah sana. ''


Ansel langsung terperanjat, ia menatap tajam kearah Max yang juga menatapnya.

__ADS_1


'' Kau, sangat ceroboh Max. Mengapa kau tidak memeriksanya. '' Geram Ansel


Ia marah bukan karena proyeknya harus terhentikan. Melainkan korban yang berjatuhan tidak sedikit. Tentu saja hukum akan menjeratnya terlalu dalam jika bukti kuat bahwa dirinya tidak bersalah itu tak di tunjukkan.


'' Maaf Tuan Julian, untuk lebih lanjutnya kita akan segera menyelidiki dalang dari musibah tersebut, tapi jika tidak adanya kejanggalan maka murni kesalahan tersebut adalah kecerobohan proyek anda. '' Jelas inspektur polisi yang menangani kasus proyeknya Ansel.


Ansel meraup wajahnya kasar, baru kali ini perusahaannya harus terjerat kasus.


'' Kami akan segera mencari orang itu ,pak. Tapi untuk sementara kami harus menyelidiki terlebih dahulu awal mula kejadiannya. '' Ujar Max.


'' Baik, Tuan . Tapi untuk sementara anda harus berada di kota ini dulu, untuk kelangsungan investigasi kasus yang sudah banyak meregang nyawa. Apalagi para pekerja tersebut adalah warga asli kota ini. '' Ucap inspektur .


Ansel mengangguk, Sebenarnya ia ingin sekali pulang ke kota J. Tapi keadaan disini sangat tidak memungkinkan ia mangkir dari tanggung jawab sebagai direktur perusahaan di tempat kejadian.


Di dalam mobil, Ansel bersandar terus memejamkan matanya di belakang kursi kemudi. Sementara Max dengan wajah datarnya terus membelah jalan mengendarai mobil menuju Villa pribadi yang berada di Surabaya.


'' Max, Apakah aku harus jujur pada istriku tentang masalah ku disini. '' Tanya Ansel masih memejamkan matanya.


Max yang di tanya, langsung menatap Bosnya dari spion.


'' Jangan dulu Tuan, takutnya Nona akan khawatir dan memilih menyusul anda kesini. Apalagi penyelidikan polisi belum setengahnya terkumpul, mereka juga membutuhkan bantuan kita agar kasus ini selesai dengan cepat . Tapi jika Nona ada disini akan memperlambat semua proses penyelidikan lanjutannya. ''


Dengan pernyataan Max, Ansel mengangguk paham. Benar kata asistennya jika Mayra tahu suaminya sedang di Landa musibah besar, tidak mungkin istrinya tidak ikut-ikutan bersedih. Apalagi Mommy Raisa akan drop seketika mengetahui jika putra semata wayangnya sedang tidak baik.


'' Kamu benar , Max. Sepertinya aku harus meredamnya untuk sementara. Kirim kabar ke Mansion jika kita sedang melakukan perjalanan bisnis, sekalian tutup masalah ini dari semua media. Aku tidak ingin satu stasiun televisi pun menyiarkan berita tentang musibah tersebut, sebelum nama baik perusahaan pulih kembali. '' Titah Ansel .


'' Baik , Tuan. ''


Ansel kembali memejamkan matanya , meresapi rindu yang melandanya. Rindu pada sang istri yang jauh darinya saat ini , juga sang bayi cantiknya , perantara serta pengikat hubungan mereka. Bayi yang begitu di sayanginya yaitu darah dagingnya sendiri.


Tanpa ada yang tahu, raga Ansel begitu terpukul kala ia tidak bersama sang istri saat ini bahkan pergi tanpa pamit pada wanitanya sekalipun. Setetes air mata menetes di ujung kelopaknya. Dengan cepat Ansel menyekanya berharap segala permasalahan terselesaikan dalam waktu yang singkat.

__ADS_1


" *Aku janji , setelah ini kita tidak akan terpisah lagi sayang. Tunggu aku di sana, akan kuusahakan secepatnya perkara ini selesai, aku sangat merindukan kalian istriku dan juga buah hatiku. ''.


😙* Happy Reading


__ADS_2