
Sedang di Pulau Lombok, Rachel tampak marah-marah dengan salah satu pegawai hotel yang akan diakuisisi oleh Rico. Dia marah karena tidak menemukan Rico
"Aku pingin ketemu manager hotel, mana dia !!" dengan nada yang ketus dan menyebalkan
Pegawai yang tidak tahu siapa wanita ini, tetap sabar meladeni Rachel.
"Mari ibu saya antarkan ke beliau".
"Calon suami saya mau beli hotel ini, bagaimana bisa tidak ada dalam daftar tamu, nggak mungkin kan dia nggak nginap disini?"
"Maaf ibu, untuk itu kami tidak paham, nanti bisa ibu tanyakan langsung ke manager kami"
'Cantik si cantik, tapi judesnya bikin nggak betah' batin pegawai hotel.
"Hotelnya bagus, tapi sayang pengelolaanya tidak maksimal, nanti kalau dipegang calon suamiku pasti nggak akan gini"
Pegawai tersebut diam saja, sambil menunjukkan jalan ke arah ruangan manager.
Tok tok tok , tok tok tok
Dari dalam terdengar suara seseorang menyuruh untuk masuk
"Ya silahkan masuk !"
"Maaf pak ada tamu yang mencari bapak".
"Ia silah....", sebelum ucapanya selesai, manager tersebut tampak tertegun melihat tamunya, begitupun dengan Rachel, dia sama tertegunya seperti sang manager.
Sampai si pegawai, juga bingung melihat ketertegunan kedua orang tersebut.
"Hmmm aya permisi pak !" dehem pegawai sambil pamit pergi, membuyarkan ketertegunan mereka berdua.
"Kamu manager hotel ini?"
__ADS_1
"Iya, bagaimana kamu bisa disini"
"Aku mencari Rico, dia bilang mau beli hotel ini ?"
"Iya betul, tapi dia memang belum berencana kesini dalam waktu dekat, mungkin bulan depan".
"Tapi orang tuanya bilang, dia sudah kesini" Dengan muka kesal karena marah, merasa dibohongi.
Sialan... kemana dia pergi, nggak mungkin papa mama Rico bohong sama aku, pasti Rico yang bohong sama oran tuanya.
Rachel mengumpat-umpat dalam hati.
Apa jangan-jangaaan.
Rachel langsung mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Rico.
Terhubung. Saat ini jam di Indonesia barat pukul 11 malam, di Indonesia tengah pasti jam dua belas malam.
Rico beringsut dari memeluk Anya dia mengambil ponsel di meja sebelah kananya. Waktu dilihat itu dari Rachel. Ia membukanya. Sebelum bicara Rachel sudah mendahului.
"Aku di Lembang, ada yang harus aku urus".
"Urusan apa kamu disitu, sampai nggak izin sama aku ?"
"Nanti kita bicara kalau aku sudah pulang, sekarang sudah malam, aku perlu istirahat"
"Tapi papa kamu bilang kamu di Lombok, kok bisa jadi di Lembang si? apa-apaan ?"
"Rachel, aku nggak mau berdebat, nanti saat kita ketemu, kita bicara".
"Terserah, jangan sampai kamu menyesal mempermainkan aku, aku nggak suka kamu giniin !!"
Rachel menutup telponnya,sebelum Rico membalas ucapanya.
__ADS_1
Ada kemarahan yang timbul di hati Rachel. Dia tahu betul Rico bersama dengan Anya. Jangan khawatir Nya, sebentar lagi lo m....
Dia tidak mungkin bicara tentang Anya, bila tidak mau dicurigai oleh Rico.'Kamu milikku Rico, siapapun tidak berhak atas kamu, apalagi wanita .... itu", geram Rachel dalam hati.
Ada rasa bersalah di hati Rico kepada Rachel, karena ia tidak dari awal jujur bahwa ia sudah tidak mencintai Rachel lagi.
Rico membantingkan tubuhnya di samping Anya, dia harus bicara dengan Rachel, secepatnya.
"Anya, kamu dengar tadi" Sambil mendekat ke arah Anya.
"Ya Pak Rico saya dengar". Sambil berbalik menghadap Rico.
"Are you ok ?"
"I am fine, kita tidur lagi sudah malam "
Rico mendekat ke arah Anya, mereka tidur saling berpelukan.
Sementara, sesudah menutup telepon dari Rico, Rachel menghampiri sang manager, Lingga.
"istri kamu disini juga ?"
"Dia ada di perumahan yang disediakan oleh hotel"
"Ini sudah malam, kenapa kamu masih kerja ?"
"Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan, jadi aku belum pulang".
Rachel mendekati Lingga, dengan pelan sambil memperlihatkan wajahnya yang sendu. Lingga menelan ludah, 'Wanita liar ini pasti menginginkannya, aku tahu betul, seperti dulu, saat di puncak'.
Tidak menunggu lama, Lingga mengunci pintu kantornya. Dan berbalik dengan cepat menghampiri Rachel.
Mereka saling pagut dengan ganas. Lingga mendorong Rachel terduduk di meja kerjanya, dan mereka melampiaskan ..... di situ.
__ADS_1
Rachel sudah tak mempedulikan Rico, pun dengan Lingga, dia sudah tak ingat istri dan putri kecil semata wayangnya di rumah.
Nafsu sudah menguasai mereka berdua.