Anyelir

Anyelir
Marah


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju lift tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut Rico, mulutnya diam, tapi kegeraman terlihat jelas di matanya. Rachel sadar betul itu, diapun agak ciut melihat kemarahan Rico. Rico tak pernah seperti itu.


'Sayaaang" tegurnya dengan suara lirih. Tak ada jawaban dari Rico.


"Maaf, tadi itu..." belum selesai Rachel berusaha membela diri, Rico menjawab dengan cepat dan tegas.


"Diam !!!, dan jangan banyak bicara !!, aku sedang tidak ingin bicara". Kata Rico tegas.


"Tapi sayang..."


"Diam !!"


Mereka sudah sampai di pintu lift dan naik berdua. Di dalam lift, mereka hanya berdiam diri. Rachel yang biasanya cerewetpun takut untuk memulai pembicaraan. Lift sudah sampai di bassement, sedangkan Rachel mulai terisak ketakutan, melihat kemarahan Rico. Rico berjalan di depan mendahului Rachel. Mereka mencari dimana keberadaan mobil Rachel, dengan menggunakan remote.


" Masuk !!", Rachel memasuki mobil yang sudah dibukakan oleh Rico. Di dalam mobil, Rico mulai bicara dengan nada tegas tak terbantahkan.


"Aku antar kamu pulang, akhir-akhir ini perusahaan sedang ramai pesanan dari luar negri. Kalau kamu sekedar ngajak mau ngopi-ngopi tiap hari, aku tidak bisa. Aku sibuk. Tunggu sampai kesibukan ini selesai, aku akan mengantarkanmu kemanapun kamu mau pergi. Tapi ingat jangan muncul di kantor dan membuat skandal seperti tadi, itu memalukan Rachel . Kamu sudah sarjana, harusnya kamu bisa berfikir lebih dewasa. Aku berharap kamu berubah, tapi nyatanya tidak".


"Apa salahku, itu kan perusahaanmu, nantinya jadi perusahaanku juga, semua karyawan juga harus tahu bahwa aku adalah calon istrimu, jadi mereka ngga macam-macam".


"Aku tidak mau menjawab apa yang barusan kamu katakan, intinya kita akan bertemu saat aku sudah tidak sibuk. Dan aku harap saat itu kamu sudah mulai berubah". Rachel masih menangis sesenggukan, dia berharap Rico luluh dengan tangisanya. Tapi Rico tetap memasang wajah kaku. Dalam hatinya sebetulnya Rico kasihan pada Rachel . Tapi bila hal tersebut ia tunjukkan Rachel akan mengulang perbuatan yang sama.


Sampai di rumah Rachel , Rico membukakan pintu untuk Rachel. Rachel segera lari masuk ke dalam rumah. Sedang Rico menyusul setelah memarkirkan mobil Rachel . Ia disambut oleh Bu Wulan yang merupakan ibu Rachel .


" Kenapa Rico, itu si Rachel nangis ? kalian bertengkar ya". Tanya Bu Wulan. Rico tidak menjawab, dia hanya menjabat tangan Bu Wulan.


"Tanya ke Rachel aja tante, nanti dia kan cerita".


"Maaf ya Rico, Rachel masih kekanak-kanakan, bikin kamu susah". Justru Bu Wulan ini memiliki sifat yang berbeda jauh dengan anak dan suaminya. Selain lembut, Bu Wulan orangnya juga baik dan sabar.


"Ngga pa pa tante, maaf hari ini aku sibuk, jadi mau langsung pamit aja masih ada kerjaan".


" Oh ya Rico, maaf ya, hati-hati di jalan".


"Baik tante". Rico membalikkan badan dan menuju ke pintu, diikuti oleh Bu Wulan yang akan mengantarnya keluar. Sampai di luar Rico menelpon Zein yang merupakan teman baiknya, ia minta untuk dijemput di rumah Rebecha. Mendengar itu Bu Wulan segera menyuruh Rico untuk membawa mobil yang ada di garasi.


" pakai mobil yang ada di garasi Ric, kenapa musti telepon temanya".


" Nggak pa pa tante, biar saja, saya udah biasa begini".


"Duduk gazebo sana aja yuk Ric, sambil nunggu temen kamu, tante temenin".

__ADS_1


"Baik tante"


Mereka menuju ke arah sebelah kanan rumah, disana terdapat gazebo yang dilengkapi dengan sofa dan bantal putih yang besar.


Sampai di gazebo Tante Wulan mulai membuka pembicaraan.


