
Hari ini Rico janji ketemu Rachel, dia sengaja mengambil hari rabu, saat Rachel sudah pulang dari Lombok dan habis istirahat.
Mareka berdua janji bertemu di salah satu cafe yang suka ditongkrongi Rachel cs. Disanalah rencananya Rico akan bicara dengan Rachel.
Sementara itu, Anya berencana membeli oleh-oleh untuk dibawa kembali ke Belanda. Ia memesan car online.
Belum lama pesan ternyata mobil pesanan sudah sampai, Saat Anya keluar rumah, mobil sudah menunggu di depan rumah Anya.
Sopirnya turun menghampiri Anya.
" Ibu Anya ?!"
" Ya pak".
"Silahkan bu"
Anya masuk ke dalam mobil, ia meletakkan tas tangan di sampingnya.
Mobil maju dengan pelan, ponsel Anya berbunyi.
" Selamat siang"
Anya tidak melihat telepon dari siapa, ia langsung saja mengangkat.
" Ini ibu Anya, saya sudah sampai di depan rumah ibu".
Anya melihat ke layar ponselnya, dan ia terkejut, itu adalah nomor telepon driver pesananya tadi. Anya mulai sadar ada yang tidak beres dengan situasi di dalam mobil.
__ADS_1
"Bapak siapa?, bapak bukan driver online kan?"
Tanya Anya dengan waspada.
"Memang bukan", tiba-tiba ada jawaban dari arah belakang. Anya menoleh kaget. Dari tempat duduk belakang, ada dua orang berwajah preman memandang Anya denga wajah garang. Waktu Anya masuk mobil tadi tak ada mereka berdua. Apakah mereka sengaja bersembunyi?' pikir Anya.
" Kalian siapa? kalian mau apa?"
"Kami siapa itu tidak penting, sekarang yang penting kamu jangan banyak tingkah, kalau kamu nggak mau mati !!"
Salah satu orang di belakangnya meletakkan moncong pistol di punggung Anya.
Anya gemetar ketakutan, tapi dia pura-pura tegar.
"Kalian siapa ? mau apa?, aku bukan orang kaya, kalian tidak layak menculik aku, aku nggak punya apa-apa"
Anya terdiam ketakutan. Sebenarnya, disekitar mereka begitu banyak orang. Tapi tentu saja Anya ketakutan, bahkan untuk bergerak sedikitpun ia tak berani.
'Siapa mereka, rasanya aku tidak punya musuh, apa yang membuat mereka menculik aku, apakah mereka penjual organ tubuh ?, tapi tidak mungkin, mereka tadi menyebut namaku. Berarti mereka kenal aku, apa mau mereka', batin Anya.
Mereka menuju daerah yang lebih sepi, menurut Anya perjalananya sangat jauh, daerah yang mereka tuju, melewati hutan pinus. Anya semakkn ketakutan.
Ada apa ini, siapa mereka? pertanyaan-pertanyaan itu terus bersliweran si kepalanya.
Salah satu orang yang duduk di belakang mengambil tas Anya, dia mengambil ponsel Anya mematikan dan menginjak ponsel Anya.
Anya semakin gemetaran, sekarang yang bisa ia lakukan hanya berdoa dalam hati. Supaya orang-orang ini tidak kurang ajar padanya.
__ADS_1
Para penjahat ini tidak tahu bahwa Anya masih menyimpan ponsel pemberian Rico yang ia simpan di saku roknya yang memang agak dalam.
Secara perlahan, ia mematikan bunyi maupun getar ponsel supaya para penjahat tidak mengetahui kalau ia memiliki ponsel yang lain.
Mobil masih melewati hutan pinus, tanpa ada sedikitpun dari mereka bicara. Sopir lebih konsentrasi dengan jalanan. Sedangkan kedua orang di belakang waspada dengan gerakan-gerakan wanita yang ada di depannya. Mereka tidak mau Anya tiba-tiba melompat keluar, ataupun tiba-tiba berteriak.
Mereka sudah sampai di depan rumah yang dipenuhi oleh pepohonan yang rindang, rumah tersebut terlihat tua, tapi tampak terawat.
Anya dipaksa keluar oleh dua orang tersebut.
"Kalau kamu bertingkah aneh, aku akan menembakmu, turun !!"
Mereka turun dan memasuki rumah bercat putih tersebut.
Salah satu mengambil kunci yang ada di saku dan membuka pintu.
Di dalam rumah tampak berisi perabotan rumah tangga yang berkelas.
Anya diperintah supaya mengikuti orang yang berjalan paling depan.
Mereka menuju ke gudang belakamg rumah, yang dipenuhi oleh perabotan rumah tangga yang sudah tidak dipergunakan.
Anya didirong duduk di tempat duduk yang tampak berdebu.
Tangan dan kakinya diikat. Sedang mulutnya ditutup plester besar.
Anya tidak bisa apa-apa.
__ADS_1
Dia hanya bisa menitikkan airmata, karena ketakutan.