
Hanung melihat ke sekitarnya dan menyebut nama istrinya, Wilona.
Ketika sehat aku inginkan dirinya, dan ketika ajal di batas takdir, yang aku ingat hanya keluargaku, istri dan anak-anak ku, gumam Hanung lirih.
"Wilona...dimana istriku?" pinta Hanung pada sang ibu yang mendekat setelah putra kesayangannya sadar.
"Mami ada disini. Mami akan menjagamu,"
"Apakah istriku baik-baik saja?"
"Ya. Dia baik-baik saja,"
Hanung terlihat sedikit kecewa. Rosma terpaksa menunda untuk mengatakan jika dia sudah mengusir Wilona. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk mengatakannya hingga dia di ijinkan untuk pulang.
Rosma mengirim pesan pada Clara jika Hanung sudah sadar dan kondisinya sudah lebih baik.
"Syukurlah...aku akan segera kesana!" Clara segera pergi dari rumah Hanung dan menuju ke rumah sakit.
Dia sampai dan saat ini menunggu di luar ruangan.
"Anda mau kemana?" tegur seorang suster karena sekarang bukan saatnya jam besuk.
"Saya akan masuk kedalam. Saya akan melihatnya,"
"Maaf, sekarang bukan saatnya jam besuk. Silakan tunggu diluar. Apakah anda keluarga nya?"
"Bukan sus. Saya kekasihnya," jawab Clara.
"Ada istrinya bukan? Seharusnya istrinya yang datang untuk merawatnya dan bukan kekasihnya,"
"Suster, jaga bicaramu atau kau akan dipecat!"
"Saya hanya menjalankan tugas Bu. Jadi menurut peraturan hanya keluarganya saja yang di ijinkan untuk menunggu didalam dan itupun satu orang,"
"Suster...kau sudah keterlaluan!" Clara menjadi kesal dan marah.
"Silakan anda keluar atau saya panggilkan sekuriti...."
Dasar wanita tidak tahu malu! decak suster dalam hati.
"Tidak perlu! Aku akan keluar sendiri!"
__ADS_1
Clara berusaha melihat kedalam dan setelah itu meninggalkan rumah sakit. Dia lalu menelpon calon mertuanya agar Hanung dirawat jalan saja dirumah, agar dia bisa merawatnya.
Wilona datang untuk melihat keadaan Hanung dan saat itu hampir saja bertabrakan dengan Clara.
"Kenapa kau datang kemari?" tegur Clara ketika melihat siapa wanita yang baru saja menabraknya tanpa sengaja.
"Aku masih istrinya. Aku ingin melihat keadaan suamiku," ucap Wilona didepan kekasih suaminya.
"Kau sudah diusir dari rumah suamimu. Apakah kau tidak tahu malu dan terus saja datang mengganggunya?"
"Aku akan melihatnya. Jika dia baik-baik saja maka aku akan pergi...." ucap Wilona dan tidak mempedulikan Clara dan dia segera masuk kedalam.
Saat dia sampai didepan ruangan dimana Hanung dirawat, saat itu didalam tidak ada siapapun. Rosma sang mertua sedang keluar untuk mengurus administrasi kepulangan Hanung. Karena dia akan dirawat dirumah.
"Hanung....." Wilona segera masuk karena tidak ada siapapun didalam. Dan langsung mendekati suaminya dan memeluknya dengan reflek. Sebelumnya dia sangat canggung, dan merasa seperti orang asing. Tapi saat melihat bagaimana Hanung menyelamatkan dirinya dan terluka demi dirinya, rasa canggung itu berubah menjadi rasa cinta kasih pada pria yang dia nikahi dengan terpaksa.
Hanung juga memeluk Wilona, gadis asing yang dia nikahi dengan terpaksa juga. Saat ajalnya ada di ambang batas takdir, yang dia lihat dan dia ingat hanya istrinya dan anak-anaknya. Dan saat itu Hanung mulai sadar, jika cinta baru tumbuh menggantikan cinta yang lama mengendap disana untuk Clara.
"Wil....kau kemana saja? Kenapa baru datang? Aku mencemaskan dirimu...." ucap Hanung pelan dan lirih.
"Kau yang terluka tapi kenapa kau justru masih saja mencemaskan aku. Aku baik-baik saja...."
Wilona segera teringat jika Hanung belum tahu jika Presdir meninggal dan dia diusir dari rumah.
Dan saat itu Nyonya Rosma masuk kedalam dan terkejut saat melihat Hanung bersama wanita yang sudah dia usir dari rumah.
