Anyelir

Anyelir
Briana menemukan Rico


__ADS_3

Sementara di Jakarta Briana uring-uringan, sudah tiga hari ini Rico tidak pulang ke rumah.


" Pa tolonglah hubungi Rico, kalau stres gini aku takut berpengaruh pada bayiku".


" Sini ponsel kamu aku coba hubungi Rico".


" Kalau pakai nomorku dia nggak bakalan mau angkat".


Papa Rico menyuruh Briana untuk mengambil telepon warles yang tergeletak di meja makan.


Telepon terhubung.


" Rico, ini papa ..."


" Ya Pa ada apa?"


" Kamu dimana, ini istri kamu nyariin, dia kan lagi hamil jangan bikin dia stres lah, kasihan bayi kamu".


" Maaf Pa, aku ada kerjaan di luar kota".


" Kamu harus mulai memperhatikan istrimu, hamilnya sudah tua, takut terjadi apa-apa".


" Kalau aku balik ke rumah aku mau cerita yang sebenarnya mengenai Briana".


" Ya udah kalau gitu kamu pulang, kita bicara di rumah".


Briana segera mendekat ke papa mertuanya dan membisiki sesuatu.


Papa mengangguk,


" Sekarang kamu dimana?'


" Luar kota Pa".


" Luar kotanya mana?"


" Memang kenapa ? Papa mau nyusul?"


" Nggak juga ini si.... " Briana memberi isarat supaya tidak bilang bahwa dia yang minta.


" Si mama tanya, kok kamu nggak pulang-pulang, dah tiga hari lo ".


" Mana mama aku ngomong sendiri sama mama".


" Mama kamu baru saja ke belakang".


" Ya udah pa, aku ada kerjaan, nanti malam aku hubungi lagi".


Rico menutup teleponnya.


Papa juga cuek saja meletakkan ponselnya di meja samping tempat duduknya.


" Gimana Pa ?" tanya Briana


" Nggak ada, dia ada kerjaan".


" Ya tapi dimana"

__ADS_1


" Dia nggak bilang, udah deh jangan jadi istri posesif, makanya suami kami jadi nggak betah di rumah".


" Bukan gitu Pa, tiga hari yang lalu aku menghubunginya dia sedang dengan wanita".


" Ah ada-ada saja kamu, tahu dari mana ?"


" Aku telpon Rico Pa, yang nerima perempuan".


Papa tercenung, apa ya Rico punya wanita lain, dia kan sangat mencintai Anyelir. Fikirnya


" Ya bisa jadi itu sekretarisnya kan?"


" Masa malam-malam jam delapan sama sekretaris".


" Kalau kerja kan memang gitu, atau mungkin kamu mau jadi sekretaris suamimu, jadi bisa ikut kemana-mana".


" Apaan si Pa....?"


" Buktinya dulu, Anya ikut bila Rico ada kerjaan, karena apa ? karena Anya bisa bantu kerjaan suaminya".


" Maksud Papa Briana nggak becus gitu ?"


" Eh, siapa yang bilang gitu, kalau kamu bisa bantu suami kamu pasti bisa ikut suami kamu kerja kemana aja, itu maksud papa".


" Huuh papa, terus gimana ini mas Rico nggak pulang-pulang".


" Ya tunggu aja nanti juga pulang, jangan bikin bingung, nanti kamu stres beneran.


Briana menghentakkan kakinya ke lantai, dia ngedumel sambil.pergi ke kamarnya.


Papa angkat bahu tak peduli.


Yang membuat Briana gagal fokus adalah, orang yang di belakang teman sosial medianya tersebut adalah Rico, dan didepanya, yang hanya terlihat tangan dan kakinya, karena tertutup wajah temannya, terlihat jelas itu adalah wanita.


Terlihat tangan Rico sedang menggenggam tangan itu, dan celakanya lagi, wajah Rico tampak sumringah bahagia.


Briana segera memberi komentar di foto tersebut,


' Pemandanganya bagus say.... lagi dimana nii...?"


Agak lama baru ada jawaban


' Di Puncak say, di salah satu resto yang ada disana'


'Galfok sama cowo di belakang'


'Kita juga kwkwkw, tapi tuh cowo dah ada istri hamil, cantik lagi, kita kalah say kwkwkw'


'Kapan itu say....'


' Baru aja say, kita masih disini, tuh cowo juga masih disini, kwkwkw'


Hati Briana semakin panas, dia mengumpat-umpat di kamar tersebut.


"Kurang ajar, siapa sebenarnya perempuan sialan itu?, Anya ? Nggak mungkin, perempuan itu nggak bisa bunting, lalu siapa? apa diam-diam Rico nikah lagi ? Benci, benci, benci"


Gumaman Briana semakin lama semakin keras.

__ADS_1


Mama mengetuk pintu


" Ana kamu baik-baik saja ?"


" Nggak Ma, ini gara-gara anak mama !!"


" Buka pintunya Na, kita ngobrol, jangan kayak orang kesurupan gitu".


Briana mulai menangis, dia sengaja memperkeras suara tangisannya supaya orang di rumah tahu dia sedang bersedih.


" Mama memang bisa bantu Briana ?"


" Buka pintu dulu, siapa tahu mama bisa bantu".


Briana membuka pintu, Ia langsung memeluk mama mertuanya.


" Ma, anterin aku ke puncak ya, aku ingin liburan, aku stress mikirin Rico".


Ternyata Briana sedang bersiasat.


Mama memang sudah mulai nggak suka dengan Briana, tapi mengingat yang ada dalam kandungan Briana adalah cucunya, beliau jadi tidak tega, takut terjadi sesuatu yang gak diinginkan.


" Kita memang punya villa disana, kamu bisa liburan , mama nggak bisa ngantar, papa kamu kan nggak sehat, ada beberapa orang yang nungguin villa, kamu minta diantar Mang Ujang ke Puncak hari ini".


Dapet. Gue dapat informasi. Hari ini juga aku akan kesana, akan aku tendang wanita itu keluar dari villa. Aku nggak peduli siapapun dia.


Senyum licik menghiasi wajah Briana dibalik pelukan mama mertuanya.


Ia segera menghubungi best frend-nya si Alin.


" Lin kamu lagi nggak ngapa-ngapain kan?"


" Ya, bosen noh di rumah sendirian".


" Ikut aku kejar suamiku di puncak, sama cewe murahan".


" Ooooo em ge, serius loooo ??!!"


" Ya, makannya lo ikut"


" Oke siap, lalu gimana yang lain diajak nggak?"


" Nggak usah, kita berdua aja. Entar gue mampir ke rumah lo, kita barengan".


" Ok inceeees, siaap".


Briana menjemput Alin saat pukul tiga sore hari.


Briana tidak akan membiarkan wanita itu merebut suaminya dari sisi-nya, Dia akan bikin malu wanita itu, sampai tak bisa mendongakkan kepalanya melihat dunia.


😎😎😎😎😎😎😎😎


Ini bonus episode hari ini ya kaaa....


Nggantung ya, ya emang dibikin gini,


biar kaka penisirin dengan episode selanjutnya

__ADS_1


Like, koment, vote jangan lupa dibanyakin, supaya rangking Anyelir naik lagi.


Saranghaeyo 😘😘😘


__ADS_2