
Hari kelima Anya belum ditemukan. Rachel sudah ditangkap dan dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.
Dari hasil keterangan dan saksi-saksi dipastikan bukan Rachel penculik Anya.
Alibinya kuat, saksi-saksi juga mendukung. Sehingga polisi tidak bisa menahan Rachel lebih lama.
Keluarga Anya serta Rico dan Pak Broto semakin cemas, sebab mereka tidak tahu siapa penculik Anya dan apa motivasinya.
Rico berada di rumah Anya untuk memberi kekuatan pada Bu Anggraeni yang sedih dan shok.
" Bagaimana mungkin terjadi pada anak saya nak Rico. Apa salah Anya ?? dia kan nggak tahu apa-apa"
" Ya bu, kita juga bingung kenapa, kami sudah menyampaikan ke polisi yang kami curigai, tapi ternyata bukan dia.
" Ibu yakin Ric, ini pasti ada hubunganya dengan Rachel, Anya ngga punya musuh, cuma dia yang nggak suka sama Anya", sambil menangis sesenggukan.
Pak Bowo mengelus-elus pundak Bu Anggraeni untuk menenangkan.
"Kita serahkan pada kepolisian bu, kita belum tahu siapa yang menculik Anya, semoga Anya baik-baik saja, ibu yang sabar" sambil terus mengelus pundak Bu Anggraeni.
"Tapi ini sudah lima hari pak, aku takut terjadi apa-apa dengan Anya"
" Ya ya ya, ibu tenang dulu ya".
__ADS_1
Sementara Rico juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Rico tidak mungkin menceritakan rencana polisi pada kedua orang tua Anya, bahwa penggerebegan yang diduga rumah tempat penyekapan Anya, akan didatangi hari ini. Itu sifatnya rahasia.
Sementara di tempat Anya bersembunyi, Anya bertekad untuk keluar dari rumah ini, ia mulai melihat lagi jalan keluar yang memungkinkanya untuk melarikan diri.
Ia melihat keluar pintu besi, untuk turun dia memerlukan tali. masih agak curam untuk turun tanpa menggunakan apa-apa.
Anya mencari-cari sesuatu yang memungkinkan dia untuk turun.
Tak ada tali, ia mencari apa lagi yang memungkinkan bisa digunakan sebagai tali pengganti.
Dia akan menggunakan seprei, satu seprei tidak akan cukup, dia mencari lagi seprei di dalam lemari, masih ada beberapa.
Dia berusaha menjatuhkan ke bawah untuk melihat sejauh mana seprei bisa menjangkau ke bawah.
Tinggal kurang satu meteran lagi, terjatuh sedikit tak apa. Yang penting dia bisa keluar saat ini.
Anya mulai mengikatkan seprei pada pintu, dia mulai turun secara perlahan. Aman aman, belum ada preman yang berpatroli.
Dengan pelan Anya turun, sampai pada ikatan seprei terakhir, dia menjatuhkan diri.
Anya sedikit kesakitan pada lengan kiri dan kaki kirinya, dia berjingkat-jingkat untuk keluar dari situ.
__ADS_1
Anya tidak mau berjalan lewat jalan yang ia lewati saat dibawa ke tempat ini, ia akan menerobos hutan sambil tetap berusaha berada tidak jauh dari jalanan, supaya tidak tersesat.
Anya sudah tidak memikirkan berapa jauh dia melangkah, dia harus keluar dari situ. Ia tak mau disekap lagi ia ingin pulang.
Air mata mulai bercucuran. Kesedihan semakin nyata terlihat di matanya. Ia akan ke kantor polisi terdekat terlebih dahulu.
Ia akan minta tolong penduduk pertama yang ia temui.
Sambil berjalan air mata berlomba berloncatan dari mata Anya, ia ingin keluar.
Di saat ia berjalan, tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara mobil, sambil beberapa orang berteriak, masih jauh. tapi lamat-lamat ia dengar.
Anya sadar mobil itu berasal dari gerombolan para penjahat.
Anya segera bersembunyi di ilalang yang membantunya untuk bersembunyi.
Saat mobil lewat dengan cepat Anya segera berdiri lagi, ia mulai melangkahkan kakinya kembali ke arah keluar menurutnya.
Sesudah Anya pergi, para preman biasa berpatroli, dan salah satu dari mereka, melihat ada seprei bergantung di dinding tebing.
Mereka sadar ada sesuatu yang tidak beres, Mereka berkoordinasi apa yang akan dilakukan. Ada dua kelompok yang mereka bentuk satu mencari dengan mobil dan satunya lagi menyisir dengan berjalan. Mereka yakin Anya belum jauh.
Anya tidak tahu, dibelakangnya ada beberapa preman yang mengejarnya.
__ADS_1