Antara Cinta Dan Pengorbanan

Antara Cinta Dan Pengorbanan
Datang Ke Italia


__ADS_3

Tepat pukul 12.00 siang waktu Italia, Jetpri Ansel landing dengan selamat di bandara internasional Leonardo Da Vinci negara Italia, tempat persembunyian sang kekasih selama ini.


Tidak main-main, Ansel tidak sendirian datang kesana . Bahkan seluruh keluarga Mayra di boyong olehnya, agar wanita kesayangan tidak akan kabur lagi.


Di sana Ansel disambut hangat oleh orang-orangnya , Merekalah yang selama ini memantau keadaan salah satu perusahaan Julian yang berada di negara tersebut.


Setelah turun dari pesawat, Ansel langsung bertolak menuju rumah sakit di mana Mayra dan anaknya dirawat. Meskipun perjalanan sangat melelahkan namun rasa bahagia ingin berjumpa dengan Mayra ,melunturkan segalanya.


Walaupun tubuh Nayla sedikit tidak nyaman ,melakukan perjalanan jauh meski dengan pesawat yang memiliki fasilitas lengkap, tidak menyurutkan niat Nayla yang sedang bahagia karena tujuannya saat ini adalah bertemu kembali dengan separuh hatinya, tentu saja sang suami terus mendampingi. Sekaligus Andre memanfaatkan perjalanan tersebut untuk bertemu dengan koleganya di negara yang terkenal dengan makanan mendunia yaitu spaghetti dan pizza .


Sementara Bram yang tahu bersama siapa putrinya itu selama ini, hanya bisa menyaksikan rona bahagia yang terlukis indah dari masing-masing mereka.


Ansel sudah menduganya, jika Bram mengetahui segalanya tentang keberadaan kekasihnya. Ansel mengerti mengapa Bram merahasiakan dimana Mayra berada. Tapi semuanya sudah di anggap selesai karena kekasihnya telah di temukan .


Sesampainya di rumah sakit, Andre mohon izin pada semua karena waktu pertemuan dengan kolega bisnisnya tidak dapat di tunda lagi .


Nayla terlihat cemberut , bagaimana bisa dia pergi tanpa mengajaknya bersama. Entah kenapa kehamilannya itu membuat mood selalu bergantungan dengan sang suami.


Sebenarnya Andre berat meninggalkan sang istri , sulit sekali berjauhan dengannya karena selama ini Nayla bagai perangko yang selalu menempel tak mau lepas sedikitpun. Bahkan sifat manjanya yang dulu tak pernah dilakukannya, kini terlihat alami tanpa di buat-buat, mungkin bawaan si bayi,pengen dekat terus dengan sang papa . Seakan Nayla tidak merasa jika dulunya dia adalah seorang gadis dingin dan sulit untuk di sentuh.


'' Sayang , percayalah hanya sebentar saja, aku menemui klien bisnisku ! ayolah...aku akan segera menemui mu kembali , mengertilah sayang " Andre terus saja membujuk istri kesayangannya dengan segala cara.


" Tau kayak gini, mending gak usah ngekor jauh-jauh kemari !! " Gerutu Nayla , langsung membuat Andre merasa bersalah .


" Tentu saja aku akan mengikuti kemanapun istriku pergi. Apalagi perjalanan kali ini ada dia " ucap Andre melirik Ansel yang sedang memainkan ponselnya.


Merasa di lirik Ansel hanya cuek bebek, daripada ikut kena getah kekesalan Nayla, mending dirinya diam saja .


" Sudah sayang, gak usah membuang-buang waktu suamimu. Biarkan dia menyelesaikan pekerjaannya, lagi pula Andre hanya bertemu dengan rekan bisnisnya saja. Dan masih di negara ini juga kan . " Timpal Vina yang mulai jengah dengan tingkah putrinya saat sedang hamil .


"Ih gak asik...mama malah mendukung Andre , bukannya belain anaknya " Sungut Nayla mulai beraksi mood hamilnya.


" Ya ampun sayang, kok malah dijadikan masalah sih...Andre hanya kerja ,bukan selingkuh !!! " Ujar Fina kembali. Langsung membuat Nayla semakin kesal dengan ucapan dan mama yang kelepasan.

__ADS_1


" Tuh kan...mama ceplos, jangan-jangan Andre memang mau ketemuan sama cewek di sini. Apa sudah jauh-jauh hari kalian janjiannya ? " Mewek Mayra , memukul pelan dada bidang Andre yang semakin frustasi dengan tingkah Nayla di luar nalar, berbanding balik dengan aslinya saat belum hamil .


" Sayang .... bagaimana bisa kamu meragukan ku !!! Dari dulu kamulah wanita yang terus aku kejar...ya jelaslah aku cintanya cuma sama kamu , gak mungkin aku selingkuh setelah wanita yang kucintai telah ku gapai " ucap Andre membela dirinya. Ia sempat kesal dengan keceplosan mertuanya ,yang hampir membuatnya di depak kembali oleh istrinya.


" Sudah !! Kalian ini macam anak remaja saja. Nayla biarkan dulu suamimu menyelesaikan pekerjaannya. Lagi pula papa percaya dengannya, kamu yang istrinya seharusnya mendukung suamimu juga, agar lebih sukses di kemudian hari, bukan terus menahannya seperti ini. " Tukas Bram menyudahi perdebatan yang non faedah di lobi rumah sakit.


" Kamu dengarkan apa kata papa ? , aku hanya pergi sebentar...setelah itu aku akan menyusul kalian kesini. " Nayla terpaksa mengangguk meskipun berat di tinggal sang suami, Nayla harus sedikit bijak dalam sebuah hubungan.


