Antara Istri Dan Kekasih

Antara Istri Dan Kekasih
Bab 14


__ADS_3

Semua orang panik melihat Presdir pingsan saat itu juga ketika mendengar cucu kesayangannya di sekap oleh mafia yang kejam. Menantunya lalu membawanya ke rumah sakit Keluarga.


Selama dalam perjalanan, nafas sang Presdir menjadi sesak, dan Rosma semakin panik.


"Sabar ibu, kita hampir sampai...." Rosma menaruh kepala mertuanya di pangkuannya.


"Pak lebih cepat lagi!" titah Rosma pada sang sopir


"Baik Bu...."


Mobil itu melaju dengan sangat kencang, namun ketika sedikit lagi hampir sampai di rumah sakit, detak jantung Presdir berhenti.


"Bu...buka matamu Bu...."


Rosma memegang pergelangan tangannya. Dan merasakan jika tidak ada denyut nadi yang berdetak lagi.


"Bu....."


Rosma lalu melihat wajah sang mertua yang terpejam dan tidak merespon lagi.


"Ibu.....hiks.....hiks...."


"Ada apa nyonya? Kenapa dengan Presdir?"


Tanya sopir ketika melihat wajah nyonya nya yang menangis.


"Presdir sudah meninggal. Tapi teruskan saja pak. Kita tetap harus kerumah sakit!"


"Baik Bu....!"


Mereka tiba di halaman rumah sakit dan Presdir langsung dibawa untuk diperiksa. Dokter menggunakan alat pacu jantung beberapa kali. Dan karena sudah tidak merespon, maka dokter menyatakan jika pasien sudah meninggal dan tidak bisa diselamatkan lagi.


"Ibu....hiks....hiks...."


Presdir dibawa kerumah duka dan seluruh keluarga besar hadir untuk memberikan penghormatan terakhir, kecuali Hanung sang cucu.


"Oma.....hiks...hiks...." Wilona menangis di samping peti Presdir.


Dan ketika, Rosma melihatnya dia segera mendekatinya dan memegang bahunya didepan seluruh keluarga besar.


"Semua ini karena dirimu. Jangan buat keributan dan segera pulang kerumah. Kau tidak di butuhkan disini!" usir Presdir ketika Wilona sampai dirumah duka beserta anak-anaknya.


"Suster, tolong bawa mereka ke mobil," ucap Wilona.


"Tapi mama ....." Rian nampak mengkhawatirkan mamanya.


Suster membawa dua anaknya ke mobil karena yang paling kecil tidak ikut. Wilona ingin agar anak-anak nya memberikan penghormatan terakhir pada sang nenek. Tapi rupanya, sang ibu mertua tidak menyukai kedatangannya.

__ADS_1


Wilona tidak ingin anaknya sedih ketika melihat dia akan dipermalukan oleh sang ibu mertua.


"Aku akan tetap disini. Ini terakhir kalinya aku melihatnya...."


"Tidak perlu. Semua ini kau adalah penyebabnya. Jika kau tidak datang kerumah kami maka Presdir pasti masih hidup. Kau adalah sumber masalahnya!"


"Ma....biarkan saya tetap disini untuk yang terakhir kalinya. Hanung tidak ada disini. Setidaknya biarkan saya tetap disini..."


"Sudah kubilang untuk pergi! Sebelum aku mempermalukanmu dan kesabaran ku habis!" Rosma menatap Wilona dengan sangat tajam.


Wilona berdoa sebentar dan setelah itu dengan langkah gontai dia mundur dari peti itu perlahan-lahan.


Wilona melihat semua keluarga besar menatapnya dengan tatapan dingin dan tidak ada satupun yang menahannya untuk jangan pergi. Semua seakan setuju dengan apa yang dikatakan sang ibu mertua jika dia adalah penyebab semua ini.


Tak satupun dari keluarga besar yang datang untuk membelanya.


Wilona terus mundur dan mengusap airmatanya.


Kini dia berdiri di pojokan diantara para tamu. Semua keluarga inti ada di dekat peti itu. Tidak ada yang menghiraukannya. Dia dianggap orang asing, kendati Oma sangat menyayanginya ketika masih hidup.


Sesekali, Rosma melihat kearah Wilona dengan tatapan tajam bagai pedang.


"Ini baru permulaan. Kau akan segera merasakan akibatnya karena telah datang ke rumah kami,"


Clara datang dan dia berada diantara keluarga Rosma yang lain. Clara sesaat mencari Wilona, dan dia lalu melihatnya ada di pojokan paling belakang ruangan itu. Berdiri dengan menyedihkan tanpa siapapun.


