Antara Cinta Dan Pengorbanan

Antara Cinta Dan Pengorbanan
Keberuntungan Ansel


__ADS_3

'' Hemmm harum , menantu Mommy lagi masak apa sih ? '' Tanya Raisa baru saja masuj dapur hendak mengambil minum.


'' Eh ? Mommy, Mayra lagi masak buat papanya Anzela, Mom '' Terang Mayra fokus dengan masakannya.


Setelah menuangkan air dari teko ke gelas, Raisa menghampiri menantunya.


'' Beruntung putra Mommy dapat istri seperti mu, udah pintar ngurus kebutuhannya makanan pun istrinya juga yang masakin . Sungguh istri idaman sekaligus menantu kesayangan '' Puji Raisa membuat Mayra tersipu-sipu.


'' Mommy bisa aja. Sudah tugas Mayra sebagai seorang istri. Dulu kata guru ngaji Mayra jika suatu hari seorang wanita menikah maka wajib atasnya melayani suaminya dengan ikhlas sepenuh hati. Karena pahala terbesar itu selain di dapati dari orang tuanya juga terdapat pada suaminya . Kecuali jika istri itu sedang tidak sehat . Sementara Mayra Alhamdulillah masih sehat wal Afiat '' Jelas Mayra menerangkan.


Raisa mengangguk membenarkan sambil tersenyum. Hatinya terasa lega , jika suatu hari nanti dirinya di panggil sang ilahi , Ia telah siap meninggalkan sang putra semata wayangnya dengan teman hidup yang sempurna akhlak dan pekertinya. Raisa terus mengucap syukur dengan karunia Tuhan pada takdir putranya.


'' Oh ya, sayang. Tadi suamimu menghubungi Mommy katanya ia tidak langsung ke rumah, ada hal genting yang mengharuskan dirinya untuk kembali ke kantor. '' Terang Raisa.


Namun Mayra kembali tersenyum getir tentu saja tidak terlihat oleh mertuanya karena Mayra masih membelakangi Raisa yang terduduk di kursi meja makan.


Sekecewa itukah suaminya itu , hingga sekalipun Ansel begitu enggan memberi kabar langsung padanya , pikir Mayra.


Mayra kembali berkutat dengan masakannya sedangkan Raisa masih betah di dapur sembari memperhatikan menantunya hingga beberapa saat kemudian masakan Mayra telah selesai di sajikan, dan sebagian lainnya ia masukkan ke kotak makanan.


'' Mau dibawa ke mana makanan dalam tantangan itu, sayang , '' heran Raisa.


'' Buat Mas Eric, Mom. Aku ingin mengantarkan makan siang untuknya. ''


'' Yasudah, tapi putrimu kamu ajak juga ? , '' Tanya Raisa.


'' Tidak Mom, Baby Anzela masih rentan polusi. Maya titip sama Mommy boleh ? '' Pinta Mayra.


'' Tentu boleh. Putri kalian itu cucunya Mommy. Lagian alasan kamu itu tepat sekali, bahaya jika baby kalian tercemar dengan kuman di luar sana '' Ucap Raisa, yang notabenenya pencinta kebersihan.


Mayra memasukkan kotak makan tersebut kedalam paper bag, setelah itu ia letakkan di meja.


'' Kalau begitu Mayra mau bersih-bersih dulu, sekalian mau beri ASI Anzela biar nanti pas ditinggal gak rewel '' Ucap Mayra.


Raisa mengangguk mengiyakan.


'' Permisi Mommy, Mayra duluan ke atas. ''


'' Iya, Sayang. ''


***

__ADS_1


Ucapan sang mertua masih bermain di kepalanya. Berbulan-bulan menikah dengan Ansel sedikitpun pria itu tidak pernah menyakitinya, tapi saat malam penolakan itu terjadi Ansel berubah drastis, pergi tanpa kabar , kembali pun bukan langsung di beritahukan pada dirinya selaku istrinya.


Mayra kembali terluka, meskipun hanya masalah kecil seperti itu. Karena dasarnya suaminya itu adalah pria peka terhadap nya.


'' Kenapa kamu berubah , Mas ? apa karena aku pernah menolakmu ? ataukah aku sudah tak cantik lagi ? '' lirih Mayra sambil menyusu bayinya.


Mayra mengambil ponselnya , lalu iqembuka galeri di ponselnya, di klik tombol buka langsung terpampang berbagai pose suami dan dirinya . Ia rindu masa-masa seperti itu, tertawa bersama bahkan Ansel juga sempat mengabadikan momen paling mendebarkan bagi dirinya. Seulas senyum terbit di bibir Mayra tidak ada air mata disana. Bukan waktunya menangisi nasib, saat suaminya telah kembali.


Mayra bertekad ingin memberi kejutan pada Ansel siang ini, mengantarkan makan siang serta menjalankan rencana-rencana yang telah lama di dusun rapi dalam seminggu ini.


'' Aku tahu Mas, awal mula masalah itu terjadi karena diriku . Maka dari itulah akulah yang harus berbaikan terlebih dahulu , Tunggu aku di sana. Aku rindu padamu , Mas. Sangat rindu . '' Ucap Mayra , mencium ponselnya yang tertera foto tampan Ansel sendirian.


