Anyelir

Anyelir
Spearmint


__ADS_3

Fyi "Spearmint memiliki arti kehangatan dari sebuah perasaan"


***


Suara dari banyaknya orang di Bandara menjadi penyambut saat Hazel baru saja sampai di Bandara Kuala Lumpur. Gadis tersebut terus menelisik sekitar mencari keberadaan kakaknya yang mengatakan akan menjemputnya. Dengan susah payah gadis tersebut menyeret koper nya mencari keberadaan kakaknya.


Hazel menghidupkan ponselnya untuk menghubungi kakaknya tersebut, namun baru saja ia akan menghubungi kakaknya tersebut suara yang memanggilnya dengan begitu keras lebih dulu menyapa telinganya.


“Hazel!” panggilan tersebut membuat Hazel menoleh ke arah sumber suara. Hingga sebuah senyuman terbit di wajah cantik tersebut.


Hazel segera membawa kopernya menghampiri orang yang memanggilnya itu. Yang tak lain adalah kakaknya. Tara juga dengan segera menghampiri Hazel, saat berada di depan adiknya itu Tara dengan segera memeluk Hazel yang juga dibalas dengan pelukan oleh gadis tersebut.


“Maaf ya, tadi di kantor ada yang harus Abang urus dulu,” ucap Tara dengan menyesal karena terlambat menjemput adiknya tersebut. Tara melepaskan peukan mereka menatap adiknya itu dengan penuh rasa bersalah.


“Baru landing juga,” ucap Hazel dengan senyumannya yang menular pada Tara. Tara mengelus puncak kepala adiknya tersebut lalu segera mengambil alih koper Hazel dan tangannya yang satu lagi memegang tangan Hazel, menggenggam tangan adiknya tersebut untuk segera ia bawa keluar dari bandara.


“Jadi apa yang buat Hazel dateng ke sini?” tanya Akasa dengan penasarannya menatap adiknya tersebut dengan penuh tanda tanya. Tara menaikkan sebelah alisnya dengan senyumannya yang mengembang. Tak dapat ia pungkiri meskipun di buat bingung dengan kedatangan adiknya itu namun ia juga senang karena Hazel datang mengunjunginya.


“Gak ada, sekedar main aja. Kangen Abang jadi mau liburan sama Abang,” ucap Hazel dengan senyumannya yang malah membuat Tara terkekeh mendengar ucapan adiknya tersebut.


“Sejak kapan Hazel kangen Abang langsung ke sini? Biasanya juga cuma vc atau telpon aja,” ucap Tara yang malah membuat Hazel ikut terkekeh mendengarnya.


“Kali ini kangennya kelewatan,” ucap Hazel sambil memeluk lengan kakaknya tersebut yang membuat Tara tertawa mendengar ucapan adiknya tersebut.


“Hazel mau beli kartu dulu ya Bang nanti, soalnya selama disini Hazel mau fokus liburan jadi mau non aktifkan akun Hazel ini, biar gak ada yang ganggu,” ucap Hazel dengan bibir mengerucutnya yang terlihat lucu bagi Tara. Tara menaikkan sebelah alisnya. Kini ia yakin jika sebenarnya Hazel datang bukan hanya sekedar untuk berlibur seperti yang gadis itu katakan. Namun juga untuk menenangkan dirinya. Sepertinya Tara harus mencari tahu apa yang terjadi pada adiknya tersebut.


“Ok, nanti kita mampir buat beli kartu perdana dulu,” ucap Tara yang Hazel balas dengan anggukan. Setelahnya mereka segera berjalan ke arah mobil Tara berada. Selama di perjalanan mereka tak kehabisan topik untuk berbicara. Rasa kesal Hazel pada Tara perlahan terlupakan karena kakaknya tersebut. Senyum dan bahagia nya sudah kembali dan semua itu karena kakaknya. Memang hanya kakaknya saja yang bisa mengerti dirinya.

__ADS_1


***


Akasa kini terlihat kelimpungan saat mencari Hazel yang tak ia temukan. Ingin menelpon namun kini ponselnya mati karena baterainya yang habis. Tadi sebelum berangkat ke kampus ia malah lupa untuk mengisi daya ponselnya. Akasa mengusap wajahnya gusar. Sudah satu jam lebih Akasa mengitari fakultas Hazel untuk mencari gadis tersebut namun Akasa masih belum saja menemukannya.


“Hazel kamu dimana sih?” tanya Akasa dengan gusar mencari keberadaan gadis tersebut yang tak juga ia temukan keberadaan.


Akasa menghela nafasnya kasar. Ini salahnya karena meninggalkan Hazel begitu lama dan juga karena ponselnya yang tak aktif karena batre ponselnya yang habis. Akasa akhirnya memilih untuk segera pergi dan menuju ke rumah Hazel untuk bertanya apakah Hazel sudah pulang.


