
Selesai baca, bantu like ya kakak
----------------------------
Pagi ini Anya bangun agak kesiangan, ia segera bergegas menuju kamar mandi. Di saat menuju cermin ia teringat bahwa semalam boss nya Pak Rico mencium bibirnya, secara reflek Anya memegang bibirnya sambil tersenyum. Ada debaran aneh yang ia rasakan. Apa yang harus ia lakukan nanti bila bertemu dengan Pak Rico. Apakah Pak Rico akan bersikap manis seperti semalam. Berbagai pertanyaan menyerbu relung hati Anya. Debaran aneh itu semakin cepat ia rasakan. Apakah ia mulai jatuh cinta pada boss nya yang cuek itu. Aaaahhh .... Anya menggeleng - gelengkan kepalanya dengan keras, untuk menghilangkan bayangan Rico yang berseliweran di dalam otaknya. Ia segera keluar dari kamar mandi supaya bayangan Rico tidak mengikutinya terus menerus.
Saat ia menyisir rambut, Anya baru menyadari, bahwa mobilnya semalam ditinggal di bassement kantor. Ia melihat ke arah gadgetnya dan membuka mungkin ada pesan dari Rico, kosong tak ada apa - apa. Anya jangan berharap lebih, ciuman hal yang biasa untuk orang yang pernah hidup di negara barat. Bangun - bangun ooooeeee. Ada terselip rasa kecewa di hati Anya memikirkan sesuatu yang membuatnya sedih.
Keluar dari kamar, ia segera memanggil grab car, supaya lebih cepat dan gampang menuju ke kantor.
Sampai di kantor, sudah ada beberapa temanya yang sampai duluan. Ini tumben, sebab biasanya dialah yang datang paling pagi.
"Tumben Nya, biasanya lo bukain pintu buat gue" seloroh Irvan, teman satu divisi nya.
"Huuuh" balas Anya sambil memonyongkan bibirnya yang sexy, bikin Irvan gemes, dan hanya bisa tertawa.
Sambil duduk, Anya mencuri melihat ke arah ruang Pak Rico. Dan dia menghela nafas, Pak Rico belum datang. Anya memulai melakukan kegiatan rutinya, menghadap komputer dan konsentrasi penuh pada pekerjaanya. Sampai tak sadar jam istirahat sudah tiba. Teman-temanya mengajak untuk makan siang bareng, tapi Anya menolak, sebab kerjaan belum selesai.
Saat teman-temanya meninggalkanya Anya berdiri untuk meregangkan otot - ototnya, tanpa sadar pandanganya mengarah ke ruang Pak Rico, dia sudah ada di sana, sejak kapan? Aku nggak lihat dia masuk ke ruang?. Dengan adanya Pak Rico justru membuat Anya tidak lagi konsentrasi bekerja. Sebentar - sebentar pandanganya mengarah ke ruang Presdir. Tapi yang dilihat sepertinya tidak menyadari. Rico begitu sibuk dengan pekerjaan yang dipegangnya. Mata nya mengarah ke laptop, sedang tangan sebelah kiri memegang gadget, entah bicara dengan siapa, dan bicara apa. Lihatlah wajahnya sangat serius, dan tak peduli dengan sekitarnya.
Anya berdiri, dia bermaksud untuk menyusul teman - temanya. Sampai suara dari sebelah kiri terdengar memanggilnya.
__ADS_1
"Anya", deg, itu suara Pak Rico. Anya menoleh ke sumbar suara dengan gagap.
" Ii ya pak".
"Kamu ke kantor saya sebentar".
Tanpa menjawab perintah boss nya Anya langsung menuju ke kantor Rico, masuk ke ruang presdir yang luas, asri dan tentu saja wangi, tapi tidak mengurangi debaran keras yang berdetak di dada Anya.
"Tutup pintunya !!", perintah Rico seperti biasa.
Anya menutup pintu.
"duduk!". Anya menuruti saja perintah Boss nya itu.
"Sasaya pak"
"Kamu teledor sekali, saya ngga tahu masalah pribadi kamu, tapi saya ingin masalah ini kamu selesaikan hari ini juga, jangan sampai pelanggan kita kabur hanya karena masalah yang bukan masalah berat, Saya ngga mau tahu, hari ini juga kamu harus selesaikan!!".