'' Tok...tok....tok...'' Raisa mengetuk pintu kamar Mayra.


'' Sayang, ini Mommy '' Ucap Raisa di balik pintu.


'' Masuk , Mom. '' Sahut Mayra dari dalam.


Dengan pelan Raisa mendorong pintu kamar , takut sang bayi terusik dengan bunyi gerakannya.


'' Anzela udah bobok ? '' Menghampiri Mayra yang sedang menaruh baby-nya ke dalam box.


'' Kamu gak jadi berangkat ke kantor suamimu ? ntar keburu siang loh '' Ingat Raisa .


'' Ni mau berangkat Mom . Mayra titip baby Anzela , ya. ''


'' Ya, sayang. ''


'' Mayra pamit '' ucap Mayra menyalami tangan Raisa dengan takzim.


Iapun langsung beranjak turun kebawah menuju dapur untuk mengambil bekal makanan suaminya yang akan di bawanya ke kantor Ansel . Setelah memastikan penampilannya agar sedikit menarik karena pertama kali bertemu dengan Ansel setelah kepergiannya dua Minggu, Mayra langsung berangkat dengan sopir rumah, mengingat waktu makan siang akan segera tiba, Mayra langsung berangkat meninggalkan putrinya bersama sang mertua di mansion utama.


Saat di dapur tadi Mayra menginterupsi mertuanya agar tidak memberitahukan Ansel jika ia akan datang kekantor membawa bekal. Mayra ingin memberi suaminya kejutan , sekalian ingin mengunjungi kantor yang sudah lama sekali tidak ia datangi , ada kerinduan disana. Entah bagaimana kah bentuk ruangan Ansel yang sekian tahun ia tak datangi lagi.


***


'' Tuan , wanita itu telah tiba , '' lapor Max , Ansel langsung mengernyit mendengar laporan asistennya.


'' Secepat itu ? , tidakkah kau curiga Max ? padahal baru beberapa jam kamu menyuruhnya untuk menemuiku, tapi luar biasa !! Wanita itu tidak menunggu hari esok lagi. '' ujar Ansel menyeringai .


'' Dugaan kita benar Tuan, wanita itu begitu mengenal seluk-beluk jati diri keluarga anda. ''

__ADS_1


'' Saya, jadi penasaran . Bagaimana rupa wanita yang telah berani masuk ke kandang macan Julian. '' Ucap Ansel sinis.


'' Bagaimana keputusan tuan saja . Jika berkenan untuk mengenalnya langsung kita pertemukan Tuan dengannya. Lebih cepat pun lebih baik . '' Saran Max.


'' Ya, saya cukup penasaran dengan wanita itu . Berani sekali ia mengusik ketenangan ku . Panggil dia Max. '' Titah Ansel .


Max membungkuk hormat pada Bosnya. setelah itu ia langsung keluar dari ruangan Ansel , kemudian segea memanggil sekretarisnya Ansel untuk memanggil wanita tersebut.


Sekretaris Ansel langsung memanggilnya di ruang tunggu . Setelah itu Max langsung masuk kembali ke dalam ruangan Ansel.


Jaru Tangan Ansel saling mengait , sikunya di tumpu di tumpuan lengan kursi kebesarannya. Ansel bersandar duduk angkuh guna menyambut tamu istimewa, seorang wanita yang sudah lancang sekali menantangnya.


'' Tok.. tok...tok... '' Sekretaris Ansel mengetuk pintu.


Setelah di izinkan masuk , kedua pria itu langsung menoleh ke sumber suara. Sekretaris bernama Winda itu langsung mendorong daun pintu raksasa .


'' Tuan, tamu anda telah tiba, apa langsung saya izinkan masuk ? '' Tanya Winda sopan, meskipun penampilannya masih kurang sopan terbuka di mana-mana.


Max menoleh kearah Ansel, meminta persetujuan . Langsung saja Ansel mengangguk mengizinkan.


'' Suruh tamunya masuk, pergilah . ''


'' Baik Tuan Max '' Winda tersenyum manis.


Max tidak membalas senyuman Winda, pria es batu itu hanya melirik saja, setelahnya langsung saja ia kembali ke kegiatannya.


Suara sentakan sepatu kian terdengar di iringi langkahnya . Saat ansel menoleh ke arah pintu terlihatlah sosok wanita yang sudah berani menantangnya tersebut juga sedang menatap ke arahnya.


DEG...


Wajah dingin dan angkuh Ansel seketika berubah dengan raut wajah yang sulit di artikan, namun ada keterkejutan pada tatapan Ansel. Ia langsung saja berdiri mematung saat tatapan mereka beradu .


Sementara Max juga ikut berdiri mempersilahkan tamunya masuk.


'' Silahkan masuk Nona ''


'' Terimakasih , tuan. ''


Ansel masih bergeming di belakang mejanya. Sulit sekali di gerakkan sarafnya yang sedang menegang .


🤗 Happy Reading.

__ADS_1


__ADS_2