Antara Istri Dan Kekasih

Antara Istri Dan Kekasih
Bab 9


__ADS_3

..."Aku yang menemani mu saat kesepian, tapi orang lain yang kau ajak ke pelaminan," Clara....


Wilona sedang membuatkan minuman untuk ibu mertuanya. Dan selama Wilona menjadi menantunya maka tak henti Rosma menghinanya.


"Apa yang kau masukkan kedalam minuman ini! Rasanya sangat asam!"


"Buuuuuuhhhh"


"Aku...aku hanya menaruh sedikit lemon didalamnya. Dan bukankah, mami tidak ingin banyak gula,"


"Aku mengurangi gula bukan berarti tidak pakai gula sama sekali! Sekarang, minum dan habiskan ini! Kau pikir mudah menjadi menantuku!"


Dengan sinis, Rosma meminta agar Wilona menghabiskan jus yang dia buat sendiri dan rasanya sangat asam.


Glek....glek!


Wilona segera menghabiskan minuman itu seperti yang di inginkan oleh ibu mertuanya.


Padahal dia punya penyakit asam lambung dan itu adalah pantangan baginya. Namun karena dia begitu patuh pada mertuanya, maka dia tidak memikirkan penyakitnya sendiri.


Rosma berdiri dengan bersedekap dan tersenyum sinis padanya.


"Kau tahu! Aku tidak setuju kau menikah dengan Hanung? Kau memang cantik, tapi kau sudah punya anak tiga dan putraku lajang. Itulah sebabnya aku sampai kapanpun tidak akan menyukaimu!"


Setelah berkata hal yang menyakitkan hati menantunya, Rosma lalu meninggalkan Wilona.


Wilona kaget dan terpana. Dia tidak menduga jika dia tidak di sukai dan pernikahan mereka di tentang oleh ibu mertuanya sendiri.


Dan sekarang, Wilona tahu kenapa sejak dia menjadi menantu di keluarga ini, ibu mertuanya selalu bersikap dingin padanya.


Jadi ini alasannya, karena aku adalah janda dan punya tiga orang anak, jika begitu, kenapa kalian melamar diriku? Untuk apa? Apakah hanya demi perusahaan lalu aku dimanfaatkan?


Wilona mengusap air matanya, dan ketika itu, Mbok Narti melihatnya.


"Non, jangan sedih karena kata-katanya. Presdir sangat menyukai Non Wilona. Jadi lebih baik tidak mengambil hati apa yang baru saja di katakan oleh mertua Non Wilona," nasehat Mbok Narti yang sudah seperti ibu sekaligus sahabat bagi Wilona.


"Tapi mbok, aku tidak tahu jika ibunya Hanung tidak menyukaiku. Aku pikir, mereka semua setuju dengan pernikahan ini, makanya aku pun setuju. Jika tahu ada yang menentang pernikahan ini maka aku tidak akan menikah dengannya," ucap Wilona dan memeluk Mbok Narti.


"Sudah non, jangan di pikirkan ya,"


"Aduh mbok...perutku....perutku sakit sekali...."


Wilona meremas perutnya yang sangat terasa menyakitkan. Dia sampai tidak bisa tahan saking sakitnya.


"Ada apa non? Non? Kenapa non tiba-tiba kesakitan begini?" Mbok Narti sangat panik.


"Sakit sekali mbok...."


Saat mbok Nanti panik, Hanung masuk bersama Clara kerumah besar itu.


Dan begitu masuk dia terkejut melihat Wilona terlihat sangat kesakitan.

__ADS_1


"Wilona!"


Hanung segera berlari ke arahnya.


"Wilona! Ada apa?"


Hanung terlihat sangat panik melihat istrinya kesakitan seperti itu.


"Sakit, Han. Sangat sakit ... perutku sakit sekali!"


"Aku akan memanggil dokter!"


Hanung segera memanggil dokter dan menggendong Wilona ke kamar yang paling dekat.


Clara terpana melihat kekasihnya itu menggendong istrinya di hadapannya.


"Han....." bisik Clara lirih.


Hanung menggendong Clara dan membaringkannya di tempat tidur dengan sangat pelan.


