
Wilona sudah lebih baik setelah dokter datang memeriksanya. Dan Hanung segera masuk kedalam untuk tahu keadaanya.
Ketiga anaknya saat ini sedang bermain bersama suster, namun putranya yang paling besar ketika tahu ibunya sakit, dia segera berlari kekamarnya.
"Mama...."
Wilona membuka matanya perlahan mendengar suara putra pertamanya memanggil nya dan kini dia berdiri disampingnya.
"Mama...sakit ya? Mana yang sakit? Biar Rian pijitin?"
"Sini sayang, mama sudah lebih baik sekarang," sahut Wilona dan ketika menatap ke pintu, dia bertemu pandang dengan Hanung.
Hanung berjalan mendekat dan wajah cemasnya perlahan memudar.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Sudah lebih baik," jawab Wilona singkat dan masih malu-malu.
Rasa insecure didalam dirinya begitu kentara setiap kali berhadapan dengan Hanung.
"Lain kali, jangan minum jus yang terlalu asam," kata Hanung singkat dan dia memang jarang berkata panjang dan lebar dengan istrinya itu.
Beda dengan Clara, mereka sudah pacaran dan pasti sudah sangat mengenal pribadi masing-masing.
Dengan Wilona, mereka seperti dua orang asing dan bicara dengan sangat kaku. Masing-masing merasa bersalah atas takdir ini.
Hanung merasa bersalah kepada Wilona karena diam-diam dia masih mencintai kekasihnya itu. Dan Wilona merasa bersalah karena tidak yakin bisa membuat Hanung bahagia didalam pernikahan nya.
Hanung lalu keluar karena dia tidak bisa berlama-lama berada berdua saja dengan Wilona sejak mereka menikah. Ada rasa canggung didalam setiap sikapnya dan dia juga kehabisan kata-kata setiap bersamanya.
Ketika Hanung keluar, Mbok Narti datang dan mendekati Wilona. Mbok Narti lalu menceritakan kembali bagaimana Tuan Hanung terlihat cemas dan panik tadi.
"Non jangan cemas lagi sekarang. Tuan Hanung, sangat mencintai non Wilona. Jika Non jangan cemas berlebihan, itu juga bisa membuat asam lambung naik," nasehat Mbok Narti.
"Masa sih mbok. Apakah Hanung terlihat cemas tadi?"
"Ya. Mbok lihat seperti itu,"
"Aku merasa sangat sakit, jadi tidak memperhatikan dirinya," ucap Wilona.
Dalam hati Wilona senang dan merasa tersanjung mendengar jika suaminya mencemaskan dirinya. Meskipun kenyataannya, dia sendiri tahu jika hati Hanung mungkin masih bersama kekasihnya itu.
__ADS_1
Tidak mudah melupakan orang yang dia cintai selama sepuluh tahun, aku mengerti itu, batin Wilona.
****
Hanung ke ruangan keluarga dan maminya baru saja pulang dari arisan. Hanung segera menegurnya karena memaksa Wilona minum jus yang asam hingga membuatnya sangat kesakitan.
"Mam, kenapa mami memaksa Wilona untuk minum jus yang asam tadi. Mami tau nggak, Wilona sangat kesakitan dan aku sampai memanggil dokter karena panik," ucap Hanung dengan kesal.
"Siapa suruh dia membuat jus yang sangat asam!"
"Terus kenapa jika sudah tahu asam, mami malah menyuruh nya minum?"
"Sudahlah! Masalah sepele saja kamu besar-besar kan. Mami katakan padamu. Mami sampai kapanpun tidak akan menyukai istrimu itu. Dan sangat disayangkan, putraku sendiri tidak mau mendengarkan aku. Kamu lebih mendengarkan nenekmu itu daripada mamimu sendiri yang sudah mengandung dan melahirkan dirimu!"
"Rosma!"
Tiba-tiba Presdir yang baru saja rapat dengan beberapa Manajer di perusahaannya menegurnya karena mendengar apa yang baru saja di katakan oleh menantunya itu.
Air muka Rosma langsung berubah. Menantunya itu juga sebenarnya tidak berani melawan ibu mertuanya. Karena bagaimanapun, sampai saat ini semua harta belum di balik atas nama dirinya.
