Anyelir

Anyelir
Berangkat ke Belanda


__ADS_3

Setelah menangis beberapa saat, Anya mulai tenang. Ia harus memikirkan apa yang bisa ia lakukan, ia harus memajukan keberangkatanya ke Belanda. Tidak bermaksud untuk melarikan diri dari masalah, tapi ia berusaha menenangkan diri, serta untuk sementara menjauh dari Rico. Anya bangun dari tempat tidur, ia melangkah menuju kamar mandi, membersihkan diri dan mematutkan diri mengenakan pakaian yang casual serta tidak lupa membawa koper yang sudah ia siapkan, siapa tahu dia dapat tiket untuk hari ini. Kali ini Anya memanggil mobil online, dia merasa tidak punya daya dan konsentrasi untuk membawa mobil sendiri. Tidak berapa lama mobil sudah datang, Anya masuk di belakang. Sambil melakukan perjalan ke arah tempat kemaren ia memesan tiket Anya menelpon atasanya.


" Selamat siang Pak Harun"


"Selamat siang Mbak Anya, bagaimana, ada yang bisa saya bantu".


"Mohon maaf Pak, jadwal keberangkatan saya dimajukan, jadi saya izin mulai besok, tidak berangkat ke kantor".


"Tapi ada beberapa pekerjaan yang harus Mba Anya selesaikan ".


"Ya pak, besok pulang dari Belanda saya selesaikan".


" Ngga usah Mba Anya, biar kita koordinasi dengan satu divisi, pekerjaan bisa dibagi-bagi".


"Oh ya pak, terima kasih, mohon maaf pak, selamat siang"


"Ya Mba Anya, hati-hati disana ya"


"Ya pak". ponsel dimatikan dan Anya lega karena permintaan izinya telah dikabulkan.


Di kantor, beberapa kali Rico menengok tempat duduk Anya, tak ada disana, kemana dia, jam sudah menunjukkan pukul dua siang hari, tapi Anya belum kelihatan, atau..., sebelum pikiranya melantur Rico menelepon Pak Harun yang merupakan atasan langsung Anya. Rico memencet nomor telepon di mejanya, nomor untuk Pak Hasan.


" Pak Hasan, tolong panggilkan Pak Harun, sekarang".

__ADS_1


"Ya pak ", Jawab Pak Hasan singkat. Pak Hasan menuju ke ruang Pak Harun. Ia mengetuk pintu.


"Silahkan masuk", terdengar sahutan dari dalam. Pak Hasan masuk, dan memberitahukan bahwa ia dipanggil oleh Pak Rico. Mereka berjalan bersama-sama menuju ke ruangan Rico.


"Silahkan Pak Harun... " Pak Hasan mempersilahkan Pak Harun untuk masuk ruangan Rico.


" Mari duduk disini Pak Harun", Rico mempersilahkan Pak Harun untuk duduk.


"Terima kasih Pak Rico". Rico memulai membuka pembicaraan.


"Begini Pak Harun, hmmmm (dia berdehem ), hari ini, ada yang tidak masuk dari divisi bapak". Pak Harun tahu betul, arah pembicaraan Rico, sebab saat keributan tadi dia ada di ruanganya, dan mendengar semua yang dikatakan oleh Rachel.


"Masuk semua Pak Rico, hanya tadi Mbak Anya minta izin ada keperluan, barusan telepon katanya cutinya dimajukan, beliau akan berangkat ke Belanda besok".


" Mendadak amat, terus pekerjaan untuk hari ini dan besok bagaimana? sudah ada yang handle?"


"Ia, nanti ini saya koordinasi dengan satu divisi".


"Ok baiklah, terima kasih Pak Harun", Ada keraguan terlihat jelas di mata Pak Harun kelihatanya ada yang ingin ia sampaiakan.


" Ada sesuatu yang mau disampaiakan Pak Harun?"


"Ada Pak Rico, tapi ini sifatnya pribadi, bisakah?"

__ADS_1


" Oh ya silahkan pak, tidak apa-apa".


