Antara Cinta Dan Pengorbanan

Antara Cinta Dan Pengorbanan
Nasehat Bram


__ADS_3

Amarah Nayla serta terurainya air mata ,sungguh membuat Mayra merasa bersalah. Namun sedikitnya Mayra merasa lega kala mengetahui,ternyata Nayla sedang berbadan dua. Mayra berspekulasi jika bayi itu adalah milik kekasihnya , Ansel.


Mayra menerka jika setelah kepergiannya, mereka berdua berhasil menikah, tentu saja tanpa dirinya di sana.


Meski hati terasa sedikit perih dengan berbagai dugaan, Mayra terus berusaha menekan rasa sakit tersebut demi ketenangan Nayla takut kakaknya cemburu dengan kenyataan yang terjadi, sudah pasti Nayla tau jika dirinya telah melahirkan, tentu saja Ansel pasti akan meminta izin pada kakaknya terlebih dahulu, sebelum datang menemui putrinya.


Ia tahu sejak tadi Ansel berdiri terus menatapnya.


Sekilas Mayra mencoba memberanikan diri melirik Ansel yang tengah melangkah semakin mendekat kearahnya . Tampak wajahnya dingin dan datar.


Jantung Mayra semakin berpacu merasakan ayah dari putrinya berjalan kearahnya.


Ansel dengan wajah sangarnya terus melangkah ,namun gerak langkah Ansel ternyata tidak berarah padanya, Ansel malah berjalan melewati Mayra yang terlihat sedang merasa tidak nyaman. Kenyataanya Mayra bagai berharap jika Ansel datang juga untuk dirinya, namun semua hanya bisa Mayra simpan dalam hati, mungkinkah secepat itu namanya tergantikan dengan Nayla sang kakak ?, Mungkin waktu setahun dapat meluluhlantakkan kenangan manisnya bersama sang kekasih, hanya karena kenekatan nya waktu itu ? , Mayra menyadari jika hatinya masih ingin di cintai oleh pria yang masih sama dalam hatinya.


Namun melihat sikap yang di tunjukkan Ansel pada Mayra, terlihat jika Ansel hanya datang karena bayinya.


Hanya tinggal bayi kecilnya yang tersisa dari cintanya sang kekasih, Untuk itu Mayra bertekad akan terus berusaha mempertahankannya. Nantinya Mayra berencana berbicara dari hati ke hati agar Ansel tidak merebut sang putri darinya. Bukankah Ansel dan Nayla juga akan memiliki buah hati juga ? Dengan begitu Ansel harus mengerti jika Mayra juga ingin hak asuh bayi mereka sepenuhnya menjadi miliknya.


Ansel menarik langkahnya menuju pintu ruang NICU tepat di samping Mayra tanpa berniat menoleh ke arah Mayra,meski dalam hatinya ingin sekali membawa wanita tersebut kedalam pelukannya.


Iapun memasuki ruang tersebut,Perlahan Ansel melihat seorang bayi dengan alat-alat khusus tertempel di tubuh putrinya.


Di sana terlihat seorang perawat sedang melakukan tugasnya ,tanpa menyadari kedatangan Ansel di depan pintu yang tertutup kembali. Ansel yang berniat mendekati lokasi letak bayi tersebut. Namun langkahnya berat untuk melangkah.


***


" Jawab Mayra !! Kenapa kamu melangkah terlalu jauh. Lagian kenapa tidak bilang pada kami jika kamu mengandung serta melahirkan, di negri orang lagi " Cerca Nayla sambil menangis .

__ADS_1


Saat pandangan mata Mayra masih mengarah ke pintu ruang NICU , yang telah tertutup , Ia dikejutkan kembali dengan rasa penasaran kakaknya.


" Kenapa kamu menyalahkannya Nayla ? " Nayla beralih menatap Farel yang terlihat wajahnya memerah.


" Aku ? " tanya Nayla bingung.


" Ya , Karena mu !! , Mayra selalu mengalami nasib buruknya " Spontan Farel mengikuti notasi dengan emosi.


Nayla kembali menoleh ke arah Mayra, mencari sebuah penjelasan lewat tatapan intensnya. Dalam sekejap sekelebat bayangan kebenaran di mata bening sang adik terlihat , Mayra juga membalas tatapannya.


" Benar kata kak Farel Mayra ? " Mayra bungkam tidak berani menjawab, matanya sibuk melirik Farel seakan-akan mencari perlindungan dari pria tersebut.


" Ikut aku '' Tiba-tiba Farel mencengkram tangan Nayla ,menariknya untuk pergi dari depan ruangan NICU tersebut.


" Kakak mau bawa aku kemana ?, Nayla masih belum mengerti kesalahan apa yang aku perbuat ,hingga Mayra pergi tanpa kabar !!! . Ucap Nayla menahan tarikan Farel yang masih lembut.


Nayla semakin bingung...bukankah seharusnya Mayralah yang harus menjelaskan tentang kehidupannya saat ini. Dia melahirkan tapi tanpa kabar apapun tentang pernikahannya,kenapa Nayla malah disalahkan.


" Tapi--"


" Sudah,jangan banyak protes. Sebelum aku akan menarik paksamu lebih baik, ikuti saja aku " ujar Farel sembari menarik kembali tangan Nayla dengan pelan, mengingat adiknya yang sedang hamil.