Laki-laki tersebut melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan kota menuju rumah Hazel untuk menenangkan tentan keberadaan gadis tersebut.


Tak membutuhkan waktu lama, kini laki-laki tersebut sudah menghentikan motor nya di depan sebuah rumah berlantai dua milik keluarga Hazel.


"Semoga kamu ada di dalam Zel," ucap Akasa dengan penuh harap. Ia tak masalah jika memang Hazel ada di dalam dan meninggalkannya pulang duluan. Akasa mengerti pasti Hazel marah padanya karena ia yang lama.


Akasa mengetuk pintu dengan penuh harap jika Hazel ada di dalam. Tak beberapa lama menunggu akhirnya pintu terbuka dan menampilkan Tari dengan senyumannya yang begitu ramah pada Akasa.


"Loh Akasa? Kenapa nak? Cari Hazel ya? Tapi Hazel nya gak ada di rumah," ucap Tari dengan wajah  bingung. Mendengar ucapan Tari tentu saja Akasa terkejut sekaligus bertambah khawatir. Akasa pikir Hazel belum pulang dari kampus.


“Hazel belum dateng dari kampus tante?” tanya Akasa bingung yang kini malah membuat Tari menaikkan sebelah alisnya bingung mendengar pertanyaan dari laki-laki di depannya tersebut.


“Loh, emang kalian nggak pulang bareng?” tanya Tari kebingungan. Akasa menggelengkan kepalanya dengan lemah. Kini rasa bersalah juga khawatir melingkupinya. Jika terjadi sesuatu pada Hazel, Akasa lah yang akan merasa paling bersalah.


“Hazel udah pulang tadi, cuma sekarang dia udah di pesawat,” ucap Tari sambil melihat jam yang melingkar di tangannya yang kini sudah menunjukkan pukul 12.45


“Maksud tante apa?” tanya Akasa yang dibuat kebingungan dengan ucapan Tari.


“Hazel sekarang ke Malaysia. Tante gak tau dia kenapa tapi tadi dateng kampus langsung beresin barang-barangnya dan dia bilang mau ke Malaysia. Pesawatnya udah take off sekitar satu jam yang lalu,” ucap Tari menjelaskan. Akasa yang mendengar penjelasan tersebut rasanya sudah lemas. Satu jam ia mencari keberadaan Hazel di Fakultasnya namun ternyata kini gadis tersebut sudah melakukan penerbangan ke Malaysia.

__ADS_1


Marah? Ya, rasanya kini Akasa ingin marah pada gadis tersebut yang tak memberitahunya jika ia akan ke Malaysia dan pulang lebih dulu. Akasa mengepalkan tangannya berusaha menahan amarahnya.


“Kalau gitu Akasa pulang dulu deh Tante,” ucap Akasa sambil menyalami tangan Tari yang tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


Namun baru saja Akasa akan pergi, Tari memanggil laki-laki tersebut membuat langkah kaki laki-laki tersebut terhenti.


“Akasa,” panggil Tari yang kini sontak membuat Akasa membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah Tari dengan tatapan bingung.


“Tante rasa Hazel sedang tidak baik-baik saja, jika kalian bertengkar selesaikan dengan baik,” ucap Tari berpesan pada Akasa yang kini tengah kebingungan namun akhirnya ia hanya menjawabnya dengan anggukan dan senyuman. Setelahnya ia segera menuju ke arah rumahnya yang tak terlalu jauh dari rumah Hazel.


Perkatan Tari terus saja terngiang di kepalanya sampai ia sampai di rumahnya. Akasa segera mengisi daya ponselnya dan menghidupkannya. Hingga terlibat ternyata begitu banyak panggilan masuk dari Hazel.


Melihat itu Akasa kini semakin di buat frustasi dengan gadis tersebut yang tiba-tiba pergi. Ia yang awalnya marah karena Hazel yang tak memberitahunya jadi merasa bersalah karena ternyata Hazel sudah menghubunginya namun ia yang tak bisa menjawabnya.


***


Hi guys aku balik lagi nih dengan cerita baru aku.


Jangan lupa juga buat vote, koment, dan like ya. Dukungan kalian semangat ku.


Jangan lupa juga buat Follow akun sosial media aku ya guys. Ig: Hilmiatulhasanah dan Wphilmiath


See you next chapter guys.


Thank for Reading.


Dan ya buat kalian jangan lupa buat baca cerita ku yang lain ya. Yang pasti gak akan kalah seru dari kisah ini. Jadi langsung cek profil aku aja ya guys.

__ADS_1


Bentar jangan pergi dulu, aku juga bawa cerita dari temen aku nih. Cerita yang bakalan buat kalian betah bacanya. So langsung di cek aja ya, sekalian nunggu Hazel dan kawan-kawan update mending mampir ke cerita aku yang baru. Masih anget nih.



__ADS_2