"Oma!?"
"Ibu....kami hanya bicara santai. Ibu tidak perlu cemas," kata Rosma dan bersikap manis didepan ibu mertuanya itu.
"Tidak ibu. Dia memang sudah punya asam lambung sebelumnya. Dan ini hanya suatu kebetulan saja," Rosma berdalih.
"Rosma, aku tidak ingin terjadi apapun dengan cucu menantuku itu. Lain kali kau tidak boleh memaksanya seperti itu,"
Sang Presdir sepertinya tidak peduli dengan alasan menantunya itu. Dia tetap menasehati Rosma dan hal itu membuat Rosma semakin membenci menantunya itu.
Semua orang membelanya dan menyalahkan aku! Jika aku tidak bisa mengusirmu dari sini, namaku bukan Rosma!
Presdir ditemani Hanung lalu masuk kekamar Wilona dan melihat keadaannya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Presdir dengan tatapan lembut. Hanung tersenyum kecil berdiri di belakang neneknya.
"Sudah lebih baik Oma. Hanung segera memanggil dokter tadi,"
"Hem...kau harus menjaga kesehatan lebih baik lagi. Dan Hanung, kau jaga istrimu dan bantu dia mengurus anakmu selama dia sakit,"
"Iya Oma," jawab Hanung.
__ADS_1
"Tidak perlu. Hanung, kau bisa pergi ke kantor. Anak-anak ada suster yang menjaganya,"
"Wilona, suami istri harus bekerja sama menjaga anak-anak mereka. Jika istrinya sakit, maka suaminya membantu nya dirumah. Kau bisa bekerja dari rumah selama dua hari ini," kata Presdir pada Hanung.
"Ya, Oma...."
Wilona tidak bisa berkata apa-apa lagi, jika itu sudah menjadi perintah Presdir, maka dia tidak menolaknya.
Dalam hati, Wilona semakin berdebar setiap kali berdekatan dan bertemu pandang dengan suaminya itu yang hingga saat ini masih terasa begitu asing didalam hatinya.
Begitu juga dengan Hanung. Dia juga masih merasa asing dengan Wilona kendati dia adalah istrinya.
****
Ketika akan ke kamarnya, Rosma bertabrakan dengan Clara, kekasihnya Hanung. Dan Rosma terbelalak saat tahu Hanung membawa Clara kerumahnya.
"Kau....!?" Rosma langsung menarik Clara ke kamarnya dan menutup pintu dengan rapat.
"Apa yang kau lakukan disini? Bukankah kau tahu jika Hanung sudah menikah?"
"Saya tahu Tante. Tapi Hanung bersikeras ingin saya tinggal disini,"
"Kau tahu, jika Oma melihat kau berada disini maka putraku akan terkena masalah," kata Rosma.
"Saya juga tahu itu. Itulah sebabnya saya tidak keluar dari kamar sejak tadi, tapi saya merasa sangat bosan didalam...."
"Apakah kau dan putraku diam-diam masih pacaran?" Tanya Rosma penuh selidik.
"Ehm....kami masih saling mencintai..." ucapnya lirih sambil tertunduk.
"Jika begitu, kau harus berusaha lebih keras lagi untuk membuatnya menikahimu!"
"Apa!? Jadi Tante mendukung cinta kami?"
"Ya. Aku mendukungmu. Kau tahu, aku tidak menyukai pernikahan nya. Seharusnya dia menikah dengan wanita yang masih lajang, bukan janda dengan tiga orang anak!"
"Terimakasih Tante...." Clara sangat senang karena dia yang awalnya sangat takut kini justru mendapat lampu hijau dari calon mertuanya.
"Ingat! Jangan sampai Presdir melihatmu dan tahu kau disini. Rumah ini sangat besar, kau bisa menghindar darinya,"
Clara mengangguk dan tersenyum simpul.
__ADS_1
Cintanya yang patah, kini melambung kembali. Dan setelah mendapat restu dari calon mertuanya, kini dia semakin yakin untuk bisa hidup bersama dengan hanung setelah dia mencerai kan istrinya itu.