Anyelir

Anyelir
Keyakinan Rico


__ADS_3

Siang ini Rico sampai di Jakarta, bila tidak ada halangan rencananya hari ini Rico ketemuan dengan Zein.


Rico mampir ke perusahaan sebentar, ia mulai berkoordinasi dengan Pak Hasan untuk pekerjaan yang harus dilakukan besok.


Semua karyawan memberi jabatan tangan atas kembalinya Rico.


Selintas Rico melirik tempat kerja Anya duluuu,


Serasa ada jarum yang menusuknya berulang tepat berada di ulu hati, periiiih ....


" Pak Hasan, saya ada janji dengan teman, tolong bila ada apa-apa yang sudah direncanakan pending dulu, sebab pertemuan saya penting Pak".


" Oh ya Pak Rico, nanti saya koordinasi dengan Ibu Shinta".


" Baik Pak, terima kasih".


Rico menghubungi Zein,


" Ketemuan di tempat biasa Brooo, nggak lagi sibuk kan?"


" Santai niih, Oke aku meluncur".


Rico membawa mobilnya ke tujuan yang dijanjikan dengan Zein.


Sampai di cafe, ternyata Zein lebih dulu ada disana.


" Hello .... gimana kabar lo Ric, betah amat di Jogja".


" Gue nggak liburan Zein, gue kerja, betah nggak betah".


" Yuk duduk disana kosong"


Mereka berjalan menuju tempat duduk di pojok yang memang terlihat kosong.


Pengunjung cafe disini memang tidak terlalu banyak, tapi penyajian dan masakannya terkenal eksklusif, sehinggga banyak pengusaha yang datang ke cafe ini, untuk membicarakan masalah bisnis.


Tempat duduknya dibuat agak berjarak, sehingga pembicaraan antar pelanggan tidak terdengar.


" Lima bulan yang lalu, lo telpon aku, katanya mau membicarakan masalah Briana".


" Ya, tapi sebentar, sebelum kita berlanjut, gimana Anya sudah pulang belum ?"


" Entah dia pergi kemana, tak jelas rimbanya, aku berusaha minta alamat ke ibu, tapi nggak dikasih"


" Kamu masih mencintai Anya ? atau sudah menyerah ? Dan akan memberi peluang buat Briana ?"


" Dulu aku menikahi Briana tidak ada sedikitpun rasa cinta, Cintaku sangat besar untuk Anya. Karena Anyalah aku terpaksa menikahi Briana, jujur ada aku merasa dikhianati oleh Anya, Kenapa dia meninggalkan aku, setelah aku menuruti kemauanya".


" Mungkin dia bingung broo, bini lo yang sekarang hamil, kamu nggak juga menunjukkan rasa cintamu pada Briana, akhirnya dia pergi, Anya orangnya kan gitu, nggak enakkan".


" Ya, tapi kan bisa dibicarakan, nggak terus dia harus pergi setelah aku melakukan pembuktian".


" Pembuktian apa maksud lo".


" Pembuktian jika aku betul-betul mencintai dia-lah, walaupun sebelumnya aku nggak mau, tapi akhirnya aku nikahi Briana, karena dorongan Anya".


" Jadi sekarang lo marah sama Anya".


" Mana bisa aku marah pada wanita yang tak pernah hilang dari ingatanku, aku mencintai Anya Zein, sungguh !!, aku tidak pernah merasakan sesakit ini ditinggal wanita lain".

__ADS_1


Memang betul apa yang dikatakan oleh Rico. Zein melihat ada raut sedih di muka Rico.


" Lalu Briana di hatimu bagaimana?"


" Briana tidak pernah mampir di hatiku sedikitpun, aku hanya menghargai dia sebagai calon ibu anakku, nggak lebih".


" Bila ada berita mengenai Briana yang menyedihkan menurutmu ada efeknya ke kamu nggak?"


" Nggak ada !!"


Zein melihat ketegasan Rico,


" Oke beberapa bulan yang lalu, saat aku menghubungi kamu, aku ingin membicarakan mengenai Briana". Zein menarik nafas.


" Tapi ini berita yang tak mengenakkan, tapi kamu harus tahu, sebab kamu tidak harus mempertanggung jawabkan perbuatan yang tidak kamu lakukan".


" Maksudnya apa ini ?", Rico tampak kebingungan.


Zein mengeluarkan ponselnya, ia memutar video yang di dalamnya ada percakapan dua orang perempuan.


" Aku mau curhat nih Lin".


" Bicara aja sayang, kenapa?"


" Suamiku nggak mau bercinta sama aku".