" Begini Pak Rico,,,,, (terlihat sekali Pak Harun ragu ingin menyampaikan), tadi pagi Mbak Rachel kesini, hmmm, beliau mencari Mba Anya, saat Mba Anya menujukkan diri, Mbak Rachel langsung menghampiri dan, hmmmm langsung memukul pipi Mbak Anya, maaf Pak Rico, ini perlu bapak ketahui, sebab kejadianya ada di kantor". Dan terlihat jelas ada kemarahan dari sorot mata Pak Rico, walaupun suaranya terdengar tenang, tapi ada getaran kemarahan di suara tersebut.


"" Baik pak, terima kasih pemberitahuannya".


"Ya Pak Rico, mohon maaf, saya permisi".


Entahlah ada rasa sakit yang menghujam tajam di hati Rico, ada marah, ada sedih. Marah karena kelakuan Rachel , sedih karena mengingat Anya. Jangan-jangan.... pikiran jelek langsung mampir di kepala Rico. Dia langsung mengambil Jas yang tadi ia lepas, dan berlari menuju keluar. Dia tidak menyadari tatapan mata semua karyawan menuju ke arahnya. Tahupun dia tidak peduli.


Rico membawa mobil dengan serampangan, pikiranya kalut, ada rasa tak rela saat membayangkan Anya pergi ke Belanda, walaupun hanya satu minggu, kepergian yang dipercepat terjadi karena aku, pikir Rico. Dia belum boleh pergi sebelum menyelesaikan masalah ini, ini harus dituntaskan. Mobil mengarah ke rumah Anya, waktu yang biasa ditempuh dengan waktu setengah jam perjalanan dirasa oleh Rico sangatlah lama. Entahlah.... ada rasa takut kehilangan Anya, ada perasaan hampa saat mendengar Anya pergi saat ini.


Rico sudah sampai di rumah Anya, rumah dalam keadaan sepi. Mobil Anya ada di rumah. Rico mengetuk pintu berkali kali, tapi tak ada yang keluar untuk membuka pintu. Salah satu tetangga Anya yang buka warung bakso mendatangi Rico.


" Mas .... cari mbak Anya ya?"


" Ya, pak ... dimana ya, tolong pak dilihat di samping"


"Mba Anya pergi mas, tadi bawa koper, saya nggak sempat tanya, tapi kata istri mau ke Belanda. kirain berangkat lusa nggak tahunya hari ini..." Sebelum pembicaraan orang tersebut selesai Rico pergi sambil mengucapkan terimakasih dengan langkah panjang dan tergesa-gesa.


Beberapa kali Rico menghubungi nomor Anya, tapi tidak aktif, hal ini tambah bikin Rico panik. Dia mencari alternatif jalan terdekat menghindari kemacetan supaya lebih cepat sampai bandara. Karena tak ada jawaban Rico membuka aplikasi pesawat apa yang saat ini ada jadwal ke Belanda. Ada salah satu pesawat BUMN yang hari ini melakukan perjalanan ke Belanda. Tapi keberangkatan pukul 16.45. Tinggal setengah jam lagi. Rico memacu mobilnya dengan lebih kencang lagi. Tapi percuma saat sampai di i bandara pesawat yang Anya tumpangi berangkat 10 menit lagi, Anya pasti sudah ada di dalam pesawat.


Rico tidak putus harapan dia mencari di tempat keberangkatan pesawat yang ditumpangi Anya. Tapi tentu saja Anya sudah tak terlihat batang hidungnya. Sedangkan pesawat sebentar lagi take off. Sebetulnya satu minggu lagi ia bisa bertemu dengan Anya, tapi rasa hampa ini tak bisa menunggu hingga satu minggu lagi. Ia mulai putus harapan, ada rasa yang tak pernah ia rasakan, bahkan saat berpisah dengan Rebechapun, perasaanya tidak seperti ini. Perjalanan Jakarta Amsterdam kurang lebih 14 jam, apakah ia harus menunggu sampai besok untuk menghubungi Anya.

__ADS_1


Perasaan yang saat ini tumbuh di hati Rico, bahkan mengejutkan dirinya sendiri. Ia merasakan sangat kehilangan. Ada rasa sesal yang ia rasakan setelah Anya pergi. Akhir-akhir ini ia begitu sibuk dengan pekerjaanya, sampai tak tahu ada keributan yang dia adalah penyebabnya, dan yang menjadi korban adalah Anya, wanita yang akhir-akhir ini mengganggu pikiranya.


__ADS_2