
" Sayang...kenapa menutupi wajahmu dengan bantal seperti itu, Kemarilah ! " Ansel terus mengelus bahu Mayra yang terbaring membelakangi suaminya.
" Tidak mau ! " Tolak Mayra karena malu , yang awalnya meronta , tapi ujung-ujungnya istrinya itu ternyata lebih agresif darinya.
" Aku suamimu sekarang , kenapa terus bersembunyi seperti ini. Ayo kemarilah, jangan malu-malu seperti itu, pada akhirnya tubuhmu itu milikku juga sayang, meskipun saat ini aku harus berpuasa di saat semua pengantin baru masih dalam fase enak-enak nya. " Ujar Ansel bergantian mengelus kepala istrinya.
Ucapan Ansel berhasil membuat Mayra semakin merasa bersalah , karena sempat menolaknya tadi. Bahkan sebelum menyelesaikannya, Mayra hampir membuat suaminya terjatuh dari brangkar tempat tidurnya , tapi tubuh kekar itu mampu mengimbangi dirinya sendiri.
Akhirnya Mayra menekan rasa malunya yang telah bergantian dengan rasa bersalah , bangkit dan duduk kembali, kemudian menatap suaminya dengan penuh penyesalan .
" Maafkan aku mas. Harusnya aku tidak berlaku seperti tadi . " Ucap Mayra tidak enak hati, menunduk di depan suaminya.
Dagu Mayra diangkat Ansel, bahkan wajah mereka begitu dekat. Dia pasang mata saling menatap menyelami netra masing-masing, hingga sesuatu terus menggelitik naluri Ansel yang Ingin melanjutkan kembali. Tapi Ansel terus berusaha menekan hasratnya agar sang istri bisa lebih tenang.
Mereka baru saja bertemu kembali, serta barusaja menikah. Tidak mungkin Ansel melakukannya dengan menggebu-gebu. Harus ada pengenalan antara mereka kembali, agar Ansel dan Mayra lebih nyaman dan sukarela saling memuaskan.
Tangan Ansel membelai kepala istrinya yang masih tertutupi kerudung. Mayra masih belum memperlihatkan rambutnya itu, ada keinginan dari dirinya segera melihat mahkota sang istri yang selama ini di tutupi pada semua orang, termasuk dirinya saat belum halal.
" Aku tidak menyalahkan mu sayang. Pernikahan ini murni atas keinginanku, jadi apabila kamu tidak bisa melayaniku . Itu bukanlah sebuah kesalahan maupun dosa , karena tujuan pernikahan ini bukanlah nafsu, melainkan ketakutan ku akan hilangnya dirimu kembali. Aku mengikatmu dalam keadaan seperti ini agar kita selalu bersama dalam keadaan yang halal, sesuai keinginanmu terdahulu, Sekarang istriku sudah tahu maksud dan tujuan ku menikahi mu secepat ini ? " Mayra mengangguk menyentuh tangan Ansel satunya dengan lembut.
Rasa cintanya yang tulus pada suaminya semakin besar . Ansel berhasil membuktikan dirinya adalah pria yang hanya mencintai satu wanita saja. Meskipun pria itu memiliki nafsu bergejolak besar dapat ditahannya demi cinta seorang wanita yang telah lama di nantikan hadir dalam hidupnya untuk selamanya.
" Tapi ada hak ku, yang tidak ingin aku urungkan dan ingin sekarang juga kudapat kan. Apa istriku sanggup memberikannya. Dan ini juga termasuk kewajiban seorang istri pada suaminya. " Ucap Ansel membuat bulu kuduk Mayra merinding.
__ADS_1
Pikirnya Ansel akan mengurungkan niat yang tidak mampu ia berikan pada sang suami untuk sementara. Tapi kini Ansel malah meminta hal itu kembali.
Ansel sengaja tidak memperjelas terlebih dahulu pada Mayra ,keinginan apa yang dia maksud. Menunggu respon dari istrinya dengan ekspresi yang terlihat. Rupanya benar tebakan Ansel, istrinya masih menjurus kearah intim lagi.
Terlihat jelas, wajah istrinya khawatir dengan dalih salah pahamnya kembali menerka keinginan yang Ansel pinta.
" Kenapa ? kamu tidak ikhlas memberiku hak yang lainnya ? " Tanya Ansel berteka-teki dengan sang istri.
Tangan Mayra saling menggenggam menetralkan rasa was-was nya kembali.
" Mas, tadi kita sudah membicarakannya bukan ? Kenapa mas masih belum mengerti juga. Bukannya aku tidak mau menjalankan kewajiban itu. Tapi agama melarangnya mas , " Lirih Mayra menunduk.
