
Fyi "Heliotrope memiliki arti kesetiaan, cinta yang abadi"
***
Hazel dan kedua sahabatnya kini pagi-pagi sekali sudah berada di ruang makan bersama keluarga Hazel. Tak hanya ada mereka. Tamu yang tidak Hazel harapkan kehadirannya kini juga malah sudah duduk manis di depannya dengan senyuman yang mengembang.
“Ngapain lo pagi-pagi udah ke sini?” tanya Hazel dengan begitu ketusnya pada laki-laki tersebut yang malah hanya menjawabnya dengan senyuman manis. Kedua sahabat Hazel yang sebelumnya memang belum pernah bertemu dengan laki-laki tersebut memilih diam karena belum mengenalnya.
"Hazel, yang bener dong ngomongnya sama Akasa," tegur ibu Hazel pada anaknya tersebut yang kini sontak saling menoleh ke arah sahabatnya yang juga menoleh ke arahnya seolah memberi isyarat lewat matanya. 'Tuh kalian lihat kan' seperti itulah yang Hazel pikirkan.
Hazel memutar bola matanya malas sedangkan kedua sahabatnya kini sudah menunduk. Mereka ikut merasa jengah dengan ucapan ibu Hazel tersebut.
"Kita mau olahraga dulu Ma," ucap Hazel berpamitan setelah selesai dengan makannya seolah tak memperdulikan keberadaan Akasa di sana.
Hazel segera mengajak ketiga sahabatnya tersebut untuk segera pergi yang segera diikuti oleh akasa yang berjalan di belakang mereka. Seolah tak menyerah dengan tujuannya, kini laki-laki tersebut tetap saja mengejar Hazel untuk meminta maaf pada gadis tersebut setelah apa yang ia lakukan pada Hazel.
“Mau sampai kapan kamu ngikutin kita sih Sa?” tanya Hazel dengan memutar bola matanya malas melihat Akasa yang masih saja mengikutinya. Ia yang ingin menghabiskan waktu bersama sahabatnya tersebut merasa tak enak sendiri pada sahabatnya takut jika sahabatnya itu risih dengan Akasa yang mengikutinya.
“Sampai kamu ngomong sama aku,” ucap Akasa yang tak mau mengalah. Ia masih saja bersikeras untuk berbincang dengan Hazel.
“Kayaknya pembicaraan kemarin udah cukup deh. Apa lagi emang yang mau di bicarain?” tanya Hazel dengan begitu sinisnya. Bahkan kini gadis tersebut sudah berkacak pinggang dan menetap Akasa dengan kesal.
“Masih banyak yang mau aku bicarain Zel,” ucap Akasa dengan tatapan memohonnya.
Lyly dan Nira yang merasa jika mereka memang membutuhkan waktu untuk berbicara membuat Lyly dan Nira akhirnya pergi lebih dulu. Namun mereka berharap jika Hazel bisa tegas dan memutuskan semuanya. Karena kini perlahan mereka tak menyetujui Hazel dengan Akasa yang menurut mereka bukanlah orang yang baik.
“Gak ada lagi Sa,” ucap Hazel tegas dan hendak pergi dari sana namun saat melihat kedua sahabatnya ternyata kedua sahabatnya tersebut sudah tak ada di sana dan sudah pergi lebih dulu. Hazel memelototkan matanya sedangkan sahabatnya kini yang sudah berlari menjauh hanya menyerngir saja.
__ADS_1
“Emang temen sialan,” ucap Hazel kesal yang malah membuat Akasa sedikit terhibur melihat adegan di depannya. Jika saja kini Hazel sedang tak marah padanya, pastilah ia akan tertawa begitu keras namun kini ia sebisa mungkin menahan tawanya agar tidak keluar.
“Ketawa aja kalau mau ketawa,” kesal Hazel pada Akasa saat melihat laki-laki tersebut yang menahan tawanya. Memang aneh, ia mengatakan jika ia mencintai laki-laki tersebut namun entah mengapa saat berbicara bahkan ia selalu ngegas jika sudah bersangkutan dengan Akasa.
“Engga ketawa deh janji,” ucap Akasa mengulas senyumnya yang membuat Hazel berdecak sambil memutar bola matanya malas.
Selanjutnya mereka akhirnya berjalan bersama dengan Akasa yang kini mengikuti Hazel yang hanya berjalan bukannya berlari seperti kedua sahabatnya. Melihat tak ada respon dari Hazel. Akasa berpikir jika kini Hazel memberinya waktu untuk berbicara.
