
...Rumah Valen...
Pagi harinya Valen, Kinara duduk bersama di meja makan bersiap untuk sarapan. Arin dengan menggendong Diego ikut bergabung dalam satu meja makan tersebut
Kinara langsung menatap dengan tatapan sebal ***** makannya langsung hilang seketika namun Arin bersikap bodo amat
"Kenap kalian disini" tanya Valen
"Valen, kau suami ku juga bukankah rasanya tidak adil jika kau memberi makan istri keduamu sedangkan istri dan anak mu yang lain kelaparan" sinis Arin
"Kau sudah berani padaku!!" geram Valen
"Aku bisa lebih berani dari pada ini itu tergantung pada sikapmu padaku" ucap Arin dengan nada penuh tekanan
"Oh ya bagaimana keadaan kalian setelah terkena pecahan kaca dan hiasan kemarin" tanya Arin sambil menuangkan nasi di piringnya lalu menyuapkan pada Diego
Ini pertama kali bagi mereka memakan makanan hasil kerja Valen setelah sekian lama menjalin hubungan yang begitu dingin
"Kau tidak perlu mempedulikan itu" ucap Kinara sinis
"Aku hanya khawatir jika kalian amnesia saja" ucap Arin tanpa menatap sang empunya
Rumah yang sangat besar dan mewah namun berbeda dengan suasana di dalamnya yang begitu dingin dan hampa
Tanpa sengaja mata Arin bertabrakan dengan netra hitam milik Rasya. Rasya tersenyum dan mengkode untuk melihat ke arah ponsel
__ADS_1
Arin membuka ponselnya yang masih dalam mode silent. Sebuah pesan masuk dari Rasya
'Surat pengalihan harta sudah siap tinggal menunggu tanda tangan dari Valen saja itu semua akan aku urus nanti'
Arin tersenyum dan berharap satu persatu rencananya akan berhasil nantinya. Arin berharap itu
Beberapa menit kemudian makanan yang ada di piring Arin telah habis tak tersisa. Arin membawa anaknya naik ke lantai tiga untuk bersiap karena hari ini Arin akan ke pengadilan untuk mengajukan gugatan perceraian
"Sudah siap sayang?" tanya Arin
"Sudah ma emang kita mau kemana" tanya Diego
"Kita akan ke suatu tempat" Arin menggendong tubuh Diego dan berjalan menuruni anak tangga
Tersenyum lah sebelum semuanya aku ubah menjadi air mata batin Arin
Arin berjalan melenggang pergi melewati Kinara. Namun tangan wanita yang sedang hamil tiga bulan itu memegang lengan Arin erat
"Kalian mau kemana" tanya Kinara
"Apa itu penting bagimu? Dan haruskan kita selalu meminta ijin padamu untuk keluar dari rumah ini?" tanya Arin sinis
"Ya karena mulai sekarang aku lah yang menguasai rumah ini jadi jika kalian ingin pergi maka harus meminta ijin padaku dulu" ucap Kinara
Sebuah mobil berhenti tepat di hadapan mereka. Dea keluar dari dalam mobil tersebut dan berjalan mendekati Kinara
__ADS_1
Mobil yang dulu diberikan Valen pada Kinara dan sekarang di gunakan oleh Dea untuk pergi kemanapun
"Hai Nar" sapa Dea
"Ada apa dengan dia? Dan siapa dia?" tanya Dea yang tak tau
"Dia istri pertama Valen dia ingin pergi tapi tidak meminta ijin padaku dulu" ucap Kinara kesal
"Sudah lah biarkan dia pergi memangnya urusan dia sangat penting bagimu?" ucap Dea
"Hm pergilah paling juga ke rumah sakit buat obatin anaknya yang penyakitan itu" ejek Kinara
Plak...
Satu tamparan keras mendarat di pipi kanan Kinara. Tanpa rasa takut Arin menampar wajah madunya itu
"Apa apaan kau!!" pekik Dea
Kinara yang hendak menampar balik Arin langsung di tahan oleh Diego.
"Jangan pernah sakiti mamaku" pekik Diego dan langsung memeluk mamanya
"Jaga mulutmu jika tidak aku akan melakukan hal yang lebih dari ini padamu" ucap Arin dan langsung pergi
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN
__ADS_1