
Rico kembali ke villa-nya, ia lihat Anyelir masih di dalam ruang makan dengan ditemani semua asisten pribadinya.
Begitu Rico pulang Anya begitu lega, ia segera menanyakan kabar Briana,
" Bagaimana Briana, dia sudah melahikan ?"
"Kelihatanya sudah".
"Menang Mas Rico nggak nungguin sampai Briana melahirkan ?"
" Nggak, kan sudah ada temenya itu".
" Terus sudah menghubungi keluarga Briana?"
" Ya sudah, mereka sanggup datang hari ini, sudah ayo semua tidur dah malam".
" Ya pak, tadi kami khawatir dengan teh Anya, makannya kami temani".
" Ya, terima kasih".
Ada yang melanjutkan nonton tivi, ada juga yang langsung masuk kamarnya masing-masing.
" Kamu sudah ngantuk sayang ?" Tanya Rico pada Anya.
"Kantukku sudah hilang".
" Sini aku peluk, kamu mau aku putarin tivi ?"
" Ngga usah, aku mau tidur dalam pelukanmu saja".
Rico mencium kepala Anyelir,
" Ya udah, yuk kita coba tidur, kalau nggak bisa juga, kita ulang satu ronde lagi., supaya kita kecapekan dan segera tidur", goda Rico pada Anya.
Anya mencubit pinggang suaminya, sedang Rico tertawa senang melihat pipi istrinya yang kemerahan selalu seperti bila Anyelir malu.
Rico meneluk Anya kembali, aroma tubuh Anyelir yang selalu harum, membuat kelelakian Rico bangkit lagi.
Rico dongakkan kepala Anyelir menghadapya,
" Aku mau lagi?"
Anyelir hanya tersenyum sambil mengelus pipi suaminya
Mereka tampak begitu bahagia, dan mengulang kembali, untuk saling berbagi cinta.
Keesokan harinya, dini hari Papa menghubungi Rico.
Rico masih ngantuk berat, kalau bukan papa-nya dia malas angkat.
" Ya Pa ada apa, pagi-pagi gini ?"
" Kamu gila ya ? istri melahirkan malah kamu tinggal pergi, waras si nggak kamu?, papa malu sama papa mertua kamu, pagi-pagi di ngubungi papa, bilang anaknya melahirkan nggak ditungguin suami!!".
" Ooooh, ya nanti aku hubungi papa lagi".
" Rico !!, Ric jang..." terputus
Rico bergumam sendiri.
" Maaf Pa"
Beberapa kali telpon berbunyi, tapi Rico membiarkan, menurutnya lebih enak kalau nanti ia ngobrol langsung dengan papa.
Rico melihat Anya yang masih tertidur pulas, tampak cantik dan menawan, dengan rambut yang acak-acakan membuat Rico ingin memulai lagi.
Ia ciumi istrinya lagi,
Anya menggeliat, dia tersenyum saat melihat suaminya sudah mulai bergairah lagi.
" Stop sayang, nanti lagi ya, aku capek, kasihan bayi kamu".
__ADS_1
' Menolak permintaan suami dosa loo"
" Aku nggak nolak, tunda sebentar saja", Anya mencium pipi suaminya yang tampak merajuk seperti anak kecil.
" Siapa barusan yang telpon ?"
" Papa, biar aja nanti kita pulang ke Jakarta kita jelaskan".
" Tapi sayang....".
" Nggak ada tapi, kamu istriku, dan kamu sedang hamil, papa nggak mungkin menolak kedatangan kita, apalagi bila aku sodori video bukti Briana bohong".
" Terserah kamu, aku nggak mau bikin papa dan mama sedih ".
" Mereka akan bahagia, percayalah ".
Anya menganggukkan kepalanya.
" Baiklah, jam berapa sekarang ?"
" Masih jam tiga, kita tidur lagi yuk, dingin banget, sini aku peluk biar kamu nggak kedinginan".
Anya merapatkan tubuhnya ke Rico, mereka sudah tak ingin yang lain, selain dalam kondisi seperti ini, selalu berdua.
Rico membawa mobilnya ke Jakarta dengan santai, melihat mereka seperti ini rasanya tak ada yang dapat memisahkan mereka.
Sepanjang perjalanan Rico tak membiarkan Anya berjauhan darinya, tangan Anya selalu dalam genggamanya.
Mungkin bila tidak dalam kondisi hamil, orang yang melihat pasti mengira, mereka merupakan pengantin baru.
Rico terlihat sangat memanjakan Anya.
Sampai di halaman rumah Rico, Anya tampak tegang, hal itu diketahui oleh Rico.
Rico menguatkan Anya dengan meremas lembut tangan Anya, sambil.memandang dan tersenyum padanya.
Mereka bergandengan tangan masuknke dalam rumah.
Sampai di dalam, seperti biasa papa dan mama sedang berada di teras belakang.
Para asisten bahagia melihat Anya pulang dan dalam kondisi hamil.
