
..."Aku sadar kehadiran ku hanya mengisi harimu, namun tidak dengan hatimu," Wilona....
Clara kembali ke apartemen setelah acara syuting itu selesai. Clara sendiri tahu betapa biadab nya Genta itu. Hanya karena dia punya kekuatan, uang dan kekuasaan, dia berbuat semena-mena.
"Andaikan aku menjadi istri Hanung, maka semua ini tidak akan terjadi," ucap Clara dengan sedih.
Clara berhenti didepan pintu dan memasukkan anak kuncinya. Pintu itu terbuka dan Clara sangat kaget karena Hanung sudah ada didalam.
Hanung yang sudah menunggu sejak tadi, menoleh ketika terdengar pintu terbuka.
Deg.
Clara sangat terkejut dalam keadaan sangat lelah. Dan Hanung juga terkejut, lalu tersenyum sinis padanya.
Hanung mendekati Clara dan menarik tas yang dia pakai lalu melempar begitu saja di atas ranjang.
Clara terbelalak melihat sikapnya yang berbeda seratus delapan puluh derajat dari Hanung yang dia kenal. Pria kalem dan lembut itu berubah menjadi seekor serigala yang siap menerkam mangsanya ketika dalam keadaan marah.
Hanung menarik tangan Clara dengan kasar mendekat pada dadanya dan satu tangannya memperlihatkan kertas kerjasama itu.
"Apa ini! Kenapa kamu bekerja sama dengan Genta? Kamu tidak kenal siapa dia? Dia adalah pria yang brengsek dan kejam! Kenapa kamu malah bekerja sama dengan orang seperti itu!" hardik Hanung dalam api cemburu.
Clara tersenyum Samir. Rasa takutnya sudah berubah menjadi senyuman sinis kali ini.
"Aku terpaksa,"
"Apa!?" Hanung tak percaya dengan alasan Clara.
"Aku terpaksa melakukannya! Memangnya siapa yang mau dekat dengan orang jahat seperti mereka! Dua anak buahnya datang dan memaksaku menandatangani perjanjian itu. Jika tidak, kau tahu .. hari ini kau tidak akan melihat aku berdiri disini!" Clara berkata dengan nada tinggi.
Hanung tersentak.
"Apa!? Mereka tahu kau tinggal disini?" Hanung kaget.
"Ya. Mereka datang dan mengancamku....."
"Kurang ajar!" Hanung berbalik dan kedua tangannya mengepal.
Sesaat kemudian, Clara memeluknya dari belakang dan berkata dengan berbisik.
"Bawa aku pergi dari apartemen ini. Aku tidak aman berada disini," Clara memohon.
Hanung menjadi trenyuh dan tersentuh. Sesaat kemarahanya sudah berganti dengan rasa iba melihat apa yang terjadi pada kekasihnya itu.
__ADS_1
"Ehm...ikutlah denganku. Disini sudah tidak aman. Kau akan tinggal dirumahku," ucap Hanung dan meraih Clara ke dalam pelukannya.
"Ehm...."
"Kau tidak perlu datang lagi kesana. Kau juga tidak perlu memikirkan perjanjian itu. Biar aku yang menghadapi nya," kata Hanung dengan mata berkilat.
Tiba-tiba, mata Hanung melekat pada titik merah dileher kekasihnya itu.
Hanung lalu menyibakkan rambut Clara dan melihat tanda kepemilikan disana.
Bukan aku yang melakukannya, lalu siapa? bisik Hanung dalam hati.
"Siapa yang melakukan ini?" Hanung terbelalak dan maniknya hampir saja melompat dari matanya melihat tanda itu.
"Ini....aku tidak ingin mengingat nya. Aku merasa jijik padanya. Aku tidak ingin mengingat nya!" Clara lalu berlari ke kamar mandi dan segera membersihkan tanda merah itu dengan sabun.
Dia sendiri tidak menyadari jika Genta meninggalkan tanda kepemilikan dilehernya dalam adegan syuting yang dijaga sangat ketat oleh anak buahnya itu.
