
" Dimana tuan Julian,paman ? " tanya Farel baru saja datang setelah melakukan sesuatu tadinya.
" Mereka ada di dalam ruang rawat Mayra ,nak !" .Jawab Bram sedang duduk dengan yang lainnya di depan ruang NICU .
" Bukankah hampir waktunya operasi ? kenapa paman tidak memanggilnya. Kondisi cucu paman Sangat memprihatinkan, Harusnya mereka bisa menunggu sebentar. Sungguh kelewatan sekali ,tidak sadar jika putrinya sudah sangat kesakitan. " Kesal Farel , tidak habis pikir dengan kedua pasangan itu.
" Gak usah kesal gitu juga dong kak !! makanya nikah ,biar tau rasanya jadi pengantin baru itu gimana, " Celetuk Mayra yang sedang duduk di samping mama Fina.
" Sayangnya aku belum berminat , " Ketus Farel menjawab, membalas ujaran Nayla yang bar-bar.
Bram menghampiri Farel yang sedang berdiri di antara lainnya. Ia mendekat kearah Farel dan menggenggam bahu pria tersebut .
" Usiamu sudah matang Farel, sudah waktunya kamu menikah. Dalam agama kita mengajarkan ,jika pernikahan adalah penyempurna agama. Jikalau seseorang itu sudah mampu secara lahir maupun batin dengan kata lain mampu memberi mahar dan mampu secara fisik, maka wajib atas nya untuk menjalankan pernikahan tersebut. Jika di biarkan maka setan akan lebih leluasa menggoda manusia untuk terus berbuat zina . " Ujar Bram memberi sedikit wejangan pada pria jomblo akut tersebut .
" Baik paman, Jika sudah tepat nanti . Farel pasti akan segera menikah , " Jawab Farel .
" Yasudah, itu urusan waktu. Ingatlah, kamu tidak akan bisa hidup sendiri . Suatu saat nanti kamu juga akan menua seperti paman ini, Kamu pasti akan membutuhkan bantuan istri dan anak-anakmu kelak, dengan begitu peran keluarga sangat penting saat hari itu tiba . Dengan menikah pasangan tersebut akan dikaruniai anak-anak Sholeh dan Sholeha untuk mendoakan kita kelak ,saat waktu dunia sudah terhenti bagi kita. " Lanjut nasihat Bram penuh makna.
" Doakan Farel om, agar secepatnya bertemu dengan jodoh, jika sudah cocok nanti, tentu saja Farel akan melaksanakan kewajiban tersebut sesuai nasehat paman ." Seru Farel menatap Bram dengan sumringah.
" Amin..." Jawab semuanya.
" Yang terpenting kakak jangan belok aja, ntar parah urusannya jika publik tahu " Seloroh Nayla langsung nimpluk sambil terkikik menahan tawanya, seakan berspekulasi jika Farel itu jeruk makan jeruk 😂.
Dengan cepat Nayla langsung berubah mode ,saat mata elang Farel hampir keluar dari kelopaknya. Membuat Mayra sedikit merinding.
" Sayang, jangan ganggu kakak mu. Kemarilah sambil menunggu Eric dan Mayra keluar , kamu tiduran disini aja dulu. Dari tadi kamu terus saja berdiri, khawatirnya kakimu nanti kebas sayang." Nayla menurut dan langsung duduk di samping suaminya Andre yang sejak tadi memeriksa laporan perusahaan di ponselnya, ia melakukan perintah Andre untuk tiduran di dada bidang suaminya, ada kenyamanan sendiri di saat segala beban lelah kita sandarkan di dada suaminya
__ADS_1
Semua tersenyum bangga menyaksikan Andre sebagai seorang suami yang begitu perduli pada istri tercintanya. Bram dan Fina merasa lega putri-putrinya sudah memiliki hidup bahagia bersama pria yang tulus mencintai mereka.
Sementara Farel sudah menghilang lagi entah kemana.
Di saat semua orang sedang menunggu di depan ruang NICU sejak tadi. Berbeda dengan dua sejoli di dalam kamar rawat itu ,mereka sedang asyik-asyiknya saling menyerang dengan kata lain, Ansel sedang menyerang dengan begitu banyak kecupan pada istrinya, sementara Mayra menyerang Ansel dengan pukulan serta cubitan yang semakin susah di lawan.
Ansel terlalu buas pada istrinya. Benar apa kata Nayla, jika suaminya ini sungguh tidak bisa di lawan . Hasratnya terlalu memimpin tubuhnya saat ini, Mayra sudah terlihat acak-acakan dengan penuh tanda merah disekitar leher dan dadanya.