“Kasih aku satu kesempatan lagi. Aku janji gak akan nyakitin kamu lagi. Kalau aku nyakitin kamu lagi, tanpa kamu usir, aku akan pergi dengan sendirinya dengan cara ku,” ucap Akasa dengan tatapan memohonnya pada Hazel yang kini sudah menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Akasa dengan tatapan sendunya.
Tak menjawabnya. Hazel hanya diam saja karena bingung harus menjawab apa. Logikanya mengatakan tidak namun hatinya mengatakan tidak. Otaknya sudah berusaha sebaik mungkin namun hatinya malah memilih untuk tetap bodoh.
“Zel aku mohon. Aku tau aku salah,” ucap Akasa lagi yang masih terus saja memohon pada Hazel agar mau memberinya kesempatan lagi.
“Kita gak pacaran Sa. Jadi kesempatan apa yang kamu maksud?” tanya Hazel dengan begitu menusuk karena ia ingin Akasa mem perjelas status mereka yang masih saja abu-abu tanpa kejelasan.
“Aku pikirin dulu. Mending kamu sekarang balik. Aku butuh waktu sama temen-temen aku,” ucap Hazel yang setelahnya segera berlari untuk meninggalkan Akasa yang masih berdiri di tempatnya dengan tetap diam menatap Hazel dengan tatapan nanarnya sambil menghela nafasnya kasar lalu memilih menuruti ucapan Hazel untuk segera pergi.
Hazel kini berlari menuju teman-temannya yang ternyata tengah beristirahat di taman. Melihat hal tersebut dengan segera Hazel menghampirinya lalu duduk di samping Nira sambil meluruskan kakinya.
“Gimana Zel?” tanya Nira dengan penasarannya. Hazel menghembuskan nafasnya sambil mengedikkan bahunya karena ia juga tak tahu apa yang harus ia lakukan.
“Masih gak tau. Gue kayaknya udah terlalu bego deh ngerasa pengen nerima dia lagi,” ucap Hazel dengan helaan nafasnya. Kedua sahabatnya yang mendengar hal tersebut menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya tersebut yang memang begitu bodoh karena cinta.
“Aku gak suka kamu balik sama dia. Dia bukan orang yang baik Zel,” ucap Lyly menasehati sahabatnya tersebut. Ia hanya tak ingin sahabatnya kembali terluka.
“Kita cuma gak mau kamu sakit hati lagi. Kamu pikir aja, sahabat mana yang mau sahabatnya terluka?” tanya Nira yang kali ini ikut menimpali ucapan sahabatnya.
__ADS_1
“Jangan bersama dengan orang yang masih terbayang oleh masa lalunya,” ucap Nira melanjutkan ucapannya. Hazel menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Ia juga masih bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Menuruti kata hatinya atau menuruti otak nya yang masih memiliki sedikit logika.
“Tapi semua ada di tangan kamu. Semua balik lagi ke kamu. Meskipun kamu mengatakan tidak jika hati kamu masih untuk dia maka teruslah berjalan dan mengikuti kata hati mu saja,” ucap Lyly sambil menepuk pundak sahabatnya tersebut yang kini terlihat begitu gusar.
“Tau lah, liat nanti aja ,” ucap Hazel gusar.
“Lari lagi yuk. Katanya lari bagus buat naikin mood,” ucap Niar yang setelahnya langsung menarik kedua sahabatnya tersebut untuk kembali berlari.
Mereka akhirnya menghabiskan hari libur mereka dengan me time bersama dengan sahabat mereka. Hazel begitu menikmati waktunya bersama dengan kedua sahabatnya tersebut yang memang selalu bisa untuk mengembalikan moodnya tanpa memikirkan Akasa lagi.
***
Hi guys aku balik lagi nih dengan cerita baru aku.
Jangan lupa juga buat vote, koment, dan like ya. Dukungan kalian semangat ku.
Jangan lupa juga buat Follow akun sosial media aku ya guys. Ig: Hilmiatulhasanah dan Wphilmiath
See you next chapter guys.
Thank for Reading.
Dan ya buat kalian jangan lupa buat baca cerita ku yang lain ya. Yang pasti gak akan kalah seru dari kisah ini. Jadi langsung cek profil aku aja ya guys.
Bentar jangan pergi dulu, aku juga bawa cerita dari temen aku nih. Cerita yang bakalan buat kalian betah bacanya. So langsung di cek aja ya, sekalian nunggu Hazel dan kawan-kawan update mending mampir ke cerita temen aku ini ya. Tapi jangan lupa balik lagi ya.
__ADS_1