Namun rasa kesal Farel masih membuncah dalam otaknya. Ingin segera Farel luapkan segera pada titik berawal nya kesedihan Mayra,yaitu Nayla sang kakak yang selalu di beri kebahagiaan yang sempurna dan Mayra terus meraup sisa pengorbanan tersebut dengan rasa sakit yang mendera.


Senagaja Farel tegas pada Nayla agar kehidupan Mayra stabil kembali.


Sementara Bram dan Fina hanya terlihat berdiri menyaksikan tiga orang kakak adik tersebut . Meskipun Fina tidak tau menahu masalah apa yang di perdebatkan, namun Fina percaya jika Farel akan bersikap wajar dalam menghukum saudaranya jika ada kesalahan.

__ADS_1


Setelah Farel dan Nayla menghilang ,Bram yang sedari tadi menatap rindu putrinya, mendekati Mayra yang masih terlihat pucat berada di atas kursi roda.


" Sayang...???" Panggil Bram . Mayra mendongak menatap pria dewasa diikuti tetesan air matanya.


" Maafin Mayra papa, Mayra pergi tanpa pamit terlebih dahulu dengan papa... Mungkin ini hukuman buat Mayra yang durhaka pada papa, maaf papa... " Tangis Mayra menatap sendu kearah Bram yang penuh dengan air mata .


Bram bersimpuh di hadapan Mayra, serta menghapus air mata putrinya yang sangat di rindui selama hampir setahun ini .


" Kenapa terus menyalahkan dirimu nak. Harusnya papa lebih peka pada putri kecil papa ini. Harusnya papa tau jika saat itu putri papa sedang tidak baik-baik saja. Harusnya papa menyadari jika beban putri kecil papa begitu berat. Papa minta maaf sayang...tidak seharusnya putri papa mengalami hal mengenaskan seperti ini. Papa tidak marah dengan semua yang kamu alami, sebaliknya papa malah merasa bersalah tidak bisa melindungi mu nak !!! " keluh Bram juga ikut menangis.


Mayra kelimpungan saat Bram terus menyalahkan dirinya . Mayra juga ikut merasakan betapa hancurnya hati Bram terlihat dari pengakuannya.


" Justru Mayra yang salah papa, Mayra selama ini salah tidak pernah menyadari jika bahu papa adalah tempat sandaran terbaik begitu nyaman dan menguatkan. Mayra justru terlampau terlalu terlihat kuat hingga lupa, jika Mayra memiliki pria tangguh dan mampu menghapus segala kesakitan yang Mayra rasakan pa !!...Mayra malu sama papa..., Mayra sudah mendapat hukumannya sekarang, tapi hukuman itu terlalu berat papa, Mayra tidak sanggup melihat putri Mayra menderita dengan kesakitannya yang seharusnya aku tanggung sendiri pa..." Ucap Mayra menundukkan pandangannya ,air mata terus menetes ke pangkuan Mayra. Bahunya bergetar menandakan Mayra mulai terisak ,meluapkan segala kesedihan yang selama ini ditahannya. Mayra begitu leluasa melepaskan gundah gulana di depan pria dewasa nan tampan tersebut , seperti anak kecil.


Bram menggeleng dan langsung memeluk tubuh kurus putrinya dengan penuh kasih sayang.


" Tidak nak, papa janji mulai sekarang kita akan merawatnya bersama. kamu tidak boleh seperti ini papa yakin ada keajaiban yang akan menyembuhkan putrimu nak !, jangan ucapkan lagi kata tersebut, bayimu suci, sakitnya bukanlah karena kesalahan mu di masa lalu. Semua takdir dan sekarang papanya sudah datang untuk menolongnya, serahkan harapan terbaikmu pada sang pemberi obat yaitu Allah nak,ingat saat Allah memberi sakit sudah tentu Allah juga memiliki penawarnya, tugas manusia cukup berdoa dan terus berusaha. Mari kita berdoa demi keselamatan putrimu dan ayahnya, biarkan dokter terbaik yang akan berusaha . " Imbuh Bram serta menyalurkan ketenangan pada putrinya .


Mayra mengangguk membalas pelukan pria yang selama ini sangat dirindukannya.


" Pasti papa sangat mengkhawatirkan Mayra saat itu, maaf papa..., saat itu Mayra terlalu egois dengan masalah bertubi-tubi yang menimpa hidupku pa, hingga lupa jika Mayra memiliki orang tua yang pasti bingung mencari putrinya. " Tangis Mayra kian pecah dalam pelukan Bram. Dielusnya kepala putri kecilnya.


" Tenanglah sayang ,memang awalnya papa merasa takut, tapi saat tau dengan siapa putri papa ini pergi, rasa takut itu kian berkurang. Karena papa tau siapa yang menemani kepergianmu nak, papa merasa tenang karena putri papa di temani oleh orang yang tepat. Jangan merasa bersalah seperti ini , anggap pengalaman ini sebagai penopang hidup mu kedepan. Mulai sekarang jangan pernah merasa terus kuat jika hati terlalu rapuh untuk bertahan, gunakan papa sebagai sandaran mu nak...jangan anggap papa ini seorang pria payah, karena lalai menjaga putrinya. Papa sangat sedih jika Mayra dan juga Nayla menganggap papa hanya sebagai orang tua saja, anggaplah papa ini sahabat kalian juga, mengerti . " Nasehat papa sembari mengelus kepala Mayra dalam pelukannya. Mayra hanya mampu mengangguk tanpa membantah sedikitpun.


Sementara Fina tersenyum lega melihat ayah dan anak saling menguatkan.


😘 Happy Reading

__ADS_1


__ADS_2