
Fyi "Valerian memiliki arti sebuah sifat yang mengakomodasi"
***
“Hazel, Deniz yang ganteng dateng bawain Hazel banyak coklat dan makanan,” ucap Deniz dengan senyuman lebarnya sambil menunjukkan satu kantong plastik yang dibawanya. Hazel yang melihat hal tersebut hanya berdecih karena tahu jika itu hanya akal-akalan Deniz untuk membujuknya.
Widya yang melihat tingkah anak dan sahabat anaknya tersebut hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, kini Hazel tengah berada di ruang keluarga sambil menonton televisi bersama dengan adik juga bunda nya itu. Namun tiba-tiba saja Deniz datang membawakan banyak makanan untuk mereka.
“Duduk lo sini, gue masih marah ya sama lo,” ucap Hazel dengan kekesalannya pada Deniz yang kini justru menyengir mendengar ucapan sahabatnya tersebut namun pada akhirnya ia tetap memilih duduk di depan Hazel, tepatnya di bawah Hazel yang tengah duduk di sofa.
“Nih oleh-oleh buat kalian,” ucap Deniz sambil meletakkan makanan yang di bawanya di atas meja yang langsung disambut dengan senang oleh adik adik Hazel.
“Cerita lo, kenapa bisa Argo yang jemput gue?” tanya Hazel sambil menodong Denis dengan pisau buah yang tengah di pegangnya. Melihat hal tersebut Deniz menelan salivanya susah payah.
“Kak, bahaya jangan gitu takut kelepasan,” ucap Widya yang baru saja datang sambil membawakan minuman untuk Deniz. Melihat adanya bala bantuan Deniz tersenyum senang yang membuat Hazel berdecak melihatnya.
“Kamu juga Deniz, udah tau Argo itu nyakitin Hazel malah di suruh jemput Hazel,” ucap Widya dengan tegasnya pada Deniz. Mendengar hal tersebut Hazel mengangguk setuju karena ibu tirinya itu yang kini mendukungnya.
“Itu karena Argo yang maksa, dan Deniz emang lagi butuh dia buat bantuin Argo dalam tugas kuliah,” ucap Argo dengan cengiran nya yang sontak membuat Hazel memukul laki-laki tersebut dengan bantal sofa yang kini berada dalam pangkuannya.
“Kan benar Bun, dia tuh jadikan aku tumbal,” ucap Hazel yang kini sudah memukul Deniz dengan membabi buta. Ia benar-benar kesal dengan sahabatnya yang satu itu.
“Dia bilang itu yang terakhir Zel, dia pengen sebelum pernikahannya bisa berdua sama lo,” ucap Deniz yang kini sontak membuat Hazel menghentikan amukannya pada Deniz dan menatap sahabatnya tersebut dengan tatapan seriusnya.
“Maksud lo?” tanya Hazel yang kini terdiam dan menatap Deniz yang kini sudah berpindah posisi di sampingnya dengan serius dan penuh tanya.
“Argo sebenernya udah tunangan sama selingkuhannya itu, dan setelah kedatangan lo tuh cewek minta ke keluarga mereka untuk segera dinikahkan,” ucap Deniz menjelaskan yang kini membuat Hazel terdiam mendengarnya.
__ADS_1
Widya yang berada di sana juga terdiam tak kalah terkejutnya mendengar penjelasan Deniz tersebut. Mereka tak menyangka jika Hazel diselingkuhi sejauh itu.
Hazel memejamkan matanya berusaha untuk mengendalikan dirinya sendiri. Meskipun ia berusaha untuk baik-baik saja, namun perasaan terluka itu masih ada meskipun hanya sedikit.
“Jalan yuk, cari udara segar,” ucap Deniz yang berusaha untuk mengalihkan suasana.
“Buruan sana kalau mau keluar mumpung belum terlalu malam, terus pulangnya jangan malam-malam,” ucap Widya yang mengerti jika Deniz berusaha mengalihkan perhatian Hazel dan ingin mencairkan suasana.
“Gak, gue males, lo aja sana,” usir Hazel yang memilih untuk menuju kamarnya. Namun tentu Deniz tak akan membiarkannya begitu saja karena laki-laki tersebut segera menarik Hazel.
“Tante, Deniz sama Hazel pergi dulu,” ucap Deniz dengan teriakannya yang membuat Widya hanya menggeleng melihatnya.
Hazel yang kesal langsung memukul Deniz namun laki-laki tersebut memilih untuk mengabaikannya. Saat sampai di mobil Deniz, laki-laki tersebut dengan segera memasukkan Hazel ke dalam mobilnya. Hazel akhirnya memilih mengalah dan mengikuti laki-laki tersebut yang terus mengajaknya jalan-jalan untuk mengalihkan pikirannya.
