
Fyi "Bells Of Ireland memiliki arti “semoga berhasil”"
***
Malam di taman KLCC terlihat begitu indah dengan lampu yang begitu indah dari menara kembar membuat pemandangan tersebut semakin indah. Tak bisa Hazel deskripsikan dengan kata-kata ia begitu menikmati pemandangan tersebut yang tersaji dengan begitu indah.
“Mau makan lagi setelah ini?” tanya Tara pada Hazel. Karena tadi mereka hanya makan di Mall KLCC sebelum magrib. Tara benar-benar tak ingin jika adiknya tersebut sampai kelaparan jadi laki-laki tersebut terus menawarkan makanan untuk Hazel.
“Abang nanya itu mulu, udah di bilang Hazel masih kenyang juga,” gerutu Hazel yang sudah bosan mendengar pertanyaan dari kakaknya tersebut yang kini malah mendengus mendengar ucapan adiknya itu.
“Abang cuma takut adek abang laper,” ucap Tara menjelaskan. Hazel hanya terkekeh mendengar ucapan dari kakaknya tersebut. Hazel memeluk kakaknya tersebut dengan erat.
“Iya Abang,” ucap Hazel sambil mengecup pipi kakaknya tersebut sayang yang membuat mereka lalu tertawa bersama.
“Abang, Hazel pengen wisata kuliner deh,” ucap Hazel yang tiba-tiba ingin mencoba wisata kuliner. Tara menaikkan sebelah alisnya.
“Tadi katanya kenyang, kok sekarang mau wisata kuliner sih?” tanya Tara mengerutkan keningnya yang malah membuat Hazel mengerucutkan bibirnya lucu membuat Tara malah terkekeh melihat tingkah adiknya tersebut yang begitu menggemaskan.
“Ya pengen aja sih,” ucap Hazel dengan begitu menggemaskan di mata Tara.
“Gimana kalau besok aja? Besok kan malam minggu tuh. Jadi kita bisa sekalian malam mingguan,” tawar Tara pada Hazel yang terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya setuju mendengar ucapan dari kakaknya tersebut.
“Siap abang,” ucap Hazel dengan senyumannya yang begitu lebar.
“Pulang yuk, udah malem nih. Besok kita jalan lagi. Abang temenin Hazel seharian lagi,” ucap Tara pada Hazel yang menjawabnya dengan anggukan.
“Abang, gendong. Hazel cape jalannya,” ucap Hazel dengan wajah cemberutnya sambil mengulurkan tangannya pada Tara. Tara yang melihat tingkah menggemaskan adiknya tersebut hanya terkekeh namun akhirnya tetap saja ia menggendong adiknya tersebut di belakangnya.
Tara tahu pasti Hazel begitu lelah setelah seharian ini mereka terus jalan-jalan. Apalagi tadi gadis tersebut begitu bersemangat saat di Mall KLCC. Berlari dan berjalan ke segala arah untuk melihat semua toko yang berada di sana. Meskipun lelah namun Hazel begitu menikmati waktu liburannya.
__ADS_1
Setelahnya Tara segera berjalan dengan Hazel yang berada dalam gendongannya. Selama di perjalanan mereka terus bercanda bersama dengan Hazel yang terus saja menceritakan hal random pada kakaknya tersebut.
“Tara,” suara tersebut mengalihkan atensi Tara dan Hazel pada seseorang yang memanggil mereka. Tara segera menurunkan adiknya tersebut karena kini mereka sudah sampai di samping mobilnya.
“Eldwin?!” tanya Tara lalu bersalaman ala laki-laki pada orang yang memanggilnya tersebut.
“Aku gak disapa nih?” tanya seorang laki-laki lain yang berada di sebelah laki-laki bernama Eldwin tersebut. Hazel yang melihat hal tersebut hanya diam memperhatikan. Hingga tatapan nya teralih pada laki-laki bernama Eldwin tersebut karena ia seperti pernah melihat laki-laki tersebut namun ia lupa di mana ia pernah melihatnya. Jangan salahkan Hazel yang pelupa karena memang memori otaknya sepertinya memang tak banyak.
“Udah sering ketemu kamu, jadi bosen nyapa kamu,” ucap Tara dengan wajah datarnya yang membuat laki-laki tersebut berdecak mendengarnya.
“Jadi sekarang akhirnya kamu punya pacar?” Tanya Eldwin dengan seringainya sambil menatap Hazel sekilas. Hal tersebut membuat Hazel menggelengkan kepalanya tegas sedangkan Tara malah terkekeh sambil merangkul adiknya tersebut.
“Bukan pacar tapi gadis kesayangan,” ucap Tara yang membuat laki-laki yang Hazel tak ketahui namanya itu bersorak sedangkan Eldwin hanya menggelengkan kepalanya sambil terkekeh.
