Antara Cinta Dan Pengorbanan

Antara Cinta Dan Pengorbanan
Tuduhan Menyakitkan


__ADS_3

Dari ambang pintu Nayla dengan cepat melangkah bahkan ia tidak menyadari jika dirinya begitu santainya berjalan tanpa adanya rasa sakit sedikitpun.


''Lepaskan Mayra Mas...'' Bentak Nayla menarik sang adik dari dalam pelukan Ansel yang sudah mengurai.


Mayra langsung memeluk Nayla dengan tubuh yang masih bergetar terasa dalam pelukan Nayla jika adiknya benar-benar ketakutan pada pria di depannya.


''Kakak aku takut...,aku takut...'' Tangis Mayra ,kini ganti Nayla yang menenangkan adiknya.


''Tenanglah, kakak ada di sini '' Ucap Nayla menenangkan.


Nayla kembali menatap lelaki yang masih diam menatap keduanya.


''Mayra jelaskan pada ku, kenapa kamu takut melihatku sayang. semalam kita baik-baik saja...kenapa sekarang aku begitu menakutkan bagimu. '' Selidik Ansel menatap keduanya yang sama-sama masih menangis.


Mayra menggeleng, dia masih mengumpulkan keberanian untuk dapat menatap Ansel.


''Dek ...Jelaskan kamu tidur di mana semalam ? ''


''Di kamar Keysha Kak '' Lirih Mayra menjawab masih dengan posisi memeluk Nayla.


''Semalam tidak terjadi apapun dengan kamu ,kan...? '' Mayra menggeleng berbohong agar dirinya bisa segera meninggalkan pria bejat tersebut.


Awalnya Mayra pasrah menerima takdir dengan kejadian semalam. Rencananya dia akan mengatakan semua pada Nayla ,namun dengan tragedi yang terulang kembali mengarah pada kakaknya, Mayra kembali berfikir untuk menerima Ansel yang justru sudah melakukannya dengan kakaknya juga.


Dalam ke terdiamannya, Ansel memutar ingatan kejadian semalam. ada yang salah dengan dua wanita di depannya.


Yang satu mendapati tidur seranjang dengannya dengan tubuh sama-sama polos. Dan yang satunya lagi begitu ketakutan melihat dirinya pagi ini, jauh berbeda dengan tadi malam.


''Nayla pakai segera bajumu,kita harus bicara masalah ini segera,termasuk kamu Mayra '' titah Ansel berubah dingin menatap mereka tajam dan datar.


Ansel kembali terlebih dahulu ke kamar dan segera memakai pakaian lengkapnya yang tercecer di mana-mana.


Dari jarak jauh Ansel seperti melihat sesuatu yang terasa tidak asing dengannya. Segera dipungut batang tersebut lalu di masukkan ke dalam saku jasnya.


Sedikitpun Mayra tidak menatap Ansel saat melewati mereka, raut ketakutan masih terpancar jelas di wajah gadis tercintanya.


Nayla dan Mayra masih bergeming berdiri berdua saat Ansel ingin keluar dari kamar tersebut. Langkah Ansel terhenti lalu berbalik dengan gagahnya menatap serius kearah keduanya .

__ADS_1


'' Aku tunggu kalian di kamar 2108 , jika kalian tidak datang maka aku akan membuat semuanya sulit . '' ujar Ansel dingin.


Tidak ada jawaban, kedua gadis itu masih diliputi rasa sedih dan takut.


Setelah pintu itu tertutup, seketika Mayra merosot jatuh kelantai lalu menangis histeris di sana.


Nayla ikut duduk di lantai menyamakan dengan Mayra.


''Kamu kenapa sebenarnya, seharusnya kakak yang histeris seperti kamu,tapi kenapa kamu yang merasakan rasa takut itu May...? '' ucap Nayla lembut sembari menenangkan sang adik.


''Kakak ku mohon ,kakak saja yang bertemu dengan Ansel. Aku tidak mau . '' Tolak Mayra Keukeh.


''Jelaskan Kenapa?, apa karena dia meniduri kakak ? . ''


Mayra tidak menjawab. Ia trauma dengan kejadian pagi ini, dimana Ansel memeluknya dengan tiba-tiba mengingatkan dirinya dengan adegan paksa semalam.


''Baiklah, jika sudah siap berbagilah dengan kakak...'' Mayra lega karena kakaknya begitu pengertian dengan kondisinya.


Nayla membawa sang adik ke sofa, agar lebih tenang setelah kejadian jeritan tadi.


Sesungguhnya hati Nayla begitu sakit mendengar jeritan Mayra yang sama sekali tidak pernah terjadi. Hingga saat adegan mesra tersebut Nayla tidak merasakan cemburu,di karenakan hatinya begitu perih dengan tangisan sang adik.


***


" Kenapa aku bisa tidur dengan Nayla!!! ,coba ingat Ansel siapa sesungguhnya wanita yang kamu renggut paksa mahkotanya semalam...ahhh !! semua buntu...dasar bodoh..bodoh...''


Pukulan itu terus berlanjut secara membabi buta hingga dilantai mengalir darah segar begitu pekat.


Tidak dirasanya lagi rasa sakit itu, semua kalah dengan rasa sesak saat mengingat kekasih hatinya begitu takut saat dia dipeluknya.