" Ya sudah, aku pergi dulu ya sayang. Eric tolong jagain istri gue sebentar...awas kalau Lo telantarin gue bakal bikin loe kapok nantinya. " Titah Andre sedikit mengancam .


" Muka gila loe ya !! , gue punya kepentingan sendiri...huh untung sahabat , ayo Nayla ...kalau lama disini ,yang ada emosiku bisa fatal dengan sikap suami kamu itu " Andre terkekeh , ia suka sekali melihat Ansel kesal .


Nayla mengizinkan Andre pergi, namun perasaan melow nya masih membekas di hati. Wajahnya merungut menatap sang suami.


" Masuklah, hanya sebentar saja ...setelah itu kita akan nempel lagi kayak biasa , ok "


Nayla menarik nafas panjang lalu membuangnya perlahan diikuti dengan anggukan . Andre pun mencium dahinya Nayla dengan penuh cinta dan perasaan ,setelah itu dia pun masuk ke dalam mobil yang membawa mereka kerumah sakit, tentu saja mobil tersebut Ansel lah pemiliknya.


Sesaat kemudian, setelah mobil yang ditumpangi Andre keluar dari rumah sakit, mereka langsung melanjutkan tujuan utama datang ke negara tersebut.


Tatapan Mayra tidak berpindah sama sekali dari dalam ruang NICU tempat dimana putri kecilnya berada. Masih dengan duduk di kursi roda, Mayra terus memantau sang putri dengan tatapan sendu. Rasa sakit terus saja melukai hatinya yang semakin hari semakin rapuh saja .


Dari balik kaca, mulut Mayra terus berkomat kamit melafalkan setiap saat doa serta ayat-ayat suci dengan begitu banyak manfaat menyembuhkan agar sang bayi dapat melalui segala penderitaan yang mendera putrinya.


**Tap...


Tap...


Tap**...


Bagai Dejavu kala Mayra mendengar langkah kaki tersebut ,begitu nyaringnya terdengar . Suara sepatu yang sangat dirindukannya , namun harus di tahannya agar tidak terbuai dengan perasaannya kembali .


Langkah tersebut semakin mendekatinya, namun suara langkah dan suara orang berbincang bercampur aduk di telinganya. Tak terasa air mata Mayra mengalir begitu saja , ia menggenggam pegangan kursi roda sekuat tenaga,agar lebih leluasa menetralkan detak jantung serta perasaannya.

__ADS_1


Suara mereka tidak sendiri . Tapi ada sesuatu yang ingin sekali membuat Mayra hendak membalik badannya,namun Farel langsung mencegah sang adik,serta ia dengan cepat membisikkan sesuatu agar Mayra tenang kembali. Farel sedari tadi duduk di kursi tunggu menangkap gelagat Mayra yang bergetar dengan takutnya . Saat melihat kedatangan pria yang membuat hidup adiknya berantakan, Farel langsung berinisiatif menenangkan Mayra yang terlihat semakin menyedihkan.


" Tetaplah seperti ini, jika kamu tidak sanggup menatapnya " Bisik Farel menahan tubuh Mayra agar tidak berbalik.


"Apa dia sudah datang, kak ? " Lirih Mayra .


Farel mengangguk.


" Sekarang pria itu tepat berada di belakangmu, Mayra. Kuatlah demi putri cantikmu...Jangan perlihatkan kesedihanmu padanya,percayalah pada ucapan ku. Buktikan jika selama ini kamu kuat tanpanya" Saran Farel, langsung diangguki oleh Mayra .


Dari belakang sana , wajah pria yang baru saja sampai di ruang NICU sang bayi di kejutkan oleh dua manusia yang sedang berjalan berdampingan , terlihat tidak jauh dari tempatnya ,seorang pria terus saja memeluk wanita tersebut dengan sayangnya. Siapa lagi jika bukan Ansel lah yang menahan gejolak amarah ketika sang kekasih di sentuh oleh pria lain. Apalagi Ansel tidak pernah melihatnya sama sekali.Yang semakin membuat Ansel menggeram adalah, wanita itu adalah Mayra Bramantyo.


Semua mata menatap Mayra dari belakang dengan wajah yang masih sulit tertebak namun baik maksudnya.


" Mayra.... " panggil Nayla bahagia.


Mendengar namanya di panggil oleh seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya, reflek Mayra berbalik arah menelusuri suara itu.


Bukan Nayla saja yang bahagia saat ini, seluruh keluarganya juga ikut merasakan kehangatan tersebut.


Mayra senang,ternyata ia dapat menatap wajah keluarganya kembali. Setelah melalui berbagai tancapan panah masalah dalam hidupnya.


Seketika wajah Mayra berubah sendu,saat melihat sang kakak perutnya buncit berdiri di samping pria yang sedari tadi membuat jantungnya terus berpacu.


Tidak menunggu lama , Nayla langsung menghampiri Mayra yang sedang duduk di kursi roda menghadap kearah keluarganya .


Nayla langsung memeluk sang adik , dengan erat. Ia lupa jika dirinya juga sedang mengandung.


" Mayra , kenapa kamu meninggalkan kakak. Kenapa kamu merahasiakannya pada kita. Apa pria bodoh ini yang ikut andil dalam pelarian mu. " Lirih Nayla sambil menangis juga memeluk rindu sang adik yang sudah lama meninggalkannya. Sembari melirik Farel yang terlihat memasang wajah marah pada Nayla.


Sementara Ansel masih diam di tempat , menyaksikan kenyataan jika dirinya dapat menatap wajah kekasihnya kembali. Tentu saja kebahagiaan Ansel memuncak seketika menatap intens wajah wanita yang dirindukannya.


" *Semoga ini bukan mimipi ,sayang "

__ADS_1


😘 To be Continue*


__ADS_2