
Fyi "Fennel memiliki arti kekuatan, balasan atas segala doa"
***
Seperti yang sudah direncanakan kini Tara juga Hazel serta Roy tengah berada di mall untuk berbelanja. Awalnya mereka hanya akan ke supermarket namun Hazel malah mengajak Tara untuk pergi ke mall karena ingin bermain di timezone sebelum mereka berbelanja.
Kini mereka tengah berada di time zone bermain game bumper car. Roy kini duduk di pangkuan Hazel sedangkan Tara mengendarai mobilnya sendiri. Mereka kini terlihat begitu bahagia. Tawa mereka terus terdengar, terlalu bahagia dengan kenyaman yang kini mereka rasakan.
Lagi-lagi kini akhirnya Tara dapat melihat tawa adik yang begitu ia sayangi tersebut. Dan Tara tahu Roy dapat melindungi Hazel sekaligus menjadi alasan gadis tersebut tertawa. Tara berjanji akan mencoba untuk menerima Roy, dan melupakan siapa ayah dari bocah tersebut. Ia akan menyukai orang yang menjadi alasan adiknya itu bahagia. Tara melakukannya demi Hazel.
“Abang pasti kalah,” ucap Hazel sambul menabrak mobil kakaknya tersebut lalu mereka tertawa bersama.
“Roy suka?” tanya Hazel yang dibalas dengan anggukan semangat oleh Roy.
“Roy seneng Mbak,” ucap Roy yang membuat Hazel tertawa geli melihat kepolosan adiknya tersebut lalu mengelus puncak kepalanya dengan sayang.
Merasa lelah bermain mereka segera menuju cafe es krim yang berada di daerah timezone tersebut. Roy yang sudah lelah berjalan akhirnya meminta gendong. Namun baru saja Hazel akan mengulurkan tangannya untuk menggendong bocah tersebut namun Tara lebih dulu melakukannya.
“Abang gak mau Hazel kecapean,” ucap Tara terdengar datar. Roy terlihat begitu senang berada dalam gendongan Tara sedangkan Hazel mengulum senyumnya merasa senang karena menurutnya perlahan kakaknya tersebut sudah mau menerima adiknya itu.
“Makasih Bang, Roy seneng,” ucap Roy dengan ucapannya yang terdengar cadel saat memanggil namanya sendiri.
“Kakak, bukan Abang,” ucap Tara dengan tegasnya tak suka jika ada yang memanggilnya dengan panggilan Abang selain Hazel. Hazel menggelengkan kepalanya mendengar ucapan kakaknya tersebut. Hanya sebuah panggilan saja ia permasalahkan.
“Makasih Kak,” ucap Roy lagi mengulangi. Tara hanya menjawabnya dengan anggukan.
Setelahnya tak lama mereka sampai di cafe tersebut. Mereka segera memilih tempat duduk. Setelah nyaman dengan tempat duduk mereka yang berada di pojok mereka segera memesan es krim mereka masing-masing.
“Bang, bungkisin buat Namira juga ya,” ucap Hazel yang malah membuat Tara menatap datar pada Hazel.
__ADS_1
“Gak usah,” ucap Tara tegas. Hazel menghembuskan nafasnya mendengar jawaban kakaknya yang terdengar tak bersahabat tersebut.
“Abang, gak boleh gitu. Kita di sini seneng-seneng dan di rumah dia pasti sedih, itu aja udah salah. Meskipun Hazel juga sedikit gak suka sama tingkah nya tapi dia tetep adek kita Bang,” ucap Hazel berusaha untuk bernegosiasi pada kakaknya tersebut, ia berharap kakaknya tersebut mau mengerti.
“Adek abang cuma kamu,” tegas Tara seolah ia tak ingin menerima bantahan apapun.
“Bang, please,” ucap Hazel lirih. Tara berdecak kesal.
“Ok Fine, tapi karena kini setelah ini mau belanja. Kita beli nya nanti biar gak cair,” ucap Tara akhirnya memilih mengalah. Ia paling tidak bisa untuk melihat tatapan memohon dari adiknya tersebut. Hazel tersenyum senang seraya mengucapkan terima kasih.
Setelahnya mereka memilih menikmati es krim yang tersaji di depan mereka. Namun karena Roy yang malah tertidur saat hendak berbelanja jadi mereka mengurungkan niat mereka untuk berbelanja dan hanya membeli es krim saja karena tak tega melihat Roy yang sudah tertidur. Sepertinya bocah tersebut memang begitu mengantuk dan lelah setelah bermain.