Bisa Hazel lihat Eldwin sepertinya memiliki sikap yang sama seperti kakaknya. Begitu datar dan cuek. Namun tak bisa di pungkiri Eldwin begitu tampan, kulitnya begitu putih, dengan alis tebal, dan bibir yang begitu merah. Jangan lupakan tubuh atletis laki-laki tersebut dan tinggi tubuhnya yang terasa nyaman jika Hazel peluk.
“Wah kenalin dong,” ucap laki-laki lain yang berada di sana.
“Yah, kirain bener pacar nya,” ucap Barra dengan cemberut namun setelahnya senyuman lebar terbit di wajah laki-laki tersebut.
“Gak papa deh bukan pacar kamu, kali aja bisa jadi pacar aku,” ucap Barra yang membuat Tara malah bergidik mendengarnya. Tara membukakan pintu untuk adiknya tersebut.
“Udah pulang aja Dek, emang dia agak aneh. Lagian aku gak akan biarin adik aku deket sama orang kayak kamu,” ucap Tara lalu segera menutup pintu mobilnya setelah Hazel masuk ke dalam mobilnya tersebut.
“Yah, kok pulang sih. Jahat kamu Tar. Padahal aku ganteng dan baik banget gini malah gak dapet restu,” ucap Barra yang malah membuat kedua laki-laki tersebut bergidik ngeri mendengar ucapan dari sahabatnya tersebut sedangkan di dalam mobil Hazel hanya terkekeh geli melihat tingkah sahabat kakaknya tersebut.
Hazel juga mengagumi wajah sahabat kakaknya yang satu itu. Barra cukup imut dan menggemaskan. Tingkahnya yang petakilan juga membuat siapapun akan nyaman berteman dengannya karena sikap laki-laki tersebut yang juga baik. Berbeda dengan kedua sahabatnya yang lain yang malah memiliki wajah datar dan begitu sangar. Hazel jadi penasaran bagaimana ketiga sahabat tersebut bisa berteman baik padahal dengan sikap yang berbeda.
Barra mungkin bisa mencairkan suasana saat mereka bertiga namun bagaimana jika Tara hanya berdua dengan Eldwin? Apa mereka hanya saling diam atau malah hanya membicarakan tentang pekerjaan saja? Hazel jadi penasaran.
__ADS_1
“Aku duluan ya,” pamit tara yang setelahnya langsung masuk ke mobilnya. Hingga setelahnya mobil melaju meninggalkan parkiran.
“Abang kayaknya emang jomblo akut ya, masak sahabat abang aja bilang begitu,” ucap Hazel dengan tawanya sedangkan Tara hanya terkekeh mendengar ucapan adiknya tersebut.
“Belum ada yang cocok aja,” ucap Tara yang membuat Hazel terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.
“Oh iya kak Eldwin itu asli mana Bang?” tanya Hazel penasaran, ia hanya ingin memastikan jika ingatannya tidak salah. Tara yang mendengar ucapan adiknya tersebut.
“Kenapa? Hazel suka Eldwin? Abang sih bakalan rela banget kalau Hazel sama Eldwin dia orang yang baik dan begitu bertanggung jawab,” ucap Tara menjelaskan. Hazel yang mendengar ucapan kakaknya tersebut malah tertawa mendengar ucapan tersebut.
“Abang apaan sih, orang Hazel cuma tanya doang. Soalnya Hazel kayak pernah ketemu sama dia,” ucap Hazel menjelaskan. Tara mendengar ucapan tersebut menganggukkan kepalanya mengerti.
“Surabaya, dia jarang ada di sini karena waktu kuliah dia juga malah sering pulang balik Malaysia Surabaya untuk menemani adiknya yang sakit sedangkan orang tuanya terlalu sibuk bekerja,” ucap Tara menjelaskan mendengar ucapan tersebut Hazel memelototkan matanya karena ingatannya benar jika laki-laki tersebut adalah kakak dari bocah yang pernah ia temui di rumah sakit.
“Pernah ketemu?” tanya Tara yang Hazel balas dengan anggukan. Hingga setelahnya Hazel bercerita bagaimana ia bisa bertemu dengan Eldwin walau belum sempat untuk berkenalan.
***
Hi guys aku balik lagi nih dengan cerita baru aku.
Jangan lupa juga buat vote, koment, dan like ya. Dukungan kalian semangat ku.
Jangan lupa juga buat Follow akun sosial media aku ya guys. Ig: Hilmiatulhasanah dan Wphilmiath
See you next chapter guys.
Thank for Reading.
Dan ya buat kalian jangan lupa buat baca cerita ku yang lain ya. Yang pasti gak akan kalah seru dari kisah ini. Jadi langsung cek profil aku aja ya guys.
__ADS_1
Bentar jangan pergi dulu, aku juga bawa cerita dari temen aku nih. Cerita yang bakalan buat kalian betah bacanya. So langsung di cek aja ya, sekalian nunggu Hazel dan kawan-kawan update mending mampir ke cerita temen aku ini ya. Tapi jangan lupa balik lagi ya.