Anyelir

Anyelir
Menikah


__ADS_3

Briana, atau Ana nama gadis calon istri Rico. Anaknya baik dan tidak kalah cantik dengan Anya. Usianya 29 tahun. Satu tahun di bawah Anya. Ana menarik dan juga ramah.


Dia segera akrab dengan seluruh penghuni keluarga Broto Asmoro.


Anya memperhatikan gerak-gerik Ana, dia terlihat sopan dan tulus, tutur katanya-pun tertata dengan baik.


 


Besok adalah hari dimana Rico dan Ana menikah.


Sedih tak terkatakan yang dirasakan keluarga ini. Besok adalah acara bahagia harusnya, tapi lihatlah dari pemilik rumah sampai dengan asisten rumah tangga, tidak ada yang terlihat bahagia.


Justru wajah-wajah mereka tampak murung, begitupun calon pengantin pria.


Malam ini Rico dan Anya tidak bisa tidur sampai larut malam.


" Sayang, besok kita sama-sama mengorbankan diri demi papa, aku tanya sekali lagi, kamu yakin kamu nggak pa pa bila aku nikah lagi, jika saat ini kamu berubah pikiran, pernikahan akan aku batalkan ?"


Anya mendekat ke pelukan Rico, dia mendekap suaminya itu dengan erat.


" Maafkan aku sayang, aku sudah ikhlas semua ini terjadi, aku ikhlas.... menikahlah", tak terkatakan bagaimana sakitnya hati Anya mengucapkan kalimat yang terasa munafik itu.


Tapi tak ada jalan lain. Dan hanya kalimat itulah saat ini yang terfikirkan oleh Anya, untuk menguatkan suaminya.


Rico tidak sanggup meluluhkan hati Anya, dia tahu Anya baik, tapi dia baru sadar bahwa hati Anya luas, seluas samudra.


Ia cium pipi istri tercintanya, matanya, turun ke bibir Anya dengan rasa cinta yang dalam.


Rico melepaskan satu persatu apa yang melekat pada Anya. Rico memulai aksinya sebagai suami yang gagah perkasa, malam ini mereka merasa sebagai pengantin baru.


Mereka saling menikmati satu dengan yang lain.


Dengan penuh cinta, kerinduan, sekaligus ketakutan berpisah antara yang satu dengan lainnya.


Malam ini Anya tampak terlihat agresif dan liar, tidak seperti malam-malam sebelumnya.


Sampai Rico minta lagi dan lagi, Jam tiga dini hari baru mereka tertidur saling memeluk dengan penuh kelelahan.


Rico tidur dengan senyum, dia pasti tak akan bisa melupakan permainan liar istrinya.


 


Hari ini jam sepuluh tepat Rico menikah dengan Ana. Tak ada tawa bahagia dalam pernikahan tersebut. Semua khidmat mengikuti dengan wajah-wajah muram, tak terkecuali Pak Broto.


Pak Broto duduk di kursi roda, beberapa kali beliau mengusap air matanya, begitu juga dengan Bu Broto mama Rico.


Suasana pernikahan yang aneh, menurut para tamu.


Anya hanya menundukkan kepala selama proses pernikahan berlangsung.


Tampak beberapa kali dia mengusap air matanya, tapi dia tetap berharap supaya suaminya segera memiliki anak, walaupun dari wanita lain.


Selesai ijab khabul, tamu-tamu yang hanya terdiri dari kedua keluarga mempelai, makan bersama dan saling berbincang.


 


Tamu-tamu bubar pukul lima sore.


Mereka satu keluarga berbincang di teras belakang, papa, mama, Rico dan kefua istrinya, serta Lila dan keluarga.

__ADS_1


Tak ada tawa bahagia, justru mereka saling diam dengan berkutat pada fikiran masing-masing.


 


Hari mulai malam, jam menunjukkan pukul sembilan malam. Mereka satu persatu masuk ke kamar masing-masing.


Papa mama dan Lila masuk ke kamar masing-masing untuk istirahat, sedangkan Anya membantu membereskan peralatan dapur yang masih berantakan.


Anya berusaha menghibur hatinya sendiri, setidaknya dengan dia menyibukkan diri, bayangan yang menyakitkan tidak akan mampir di kepalanya.


Rico masih membuka-buka berita di berita online, dia tidak ingin cepat-cepat tidur.


Ada keengganan di hatinya untuk masuk ke kamar pengantin, yang merupakan kamar tamu dan disulap sebagai kamar pengantin baru.


Sementara Ana menunggu dengan harap-harap cemas. Dia sudah membayangkan akan melalui malam pertama ini dengan indah, sebab suaminya sudah memiliki pengalaman.