Antara kaget dan bingung Anya memandang Rico, dia tak percaya apakah semalam tidak berarti apa - apa bagi Pak Rico, sampai masalah kecil begini menjadi besar. Tapi bukan Anya namanya kalau masalah seperti ini saja membuatnya menangis. Dia Anya, dia pantang menyerah dalam hal pekerjaan.
"Baik pak akan saya selesaikan".
__ADS_1
"Ok, silahkan rampungkan pekerjaan kamu yang belum beres". Sebetulnya ada rasa sedih di hati Anya, bagaimana mungkin, peristiwa yang begitu penting buat Anya, menjadi tak ada harganya bagi Rico.
Teman-teman Anya sudah kembali ke meja kerja. Anya nggak peduli, perutnya hanya diisi makan sarapan tadi pagi, dia harus menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. Ia akan menunjukkan pada si Rico sombong dan acuh itu, bahwa ia bisa diandalkan. Dia tidak mau dipandang sebelah mata oleh pria satu ini, akan kutunjukkan padamu, pekerjaan ini, tidak sulit buatku. Dia membuat laporanya, sampai tak sadar wakltu sudah pukul 4 sore, tman-temanya sudah pamitan pada Anya satu persatu, sementara Anya hanya menjawab sekedarnya sambil pandanganya tak lepas dari komputer. Jam delapan malam kurang, Anya sudah menyelesaikan pekerjaanya. Kantor sudah sepi. Anya tinggal.mengirimkan data dalam bentuk email ke rekanan mereka di Hongkong. Setelah nenunggu beberapa lama email terkirim. Anya mematikan komputer dan segera berlari kecil untuk menuju pulang. Tanpa dia sadari, ada seseorang yang menjejeri langkahnya menuju lift. Saat akan menutup pintu lift, tiba-tiba pria itu masuk ke dalamnya. Pak Rico. Anya menyurutkan langkahnya ke belakang. Dia malas untuk basa-basi dengan boss nya ini. Ngga ada guna. Batinya.
Mereka berdua diam di dalam lift, sampai dengan lift tiba di bassement.
Anya berlari kecil menuju dimana mobilnya diparkirkan. Dia sama sekali tidak menyapa Rico. Ada batu besar yang mengganjal di hati Anya untuk Rico. Dia ambil kunci dalam tas nya dan menekan remot untuk membuka mobilnya. Saat membuka pintu tiba-tiba Rico sudah ada di belakangnya. Secara cepat dia memegang lengan Anya. Anya terpekik kaget. Dia menoleh dengan cepat ke belakang , badanya diputar dan dipepet Rico di pintu mobilnya.
" Kenapa kamu diam saja?" pertanyaan pertama dari Rico membuyarkan kekagetan Anya.
"Tidak ada apa - apa pak".
" Kalau tidak ada apa - apa, kamu tidak mungkin diam saja" .
Dasar laki - laki nggak peka, fikir aja sendiri, batin Anya. Anya diam saja dia ingin masuk ke dalam mobilnya dan segera pergi dari tempat horor ini.
" Lepaskan saya pak, saya mau pulang".
" Jawab dulu pertanyaanku".
"Nggak ada yang perlu dijawab".
__ADS_1
Rico semakin menekan tubuh Anya dengan tubuhnya. Rico merasakan tonjolan - tonjolan yang ada di tubuh Anya. Hal ini membuat logikanya hampir mati. Ia melihat ke bibir Anya. Dan dengan secepat kilat ia mengulum bibir sexy itu. Anya berontak, tapi percuma, tenaganya kalah jauh dengan Rico. percuma dia melawan, semakin melawan pegangan dan tekanan Rico di tubuhnya semakin kuat. Semakin lama tubuh Anya semakin lunglai, dia merasa tidak punya tulang. Ia mengikuti irama bibir Rico yang memabukkan. Tangan Rico mulai nakal, ia mulai mencari gundukan bukit kembar di dada Anya. Tapi justru itu membuat Anya tersadar, serta merta dia mendorong tubuh Rico dengan sekuat tenaga. Rico mundur beberapa langkah. Anya segera masuk mobilnya dan melajukan mobilnya dengan cepat, meninggalkan Rico dengan kebingunganya.