
Sesudah kejadian tersebut dimana Rico tidur dengan Ana. Rico tidak pernah lagi membiarkan dirinya pulang kerja sore, dia sengaja menyibukkan diri dan pulang malam sehingga tak pernah bisa Ana bersiasat.
Saat memang seharusnya ia tidur ke kamar Ana ia pasti sudah dalam kondisi capek, sehingga sampai rumah ia langsung tertidur.
Pernikahan Ana dan Rico sudah berjalan dua bulan, pagi ini saat sarapan, Ana mengabarkan sesuatu.
" Saya ada pengumuman penting", senyumnya mengembang.
"Sebelumnya terimakasih pada Kak Anya sebab harapan dan doanya akan segera terwujud".
" Ada apa ini ?, kelihatanya penting banget", ujar mama
" Saya hamiiiiil " Sambil menunjukkan test pack, dengan senyum gembira dan langsung menunjukkan pas di mata Anya.
Papa terlihat sangat gembira.
" Terimakasih Ana, akhirnya kamu memberikan cucu pada papa"
Sementara mana dan Anya tersenyum, Anyapun sampai menitikkan airmata bahagia, akhirnya keinginan papa mertuanya terwujud.
Rico hanya mematung, dia merasa frustasi kenapa kabar itu datang dari Ana.
Rico tidak suka situasi ini. Dia pergi ke halaman belakang. Dia tidak masalah Anya tidak hamil, tapi kalaupun ada kabar hamil dari mereka berdua. Rico menginginkan Anyalah yang memberi kabar.
Ana menyusul Rico, Ia memeluk Rico dari belakang,
" Selamat sayang, kamu memang luar biasa, kita akan segera punya baby".
Rico membalikkan badan, ia memegang pundak Ana.
" Selamat ya, kamu akan segera jadi ibu".
" Kamu juga akan segera jadi ayah. peluk aku dong, aku minta kecupan juga".
Rico diam tak bergeming.
"Ayo dong sayang".
Rico terpaksa memenuhi permintaan Ana.
Anya melihat adegan itu dari dalam, ia menitikkan air mata bahagia untuk suaminya yang akan memiliki anak. Dan menelusup rasa sedih, karena sampai sekarang ia tidak bisa memberikan kabar baik itu untuk suaminya.
Β
Satu bulan sejak Ana memberikan kabar bahwa ia hamil, Rico semakin gila kerja, ia semakin jarang pulang awal, Rico jarang sekali menyentuh Anya, apalagi Ana, ada rasa kecewa yang menguasai pikiran Rico.
Ia berusaha setiap hari menggauli Anya yang dicintainya, supaya ia mendapatkan anak dari Anya saja, tapi justru baru sekali Rico menggauli Ana, justru Ana-lah yang hamil.
Seperti malam sebelumnya, kali ini Rico pulang jam delapan malam, dalam kondisi lelah baik lahir maupun batin, ia ingin segera pulang dan istrahat.
Tapi saat sampai di rumah, ia mendengar ribut-ribut.
" Lepaskan aku, jangan ganggu aku", itu suara Anya.
__ADS_1
" Kamu memang nggak pantas tinggal di sini kak Anya, kakak mandul kakak ngga punya anak" Suara Ana pelan, hanya di dengar oleh Anya.
" Kakak pikir papa, mama dan Mas Rico mau tetap mempertahankan Kak Anya yang mandul".
" Cukup Ana, kesabaranku ada batasnya".
" Kakak pikir kesabaranku tak terbatas hah!"
Ana bermaksud memegang lengan Anya, sampai di tangga keempat, Anya menolak pegangan Ana dengan keras.
Ia sudah betul-betul marah dengan tingkah Ana.
Tapi apes bagi Ana kehilangan pegangan dan jatuh ke bawah.
Siapapun yang melihat berteriak.
Begitu juga Mama Rico, beberapa pembantu dan Rico.
Mereka segera menolong Ana.
Pandangan mereka ke satu arah, Anya.
Mata mereka menghakimi.
Anya terpana, ia segera menyusul ke bawah untuk membantu Ana.
Tapi tangan Ana mendorongnya.
" Jangan bantu aku, kakak jahat, apa salahku?!, apa karena aku hamil lalu kakak kalap seperti ini ?!, aku kan hanya minta tolong ?"
" Aku tidak ngapa-ngapain pa, aku hanya..."
" Diam !!, tak usah membela diri, awas saja bila terjadi sesuatu,. Rico !! cepat bawa istrimu ke kamar !!"
