
Valen mau tak mau harus menandatangani surat cerai tersebut jika tidak nyawa istri keduanya dan juga calon anak mereka dalam bahaya di genggaman istri pertamanya
"Bagus" ucap Arin puas
"Kalau gitu kan enak kenapa harus pake debat dulu" ucap Arin dan mendorong tubuh Kinara hingga hampir saja terbentur bagian pinggir sofa
"Arin!!" teriak Valen
Arin menaikkan alisnya sebelah dengan tatapan nyalang. Rasa takut? Musnah!!
"Kau mau aku melepaskan dia bukan lalu kenapa kau marah" tanya Arin santai dan berjalan pergi
"Awwssss" ringis Kinara karena tangannya merasa sakit saat ia gunakan untuk melindungi perutnya dari benturan
"Kau tidak kenapa napa" tanya Valen khawatir
"Sakitt" rengek Kinara manja
"Lihat dia istrimu itu semakin berani melawan dirimu bahkan dia hampir saja membunuhku" ucap Kinara
"Aku tak tau apa yang membuat dia menjadi seperti itu" gumam Valen
.
__ADS_1
"Pelayan!!!" teriak Kinara di pagi hari
"Iya nyonya" tanya pelayan
"Bawakan aku makanan ke kamar ku aku malas jika makan di meja makan bersama si kuman itu" ucap Kinara menyindir Arin yang sedang duduk tenang di meja makan sambil menyuapi anaknya makan
"Baik nyonya" ucap pelayan itu
Kinara berjalan mendekati dua manusia yang duduk di meja makan rumah mewah itu.
"Hei dasar tidak tau malu!! Kalian bisa makan berkat uang dari suami gue udah numpang gak tau diri lagi" sinis Kinara
"Ada apa sayang" ucap Valen yang baru saja datang sambil memeluk Kinara dari belakang
Valen tersenyum miring dan mengusap usap lembut perut istri keduanya itu yang sekarang sudah berusia enam bulan.
"Ini nyonya makanan nya" ucap pelayan
Arin memundurkan kursinya dan berdiri sambil menggenggam tangan putra kecilnya yang sekarang sudah berusia tiga tahun lebih
"Sayang bukankah kau ada jadwal sekolah hari ini" ucap Arin
"Iya ma"
__ADS_1
"Lebih baik kita pergi dari pada mendengar ucapan tak berfaedah dari mulut busuk seseorang" ucap Arin dan berjalan sambil menyenggol makanan yang di bawa oleh pelayan untuk Kinara
"Arin sialan!!" teriak Kinara kesal
"Ck berani sekali dia melawan nyonya di rumah ini" ucap Kinara sambil mengibaskan rambut nya
"Cih mimpi" gumam Arin dengan senyum kejam sambil berjalan keluar rumah
"Biarkan saja lebih baik kita sekarang ke dokter buat periksa aku gak sabar dua bulan lagi bayi kita akan lahir" ucap Valen dengan senyum mengembang
"Ya dong sayang dan tentunya tidak penyakitan seperti Diego eh btw soal penyakit Diego aku kok gak pernah liat dia sakit sih bukannya dia sakit parah ya" ucap Kinara
"Entahlah aku gak peduli" ucap Valen acuh karena dia tak mengetahui jika sejak empat bulan yang lalu Diego sudah di nyatakan sembuh oleh sang dokter
"Bagus Arin" gumam Rasya di balik jendela kaca yang melihat ke arah ruang makan
Arin mengantarkan Diego sekolah PAUD di hari ke tujuh nya berarti satu minggu yang lalu Diego sudah bersekolah di salah satu PAUD yang ada di kota itu
"Bye sayang" ucap Arin sambil mengecup pipi putranya sekilas dan melambaikan tangannya saat Diego berjalan menjauh
Sejak hari ketiga Diego ingin sekolah sendiri dan belajar mandiri jadi dirinya akan selalu protes jika Arin menunggu nya sampai pelajaran selesai
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN
__ADS_1