Namun didepan Hanung, sang mertua tidak bisa berkata dan memakinya. Dia hanya menarik baju Wilona agar mundur dan menjauh dari putranya.
"Kau akan di rawat jalan, Mami sudah mengatur semuanya..."
"Apa!?" Wilona terkejut. Jika dirawat dirumah besar itu, bagaimana dia bisa kesana untuk menemuinya? Ibu mertuanya pasti melarangnya masuk kedalam.
"Tapi, Hanung baru saja di operasi ma...." ungkap Wilona keberatan.
"Semua sudah diputuskan dan dokter mengijinkannya," ucapnya dan berdiri di depan Wilona agar dia tidak dekat-dekat dengan putranya.
Sampai di pelataran rumah sakit, Hanung yang di bantu oleh anak buahnya dan juga ibunya mencari Wilona.
Dan tidak melihat ada Wilona diantara mereka.
"Dimana Wilona?" tanya Hanung pada maminya.
__ADS_1
"Sudah. Kita pulang dulu. Nanti dia menyusul!" kilahnya.
Wilona merasa sudah di usir dari rumah suaminya oleh sang mertua, maka dia tidak bisa datang kesana lagi. Atau dia akan di usir lagi untuk yang kedua kalinya.
Wilona saat ini bersembunyi di balik pohon sambil melihat Hanung masuk kedalam mobilnya dibantu oleh suster dan beberapa anak buahnya.
Kekasihnya ada dirumahnya, dan mereka saling mencintai sejak lama, lalu untuk apa aku datang kesana? Aku akan diusir dihina dan dipermalukan, batin Wilona.
Mobil itu telah meninggalkan rumah sakit menuju rumah besar.
Beberapa saat kemudian mereka sampai di rumah besar.
"Oma! Dimana Oma?" tanya Hanung ketika baru saja masuk kerumah besar itu. Dia merasa ada yang aneh saat ini. Karena biasanya, Oma adalah orang yang pertama kali menyambutnya dan mengkhawatirkan dirinya jika terjadi hal seperti ini.
Rosma tertegun lalu menarik nafas dalam.
"Oma sudah meninggal begitu mendengar kau di tahan oleh para penjahat itu," sahut ibunya dan berdiri di hadapan putranya yang duduk di kursi roda.
"Apa!? Kenapa tidak ada yang memberitahuku? Oh....Oma....." Hanung sedih dan sangat terpukul. Dia menangis karena sangat sedih.
Meskipun jarang pria menangis, namun saat kehilangan orang yang paling berarti dalam hidupnya dan selalu mendukungnya maka tak pelak, merekapun menjadi sedih dan menangis.
Hanung menundukkan kepalanya dan menangisi apa yang terjadi saat dia tidak ada dirumah.
"Kalian! Bawa tuan ke kamarnya! Tuan harus istirahat...."titah Rosma pada para pengawal yang berdiri disisi putranya.
Hanung lalu di baringkan dan ibunya serta Clara berdiri disamping nya.
Mereka saling berpandangan saat melihat Hanung begitu terpukul karena kepergian Presdir.
"Aku bahkan tidak melihatnya untuk yang terakhir kalinya...." Hanung mengusap airmatanya.
Rosma dan Clara terdiam. Mereka seakan membiarkan Hanung berduka untuk kepergian sang Presdir.
"Sebaiknya biarkan dia sendirian saat ini...." ucap Rosma dan mengajak Clara keluar dari kamar putranya.
Clara lalu keluar dan saat berada diluar, Rosma mondar-mandir seakan memikirkan sesuatu yang membuatnya gelisah.
"Kenapa Tante? Kenapa Tante terlihat gusar?" tegur Clara.
"Bagaimana jika dia bertanya tentang Wilona? Aku sudah mengusirnya dari rumah ini?" kata Rosma dan sesaat melihat ke arah lainnya.
__ADS_1
"Tenanglah Tante..mereka menikah karena demi menjaga perasaan Presdir, dan sekarang Presdir sudah meninggal, maka mereka berhak memutuskan sendiri apa yang mereka inginkan...." ucap Clara yang yakin jika Hanung akan kembali padanya dan menceraikan istrinya karena mereka memang tidak saling mencintai.
"Yah....ibu mertua sudah tidak ada. Aku yang akan menggantikan posisinya. Dan tidak ada yang akan menekan kami lagi," meskipun seakan berusaha menenangkan dirinya sendiri, terlihat jelas jika ada keraguan dari apa yang baru saja di ucapkan oleh bibirnya.