***
Suasana kediaman Akasa kini terlihat begitu tegang. Aura dingin melingkupi ruang keluarga yang kini diisi oleh Dwi, Rima, juga Selin yang kini bersimpuh di hadapan ibu Akasa. Wanita tersebut seperti tak ada habisnya untuk terus menghalalkan segala cara untuk membuat Akasa kembali padanya.
“Apalagi yang sekarang kamu inginkan?” tanya Dwi dengan tatapan lelahnya menatap wanita di depannya yang seolah sudah kehilangan harga dirinya dengan terus memohon dan bersimpuh di depan keluarga Akasa yang bahkan sama sekali tidak peduli padanya.
Hanya karena sebuah hubungan,rasa cinta, dan takut kehilangan dia mampu membuat semua seolah adalah korban. Meminta pertanggungjawaban atas kebohongan. Rasa takut kehilangan membuat dia buta bahwa apa yang ia lakukan bisa menghancurkan semuanya, merusak sesuatu yang harusnya berjalan dengan baik.
"Apalagi yang sekarang kamu inginkan? Tante sudah capek sama semua tingkah kamu,” ucap Dwi sambil memijat pelipisnya. Ia benar-benar dibuat lelah dengan kelakuan wanita di depannya tersebut yang tak ada hentinya mengganggu hidup anaknya.
“Selin hanya mau tante restuin Selin dan Akasa tante, kami masih saling mencintai tante,” ucap Selin dengan air matanya yang sudah mengalir membasahi wajahnya. Mendengar ucapan wanita tersebut Dwi tersenyum dengan begitu sinisnya.
“Setelah apa yang kamu lakukan pada Akasa dan pada keluarga saya kamu masih berharap saya memberikan kamu restu? Sikap kamu sendirilah yang membuat saya enggan untuk merestui kalian,” marah Dwi pada Selin.
__ADS_1
“Apa yang saya lakukan tante? Tante lah yang mencuci otak Akasa untuk menjauhi saya,” ucap Selin dengan begitu beraninya hingga suara tamparan yang begitu keras menggelegar di rumah tersebut.
"Kamu, karna kamu anak saya lumpuh, dan kamu tau di sana Hazel lah yang menemaninya untuk berjalan kembali. Apa kamu kurang puas setelah melakukan semua itu? Buat apa bohong gitu? Kamu pikir Akasa akan kembali pada kamu? Engga. Kesalahan kamu sudah terlalu banyak hingga membuat kita juga enggan untuk melihat kamu," ucap Mama Akasa dengan begitu tajam dan sinisnya.
“Kamu mending pergi dari sini dan jangan pernah usik Akasa lagi,” ucap Rima yang tak kalah tegasnya pada wanita di depannya tersebut yang masih berlutut meminta ampun.
“Apa semua ini karena Hazel?” tanya Selin yang membuat Rima kin tersenyum dengan mengejek ke arah wanita tersebut.
“Ini sama sekali gak ada hubungannya dengan Hazel, kalau mau di bandingin pun dia jauh lebih baik dari kamu,” sinis Rima pada Selin yang kini sudah menegakkan tubuhnya lalu menatap Selin dengan sinisnya.
“Kenapa selalu aku yang disalahkan dan di jadikan perbandingan? Padahal harusnya kalian juga harus disalahkan karena gak bisa mendidik Akasa dengan benar agar dia bisa menghargai perempuan,” tegas Selin dengan begitu beraninya.
Wanita tersebut menghapus air matanya kasar lalu memilih untuk segera pergi dari sana, tanpa mau di usir untuk kesekian kalinya lagi.
***
Hi guys aku balik lagi nih dengan cerita baru aku.
Jangan lupa juga buat vote, koment, dan like ya. Dukungan kalian semangat ku.
Jangan lupa juga buat Follow akun sosial media aku ya guys. Ig: Hilmiatulhasanah dan Wphilmiath
See you next chapter guys.
Thank for Reading.
Dan ya buat kalian jangan lupa buat baca cerita ku yang lain ya. Yang pasti gak akan kalah seru dari kisah ini. Jadi langsung cek profil aku aja ya guys.
__ADS_1
Bentar jangan pergi dulu, aku juga bawa cerita dari temen aku nih. Cerita yang bakalan buat kalian betah bacanya. So langsung di cek aja ya, sekalian nunggu Hazel dan kawan-kawan update mending mampir ke cerita aku yang baru. Masih anget nih.