Anya memandang Rico supaya dibantu, tapi Rico tidak memandangnya sekejabpun, ia justru membopong Ana menuju ke kamar.
Anya mengikuti langkah mereka ke kamar Ana, saat akan masuk kamar. Papa berteriak lagi.
" Kamu nggak usah masuk, beri Ana ruang, jangan bikin semua tambah runyam !!".
Anya menyurutkan langkahnya, dengan tetesan air mata tanpa henti.
Ia menuju ke ruang santai dimana biasa ia dan keluarga menghabiskan waktu bersama.
Mba Siti mendekat pada Anya, ia lihat menantu juraganya yang baik sedang dizolimi,
" Sabar Mba Anya, semua pasti ada balasanya."
" Makasih Mba Siti, tadi mbak Siti dengar kan apa yang dikatakan Ana ?"
" Ndak Mba Anya, tapi aku yakin Mba Ana memprofokasi Mba Anya, sampai mba Anya marah, dasar wanita licik, kelihatanya dia memang mau menyingkirkan Mba Anya".
Anya menangis sesenggukan di meja yang biasa ia gunakan untuk bekerja membantu Rico.
__ADS_1
Mbak Siti ikut menangis sambil mengelus-elus pundak Anya.
Malam ini, harusnya Rico berada di kamar Anya, tapi sampai jam menunjukkan pukul satu dini hari Rico tak muncul juga.
Anya ingin menjelaskan yang sesungguhny pada Rico.
Sampai Anya tertidur ia tak mendengar Rico masuk kamar.
Keesokan harinya, saat sarapan biasanya keluarga kumpul jadi satu di ruang makan, tapi kali ini hanya ada Anya yang ada di meja makan.
Anya menarik nafas dalam, ia juga tak berselera makan. Awalnya ia ingin menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya pada keluarga, tapi kelihatanya keluarga tak mau mendengarkan penjelasanya.
Sebetulnya Anya lebih ingin didengarkan oleh Rico. Tapi tampaknya Rico lebih percaya pada ucapan Briana.
Anya kembali ke kamar tanpa sedikitpun menyentuh makanan.
Ia tertelungkup di tempat tidurnya, punggungnya tampak bergoncang pertanda ia sedang menangis.
Tak lama kemudian terdengar pintu dibuka, Rico masuk ke dalam. Anya segera bangun dan hendak menjelaskan apa yang terjadi.
" Sayang aku mau jelaskan yang semalam..."
" Nanti saja ya, aku ada pertemuan jam sepuluh, ini sudah pukul setengah sepuluh, takut nanti telat"
Rico tampak mengenakan baju kerja dengan tergesa-gesa.
" Aku berangkat dulu" Ia mendatangi Anya sambil mencium keningnya.
Kaku, seakan tanpa nyawa.
Bagaimana kecewanya perasaan Anya, orang yang biasanya nomor satu dalam perhatian, sekarang tampak acuh tak acuh padanya.
Kondisi tidak nyaman ini berjalan sampai dengan dua minggu.
Sehingga membuat perasaan Anya tidak nyaman, papa diam menyimpan marah, mama serba salah, dan Rico semakin menenggelamkan diri dalam pekerjaan.
Ana?, jangan tanyakan, sindiran Ana setiap hari memyakiti kuping memanaskan hati.
Para asisten rumah tangga ingin sekali bicara, mengungkap sifat Ana yang sebenarnya, tapi mereka takut tak dipercaya, dan akhirnya justru mereka yang harus angkat kaki dari rumah ini.
Sebab mereka sudah tahu akal bulus Briana.
Anya tak tahu lagi apa yang bisa ia lakukan, sementara rasa tidak nyaman ini semakin menyiksa batinya.
Akhirnya dia memutuskan untuk pergi dari rumah. Mungkin bila dia tak di rumah, keluarga ini akan hidup rukun dan nyaman kembali seperti dulu.
Ya, dulu, saat ia masih jadi pengantin baru di rumah ini.
Anya pergi, dengan membawa satu tas jinjing pakaian, dan hand bag, penampilanya seolah akan pergi aerobic, Jadi siapapun di rumah itu tidak menyangka jika Anya akan pergi selamanya.
ππππππππππππ
Jangan marah-marah dong kaaaa, kalau belum finish masa musti berhenti, nggak menang dong kita π.
__ADS_1
Kasi seneng dulu si Muna...
Pantengin terus Anyelir, jangan lupa like, koment (buat masukan author) n *VOTE*. Makasih kaka ππππ