Anyelir

Anyelir
Anya pergi 2


__ADS_3

Seperti biasa Rico sampai di rumah sudah dalam kondisi capek.


Jam menunjukkan pukul delapan malam lebih.


Akhir-akhir ini, dia memang ingin berfikir dan merenungi diri sendiri, apa yang salah pada dirinya, sehingga masalah tak henti menerpa.


Dua minggu sudah dia tidur di kamar tamu, ia ingin menyendiri.


Tapi hari ini, entah ada magnet apa yang membawanya ke kamar Anya.


Ada dorongan kuat yang membawanya melangkah menuju kamar mereka.


Rico langsung masuk seperti biasa.


Sepi, kamar tertata rapi, baju dan sandal rumahnyapun sudah disediakan Anya, seperti biasa.


Ia panggil istrinya.


" Sayaaang, kamu dimana ?"


Rico membuka pintu kamar mandi, tak ada siapa-siapa.


Rico membuka pintu almari yang menghubungkan dengan koleksi tas, sepatu dan jam tangan Rico serta Anya. Tak ada siapa-siapa.


Rico segera turun ke bawah.


" Sayaaang, kamu dimana ? tadi katanya mau bicara ?"


Rico berjalan menuju dapur, papa dan mamanya kelihatanya sudah masuk ke kamar tidur.


Ia langsung menuju rumah belakang yang ditempati pesuruh, sopir dan asisten pribadi.


" Mbak, lihat Mbak Anya nggak ?"


Pak Salim yang menjawab.


" Tadi saya lihat den, mbak Anya mau aerobic katanya, waktu mau saya antar, dia nggak mau, kalian lihat nggak ?"


" Nggak ada yang lihat".


Rico makin panik,


" Tolong bantu aku cari mbak Anya ya, di sekitar rumah".


Mereka segera berdiri dan berpencar mencari keberadaan Anya.


Hampir satu jam lebih mereka mencari, tapi Anya tidak mereka temukan.


Mama keluar dari kamar mendengar keributan di luar.


" Ada apa Ric?"


" Anya ma, Anya nggak ada ", pandangan Rico kosong, dia terduduk lemas di kursi taman samping rumah.


" Nggak ada gimana?"


" Tadi pagi ada kok".


" Kita cari lagi ke atas yuuk".


" Saya barusan ke atas Nyah, mba Anya nggak ada". Jawab mbak Romlah.

__ADS_1


Dari jauh terlihat Ana sedang mendekat.


" Ada apa Ma?"


" Anya nggak ada Na".


" Sedang keluar mungkin Ma?"


" Nggak mungkin, Anya keluar halaman aja pasti pamit, dia nggak mau bikin orang kepikiran".


" Buktinya, sekarang dia bikin orang lain mikir Ma"


" Diam !!, jangan bicara, kalau mulutmu hanya untuk menghasut", Tiba-tiba Rico menjawab dengan jengkel.


" Loh kok jadi aku yang salah Mas ?".


Rico pergi meninggalkan semua yang ada di halaman samping, dan tidak peduli apa yang dikatakan Briana.


Ia segera merogoh ponsel yang ada di saku celananya.


Rico menghubungi Anya.


Tidak aktif sama sekali. Ia hubungi berulang kali, tapi sama saja tidak aktif.


Rico keluar lagi untuk mencari Anya.


Dari samping terdengar suara,


" Maaas , aku ikut !!", suara Briana.


Rico tak mempedulikanya, ia segera tancap gas meninggalkan Briana yang berdiri mematung di garasi mobil.


Sementara Pak Salim dan mbak Romlah juga keluar untuk mencari Anya. Menggunakan mobil Anya yang merupakan hadiah ulang tahun dari Rico untuk Anya setahun yang lalu.


Ia mengetuk pintu. Sepi tak ada kehidupan sama sekali.


Pak RT mendekati Rico.


" Ooo Mas Rico ? mau ambil apa mas? gimana kabar mbak Anya ?"


Dari pertanyaan pak RT, terlihat bahwa Anya tidak ada di rumah.


" Eh ini Pak, Anya minta diambilkan bantal kesayanganya".


" Ooooalah, ya saya bilang ke istri suruh ambilin kuncinya ".


Rico harus berbohong untuk menutupi kepergian Anya.


ย Sepulang dari rumah Anya, Rico tidak juga pulang ke rumah, dia sengaja mencari Anya sepanjang jalan.