Mereka menyalami, Mbak Romlah dan Mbak Siti memeluk Anya dengan bahagia.
" Syukurlah Mbak Anya pulang, kami sudah rindu sekali sama Mbak, dan pulang bawa calon cucu Mbak Anya, selamat ya Mbak.."
" Ya mbak Romlah, makasih, makasih semua...."
Papa dan mama tidak tahu yang datang adalah Rico dengan membawa Anya.
Mereka berfikir hanya Ricolah yang pulang.
Papa dan mama sengaja tidak menyongsong anaknya, mereka tahu Rico pasti memyusul ke teras belakang.
Rico menggandeng tangan Anya menuju ke teras belakang, tangan Anya makin dingin, Rico memaklumi itu, sekali lagi dia menenangkan istrinya dengan tersenyum.
Sementara papa dan mama pura-pura tidak tahu kehadiran Rico.
" Pa, Ma "
Mama menoleh ke arah Rico, sementara papa tetap membaca koran yang ada di tangannya.
Mama terkejut saat melihat Anya ada disamping Rico.
" Anyaaaaa ", mama bahagia menyongsong kedatangan Anya, beliau memeluk Anya sambil menangis bahagia.
Sementara papa yang dari tadi pura-pura sibuk membaca koran, mendengar teriakan mama ikut menoleh.
Beliau juga kaget disana ada Anya, dengan perut besar.
__ADS_1
Papa yang sediannya akan memarahi Rico langsung luluh hatinya, ia melihat Anya yang sedang dipegang tanganya oleh Mama.
Papa mendatangi Anya,
" Anyaaa, Naaak, Terima kasih Tuhan.."
Beliau mendatangi Anya dan memeluknya dengan mata berkaca.
" Maafkan papa Nak, papa egois, papa seperti anak kecil, keras kepala, tak tahu diri, maafkan papa Nak".
Anya hanya bisa ikut menangis memeluk.papa mertuanya juga.
" Maafkan Anya juga Pa, Anya pergi tanpa pamit, bikin keluarga kebingungan".
" Nggak, kamu nggak salah Nak, siapa yang nggak sedih diperlakukan seperti itu oleh orang tuanya, papa maklum Nak".
Papa melepas pelukannya, beliau melihat perut Anya yanv membuncit,
" Jadi saat kamu pergi meninggalkan kami, kamu sudah mengandung Nak ?" Ya Tuhaaan, alangkah berdosanya papa".
Mama melihat kejadian tersebut dengan terharu, walaupun bibirnya tersenyum, tapi matanya berlinang.
Hanya mama yang tahu, betapa menyesalnya papa saat ditinggal pergi oleh Anya.
Seringkali papa mengutuk dirinya sendiri, sebab membuat menantu yang sangat disayanginya terpaksa pergi dari rumah.
" Yuk sini kita kebelakang seperti biasa. tapi sekarang giliran mama yang melayani kamu Nak, udah yuk kita duduk dulu"
Mama membawa Anya ke ayunan yang biasa diduduki oleh Anya.
" Sini Nak, sejak nggak ada kamu, ayunan ini nggak pernah ada yang duduk".
Mereka duduk dan ngobrol, Anya menceritakan bagaimana ia bisa bertahan hidup, walaupun sudah tidak di rumah ini lagi.
Mereka semua bersyukur Anya bisa pulang dengan selamat.
" Anya ngobrol dulu sama mama, papa ada perlu dengan Rico".
" Ya pa", Anya menganggukkan kepalanya.
" Sini Ric papa mau bicara".
Mereka menuju ke ruang makan yang hanya dibatadi oleh pintu dan jendela kaca.
" Papa tahu kamu nggak mencintai Briana, tapi kamu harus tetap mempertanggungjawabkan kelahiran anak kamu, jangan menjadi laki-laki yang tidak bertanggungjawab, bisa-bisanya Briana melahirkan kamu nggak nungguin ?"
Rico diam saja, ia justru mengeluarkan ponsel, dan memutar video dari Zein.
"Papa diam dan dengarkan". jawab Rico.
Papa melihat dan menyimak video yang diputar oleh Rico.
Wajahnya tampak merah padam, saat mendengarkan video tersebut.
" Briana ? bagaimana bisa?"
" Aku bersyukur Pa, kebusukan Briana terbuka sebelum terlambat. Papa nggak heran apa Briana nikah sama aku baru berapa bulan, sekarang sudah melahirkan".
" Papa memang sempat tanya, tapi papa mertuamu bilang Briana dalam kondisi stress, sehingga bayinya lahir sebelum waktunya".
" Om Hardi memang nggak tahu kelakuan anaknya Pa, pasti Briana juga bohong sama papanya".
" Kalau gini hari ini juga papa mau panggil Pak Hardi, jangan sampai kita yang disalahkan".
" Ya pa, lebih cepat lebih baik".
🙂🙂🙂🙂🙂🙂
Yuk Readersku sayang, kita lanjut ke next episode
Sabar yaaa tunggu sebentar lagi ➡️➡️➡️
__ADS_1