" Eitdah, kok bisa, katarak kali dia ya, istri cantik kek gini diangguri, eeee sebentar, lalu gimana kandungan kamu".


" Sssttt jangan keras-keras, bayi Ciko aman di perut-ku"


" Gimana bisa ?"


" Jadi, suamimu nggak tahu, kamu dah hamil sebelum menikah sama dia ?"


" Nggak tahulah, cuma aku bingung nih, usia kandunganku kan sudah tiga bulan, sementara kami berhubungan pura-pura baru dua bulan, gimana dong ?"


" waduuuh, coba nanti kita tanyakan ke yang lain juga harusnya gimana, aku ngasih masukan tapi kamu denger masukan yang lain juga".


" Oke, gimana menurut kamu?"


" Lo jatuh atau apa kek, sampai bayi lo harus terpaksa dioprasi sebelum waktunya lahir".


" Good idea, bisa dicoba nih, yuk ah makan dulu, aku dah laper nih ?"


" Bentar, kabar Ciko gimana ?"


Rico mematikan video Zein, wajahnya datar, tanpa ekspresi, setidaknya Zein tidak bisa menilai dari wajah, dalam kondisi bagaimana sahabatnya ini.


" Kirim videonya ke nomorku Zein".


" Oke, Lo nggak pa pa kan ?"


" Nggak pa pa".


Setelah video terkirim secara keseluruhan, baru mereka makan dan memperbincangkan masalah lainnya.


Hari ini Rico langsung pulang ke rumah dengan wajah yang sangat ramah berbeda seperti biasanya.


Briana tampak berbahagia dengan keramahan suaminya.

__ADS_1


" Ana, nanti kita keluar yuk jalan-jalan, sama papa dan mama juga ya, kita makan di luar"


Briana memandang tidak percaya suaminya, ini adalah surprise, setelah Rico mengajak jalan saat di Jogja.


" Ya sayang, aku mau".


" Ma, pa, nanti jam empat kita jalan".


" Nggak kalian berdua saja, mama sama papa males keluar, kita makan di rumah aja Ric".


" Terserah Briana bagaimana?"


" Ya aku mau banget". Briana tampak bahagia, sambil menggelendot manja di bahu suaminya.


Papa dan mama sudah mulai tidak suka pada Briana, mereka tahu Briana munafik, mendengar cerita dari para pembantunya.


Akhir-akhir ini Briana juga sering keluyuran, dan pulang dini hari dalam kondisi bau alkohol, walaupun tidak sampai mabuk.


Dalam beberapa kesempatan saat makan siang mama menasehati, Briana. Briana bila dinasehati selalu diam dan hanya menjawab ya saja, tapi nasihat mama mertuanya tak pernah dihiraukan.


Masuk kuping kanan keluar kuping kiri.


Mama Rico memahami hal tersebut, akhir-akhir ini.


Jam empat Rico dan Briana keluar,


Briana menggelendot manja di bahu Rico, ia tampak sangat menikmati berdua dengan suami yang sekarang ia cintai.


Kebahagiaannya tak bisa ia sembunyikan, Rico membiarkan saja Briana berbuat apa, mumpung masih bisa bersama.


" Kita makan nanti malam aja, kita mampir dulu ke suatu tempat, aku ada perlu".


" Ya, terserah Mas Rico saja, aku ikut".


Rico melajukan mobilnya menuju tempat yang sudah ia tetapkan untuk dituju.


Ia memang mau membuat surprise untuk istri mudanya ini.


Sebab kalau diajak secara langsung, belum tentu Briana mengiyakan.


Sehingga Rico menggunakan cara ini, yaitu berbohong. Setelah sampai di tempat tersebut, belum tentu Briana dapat menelann makanan.


Wajah Rico tampak tenang, dia merasa ganjalan yang ada di dadanya sedikit terlepas.


Bila semua sudah usai, ia akan segera mencari Anya dengan berbagai cara.


Rico memiliki keyakinan Anya masih menantinya di suatu tempat.


Dan sebentar lagi ia akan menemukannya.


πŸ‘―β€β™€οΈπŸ‘―β€β™€οΈπŸ‘―β€β™€οΈπŸ‘―β€β™€οΈπŸ‘―β€β™€οΈπŸ‘―β€β™€οΈπŸ‘―β€β™€οΈπŸ‘―β€β™€οΈ


Author bingung nih readers, mau diapakan si muna ??


ikuti lanjutannya besok ya...


Jangan lupa, like, koment, vote-nyee dibanyakin 😍😍😍😍😍


Sarang ❀❀❀

__ADS_1


__ADS_2