Antara Cinta Dan Pengorbanan

Antara Cinta Dan Pengorbanan
Kegiatan Yang Dirindukan


__ADS_3

Tubuh Fina bergetar hebat, ternyata Fina sedang terisak memeluk putri kandung dari suaminya.


" Maafkan Mama , sayang. Begitu banyak dosa yang telah mama lakukan padamu nak ! . Mama sudah terlalu banyak melukaimu nak. Jika berkenan maafkanlah orang tua ini sayang, meskipun lukamu belum tentu sembuh oleh kejahatan Mama sepanjang hidupmu " Ungkap Fina menangis pilu, membayangkan betapa jahat dirinya di masa lalu, walaupun ia tahu jika anak suaminya banyak berkorban untuk putrinya.


Sepanjang waktu Fina sangat menyesali perbuatan jahatnya di masa lalu, hingga ia tersadar kembali ,saat putri berhati malaikat itu pergi menghilang dari keluarga nya.


Mayra melepaskan pelukan Fina, dengan cepat tangan mungilnya mengusap buliran air mata Fina dengan lembut.


" Kenapa Mama terus merasa bersalah, bukankah Mayra sudah pernah mengatakan ! jika tidak ada perasaan bersalah antara putri dan Mama nya ? Jika Mama menganggap Mayra ini putri Mama, bisakah Mama tidak perlu seperti ini. Mama adalah bagian dari hidup Mayra, walaupun dulu mama pernah tidak suka dan mengasingkan Mayra dalam diri Mama. Tapi percayalah ma,saat itu Mayra begitu yakin . Dalam hati Mama masih berbekas namaku sampai sekarang...,Sampai kapanpun Mayra dan kak Nayla adalah putri Mama , tidak akan ada yang bisa menampik kenyataan tersebut mah . " Seru Mayra dengan ulasan senyum seikhlasnya.


" Yah,benar kalian adalah putri Mama dan papa...dunia mengakuinya, nak. Terimakasih atas ketulusanku. " Balas Fina membenarkan.


Mayra mengangguk menggenggam tangan Fina dengan lembut.


CEKLEK...


Seseorang muncul dari balik pintu dengan wajah segarnya. Ansel melangkah masuk kekamar rawat Mayra setelah menunaikan kewajibannya.


Melihat sosok Ansel yang baru saja menyandang gelar sebagai suaminya datang, membuat jantung Mayra berdegup dan berdebar.


Bram yang mengerti keadaan langsung membuka suara .


" Mah,Nayla... sebaiknya kita keluar . Mayra dan suaminya butuh waktu berduaan sebelum operasi . " Titah Bram langsung diangguki keduanya.


Kesempatan, sebelum pergi dari kamar Mayra . Nayla sempat-sempatnya beraksi menjahili adik tersayangnya.


" Dek , suamimu itu masih muda. Siapa tau sebelum operasi , dia meminta haknya . Meskipun tidak kesitu, yang pastinya makhluk buas itu akan terus menyiksamu dari pusat sampai keatas " Bisik Nayla nakal, hingga kerongkongan Mayra terasa kering akibat perkataan Nayla tersebut.


Mayra menoleh kearah Ansel. Sorot mata Ansel menunjukkan bahwa apa yang dikatakan Nayla benar. Ada kilatan hasrat disana.


Melihat Nayla yang sedang terkikik, Ansel langsung merubah ekspresi dinginnya kearah Nayla hingga senyap seketika.


" Nayla, kenapa masih disitu, ayo keluar . " ucap Bram sesampainya di pintu.


" Iya pah " sahut Nayla, melenggang keluar sambil berkedip kearah Mayra. Namun saat menatap Ansel , Nayla langsung merinding tersenyum nyengir.

__ADS_1


Tinggallah sepasang suami istri di dalam kamar itu tentunya Ansel mengunci terlebih dahulu pintunya. Pelan Ansel melangkah mendekati istrinya sedang duduk di tempat tidur.


Ansel duduk di tempat itu juga , berhadapan dengan Mayra yang masih menunduk serta meremas bajunya. Ia langsung meraih jemari lentik Mayra dengan lembut Ansel mengecup punggung tangan ibu dari putrinya.


Mayra merasakan sesuatu yang basah tertempel di punggung tangannya langsung mengangkat wajah yang sudah bersemu merah.


" Kenapa diam , istriku " Seru Ansel penuh cinta.


Panggilan yang sangat Mayra ingin dengarkan sejak dulu, akhirnya terdengar juga dari mulut pria yang amat ia cintai.


" Hmm...??" Mayra bingung mau memberi jawaban apa.


" Apa kamu bahagia ? dengan pernikahan ini ? " tanya Ansel .


" Tentu, aku bahagia mas. " Jawab Mayra sedikit gugup.


Ansel bangkit dari depan Mayra. Lalu ia kembali memposisikan tubuhnya di samping Mayra lebih dekat.


Mayra semakin gugup, apalagi ingatannya melayang dengan ucapan Nayla beberapa menit yang lalu. Di tambah lagi tatapan Ansel kian berhasrat.


Refleks Mayra menyilang tangannya di dada , bersikap waspada terhadap suaminya. Tentu Mayra tidak menyadari gerakannya yang telah tertutupi sedikitnya rasa takut.


" Sayang, kenapa ? kamu takut padaku ? " Tanya Ansel bingung.