Di jalan Rico membalikkan mobilnya, dia menuju ke Bandara, Siapa tahu Anya berangkat ke Belanda. Rico memacu mobilnya dengan cepat.


Sampai di Bandara, tentu saja dia tidak melihat Anya, kalaupun Anya ke Belanda pasti berangkatnya tadi siang, dan Rico nggak mungkin bertemu Anya.


Rico lemas memikirkan itu. Tapi Rico masih sabar menunggu di Bandara, siapa tahu Anya tiba-tiba muncul, dan mengurungkan niatnya pergi ke Belanda.


Rico menunggu sampai pukul dua belas malam, tapi ia tak menemukan yang ia cari.


Dengan wajah sedih dan lelah Rico melangkahkan kakinya menuju ke tempat mobilnya terparkir.


Sampai di rumah semua-nya belum tidur, mereka menunggu kepulangan Rico.

__ADS_1


" Anya mana Ric ?", tanya papa pada Rico. Rico diam tak menjawab pertanyaan papanya, bukan karena dia benci pada papa-nya, tapi kepalanya hanya dipenuhi kesedihan karena kepergian Anya.


Briana mendekatinya, dia bermaksud membawa Rico ke kamarnya, tapi sebelum tangan Briana memegangnya, Rico sudah memberikan tanda supaya tidak dipegang.


Briana urung memegang Rico.


Sementara Rico berjalan ke arah kamar Anya.


Sampai di kamar, ia segera mengunci pintu, ia tak mengizinkan siapapun masuk kecuali Anya.


Rico benci pada dirinya sendiri, kenapa akhir-akhir ini ia mengabaikan Anya, padahal sebetulnya ia sangat membutuhkan dukungan Rico.


Rico berjalan menuju jendela kemarnya, disana ia menangis sejadi-jadinya.


Hatinya terasa hampa, kosong, kamar tempat peraduanya dengan Anya, tampak menjadi ruangan penyiksaan baginya.


Ia.merutuki dirinya sendiri, karena terlalu mengurus pekerjaan sehingga tak menghiraukan Anya.


Sementara di bawah, papa menangis sesenggukan, dia merasa bersalah pada anak dan menantunya.


Sekarang beliau merasakan betapa sedih ditinggalkan oleh menantu yang sabar mengurusnya, dan ikhlas dimadu, atas permintaanya.


" Aku yang salah Ma, aku yang yang salah, aku yang membuat perkawinan anakku hancur, tahu begini aku memilih Anya tetap mengurus kita, aku tak punya cucu nggak pa pa, asal Anya pulang"


Pak Broto menangis sesenggukan.


Mama-pun juga demikian.


" Ya, ini semua gara-gara papa, mama juga marah sama papa, aku menyayangi Anya seperti anak sendiri, sekarang dia pergi entah kemana, papa kejam, papa menyalahkan Anya saat Ana jatuh, padahal kita tidak tahu siapa sebenarnya yang salah".


Mama pergi keluar dari kamar, beliau menuju ke kamar tamu, Sepertinya mama Rico sangat kecewa dengan suaminya.


Papa tidak berusaha melarang, beliau tahu betapa kecewanya mama pada dirinya.


Papa masih sesenggukan di dalam kamar, perasaan bersalah masih menderanya.


Memang benar apa yang dikatakan orang, bila sudah berumur akan makin sensitif dan bersikap kekanak-kanakan.


Di kamarnya Ana, tersenyum penuh kemenangan, ia akan bersikap lebih manis pada keluarga ini. Ia akan dengan berhati-hati bertindak.


Cepat atau lambat kamar Anya harus menjadi kamarnya, harus , tapi aku tak boleh gegabah, aku akan bersabar.


Ana membayangkan sesuatu yang manis di depan.


Ia harus bisa menaklukkan hati Rico, sekarang tak ada Anya, dia gampang mendapatkan Rico.


Lelaki dua bulan pasti lupa dengan cintanya.


Setiap malam akan aku sodori sajian luar biasa, Gaya apapun akan aku peragakan, sampai Rico lupa, siapa Anya.


Malam ini aku akan coba dengan cara baru, cara yang tak bisa Rico tolak.


Senyumnya mengembang dengan manis, senyum licik Briana.


๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—


Ayuk ah makin semangat vote-nya, jangan kasi kendor


Besok aku kasih 2 episode lagi mau ???


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaaa

__ADS_1


lope lope kaka ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2