
Seorang pria turun dari kursi dan meletakkan gitar yang semula berada di tangannya dan mendekati Arin yang terpaku akan penampilannya barusan yang menyanyikan sebuah lagu khusus untuk wanita itu
Ungkapan sebuah cinta yang dia ungkapkan melalui lagu itu. Menyiapkan semua ini membutuhkan keberanian yang besar bukan untuk menyiapkan kejutannya namun untuk mengungkapkan perasaan nya pria itu berulang kali ragu takut akan di tolak oleh Arin
Rasya berjalan menghampiri Arin yang berdiri di tengah taman dengan menatap dirinya. Pria itu menarik nafas dalam dalam lalu membuangnya perlahan
"Ini... ini kamu semua yang nyiapin" tanya Arin dengan menatap sekitar
"Heem buat kamu" ucap Rasya
"Aku?"
"Ya kau suka" tanya Rasya
"Suka bagus banget" ucap Arin
Jantung Rasya berdetak dua kali lipat terlihat sekali jika pria yang berdiri di hadapan Arin sangat gugup
Dengan gerakan pelan Rasya menekuk lutut nya dan mengeluarkan sebuah kotak merah dari saku jas nya
__ADS_1
Arin membalikkan badannya dan terkejut dengan keberadaan Rasya yang sudah berlutut di depannya
"Rasy... "
"Arin mungkin aku bukan laki laki yang romantis dan mungkin aku juga sedikit kaku untuk mengungkapkan ini semua tapi... "
".... tapi aku akan mengungkapkan semua perasaan ku selama ini aku mencintaimu Arin sejak awal kedekatan kita delapan bulan yang lalu" ucap Rasya gugup
Arin masih terdiam entah dia harus bicara apa lidahnya kelu untuk berkata kata
"Maukah kamu menjadi istriku yang mendampingi hidupku hingga kematian yang akan memisahkan nanti" ucap Rasya
Wanita itu bingung menempatkan kata kata yang pas untuk ia ungkapkan
Rasya menunduk dia menyesal karena mengungkapkan ini semua secepat ini. Rasya menganggap dirinya harusnya sadar diri jika dia tak pantas untuk bersanding dengan Arin
Pria itu berdiri dari posisi berlutut nya dan menatap Arin lekat. Namun yang di tatap selalu mengalihkan pandangannya ke arah lain
"Aku tau... aku cukup sadar diri aku gak pantas buat kamu dan mungkin kamu... kamu masih trauma dengan sebuah pernikahan" ucap Rasya dengan menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya
__ADS_1
"Maaf... maaf karena aku terlalu lancang mungkin mulai sekarang aku tau batasan ku yang hanya sekedar bawahanmu" ucap Rasya
Rasa sesak benar benar menyelimuti hati pria itu. Penolakan yang ia dapat saat pertama kali mencintai seseorang
Apa aku tidak pantas mencintai seseorang apa aku juga tidak pantas untuk bahagia. Oh tuhan sembuhkanlah rasa sakit ini dan berikanlah kebahagiaan pada wanita yang aku cintai meskipun bukan aku yang menjadi alasan bahagia nya batin Rasya
Arin menatap Rasya terlihat sekali dalam guratan wajahnya pria itu merasakan kecewa dan sedih
Rasya menoleh dan menatap Arin kedua netra nya bertabrakan dengan netra Arin. Rasya tersenyum begitu manis membuat seseorang yang melihat nya pasti mengira dia akan sangat bahagia padahal salah Rasya memendam kecewa yang begitu dalam namun semua itu tertutup dengan senyuman manisnya
Memanipulasi memang terkadang di saat bibir tersenyum air mata pun ikut menetes. Tidak semuanya sebuah senyuman menggambarkan kebahagiaan terkadang orang menutupi duka nya dengan sebuah senyuman agar tidak terlihat menyedihkan di depan orang lain
"Maaf... Maafkan aku Arin semoga kamu bisa mendapatkan kebahagiaan suatu saat nanti meskipun bukan aku yang menjadi alasan bahagimu" ucap Rasya dengan hati yang sangat berat
"Aku pergi dulu" Rasya melangkah dengan perlahan menjauhi Arin.
Mundur itulah kata yang harus di lakukan Rasya. Terlalu berharap mungkin memang terkadang tidak terlalu baik
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN
__ADS_1