Namun sialnya, tanda itu tetap bertengger dan tidak bisa hilang meski sudah berulang kali menggosoknya dengan sabun. Yang ada, malah kulitnya kenjadi kemerahan disekitarnya karena terlalu lama di usap oleh Clara.
"Sial! Menjijikkan!"
Clara segera mengambil plester luka dan menempelkannya untuk menutupi tanda itu agar tidak lagi dilihat oleh Hanung.
Hanung saat ini sedang pergi ke Jalan Koala Hitam dan akan menghajar Genta yang sudah berani berbuat kurang ajar pada kekasihnya itu.
Hanung sangat marah dan tidak peduli jika dia harus berduel dengan Genta. Hanung sendiri belum pernah beradu kekuatan dengan Genta. Dan sekarang adalah saatnya untuk adu siapa yang paling kuat.
Hanung sendirian didalam mobil namun ada senjata didalam mobilnya. Dia tidak pergi dengan tangan kosong.
Dia menunggu diluar gerbang Koala Hitam dan mencari saat yang tepat untuk menyerang pria itu.
Dan benar saja. Tidak berselang lama kemudian, Hanung melihat Genta keluar dengan mobil dan hanya ada satu pengawal yang ikut bersamanya.
"Tepat sekali!" ucap Hanung dan segera menyalakan mobilnya mengikuti mobil Genta.
"Di sarangmu tentu aku akan kalah. Tapi diluar itu, belum tentu kau menang,"
Hanung mempercepat laju mobilnya dan ketika sampai di jalan yang kanan kirinya hanya sawah dan jalan itu lumayan sepi, Hanung menghentikan mobilnya didepan mobil Genta.
Shiiiiittt!
Suara rem mendadak yang keras terdengar sangat memekakkan telinga.
__ADS_1
Hanya sedikit mobil yang berlalu lalang. Disepanjang kanan dan kiri jalan itu terdapat hamparan sawah hijau yang sangat luas.
"Siapa orang yang sudah berani menghalagi jalanku!" Hardik Genta pada sopir.
"Biar saya lihat Bos,"
Sopir itu lalu membuka kaca jendelanya.
"Hai! Cepat jalan! Berhenti didepan mobil orang sembarangan! Sudah bosan hidup kau rupanya!"
Hanung membuka kaca jendelanya dan keluar dengan pistol ditangannya.
Dia segera berbalik dan menembakkan pistol itu tepat ke arah Genta.
Dooorrrr!
Genta kaget dan menghindar. Namun lengannya terluka karena peluru yang meleset itu.
"Haiisshhh aaaaaakkkk!" Teriak Genta dan membuat sopir itu menoleh padanya dan urung mengejar Hanung yang meninggalkan mereka tanpa bicara apapun.
"Kenapa diam saja! Cepat ke rumah sakit!" Genta sangat kesal dan meluapkan amarahnya pada sipir sekaligus pengawalnya sepanjang jalan.
Pengawal itu sampai ketakutan dan hampir saja ter kencing di celana melihat kemarahan Genta dalam kesakitan menahan luka akibat peluru yang meleset itu.
"Bodoh! Dasar bodoh!"
"Maaf Bos. Semuanya terjadi begitu cepat. Saya tidak tahu jika dia seorang mata-mata," pikir pengawal itu.
"Bisa-bisa nya dia berani melepaskan peluru ke arahku! Dia tidak tahu siapa aku!" teriak Genta.
"Kau ingat mobil pria itu?"
"Ya aku ingat bos,"
"Bagus!"
"......."
"Lihat saja pembalasan ku, berani sekali dia menembak diriku. Kurang ajar!"
Genta terus mengumpat bahkan sampai dirumah sakit dia terus mengumpat dan mengeluarkan sumpah serapahnya dengan penuh amarah.
Hanung kembali ke apartemen dan mengajak Clara ke rumahnya setelah dia membalas perbuatan Genta.
__ADS_1