" Aku tidak memaksamu untuk melayaniku sayang . Padahal aku sudah menutup rapat keinginan tersebut, mengapa istriku masih juga membahasnya. Apa itu keinginanmu ? " selidik Ansel , padahal dihatinya Ansel tertawa keras dengan tingkah polos sang istri.
" Awww....sakit sayang " Ringis Ansel pura-pura sakit. Padahal cubitan Mayra tidak berasa apa-apa pada tubuh kekarnya . Ia hanya ingin mengetahui respon istrinya itu seperti apa .
" Gak usah manja deh mas ! itu aja sakit , padahal cubitan ku lembut. Mas aja suka lebay... " Ucap Mayra seadanya karena kesal dengan Ansel yang terus berspekulasi tentang dirinya .
Ansel tersenyum kembali bahagia saat wanitanya kembali Kejati dirinya sendiri.
" Makanya kalau suami ngomong itu jangan di sela dulu, salah paham kan ujungnya ? " ujar Ansel menarik istrinya yang masih terlihat kesal kedalam pelukan.
" Lalu kalau, gak kesana maunya . Terus mas pengen aku jalankan hak yang seperti apa ? " Mayra memberanikan diri membalas pelukan Ansel yang terasa damai dan nyaman.
__ADS_1
" Untuk malam pertama kita, aku minta kamu melepaskan hijab mu didepan ku. Sekarang kita sudah halal sayang, tidak perlu ada lagi yang harus ditutup - tutupi, aku berhak atas dirimu. Meski saat ini aku boleh melihatmu dari kepala sampai pusat saja. Tapi malam ini aku tidak meminta lebih, cukup perlihatkan saja bagaimana isi didalam kerudung istriku ini. " Jelas Ansel sembari mengelus kepala Mayra di balik kerudungnya ,mengutarakan keinginannya.
Perlahan pelukan itu Mayra uraikan. Dengan seksama ia menatap mata suaminya ,menelisik setiap sisi wajahnya yang begitu terlihat banyak harapan tersirat di sana.
" Kamu berhak melihatnya,suamiku. " Perlahan Mayra membuka pentul di dagunya . Dengan pelan Mayra menarik hijab tersebut sambil menatap Ansel yang tidak berkedip sama sekali saat rambut lurus hitam panjang yang dicepol terlihat nyata di depan Ansel.
Beberapa kali Mayra melihat Ansel meneguk ludah saat menatapnya tanpa berkedip. Ansel menelisir mahkota kepala istrinya dengan rasa kagum yang luar biasa.
" Subhanallah...Mayra kamu sungguh sempurna sayang. Kamu lebih cantik tanpa hijab. Begitu juga dengan lehermu sayang, begitu lembut dan jenjang , terimakasih telah menjaganya untukku. " Puji Ansel yang takjub pada sosok istrinya.
" Sudah kewajiban ku mas, menjaganya untuk suamiku kelak. Rupanya takdir menentukan jika mas lah yang ditunjukkan Tuhan untuk melihatnya. "seru Mayra , membalas tatapan lembut Ansel dengan bahagianya.
" Tidak ada alasan lagi untuk memilihmu sayang menjadi istriku. Kau begitu sempurna, wanita cantik serta Sholeha. Aku bersyukur jika Tuhan telah memilihku untuk mendampingi wanita sempurna seperti mu sayang " Ungkap Ansel sungguh tidak percaya dengan takdir baiknya.
"Jangan memuji makhluk-NYA berlebihan mas. Aku hanya seorang manusia juga menerima takdir dari sang pencipta. "
Tanpa kata lagi, segera mungkin Ansel memeluk lehernya Mayra , mengecup seluruh leher sang istri penuh kelembutan.
Sementara Mayra yang di perlakukan seperti itu, langsung terasa geli dan sedikit menggelitik libidonya. Hingga suara tak di undangnya terdengar jelas keluar dari mulut Mayra .
Tanpa sadar Mayra mendesah lirih, membangkitkan energi Ansel yang sejak tadi ditekannya. Kelakuan Ansel semakin menjadi-jadi, tidak hanya mengecup leher putihnya Mayra. Suaminya terlalu terlena dengan kebuasannya tanpa menyadari jika Ansel sudah terlalu banyak memberi cupangan di leher putih Mayra yang menggemaskan.
" Mas ---" Keluh sedikit mende***, Mayra baru sadar jika suaminya masih enggan melepaskan pangutan mulutnya di leher Mayra.
__ADS_1
😘 Tbc