''Aku yakin semalam aku melakukannya dengan orang lain ,tapi kenapa aku bersama Nayla . Lalu apa maksud dari perubahan Mayra pagi ini. Dan wajahnya kenapa sembab bahkan bibirnya terdapat banyak luka. Ya aku yakin dengan tebakanku,semoga saja benar...'' secercah harapan menimbulkan senyum bahagia untuk Ansel ,seakan petunjuk semakin memperjelaskan teka teki kedua gadis tersebut.


***


''Ya ampun Mayra ,kenapa kamu bisa setoledor itu. Tidak kak Nayla juga mengalami hal itu. Jika Ansel tahu kalau aku juga mengalami hal yang sama dengan kak Nayla ,aku tidak yakin Ansel mau bertanggung jawab pada kakak. Aku tidak mau kak Nayla kembali kritis akibat kejadian malang yang menimpanya... '' Gumam Mayra cemas.


Dengan ke Cerdasannya Mayra langsung bertindak sebelum semuanya menjadi semakin rumit. Biarlah dirinya menanggung derita sendiri dengan fisik dan psikis yang kuat, berbeda dengan kakaknya yang akan berujung musibah kala sakitnya kembali kambuh.

__ADS_1


Setelah menulis sesuatu Mayra langsung beranjak keluar dari kamar, namun langkahnya terhenti saat tertangkap sebuah noda di seprai putih yang sudah mengering.


''Apakah itu darahku ,atau kak Nayla...,akhir dari semuanya Ansel yang sudah menghancurkan keduanya '' Lirih Mayra menitikkan air mata.


Masih teringat bayangan semalam di kamar ini,Ansel telah berhasil meneguk manisnya madu. Sedangkan dirinya kembali menelan pil pahit kehidupan nyata. Ia harus terus melanjutkan hidupnya meskipun rasa traumanya begitu menyakitkan.


Sudah pasti dengan menjauhi Ansel banyak kebaikan yang di dapatinya ,Mayra akan sembuh dari trauma. Dan Nayla akan menggapai cintanya juga. Meskipun masih berat menjalaninya Mayra pasrah akan takdir tuhan yang telah menggariskan jalan hidupnya . Tinggal dirinya cara menyikapinya bagaimana...


''Maaf kak Nayla,aku harus meninggalkan kakak disini bersama dengannya. Kalian yang berhak menyelesaikan semuanya, aku akan mundur demi kebaikan bersama...dan maaf juga untuk mu Mas tidak mengindahkan perintahmu...jujur aku belum siap bertatap wajah dengan mu, sekelebat bayangan menyakitkan terus menggangguku...aku pergi ,selamat tinggal semuanya. '' Lirih Mayra dengan hati perih dan sesak.


Mayra segera keluar dari kamar setelah meletakkan sepucuk surat di atas nakas, Ia pergi mengambil kopernya. Sampai di lobi Mayra memanggil taksi tentunya setelah melakukan Check out .


Ia dengan cepat memesan tiket pesawat via online Rute Bali- Jakarta ,setelah selesai ia langsung menuju ke bandara .


Panggilan operator pesawat begitu menggema . Menandakan jika Pesawat akan segara take off.


Dengan langkah gontai yang menyedihkan, Mayra memasuki area keberangkatan dengan menutup dirinya menggunakan masker juga kaca mata hitamnya menutupi luka di bibir serta mata yang bengkak akibat sepanjang malam hingga pagi ini Mayra menangis.


***


'' Di mana Mayra ? Kenapa kau datang sendirian '' Tanya Ansel dingin sesaat setelah Nayla mendatangi kamarnya.


''Mayra tidak ada di kamar. '' Sahut Nayla jujur.


''Pasti itu ulahmu bukan !! , kau sengaja menahannya di kamar dengan alih alasan yang tidak logis seperti ini. '' Kecam Ansel bringas.


Tentu saja Nayla tidak terima atas tuduhannya yang tidak benar. Sudah cukup hari ini Nayla dirugikan secara fisik dan mental.


''Aku datang kesini bukan atas kemauan ku mas,jika pembicaraan ini hanya untuk memojokkan ku ,sebaiknya aku keluar saja dari sini. Percuma semuanya. '' Geram Nayla sudah lelah dengan anggapan yang merugikannya.


''Kamu mau kemana ? '' Bentak Ansel saat Nayla akan membuka pintu.


''Tentu saja mencari adikku yang sudah duluan pulang ke Jakarta . '' Ketus Nayla dengan beraninya dia langsung meninggalkan pria pemarah tersebut yang masih menatap dirinya dengan asumsi sendiri.


''Aku harus menyusul Mayra, banyak yang harus di jelaskan nya atas semua kejadian ini. Kenapa sebenarnya kamu dek!! ,harusnya kakak yang merasa terpukul. Tapi melihat kejadian tadi ,sepertinya kamu lebih menderita lagi di banding kakak...'' Gumam Nayla sambil berkemas ingin menyusul sang adik yang sudah duluan pulang.


Dari sepucuk surat yang ditinggalkan Mayra menunjukkan jika Mayra sudah kembali, meskipun Mayra tidak menulisnya di sana.

__ADS_1


''Tunggu kakak sayang,kita akan menghadapinya bersama...'' Lirih Nayla sendu.


🥺 Happy Reading....


__ADS_2