Anyelir

Anyelir
Tak sengaja mendengar


__ADS_3

Tiga tahun telah berlalu, sampai saat ini, Anya belum juga mengandung, tapi Rico masih setia dengan kondisi Anya.


Sampai sekarang, Rico tidak berani menyampaikan bahwa Anya sulit hamil, walaupun bukan tidak mungkin.


Mereka berdua menikmati tiga tahun itu dalam kemesraan. Meskipun di hati kecil mereka menginginkan kehadiran anak, tapi mereka sadar sepenuhnya bahwa itu adalah sepenuhnya kehendak Tuhan.


Sebetulnya beberapa kali Anya mengajak Rico untuk memeriksakan diri, tapi Rico selalu menolak dengan alasan sibuk, sejatinya Rico tidak mau Anya tahu kondisinya yang sebenarnya.


Saat Anya hendak mengantar teh hangat manis di teras belakang, tanpa sengaja ia mendengar pembicaraan papa dan mama mertuanya.


" Ma, ini gimana sudah hampir empat tahun Anya belum hamil juga".


" Ya pa, mama juga mulai khawatir, bukan apa-apa, mama takut kita nggak punya cucu dari Rico, mama sayang sama Anya sayang banget, sopan hormat banget sama kita, tapi sedih juga kalau dia nggak hamil juga".


" Papa juga merasakan hal yang sama, sayang sama Anya, tapi kalau apa yang dikatakan dokter dulu benar gimana ?"


Deg. Anya semakin konsentrasi mendengarkan apa yang dibicarakan oleh mama dan papa mertuanya.


Hatinya berdebar begitu kencang


"Hust pa pa, jangan terlalu kenceng, nanti Anya denger".


" Nggaklah Anya kan di belakang, tapi seandainya dengar nggak pa pa juga, biar dia tahu kalau dia sulit dapat anak".


" Papa !! apaan si ...!!"


" Tapi kita musti ngobrol sama Rico nih Ma, bagaiman selanjutnya, aku takut sampai meninggal nggak bisa lihat anak Rico, Rico kan sehat, yang bermasalah kan Anya".


Lutut Anya lemas, nampan yang ia pegang yang berisi teh hangat manis, dan bolu pisang kesukaan papa mertuanya hampir jatuh, kalau saja dia tidak berpegangan pada pintu kaca pembatas teras belakang dengan ruang keluarga.


Untuk mendengarkan lanjutan pembicaraan mereka Anya sudah tidak kuat.


Ia bawa lagi nampan yang ia pegang, dan diserahkan pada mbak-mbak dan ia perintahkan untuk mengantarnya ke teras belakang.


Anya berjalan cepat menuju kamarnya, tangisanya tumpah disana.


Perasaan sedih campur aduk dengan perasaan tak berguna, saat ini Anya berada dalam titik terendah.


Ia masih dalam kondisi seperti itu saat Rico masuk ke dalam kamar.


Rico mendekati Anya, ia lihat punggung Anya berguncang pertanda sedang menangis.


" Ada apa sayaaang, kenapa kamu menangis".


Anya segera bangun dan memandang Rico sekilas, ia segera lari ke kamar mandi untuk membasuh mukanya.


Rico memanggil-manggil Anya supaya keluar dari kamar mandi


" Sayang ada apa ? keluarlah, kalau ada masalah ayo kita selesaikan, jangan menghindar seperti ini ".

__ADS_1


Tak ada jawaban dari kamar mandi.


" Sayaaang please, kita bicarakan ya, kamu kan pernah bilang kita rasional, harusnya kalau ada masalah nggak seperti ini kan?"


Anya membuka pintu kamar mandi, ia memandang sedih Rico. Ia menuju ke tempat tidur.


Dari sana ia melihat lagi Rico yang masih berdiri.


" Kenapa kamu diam ? kenapa kamu tidak jelaskan kalau aku tidak bisa hamil, aku man...?"


Belum selesai Anya bicara, ia sudah menutup muka, karena air mata yang sudah berusaha iya bendung akhirnya bobol juga.