" Kamu , mau ngapain dekat-dekat mas !! , Aku tidak bisa melakukannya . Tolong mengertilah , baru saja aku melahirkan dan aku masih belum suci " Jelas Mayra gugup.


Ansel langsung mengernyit heran, Akibat mendengar ucapan Nayla . Mayra terbawa rasa takut sendiri. Apalagi wajah tegas Ansel cukup membuat jantung Mayra terpompa dengan cepat .


" Wah...istriku , sudah terlalu jauh mikirnya. Kamu pikir aku mau menggauli mu sayang ? ah, jangan meremehkan suamimu sayang. Gini-gini sedikitnya aku ngerti agama loh. Atau jangan-jangan kamu yang udah gak sabar ya ? Ternyata istriku sudah banyak perubahannya ya, semakin mesum " bisik Ansel menggoda istrinya agar tidak terlalu tegang. Bisikan Ansel langsung membuat Mayra malu ,baru menyadari jika dirinya terlalu jauh, berpikir kemana-mana.


" A-ku tidak me- sum, jangan menuduh " sanggah Mayra dengan wajah sudah memerah.


Saking malunya ,Mayra langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya sendiri. Ansel terkekeh mendapati sang istri salah tingkah.


" Tapi, terimakasih banyak aku ucapkan pada istri cantikku ini, sudah mengingatkan jika malam ini adalah malam pertama kita. " Goda Ansel kembali.

__ADS_1


Ucapan Ansel sukses membuat Mayra semakin malu. Ia hanya berani mengintip lewat celah jari yang menutupi wajahnya.


Dengan cepat Ansel menarik tangan Mayra dari wajahnya. Begitu erat Ansel menggenggam tangan tersebut.


Mayra pasrah. Jangan ditanya lagi bagaimana merahnya wajah itu, di tambah lagi kulit wajah Mayra yang putih kontras dengan warna yang kian membuatnya merah karena malu.


Mayra masih belum berani menatap suaminya , badan Ansel semakin dekat saja nyaris menempel dengan tubuhnya, walau menyamping.


" Tatap aku sayang " Perintah Ansel ,dengan nada yang pasti tidak boleh di bantah.


Dengan terpaksa Mayra menoleh hingga berhadapan dengan suaminya membalas tatapan Ansel yang terlihat berbeda tapi memabukkan . Tidak ada hasrat lagi di sana, hanya ada cinta dan tatapan tulus menghunus retina Mayra dengan seksama.


Dua mata itu saling beradu , masing-masing mereka sedang mencari titik ternyaman dari pasangannya itu. Entah kemana rasa malu tadi , hanya dengan ditatap penuh rasa itu saja, membuat Mayra nyaman dan tenang.


Perlahan namun pasti, kedua bibir itu telah menempel sempurna. Merasakan gelanyar aneh dari keduanya membuat adrenalin mereka segera bangkit dan ingin memberikan sesuatu yang berbeda dari kecupan tersebut.


Entah siapa yang memulainya, kini kecupan itu telah berubah menjadi lu***** penuh gairah. Tangan Ansel langsung meraba terus menekan tengkuk Mayra untuk memperdalam ciuman tersebut. Begitu juga dengan Mayra semakin nyaman rasa dari kegiatan mereka hingga tanpa di sadari ia mengalungi leher Ansel dengan kedua tangannya.


Cecapan itu mulai panas. Hingga tangan Ansel sudah tidak sinkron dengan ucapannya tadi. Mayra yang merasakan bagian sensitifnya tersentuh, ia terbelalak dengan cepat bibir itu di lepaskan nya. Namun ia kalah dengan tenaga Ansel yang kuat ,tidak berminat sama sekali melepaskan bibir manis sang istri.


Sudah lama sekali ia merindukan rasa bibir itu. Dan disaat sudah di dapatnya , mustahil Ansel melepasnya barang sejenak saja, ia masih enggan melepasnya.Tangan Ansel semakin aktif.


Tubuh Mayra semakin blingsatan,menerima jamahan tangan Ansel di bagian sensitifnya.


Cecapan itu semakin lama semakin berpacu, Mayra tidak membalas lagi. Tubuhnya kian resah dengan serangan suaminya yang terlihat lupa daratan. Hingga bibir Mayra kebas akibat hisapan Ansel yang terlalu kuat.


Tangannya terus saja memukul dada bidang Ansel ,mendorong serta meremas pakaian suaminya dengan kuat, hampir saja ia kehabisan nafas , kalau saja suami perkasanya ini tidak segera melepaskan pangutan bibirnya itu.


Nafas mereka berdua terengah-engah, dengan deru nafas yang memburu mereka saling menatap. Baru saja Mayra meraup udara kembali, Ansel kembali me***** Bibir mungil Mayra dengan penuh kelembutan, tidak seperti tadi kesannya menggebu-gebu.


Mayra kembali terbuai , dengan penuh perasaan Ansel menyalurkan cinta dan kasih sayang yang tiada Tara.


Merekapun lupa, jika di luar sana banyak orang yang menunggu dua sejoli yang sedang menukar saliva dengan perasaan rindu. Padahal sudah jadwalnya operasi akan berlangsung, tapi tidak ada tanda-tanda dua raga tersebut akan muncul dari balik pintu kamar Mayra. Mau masuk pun tidak sopan, takut menganggu kegiatan pengantin baru di dalam sana.


💗 Happy Reading....

__ADS_1


__ADS_2