" Gimana kerjaan kamu ? pasti lagi sibuk banget ya ?".


Rico tersenyum.


"Ya ... begitulah tante, sampai hampir tidak ada waktu untuk diri sendiri'.


"Lagi banyak import apa eksport nih?"


"Eksport yang banyak tante".


"Wow keren ya Ric, berapa dalam sebulan eksport ke luar negeri?".


" Ya baguslah lah tante".


"Terus... maaf ya ini, tante nggak bermasksud mencampuri urusan pribadi kamu niiiih, hubungan kalian berdua gimana nih, ngga pingin cepet berlanjut ke...."


"Siang tante ".


"Siang, gimana kabar kamu Zein, lama ngga main ke rumah".


"Ya tante, sibuk, beginilah nasib buruh, nggak boleh santai "


"Alaah kamu Zein zein". Mereka tertawa bersama.


"Baik tante, saya permisi dulu". pamit Rico sambil menjabat tangan Tante Wulan.


"Ya ya silahkan Ric, maaf yang tadi ya..."


"Nggak pa pa tante..."


Mereka menuju ke mobil Zein.


" Emang kenapa kamu nggak bawa mobil sendiri"


"Aku tadi nganter Rachel , tadi dia ke kantor, dia bawa mobil sendiri, karena aku lagi sibuk di kantor ya aku antar pulanglah".

__ADS_1


"Tapi Rachel kok nggak nganter kamu pulang"


Rico tersenyum kecut,


"Kamu tahu sendiri khan gimana watak Rachel"


:Emang masih manja ?"


"Bahas yang lain aja, gimana kerjaan lo ? lancar kan?".


Zein tahu betul bagaimana sifat sahabatnya ini, dia tidak akan mau diajak membicarakan masalah pribadi.


"Banyak proyek ane"


" Syukur deh, si kecil franda dah pinter ngapain?"


"Makanya main ke rumah, jangan cuma kerja mulu, sekali-kali dibawa happy brow".


"Ya nantilah kalau ada waktu aku maen ke rumah,Thank sob, sudah mau jemput gue, sorry gue ngrepotin".


" Hmmmm kayak sama siape, kalau ngga enak boleh tuh ganti duit bbm". Mereka tertawa bareng. Tak terasa selama ngobrol mobil sudah sampai di kantor Rico. Zein membawa mobil masuk. Sebelum turun, Rico mengajak zein untuk turun.


" Yuk, Zein ngopi dulu, di kantor"


"Wah sorry Ric, kapan-kapan aja aku mampir lagi ada kerjaan nih, kalau aja bukan lo gue nggak keluar tadi, hehehe".


" Bener niih,,,, gue kangen ama lo". Dijawab cepat oleh Zein.


"Hoeeek" Mereka kembali tertawa bareng.


"Ok, thanks ya".


"Yoi"


Mobil Zein melaju menuju jalan raya. Sementara Rico menapake lorong menuju lift, dia lihat beberapa karyawan mencuri-curi pandang kepadanya. Ini pasti gara-gara Rebecha tadi, fikir Rico. huuh ada-ada saja. Rico tetap melanjutkan perjalanan tanpa mempedulikan sekitarnya. Dia hanya membalas anggukan dari beberapa karyawanya.


Sampai di kantor, seperti biasa, reflek pandangan Rico mengarah ke tempat duduk Anya, tapi lihatlah Anya sama sekali tidak melihat ke arahnya, sementara karyawan yang lain mencuri-curi pandang pada Rico.


" Eh Nya, tuh boss ganteng kita dah balik, mungkin calon istrinya tadi dah dibuang ke laut kali yaaa?" Sebetulnya Anya males nanggepi perkataan Ira, tapi dia merasa geli juga dengan perkataan Ira, sehingga dia hanya menjawab dengan senyuman. Anya menahan diri untuk tidak melihat ke arah Rico.


Sementara, Rico melanjutkan pekerjaanya, dengan sekali-kali melihat dimana Anya duduk. Tapi berkali-kali Rico harus menelan pil pahit. Sebab Anya sama sekali tidak melihat ke arahnya. Dia nggak peduli apa yang difikirkan oleh para karyawanya, tapi dia ingin menjelaskan yang sebenarnya pada Anya. Haaai, siapa yang mau kamu dengar penjelasanmu, Apa kamu tuuuh si anya, Helo Rico sadar, Rico mengeleng-gelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan bayangan Anya. Tapi tentu saja bayangan itu tidak mau hilang.

__ADS_1


__ADS_2