
Esoknya pun tiba . Karena hari ini adalah hari Minggu otomatis Ansel juga libur kerja . Rencananya hari ini mereka bertiga dengan bayi mereka akan berkunjung ke rumah orangtuanya Mayra .
Semua barang-barang milik Anzela sudah selesai disiapkan . Karena rencananya mereka akan menginap semalam di mansion keluarga Bramantyo .
" Sudah siap semuanya ? "
Ansel berjalan menghampiri Mayra menggendong bayi Anzela di tangannya .
" Sudah , Mas . Oh ya, Mommy ikut juga dengan kita ? " tanya Mayra sembari menata menutupi tas barang bayinya .
" Sepertinya Mommy tidak ikutan sayang . Tadi sudah duluan ngomong , Mommy ada perkumpulan arisan hari ini , jadi gak bisa ikutan " Ujar Ansel .
Baby Anzela terus memainkan bibir Ansel dengan tangan mungilnya saat ia sedang berbicara dengan Mayra .
Tidak hanya bibir yang Anzela mainkan , Baby Anzela berusaha mendekati mulutnya ke dada Ansel yang belum memakai baju dengan mulutnya .
" Kamu haus ya , Nak ? sayangnya asupannya ada sama Bunda . Tunggu Bunda selesai dulu ya '' Ucap Ansel pada putrinya , Baby Anzela seakan mengerti ucapan sang Papa agar mau bersabar menunggu bundanya menyelesaikan semuanya .
Semua selesai , hanya tinggal membawanya ke mobil . Dari kejauhan Mayra menyaksikan interaksi antara ayah dan anak itu , ia tersenyum hangat mendapati mereka dalam keadaan bahagia . Mayra menghampiri keduanya , terlihat bayi mungil cantiknya seperti kehausan karena terus saja mencoba meraup daging di dada papanya .
" Anzela haus ya , Pa ? "
" Ia , Bun . Tapi putri kita ini anak yang patuh , dia sanggup nungguin Bundanya yang sedang sibuk " Mayra mengangguk sembari tersenyum .
" Ayo sayang kita mimik dulu . Maafin Bunda ya , bikin adek nunggu . "
Mayra duduk di sofa tepat di samping Ansel . Seakan tak enggan lagi , setelah mengambil alih putrinya . Iapun segera membuka dua kancing baju tuniknya kemudian di keluarkan salah satu gunung kebanggaan Ansel lalu memberinya pada Anzela .
Bayinya langsung menikmati asupan miliknya dengan nyaman . Ansel yang sejatinya pria mesum pada istrinya langsung menyibukkan diri dengan benda pintarnya . Ia sengaja beralih memainkan ponsel tersebut agar tidak menyerang Mayra yang berhasil menggoda nya.
Baginya Mayra adalah candunya yang tidak pernah membosankan . Di manapun dan kapanpun Mayra selalu sama tidak ada yang memudar dari istrinya , tetap selalu manis dan nikmat .
'' Sudah . Sana Mas, pakai baju mu , sudah aku taruh di ranjang . Anzela udah bobok , tinggal kamu yang belum siap " Ucap Mayra bangkit dari sofa , kemudian menidurkan bayinya di ranjang sambil menunggu Ansel berbenah dulu .
__ADS_1
" Baiklah " Tanpa banyak bicara , Ansel meletakkan ponselnya lalu Ia beranjak ke tempat tidur dimana pakaiannya sudah tersedia di sana . Mayra langsung membantu suaminya mengancing kemeja panjang yang sedang di kenakan .
" Kamu cantik sekali sayang , gak rela wajah cantikmu ini di lihat oleh yang lain di luar sana " Goda Ansel sambil menggulung lengan kemejanya .
" Udah gak usah ngaco deh . Perasaan dari dulu wajahku gini-gini aja ! gak ada yang berubah sama sekali . Kenapa posesif suamiku ini berlebihan banget sih " balas Mayra sembari fokus mengancing baju suaminya .
" Masak sih sama . Penilaian ku , kamu semakin cantik setelah melahirkan putriku . Berbeda dulu kamu itu muslimah tapi kesannya agak tomboy . Dan sekarang aku melihatmu wanita sempurna , bahkan semua bentuk tubuh dalammu sangat sempurna sekali . Sesuai bayanganku '' Bisik Ansel tersenyum menggoda .
" Dasar mesum kamu Mas ! , Jadi dulunya pikiran kamu ngeres ya . Terus saat kamu menyentuhku pikiran kamu udah anu-anuan ya !! '' Mayra memerah kesal dan malu dengan ucapan asalan suaminya .
'' Kalau tidak berpikir kesana , ntar dikiranya aku ini belok dong !! gak suka cewek " Kilah Ansel membela diri .
" Baru tahu aku loh , Mas . Ternyata tuan muda Julian orangnya recehan . Luarnya aja kelihatan garang dan dingin . Tapi kalau di dalam mesumnya gak ketulungan " Cibir Mayra .
