
Tok...tok...tok...
Segera Mayra memasukkan kembali sumber makanan Anzela kedalam bajunya. Ia bangkit dari tepat tidur setelah itu memposisikan bayinya dengan benar agar tidak terjatuh, bayinya itu sedang bergerak-gerak bebas setelah dahaganya tuntas.
Dengan langkah cepat, Mayra mencapai handle pintu lalu segera dibukanya.
'' Bi Lasmi !? ''
'' Maaf Nona, menganggu istirahat Anda. Baru saja Nyonya Raisa mengabarkan jika Tuan Eric melakukan perjalanan bisnis dengan waktu tak tentu kapan selesainya. ''
Mayra terdiam sesaat, namun rasa khawatir Bi Lasmi memaksa senyuman itu harus di terbitkan.
'' Oh, terimakasih atas informasinya BI Lasmi. ''
'' Sama-sama Nona, Sekalian saya ingin memberitahukan tadi nyonya Raisa memberi tahu jika Nona jangan lupa makan, dan terus jaga kesehatan Nona , seminggu lagi Nyonya menginap di Jerman setelah semuanya selesai Beliau akan kembali. ''
'' Baik Bi, akan Mayra ingat. ''
'' Kalau begitu Bibi pamit dulu ke bawah, permisi Nona. '' Mayra hanya mengangguk dengan gurat kekecewaan yang mendalam.
Ditutup kembali daun pintu besar itu. Mayra masih bergeming menyandarkan tubuhnya di balik daun pintu, tak terasa lirihan tangisan pilu itu kembali menderanya. Sudah seminggu sang suami pergi tanpa kabar setelah malam itu, Ansel pergi tanpa pamit pada istrinya.
Hatinya kembali teriris lagi, saat tahu jika ia sempat menghubungi ibunya namun susah untuk menghubunginya. Di tambah lagi ponsel Ansel tidak dapat di hubungi, begitu banyak terkaan yang bermain di otaknya.
Entah apa yang terjadi sebenarnya, Mayra tidak tahu. Demi baktinya pada sang suami, Mayra selangkah pun tidak keluar dari rumah sebelum mendapatkan izin dari kepala keluarganya. Terkecuali jika Raisa ada di rumah , dari Mommy Raisa Mayra juga bisa minta izin sesuai keterangan dari suaminya sendiri. Mayra menganggap Ansel dan ibunya adalah orang yang sama, bertanggung jawab atas kehidupannya.
Bayi mungilnya terus mengoceh riang. Mayra terus menyaksikannya dengan Isak tangisannya yang terbungkam. Mayra tidak ingin seluruh rumah mengetahui jika saat ini dirinya sedang rapuh dan kecewa dengan sikap sang suami tidak terbuka kepadanya. Harusnya janjinya yang di ucapkannya saat di Italia waktu itu tidak di ingkari.
__ADS_1
Bukankah, Ansel dan dirinya sama-sama akan saling menjaga perasaan masing-masing, dengan keterbukaan tapi sekarang Ansel sendiri malah melanggarnya. Bukan karena takut Ansel berbuat yang tidak-tidak disana, tetapi perasaan Mayra cenderung merasa khawatir takut terjadi apapun pada suaminya.
Setelah puas menangis di pintu kamarnya. Mayra melangkah gontai dengan jiwa yang terguncang menghampiri putrinya yang sedang tersenyum kearahnya.
'' Hai, Princess Bunda. Kamu lagi kuatin bunda ya ? Maaf Bunda gak tahan lagi dengan sikap papamu Nak , Bunda kecewa padanya. Harusnya Papamu mengabarkan kepada Bunda terlebih dahulu, bukan yang lainnya. Disini Bunda begitu khawatirnya pada Papamu... Kuat ya sayang. Bunda juga harus kuat karena kamu Cantik '' Ucapku pada Anzela, seakan Mayra sedang curhat pada putrinya , Sungguh miris rasanya.
Mayra merebahkan dirinya di samping Anzela, telunjuknya terus dimainkan oleh baby Anzela yang sedang aktif-aktifnya. Mayra sungguh terhibur dengan segala ocehan putrinya yang belum begitu jelas terdengar. Rasa sesak yang tengah menggeluti dirinya sirna sesaat, tapi kalau sang buah hati kembali terlelap, rasa itu kembali menyakiti hatinya. Segera Mayra menunaikan kewajibannya sebagai hamba Tuhan dengan rutin ketika waktu by tiba.
***
Seminggu kemudian
'' Terimakasih atas kerjasamanya Inspektur , mungkin tanpa bantuan anda kasus ini sulit terpecahkan. '' Ucap Ansel Sam menjabat tangan Inspektur Hadi.