Rico mendekati Anya, ia berusaha memeluk Anya, Anya berontak tapi pelukan Rico jauh lebih kuat dibandingkan dengan tenaga Anya.


" Inilah yang aku tidak mau sayang, aku tidak mau kamu harus merasa sakit seperti ini, itu bukan berita baik, makanya aku berusaha menyimpan dari kamu, aku nggak mau kamu sedih seperti ini".


" Tapi berita ini aku berhak tahu, aku harus tahu kalau aku wanita mandul !!" teriak Anya setengah histeris.


" Dengar sayang, dengar, dulu aku pernah bilang padamu, apapun yang terjadi aku masih tetap mencintaimu, apapun yang terjadi aku akan tetap disisimu, aku nggak bohong, aku serius, aku mencintai kamu Anyaa".


Rico berusaha membendung air matanya yang hampir jebol, dia harus kuat untuk Anya.


" Kamu nggak mandul sayang, tapi butuh waktu untuk kamu hamil, dan aku sabar menunggu sampai kamu hamil".


" Kapan itu, kapan, sampai kita tua, sampai papa dan mama nggak bisa lihat cucunya?!".


" Sayaaaang, jangan bicara seperti itu, kita pasti bisa memberi cucu sama papa dan mama".


" Tuan, Non Anya, ditunggu bapak dan ibu, buat makan malam".


" Iya mbak, nanti kita turun". Sahut Rico.


Rico masih memeluk Anya, dengan lembut dia berbisik di telinga Anya.


" Kita makan yuk ?"


Anya melepaskan pelukan Rico.


" Makanlah aku sedang tak ingin".


" Tapi kamu harus, nanti kamu sakit".


" Katakan sama papa dan mama, aku sudah tidur".


" Sayang..."


" Tolonglah, please "


Sebenarnya Rico juga malas makan, dia lebih baik nungguin Anya di kamar, sampai Anya tertidur, tapi hal itu pasti akan membuat curiga orang tuanya. Dia memilih untuk turun ke bawah.

__ADS_1


" Baiklah, aku turun dulu, supaya papa dan mama tidak bertanya-tanya, dan curiga, kamu istirahat saja dulu, aku nggak lama".


Rico turun ke bawah, dengan diperhatikan oleh mamanya.


" Anya mana, kok nggak turun ?" tanya mama Rico.


" Kelihatanya dia ketiduran ma".


" Loh ya nanti malam kelaparan tuh anak".


" Biarkan saja, masih ada makanan ini" jawab papa Rico.


" Rico papa mau bicara, ini mengenai Anya".


Rico menatap tajam ayahnya, mungkinkah papa yang bilang ke Anya kalau ia nggak bisa punya anak, batin Rico.


Rico mengernyitkan dahi.


" Besok aja Pa, aku capek pulang kerja, besok pagi aja sebelum aku kerja".


Papa menganggukkan kepalanya.


" Aku langsung ke atas ya Ma, aku belum mandi".


" Ih, jadi kamu lama di atas belum mandi ?"


" Belum, ada yang harus aku kerjakan dulu".


Rico naik ke kamarnya.


" Pa, kelihatanya Rico nggak banyak bicara, kenapa ya?"


" Capek kali Ma, Anya juga nggak ikut makan malam, ngaruh kali..."


Jawab Pak Broto sekenanya.


Sampai di kamar Rico masih mendengar tangis lirih Anya yang menyayat hati.


Rico mendatangi Anya, dan memeluknya dari belakang.


" Maaf sayang, apapun yang terjadi aku mrncintaimu, aku tak akan pergi darimu".


Sekarang yang Anya butuhkan bukan kata-kata, tapi lebih ke hal nyata, yang menunjukkan bahwa Rico benar-benar mencintainya.


Rico mengecup rambut Anya berulang kali. Ia memeluk Anya sampai tak mendengar suara tangisan Anya.


Rico bangun secara perlahan supaya tidak membangunkan Anya. Ia menuju kamar mandi, dengan mandi air hangat diharapkan pikiranya yang kacau akan menjadi tenang.


πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya kaka, like, koment n vote ❀❀❀, makasiiih


__ADS_2