Ansel terkekeh menanggapi ejekan isterinya . Terkadang tangan nakalnya susah untuk diajak damai , jika Mayra lawannya .
" Mas , diam dulu . Aku susah ngancingin baju kamu " Keluh Mayra .
" Banyak alasan "
'' Sama istri sendiri Halal . Hitung-hitung ibadah sayang "
Mayra mendengus saat sikap Ansel yang dianggap nya menyebalkan terlihat dari raut wajahnya .
Beberapa saat kemudian .
Mayra baru mengingat suatu janji yang pernah di utarakan oleh suaminya kala mereka sedang berada di Italia , tepatnya baru saja menikah .
Mayra melirik arloji di tangannya , ternyata waktu mereka masih banyak . Kebetulan waktu tersebut akan di gunakan untuk menagih janji suaminya , sekalian biar tidur nyenyak putrinya tidak di ganggu dulu .
'' Mas , kita ke balkon dulu yuk ! ada hal yang penting ingin aku bahas segera dengan mu . ''
Ansel mengernyit , menaikkan sebelah alisnya . Dari raut wajah Mayra tampak tersirat sesuatu yang akan menyerang sesuatu dalam dirinya .
__ADS_1
Mayra terus menyeret tubuh besar Ansel sekuat tenaga . Ansel hanya mengikuti langkah istrinya kemanapun Mayra membawanya . Ia yang tadinya hanya berdiri langsung terseret tanpa adanya perlawanan .
" Ada apa , sayang ? " tanya Ansel setelah sampai di balkon .
" Sebentar ! ''
Mayra meninggalkan Ansel untuk menutupi pintu penghubung kamar dan balkon kamar . Kemudian Ia kembali menghampiri Ansel yang masih menatapnya bingung dengan posisi masih berdiri .
" Duduk lah , Mas '' Titah Mayra menarik lengan Ansel supaya duduk .
" Kamu kenapa , sayang . Sikap kamu kok tiba-tiba aneh , ngeri deh " Ucap Ansel pura-pura ngeri .
" Ishhh kamu apaan sih . Memang aku horor , palingan kamu itu yang mengerikan , hidupmu itu penuh misteri rupanya . " Tanpa basa Basi Mayra langsung menyandung masa lalu Ansel , tapi Ansel belum peka rupanya .
" Wajah kamu itu , lain daripada yang lain . Suamimu ini senangnya lihat wajah kamu yang lagi enak-enakan . Kalau gini mana enak '' protes Ansel .
" Sudah , jangan nyenggol-nyenggol masalah ranjang . Mumpung lagi ada waktu , kamu jelasin deh masa lalu Kamu . Bukannya kamu berjanji setelah melakukan malam pertama , kamu akan memberitahukan pada ku penyebab larangan orang memanggilmu dengan nama " Ansel " , Padahal bagiku nama itu begitu bagus artinya '' Tagih Mayra serius .
Seketika wajah Ansel berubah pias . Mayra mengerti jika di telisik dari segi raut wajah Ansel , nama tersebut seakan penuh misteri . Namun rasa penasarannya sudah tak terbendung lagi. Mayra sekarang bukanlah pacarnya yang boleh memprivasikan masa lalu , Sebagai istri Mayra harus tahu alasan di balik larangan memanggil nama tersebut .
'' Sayang , kenapa membahas hal yang tidak penting begitu . Ayo jangan buang-buang waktu , kita harus segera pergi ke rumah Papa mu " Ucap Ansel seakan menolak tanya Mayra .
'' Aku tidak akan beranjak sejenak pun sebelum kamu jujur padaku . Aku bukan ingin mencampuri masa lalu mu , Mas . Tapi tepatnya aku menagih kejujuran yang pernah kamu janjikan , masih ingat kapan janji itu kamu ucapkan ? setelah pernikahan kita "
Ansel bergeming menatap Mayra yang terlihat sedang menunggu penjelasannya . Ansel yakin jika kebenaran itu tidak di ungkap maka sudah pasti Mayra akan kecewa berat terhadapnya .
" Cepat , mas . Apa lagi yang sedang kami pertimbangkan ? Jelas aku ini istri sahmu , dan aku berhak tahu kenapa kamu marah saat orang-orang memanggilmu " ANSEL '' , padahal aku sangat nyaman dengan nama tersebut "
Tidak tega juga menyaksikan kekecewaan Mayra nantinya jika dirinya tak mau terbuka dengan sang istri . Ansel langsung menghela nafas berat , terpaksa ia mengangguk mengiyakan kemauan istri tercintanya.
'' Baiklah , aku akan menjelaskan kisah masa laluku . Tapi Aku minta padamu saat aku menceritakan semuanya tolong jangan menyela sedikitpun , cukup dengarkan saja . Setelah cerita selesai kamu boleh bertanya dan aku akan mencoba menjawab semampuku " Mayra mengangguk menyetujui .
TBC
__ADS_1