'' Sama-sama Tuan, sudah tugas kami sebagai petugas keamanan negara . Saya juga berterimakasih atas segala kebaikan anda yang ikut nimbrung dalam penyelidikan kasus yang telah menyentil nama baik perusahaan anda. Berkat orang suruhan Tuan, kini buronan yang selama ini kami incar tertangkap juga. ''
'' Silahkan, Tuan. Tapi ada sedikit kendala dengan salah satu keluarga korban. '' Ujar Inspektur Hadi , dengan seksama.
'' Kendala apa itu Inspektur? '' Tanya Ansel sedikit heran.
'' Begini Tuan, salah satu istri korban memperkarakan tanggung jawab pemilik perusahaan tempat suaminya bekerja. Ia bersikeras membawa masalah ini ke jalur hukum. Tapi saya sudah menjelaskan perihal itu, bahwasanya perusahan Julian corp salah satu korbannya juga, namun karena Ia seorang wanita yang sudah ditinggalkan suaminya memutuskan untuk menindak lanjuti insiden ini Karena tidak terima atas kematian sang suami yang begitu mendadak katanya, tetap saja ia terus menyalahkan perusahaan anda yang tidak memikirkan keselamatan pekerja, meskipun jelas jika para penyewa alat berat itu dalang sebenarnya '' Jelas Inspektur Hadi, dengan perasaan tak enak.
'' Pertemukan saya dengan wanita itu , Inspektur, Saya akan berhadapan langsung dengannya . Tapi jika Niatnya baik saya akan menanggapi nya dengan baik juga. Tapi jika ini adalah unsur pemerasan dengan dalih tanggung jawab maka saya akan melawannya sesuai hukum dan bukti. '' Ujar Ansel penuh wibawa.
Inspektur tersebut langsung mengangguk mengerti, setelah perbincangan dua pria lain profesi itu selesai. Ansel pun segera keluar dari kantor polisi dengan membawa alamat wanita yang di bicarakan tadi.
Max langsung membuka pintu mobil mahal tuannya saat raga Ansel sudah mendekati mobil. Ia pun langsung masuk dengan wajah dinginnya. Segera Max menutupnya kembali.
__ADS_1
'' Max, singgah di alamat ini !! '' Titah Ansel ,sembari memberikan secarik kertas berisi alamat seseorang.
''Baik Tuan, '' Jawab Max, seraya meraih kertas tersebut.
Max dan Ansel langsung melaju kealamat tersebut tanpa membuang-buang waktu lagi. Sudah saatnya pulang ke daerah J, untuk melepaskan rindu pada istri dan putrinya.
Rencananya Sore ini, Ansel langsung terbang ke asalnya menggunakan Jetpri pribadinya yang telah sampai dari semalam, khusus untuk menjemput dirinya serta sang asistent.
Beberapa saat kemudian. Mobil Ansel telah sampai ke alamat yang dituju. Dari dalam mobil Ansel mengedarkan pandangannya ke sebuah rumah yang begitu asri , banyak pohon serta bunga di depannya.
'' Itu rumahnya Max ? ''
'' Ia, Tuan. Sesuai nomor rumahnya, apa tuan akan menunggu disini , biar saya yang mendatangi rumah tersebut. '' Ucap Max.
'' Terserah, saya tunggu di mobil saja. Pergilah, buat negosiasi yang menguntungkan pada wanita itu '' ujar Ansel datar.
'' Baik Tuan, Permisi. ''
Max segera turun dari mobil. Dengan gagahnya ia berlalu meninggalkan Ansel di mobil. Max membuka pagar kayu yang terawat dan kokoh. Sampai di pintu ia langsung mengetuk mengucapkan salam, tidak lama kemudian pintu tersebut langsung terbuka.
Dari jauh Ansel dapat memantau asistennya saat sepasang paruh baya sedang berbincang dengan asistennya. Entah apa yang di bicarakannya Ansel kurang perduli. Saat ini nama Mayra terus bermain di kepalanya.
Dari ponsel barunya, Ansel terus menscroll gambar istri cantik sholehanya serta bayi cantik yang begitu menggemaskan. Senyuman Ansel tidak pernah pudar kala matanya sibuk menatap dua permaisurinya.
'' Tunggu , aku sayang. Tunggu papa my Princess, semua masalah telah selesai.Sudah saatnya kita berkumpul kembali, setelah ini aku akan jujur padamu istriku . Pasti seminggu ini kamu begitu khawatir padaku, haruskah aku bahagia ? atau sedih karena pergi tanpa pamit padamu. Sungguh aku akan menebus kesalahanku... kita akan berlibur bertiga sayang, hanya kita bertiga ...I love You Mayra Bramantyo...'' Gumam Ansel penuh kebahagiaan.
To Be Continue 🤗
__ADS_1