Na***nya terlalu kuat untuk dilawan oleh suaminya hingga Mayra menjadi korban hasrat Ansel meskipun tubuhnya menjadi korban kegilaan serangan Ansel yang luar biasa, Mayra masih menggunakan baju lengkap di tubuhnya, hanya jilbab nya saja yang berhasil di singkap hingga lepas oleh Farel sendiri, hingga rambut Mayra sudah tidak tertutup.
Namun Mayra masih belum menyadari jika lehernya itu bukan saja satu dua di di cap oleh Ansel, melainkan kulit putih tersebut sudah di penuhi oleh tanda cinta Ansel dengan warna merah hampir membiru. Sekuat itulah gairah Ansel yang tidak mampu di tahannya , sehingga leher Mayra menjadi korban garap oleh Ansel sang pria perkasa.
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka. Ansel sudah rapi kembali setelah melepaskan hasratnya dikamar mandi yang telah membuncah sejak tadi saat menikmati Mayra dari atas sampai pusarnya. Namun milik Ansel butuh pelepasan juga, dan tidak mungkin Ansel melanjutkannya saat tubuh Mayra haram untuk disentuh semua.
Mayra sudah memperingatkan suami mesumnya itu, tapi dasar Ansel nya aja yang tak sabar ingin melahapnya. Jadilah Ansel bermain sendiri lagi tanpa lawan.
" Jangan menertawakan suamimu sayang. Lihat saja nanti, kupastikan aku tidak akan melepaskan mu barang seinci pun untuk menjauhiku di ranjang " ucap Ansel mengancam istrinya sambil merapikan rambutnya yang masih terlihat basah .
" Tapi hasratnya Sudah berkurang kan " Tanya Mayra tersenyum.
" Sudah sayang, tapi tidak memuaskan " Jawab Ansel kecewa.
" Salah sendiri , sudah tahu tubuhku tidak boleh di sentuh ? " Balas Mayra .
" Yah, memang sudah takdirku terlalu candu dengan semua yang ada pada dirimu itu, termasuk adegan yang tadinya. " Ucap Ansel mengingat adegan panas mereka yang hampir tidak terkendali , jika saja tadinya Mayra akalnya masih tersadarkan .
__ADS_1
Entah apa yang terjadi dengan makhluk buas yang berkedok suaminya itu, mengerikan sekali.
Setelah merapikan semuanya, Ansel kembali mendekati Mayra yang sudah terlihat rapi . Berbeda dengan tadi ,istrinya itu begitu berantakan,bajunya pasiennya sudah terlepas kancing dua karena ditarik Ansel yang sedang memburu. Dan rambut yang acak-acakan akibat perlawanan mereka yang satu mendorong,dan satunya menekan agar lebih dalam lagi pangutan mereka.
Ansel mengambil kursi roda , kemudian menghampiri istrinya . Ansel langsung menggendong Mayra dengan lembut Ansel memposisikan istrinya untuk diduduki dikursi roda.
Setelah terasa nyaman sang istri. Iapun berlutut di depan istrinya.
" Doakan suamimu dan putri kita sayang. Semoga kita segera berkumpul bersama, " Ucap Ansel lembut. Setelahnya sebuah kecupan di dahi Ansel mendarat dengan sempurna , Mayra masih betah menempelkan bibirnya di dahi sang suami. Kini Mayra sedikit lebih berani, tapi masih di tempat yang biasa untuk semua pasangan namun cukup berarti bagi yang sudah halal. Apalagi Mayra melakukan hal tersebut atas dorongan kalbu cintanya untuk sang suami.
Selang beberapa detik, Mayra melepaskan kecupannya pad Ansel. Matanya menatap sang suami begitu dalam, sementara kedua tangan Mayra menangkup di dua pipi Ansel.
" Tentu saja aku akan terus berdoa untuk kalian. Terimakasih telah hadir kembali dalam hidupku mas, Aku akan menunggumu dengan setia. Dan terimakasih telah datang menyelamatkan putri kita. I love you forever my husband, Jangan pernah tinggalkan aku dan putri kita. "
" I Love you too forever my wife, tunggu aku dan putri kita dengan setia. Ingat ! Jangan bersedih , aku pasti akan kembali untukmu, "
Tes...
Tak dapat dipungkiri, Mayra kembali sedih saat dirinya dan suami akan berpisah untuk sementara di ruang operasi nantinya.
" Sudah ku katakan jangan menangis sayang " Ucap Ansel lembut, sembari menyeka air yang berembun tersebut di pipi Mayra.
Mayra menggeleng, lalu dengan cepat memeluk leher suaminya.
" Jangan melarang ku untuk satu itu. Dengan air mata wanita dapat melepaskan beban yang terasa membeku di hidupnya. Tolong izinkan aku melakukannya mas, "
Ansel membalas pelukan istrinya dengan lembut, serta kecupan bertubi-tubi di berikan olehnya di pucuk kepala Mayra dengan lembut.
__ADS_1
TBC....