Tapi, sampai dengan pukul sebelas malam tak tampak Rico akan memasuki kamar sampai ia tertidur karena rasa capek dan kantuk yang menyerangnya.


 


Anya masuk ke dalam kamar, ia ingin istirahat bila bisa. Sampai di kamar bukan tidur yang ia lakukan, ia malah menangisi nasibnya yang kurang beruntung.


Tak lama kemudian terdengar pintu dibuka, Anya langsung terduduk kaget.


" Sayaang, kenapa kamu kesini ? bukannya kamu harusnya ke kamar Ana ?"


" Aku belum bisa, aku masih butuh waktu, maafkan aku, malam ini aku tidur di kamar ini"


"Tapi sayang, ini malam pertama kalian, harusnya kamu berada di sana, Ana pasti nunggu kamu".


" Aku capek sayang, biarlah aku tidur disini bersamamu".


" Baiklah, untuk malam ini saja ya tidur disini, besok harus nemenin Ana".


Rico hanya menganggukkan kepalanya.


Tak disangka malam ini Rico minta jatah pada Anya, tentu saja sebagai istri yang baik Anya melayani suaminya.


Rico menginginkan Anya seperti semalam yang agresif dan liar.


Seperti malam sebelumnya Rico minta lagi dan lagi, karena dia merasa Anya menjadi lebih luar biasa dibanding sebelum-sebelumnya.


Jam satu dini hari baru mereka tertidur saling berpelukan dengan puas.


 


Keesokan harinya, saat Mama, Anya dan Ana mempersiapkan untuk sarapan. Ana bertanya pada Anya.


" Kak, semalam Mas Rico nggak tidur di kamarku, dia tidur di kamar kakak ya?" tanya Ana dengan wajah yang manis.


Mama memandang penuh tanda tanya kepada Anya.


Anya gelagapan saat menjawab.


"I iya de', mungkin Mas Rico belum terbiasa, butuh waktu de, semalam sudah kakak nasehati kok".


Ana tersenyum manis,


" Nggak pa pa kok, cuma tanya aja, takutnya Mas Rico tidur di kamar tamu kan malah nggak enak".

__ADS_1


Luar biasa kedua mantuku ini, beruntung Rico, punya istri dua, dua-duanya sangat pengertian. pikir mama Rico.


" Nanti mama ikut bicara sama Rico, biar dia bisa membagi waktu".


" Nggak pa pa kok Ma, Ana cuma bertanya,kalau Mas Rico ada di kamar Ka Anya ya sudah", senyum manis menghias wajah cantik Ana.


Saat sarapan berlangusng, tampak jelas Rico selesai mencuci rambut.


Aroma maskulin parfume Rico dan aroma shampo, menambah kejantanan wajah Rico.


Kenyataan itu membuat Ana jengkel yang bisa ia simpan dalam hati.


Mereka semua sarapan pagi dengan diam tanpa banyak bicara.


" Rico, nanti sebelum berangkat kerja mama mau bicara".


" Baik Ma".


Setelah sarapan selesai Lila mendorong kursi roda papa-nya ke teras belakang, tempat favorit keluarga berkumpul disana.


Sementara Rico membuntuti mamanya yang sedang berjalan ke arah ruang kerja.


"Rico tutup pintunya"


" Tumben ada apa Ma ?"


" Bener kamu semalam nggak tidur di kamar Ana?" Tanpa menjawab pertanyaan putra kesyanganya.


" Mama tahu dari mana?"


" Dari mana kamu nggak perlu tahu, tapi kamu harus adil dengan kedua istrimu, jangan sampai salah satu merasa diabaikan".


" Aku belum bisa Ma, plis jangan paksa dulu".


" Mama nggak maksa, tapi mengingatkan kewajiban kamu sebagai seorang suami".


Rico menarik nafas dalam


" Ya Ma, akan aku coba".


" Jangan dicoba, tapi kamu memang harus melaksanakan, mereka berdua istri kamu, yang seharusnya mendapatkan hak dan kewajiban yang sama".


" Ya Ma".


Senentara di tempat lain, di dapur bersih, Anya dan Ana sedang membereskan peralatan makan, untuk dimasukkan dalam kichen set.


" Memang kakak nggak merasa bersalah gitu, merebut malam pengantinku ?"


Anya kaget, dia hampir saja menjatuhkan piring porselin mama, jika peganganya tidak kuat.


" Maksudmu apa de'?"


" Maksudku sudah jelas, jangan pura-pura nggak paham deh". Ujar Ana sambil tersenyum sinis.


Anya memandang Ana dengan tidak percaya, benarkah barusan apa yang kudengar ?


💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝


Hari ini aku up dua episode kaka... Jangan lupa bantu like, koment n vote makasssih 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2