Antara Cinta Dan Pengorbanan

Antara Cinta Dan Pengorbanan
Anzela Erica Julian


__ADS_3

Sudah dua hari pasca operasi pencangkokan tulang sumsum belakang Ansel untuk putrinya, sejak hari itu Ansel belum juga membuka matanya.


Maura semakin bersedih dengan kenyataan yang terjadi. Ada suatu hal yang dialami Ansel saat operasi sedang berjalan dua hari yang lalu, hingga sampai saat ini suaminya itu masih betah tertidur dengan diamnya.


'' Bangunlah mas !, apa kamu suka melihatku menangis seperti ini. Bukannya kamu sudah berjanji akan kembali pada kami lagi. " Lirih mayra menangis pelan, seraya menggenggam tangan kekar Ansel suaminya.


" Putri kita sudah sembuh, Bangunlah sekarang dia juga merindukanmu sama sepertiku. Mas kumohon jangan seperti ini, aku tidak sanggup " Mayra masih betah menangis lirih di samping Ansel yang masih tertidur.


'' Bangunlah demi kami. Kamu berjanji dan harus ditepati ---"


" Bagaimana bisa aku pergi tanpa kalian, sayang . "


Suara tangisan Mayra langsung berhenti , kala suara bariton yang sangat dirindukannya , kini terdengar kembali.


" Mas !!, kamu sudah bangun ?aku merindukanmu..hiks...hiks...kumohon jangan tidur lagi , aku takut. " Dengan erat Mayra memeluk suaminya yang masih terbaring.


Ia tumpahkan segala kesedihannya selama dua hari ini di dada Ansel yang sudah tersadar kembali. Ansel tersenyum sedikit meringis menahan sakit , bekas luka operasi di punggungnya.


Beberapa saat kemudian, sekian lama Mayra menangis akhirnya ia tenang juga. Jangan tanya lagi bagaimana kabar tubuh Ansel yang terlalu erat dipeluk sang istri tentu menegang karena sakit, rintihan Ansel terdengar oleh istrinya. Mayra meleraikan pelukannya segera bangkit dari dada Ansel.


Pergerakan Mayra segera di halang Ansel , malahan tubuh Mayra semakin jatuh ke atas tubuh Ansel ,segera suaminya itu semakin mengeratkan pelukan pada Mayra.


" Mas, aku berat !. Ayo lepaskan dulu nanti luka operasinya terbuka kembali, jika itu terjadi luka itu segera harus di jahit kembali mas !! '' ucap Mayra menjelaskan.


'' Begini lebih baik, sayang. Naiklah dan tidur di sampingku. " seru Ansel menyuruh Mayra naik keranjangnya.


" Ta-tapi, nanti dokternya masuk gak mungkineihat kita seperti itu mas. " Tolak Mayra sedikit gugup.


" Aku tidak perduli dengan apa yang mereka pikirkan. Mayra Bramantyo adalah istri sah ku, terserah mereka mau berasumsi apa, suamimu hanya ingin kamu menemaninya tidur di atas brangkar ini. " ucap Ansel .


Mayra mengusap sisa air matanya lalu dengan pelan ia menaiki ranjang dan merebahkan dirinya di samping Ansel yang sudah bergeser, memberi tempat untuknya berbaring.


Kini mereka saling menatap dengan posisi berhadapan. Tangan Ansel terus menelusuri wajah sembab Mayra yang terlihat pucat.


" Kenapa selalu menangis ? setakut itukah kamu jika aku pergi ? " tanya Ansel dengan raut wajah sedih.

__ADS_1


" Aku belum siap menjadi janda mendadak. Dan juga takut putri kita menjadi yatim " Jawab Mayra bohong, masih enggan mengakui terlalu malu memulainya.


" Sebatas itu ?, jadi dua hari ini kamu menangis karena takut aku menjandakan mu ? " tanya Ansel kecewa, ia pikir Mayra takut kehilangan separuh jiwanya. Sungguh Ansel salah menduga.


Raut wajah Ansel seketika berubah dingin, ditarik tangannya yang sedang menyentuh wajah Mayra kembali setelah mendengar jawaban istri tercintanya itu. Mayra mengerti jawabannya tidak sesuai dengan keinginan sang suami.


" Kamu marah dengan kejujuran ku mas ! '' tanya Mayra pura-pura serius.


Ansel diam tidak ingin menyahut, hatinya dirundung rasa kecewa mendalam.


'' Lihat aku mas !, apa sedangkal itu perasaanku padamu bukan menangis karena takut berubah status yang kurasakan. Sejujurnya aku takut kehilangan pria satu-satunya yang terus-menerus bersarang di hatiku dan setiap saat menganggu pikiranku. Pria yang pernah membuatku hampir gila karena jauh darinya. Ansel Eric Julian kumohon jangan pernah berhenti mencintai kami, aku bersumpah kamulah pria yang aku cintai , selamanya. " Ungkap Mayra tulus, tetesan air matanya menjadi saksi kesungguhan cintanya kepada sang suami.