***
“Abang ini sabun muka Hazel habis loh, masak,” ucap Hazel yang kini tengah merengek pada Tara karena sabun cuci muka nya yang habis. Sebelumnya ia pergi ke mall untuk berbelanja memang berniat untuk membeli sabun cuci muka namun melihat Roy yang tertidur ia malah tak tega dan melupakan sabun cuci muka nya yang sudah habis tersebut.
“Ya, kan Hazel lupa kalau udah abis,” gerutu Hazel dengan wajah cemberutnya.
“Abang ih, denger Hazel gak sih,” kesa Haze karena kakaknya tersebut begitu fokus dengan layar di depannya. Tara menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya kasar.
“Nanti malam setelah isya kita beli,” ucap Tara akhirnya yang membuat Hazel memekik senang karena kakaknya tersebut mau untuk mengantarnya.
“Makasih Abang,” ucap Hazel sambil memeluk Abangnya dari belakang yang kini tengah duduk di kursi kerja nya. Tara tertawa geli melihat betapa menggemaskannya adiknya tersebut. Tara mengelus tangan adiknya tersebut. Jika saja Hazel bukan adiknya mungkin Tara tak membutuhkan wanita lain lagi dan hanya akan menikahi Hazel saja.
“Hazel ke kamar dulu deh, bentar lagi magrib. Mau sholat dulu,” ucap Hazel dengan senyumannya lalu setelahnya gadis tersebut segera menuju kamarnya. Sambil menunggu waktu sholat magrib gadis tersebut memilih memainkan ponselnya.
Hazel memang bukan orang yang religius. Namun ia masih ingat untuk sholat dan tidak melakukan dosa besar yang bisa membuatnya masuk neraka jalur VVIP.
Tak lama akhirnya suara azan terdengar, Hazel segera mengambil air wudhu setelah azan selesai. Baru saja ia keluar dari kamar mandi suara ketukan pintu membuat Hazel segera membuka pintu kamarnya dan memperlihatkan kakaknya yang kali ini sudah terlihat begitu tampan dengan sarung dan peci yang digunakannya.
__ADS_1
Sama seperti Hazel. Tara juga masih mengingat untuk selalu menjalankan sholat. Apalagi ayah mereka mengajarkan mereka untuk tidak pernah meninggalkan sholat. Ajaran ayah mereka memang tidak pernah salah. Bahkan setelah ibu mereka meninggalkan ayah mereka. Ayah mereka masih memberikan nasihat baik untuk Hazel juga Tara agar tidak membenci ibu kandung mereka sendiri.
Pesan ayah mereka yang paling mereka ingat tentang hari itu adalah “Seburuk apapun orang tua, mereka tetap orang tua kita. Jangan pernah membenci mereka, karena tanpa mereka kita tak akan ada.”
Itulah yang selalu ayah mereka katakan pada mereka. Hazel memang tak pernah bisa untuk membenci mereka. Berbeda dengan Tara, meskipun tak membenci mereka namun menyimpan sebuah kemarahan di dalam dirinya.
“Biar abang imamin, kita sholat bareng,” ucap Tara yang Hazel balas dengan anggukan dan senyuman senang. Karena memang sudah lama mereka tidak sholat bersama.
Jika ditanya lelaki idamannya maka Hazel akan menjawab laki-laki seperti Tara. Hazel berharap jika kelak. Ia dipertemukan dengan jodoh yang seperti Tara. Laki-laki penyayang dan begitu setia. Bahkan hingga kini laki-laki tersebut begitu setia dengan kejombloannya.
Mereka akhirnya sholat bersama dengan Tara yang mengimami Hazel. Mereka sholat dengan khusyu. Setelah Sholat bahkan mereka memilih untuk mengaji. Setelahnya mereka saling bercerita sambil menunggu waktu isya tiba.
***
Hi guys aku balik lagi nih dengan cerita baru aku.
Jangan lupa juga buat vote, koment, dan like ya. Dukungan kalian semangat ku.
Jangan lupa juga buat Follow akun sosial media aku ya guys. Ig: Hilmiatulhasanah dan Wphilmiath
See you next chapter guys.
Thank for Reading.
Dan ya buat kalian jangan lupa buat baca cerita ku yang lain ya. Yang pasti gak akan kalah seru dari kisah ini. Jadi langsung cek profil aku aja ya guys.
Bentar jangan pergi dulu, aku juga bawa cerita dari temen aku nih. Cerita yang bakalan buat kalian betah bacanya. So langsung di cek aja ya, sekalian nunggu Hazel dan kawan-kawan update mending mampir ke cerita aku yang baru. Masih anget nih.
__ADS_1