"Sabar ya. Dokter akan segera datang,"


Wilona masih meremas perutnya dan terlihat menahan rasa sakitnya.


"Mbok. Apa dia makan sesuatu?"


Hanung bertanya pada Mbok Narti yang berdiri disana.


"Iya Den. Non Wilona minum jus yang dia buat untuk Nyonya Rosma. Tapi kata Nyonya, malah Non Wilona yang disuruh minum jus buatan nya sendiri. Katanya asam gitu. Kan Non Wilona punya sakit asam lambung. Jadi mungkin kambuh karena minuman asam tadi,"


"Sakit ...sakit sekali...." keluh Wilona lirih.


"Sabar ya....lima menit lagi dokter akan datang. Jika kita kerumah sakit, justru akan memakan waktu sangat lama. Belum lagi macet. Aku sudah menelpon dokter keluarga. Rumahnya dekat. Pasti sebentar lagi akan datang!"


Hanung terlihat begitu menyayangi Wilona di mata Mbok Narti.


Hanung sesaat terlupa jika dia datang dengan Clara dan tadi langsung menolong Wilona ketika dia kesakitan.


Clara menunggu di luar kamar dan setelah dokter datang, Hanung keluar dan kini berdiri berhadapan dengan Clara.


Dokter sedang memeriksa Wilona didalam kamar.


Clara menatap sinis kekasihnya itu.


"Kenapa kau menggendongnya di hadapan ku!" hardik Clara dengan rasa cemburu.


"Dia istriku! Dan dia sedang kesakitan! Dia tidak bisa berjalan. Aku harus menggendongnya,"


"Aku sangat cemburu padamu!"


Hanung terkesiap dan tertegun.

__ADS_1


Dia sekarang sadar, dia membawa Clara pulang bukanlah hal yang tepat.


Clara akan cemburu melihatnya bersama Wilona. Tapi jika dia tetap di apartemen, Hanung tidak bisa tenang memikirkan keselamatannya.


"Ayo, aku antar kamu ke kamarmu,"


Hanung mengajak Clara yang terlihat kesal ke kamarnya.


Didalam kamar, Clara menarik Hanung ke dekapannya.


"Kenapa langsung pergi?"


"Aku harus melihat keadaan Wilona,"


"Kau terlihat sangat cemas!"


"Clara. Aku suaminya. Tentu saja aku cemas. Dia adalah istriku,"


"Lalu...siapa aku? Siapa aku bagimu?"


"Clara, sudah aku katakan. Aku tidak bisa menolak permintaan nenek. Dan aku terpaksa menikahinya,"


"Jika begitu, kau bisa bercerai suatu saat nanti bukan?"


"Apa!?" Hanung kini terbelalak saat Clara mengatakan kata cerai.


"Iya. Kau terpaksa menikahinya. Artinya kau bisa bercerai darinya. Kau tidak mencintainya bukan?"


"Clara. Kenapa kau masih tidak mengerti. Aku sudah menikah dan tidak ada cinta di antara kami. Tapi aku tidak mempermainkan sebuah pernikahan,"


"Jadi ini bukan pernikahan kontrak!?"


"Tentu saja bukan. Aku tidak pernah mengatakan aku menikah kontrak dengannya,"


"Lalu....aku? Bagaimana denganku?"


"Clara...sekarang bukan waktu yang tepat untuk bicara ini. Aku tahu ini sulit bagi kita,"


"Jika begitu, lalu kenapa kau sangat marah ketika aku bekerja sama dengan Bos Koala Hitam? Kenapa!?"


Clara memukul dada Hanung dengan mata menggenang menahan tangis karena patah hatinya.


"Karena aku ingin kau baik-baik saja. Aku tidak ingin kau terluka,"


"Hanya itu?" Clara berharap ada jawaban lain dari kedua bibir Hanung.


"Aku tidak bisa melihatmu terluka,"


"Hanya itu? Tidak ada jawaban lain lagi?"


"Clara....."

__ADS_1


"Keluarlah Hanung! Aku ingin sendiri...."


Clara membuka pintu dan mengusir Hanung secara halus karena hatinya saat ini pedih dan terguncang.


__ADS_2