Ungkapan hati Mayra yang kedua kalinya mengungkapkan kata keramat, di dengar langsung dari mulut istrinya. Bukan main bahagianya Ansel kala ucapan itu terlepas tanpa beban dari dan istri, Direngkuhnya tubuh kecil Mayra dibawa kedalam pelukannya . Tidak ada hal lain yang diinginkannya sekarang ini, berada di dekat Mayra dengan cara yang halal, sungguh anugerah terbesar dalam hidup Ansel.


" Terimakasih telah membalas cintaku, sayang. Sungguh ucapannya itu menghangatkan jiwa ku sayang. Aku ingin mendengarkan lagi kata cinta itu ,sayang. Ucapkan lagi aku ingin mendengarnya. " ucap Ansel, berharap.


" Aku sangat mencintaimu ayah dari putriku. "


" Aku juga ,sayang . "


Ansel semakin erat memeluk sang istri, Mayra mendongak masih bingung dengan ucapan suaminya tadi, " Mas, bagaimana bisa kamu tahu selama dua hari ini, aku menangisi mu ? '' Tanya Mayra bingung serta penasaran.


Mendengar tentang bayinya, Mayra semakin bersemangat menjawab.


" Alhamdulillah, mas kesembuhannya berjalan lancar. Bahkan sekarang ini aku sudah bisa memberikan ASI ku padanya secara langsung, aku bahagia akan hal itu mas. " Ujar Mayra girang.


''Hufff.... aman, belum saatnya Mayra tau apa yang terjadi. Bisa mengamuk nanti kalau semua terbongkar " Ucap Ansel dalam hati.


***


Kedua orang tua Mayra telah bersabda dalam ruangan rawat Ansel.


" Cantik, seperti kamu sayang " ungkap Ansel saat menatap bayinya sedang tidur di pangkuan Mayra .


" Dia lebih mirip kamu ,mas. Benarkan mah...putri kami bagai ayahnya perempuan. "

__ADS_1


''Ia ,sayang. Putri kalian memiliki kemiripan campuran dari mana dan papanya " pungkas Fina yang sedang duduk di sofa bersama Bram sang suami.


" Nah, segalanya telah selesai. Dari pertemuan ,pernikahan serta operasi berjalan dengan lancar. Papa sama Mama juga ingin tahu nama bayi kalian. Kira-kira orang tuanya sudah punya nama apa belum ya " Celoteh mama Fina penasaran.


Mayra menanggapi ucapan Fina dengan senyuman. Lalu ia menoleh kesamping suaminya.


" Mungkin saja , papanya sudah memikirkan nama untuk putrinya ? '' Ucap Mayra.


Seakan memberi hak penuh pada Ansel untuk memberikan sebuah nama terbaik untuk sang putri.


Di elusnya pipi gembul kemerahan bayinya, '' Akanku namai putriku dengan nama Anzela Erica Julian. " ucap Ansel senang dan bangga telah membubuhi nama untuk sang putri.


Mendengar nama tersebut, semua orang menatap Ansel bingung keheranan. Terlebih Mayra melongo mendengarnya.


" Mas, bukannya itu nama mu ? Kenapa nama yang sama dengan ayahnya kamu bubuhkan pada putri kita, hanya ditambahkan sedikit saja bedanya, tapi lebih condong mirip loh mas? " tanya Mayra bingung.


" CK...Itu namanya sudah aku pikirkan sebelum kita jumpa sayang. Mulai saat ini papa akan memanggil putri papa Anzela " ucap Ansel pada putrinya sembari menoel hidung mungil putrinya, hingga membuat semuanya diam. Sungguh jiwa papa muda, seenaknya memberi nama pada putri mereka.


" Lalu , jika nantinya ada yang memanggilmu apa tidak akan tertukar ?" tanya Mayra hati-hati, takut si pemberi nama marah. Ansel pemuda sulit di bantah.


" Dunia pun tahu, tidak ada yang berani memanggilku dengan sebutan itu. Kecuali istri nakalku ini " Menarik hidung Mayra lembut.


"Alasannya kenapa?, Bukankah nama Ansel itu bagus panggilannya serta bagus artinya. " tanya Mayra penasaran.


Ansel melirik Fina dan Bram yang sedang memperhatikan mereka. Yang ditatap pun tidak enak hati dan langsung mengalihkan pandangannya ke gawai masing-masing.


Mayra melihat orang tuanya itu seperti tidak ingin mengetahui hal selanjutnya.


Ansel langsung menatap kembali istrinya.


'' Kamu penasaran dengan jawabannya ? '' Mayra mengangguk antusias.


" Nanti setelah malam pertama kita " Bisik Ansel kemudian. Mayra kesal tentu saja jawabannyaasih sangat lama.


" Kamu curang !! '' ucap Mayra merungut.

__ADS_1


Bram dan Fina pun masih bisa mendengar bisikan-bisikan dua sejoli tersebut, hanya di tanggapi dengan senyum bahagia,sambil menyibukkan dirinya masing-masing takut mengganggu ceritanya.


😘 TbC


__ADS_2