Setelah acara pemakaman selesai, Rosma dan Clara nampak berdiri diatas pusara sambil berdoa.


Sementara Wilona tidak berani mendekat, dia berdiri agak jauh dari keluarga besar itu berdiri.


Baru, setelah semua keluarga besar itu pulang, Wilona mendekati pusara dan berdoa diatasnya sendirian. Semua rekan dan keluarga sudah pulang. Tinggal dia seorang disana, menunggu semua orang pulang baru dia berani mendekat dan berdoa untuk Presdir diatas pusaranya.


Wilona terus berdoa sangat lama hingga tak terasa dia sudah dua jam disana seorang diri.


Hari mulai gerimis, Wilona segera bangkit ketika tanganya basah oleh air yang jatuh dari langit.


"Ternyata aku sudah dua jam disini...." ucapnya ketika melihat jam di tangannya.


"Aku akan pulang sebelum hujan semakin deras,"


Ucapnya lalu berlari kecil ketika tiba-tiba hujan mengguyur dengan cepat.


"Pak, kita pulang!" ucap Wilona pada sopirnya.


Dengan beberapa helai tissue dia mengeringkan wajah dan rambutnya yang basah.


Sampai di rumah besar, Wilona segera akan masuk kedalam, namun tiba-tiba dia di hadang oleh ibu mertuanya.

__ADS_1


Ketiga anaknya juga ada disana dan para susternya. Ada koper beberapa biji didekat mereka.


Ketika anaknya menatap sendu padanya. Dan suster matanya menetes kan airmata.


"Ada apa? Kenapa kalian berdiri dan untuk apa koper-koper itu? Kenapa mengeluarkannya?" tanya Wilona akan berjalan mendekati mereka.


"Karena mulai hari ini kau tidak akan tinggal disini lagi. Kau dan anak-anak mu akan pergi,"


ucap sang ibu mertua dengan lantang.


"Saya di usir?"


"Lebih tepatnya begitu. Karena kau, putraku berada ditangan penjahat! Dan karena kau, Presdir meninggal. Jika putraku tahu, dia juga tidak akan memaafkan dirimu!"


Wilona tersenyum pahit dan tidak menduga dia akan diperlakukan seperti sampah di rumah suaminya itu.


Sesaat Wilona menatap pada buah hatinya, dan karena tidak ingin membuat mereka lebih terluka lagi, maka Wilona mengangguk setuju.


"Ma....aku datang sebagai seorang istri kerumah ini. Dan sekarang kau mengusirku seakan aku adalah pencuri. Tanpa bicara padaku, kau membuat mereka mengemasi barang-barang ku. Baiklah. Aku akan pergi. Tapi perlu kau ingat, bukan aku yang akan datang kemari, tapi putramu yang akan datang padaku,"


"Itu tidak akan terjadi. Setelah kalian bercerai, putraku akan menikah dengan kekasihnya. Wanita yang masih lajang dan dia cintai. Sementara kau! Datang dengan segerombolan orang dan membuat kebisingan setiap hari!"


"Cukup ma. Jangan menghinaku lagi terutama didepan anak-anak ku. Baiklah, jika itu keputusanmu. Aku akan pergi dari rumah ini...."


"Ya sudah sana pergi. Dan jangan coba-coba untuk datang kembali lagi!"


Wilona tidak menghiraukan ucapanya dan segera menggendong Rima dan mengajak semua anak serta susternya ke mobilnya.


"Ma...kenapa kita di usir dari rumah papa..?" tanya Rian anak pertamanya.


"Jangan cemas sayang. Kita akan tinggal dirumah kita sendiri. Dan papamu yang akan datang kesana...."


"Apakah papa akan datang?" tanya Rima, putri keduanya.


"Hem...iya..." Wilona menjawab dengan ragu.


"Pak, kita ke rumah....."


Didalam mobil, Wilona berulang kali mengusap airmatanya dengan tissue dan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.


Dia tidak mau anak-anaknya melihatnya menangis dan membuat mereka sedih.


Suster juga ikut menangis melihat nona mereka di perlakukan kasar dan diusir oleh ibu mertuanya sendiri.


Mbok Narti...sejak tadi hanya diam dan tidak mampu berkata apapun karena begitu sesak dadanya melihat apa yang terjadi hari ini.


Begitu Wilona pergi, Clara dengan koper dan kaca mata hitam di wajahnya, masuk kerumah besar itu dan disambut dengan manis oleh calon ibu mertuanya.

__ADS_1


__ADS_2