
"Dimana Lichyia bagaimana keadaan nya" tanya Arlla
"Dia ada di ruang operasi aku gak tau keadaannya bagaimana sekarang" ucap Arel dengan duduk di kursi ruang tunggu pasrah
"Nyonya dan tuan muda pasti baik baik saja" ucap Andra memberi semangat
.
Satu jam...
Dua jam...
Dokter belum kunjung keluar dan lampu operasi pun belum mati sedari tadi. Arel berjalan mondar mandir di depan pintu ruang operasi dengan cemas
Ceklek
Seorang dokter keluar dan langsung di todong pertanyaan oleh Arel dan Arlla
"Bagaimana keadaan istri saya dok" tanya Arel
"Menantu saya bagaimana" tanya Arlla yang spontan berdiri dari duduknya
"Maaf karena benturan yang cukup keras pada bagian perut nyonya Lichyia kita harus mengambil tindakan namun hanya ada satu nyawa yang bisa kita selamatkan dan pilihan itu ada di tangan tuan Arel sendiri" ucap dokter itu
__ADS_1
Jdarrr...
Seolah di sambar petir tubuh Arel seketika luruh ke lantai. Air mata tak mampu lagi dia tahan
Ujian macam apa ini bagaimana bisa dirinya di minta memilih salah satu di antara istrinya dan juga anaknya yang bahkan belum lahir ke dunia ini
Jantung Arel seolah di hantam oleh batu yang sangat keras. Dadanya sesak bahkan pria itu kesulitan dalam bernafas
"Arel" panggil Arlla pelan
"Arrrkkkhhh" teriak Arel meluapkan kegundahan hatinya
Hanya ada satu yang bisa hidup lalu siapa yang akan dia pilih. Sangat berat untuk memutuskan pilihan sulit itu.
"Kau akan pergi denganku bukan lalu kenapa sekarang kau ingin pergi bersama anak kita" isak tangis Arel terdengar sangat memilukan
"Bagaimana tuan"
"Beri saya waktu sepuluh menit" ucap Arel
"Hanya lima menit kau harus memberi jawaban pada kami agar kita juga bisa secepatnya bertindak" ucap sang dokter dan kembali masuk
"Arel kau akan mengorbankan siapa? Hanya salah satu dari mereka yang bisa selamat bagaimana bisa kau kehilangan salah satunya" ucap Arlla
__ADS_1
Arel diam termenung tak berbicara sepatah kata pun pria hebat itu kini mendadak menjadi seseorang yang lemah dan tak tau keputusan apa yang harus dia buat
"Arel jawab mama" Tetap diam tak bergeming Arel menatap nanar ke arah depan
Arel mengusap wajahnya kasar dia tak tau apa yang harus dia lakukan saat ini. Jika bisa dia akan menggantikan posisi anak dan istrinya di sana lebih baik dia yang mati dari pada harus terjebak pilihan seperti ini
Lima menit kemudian
"Bagaimana dengan keputusan anda tuan Arel" tanya sang dokter
Arel berdiri dari posisinya dan menatap wajah sang dokter. Lidahnya seolah kelu untuk berucap
"Saya... saya.. " Sangat sulit dalam mengucapkan beberapa kata yang dapat menghilangkan salah satu nyawa orang yang dia sayangi
"Saya... " Arlla mendekap bahu putranya itu memberi semangat pada Arel dia tau betul betapa sakitnya Arel mengambil keputusan ini
"Tolong... tolong selamatkan nyawa istri saya dok" ucap Arel pada akhirnya
Arel kembali menutup matanya karena tak tahan menahan tangisan yang tidak selamanya bisa dia sembunyi kan
"Baiklah" Sang dokter kembali masuk ke dalam ruang operasi
Tubuh Arel kembali luruh ke lantai. Andra berlari mendekati tubuh tuannya itu sebagai sama sama menjadi calon ayah tentu dia ikut merasakan betapa sakitnya kehilangan anak yang belum sempat lahir di dunia ini
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN